Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Perdebatan


__ADS_3

"Gubrak!!!" Terdengar suara orang jatuh, yang tidak lain adalah Adel.


Gadis mungil yang tubuhnya kini sudah berada diaspal jalanan itu masih setia memejamkan mata dengan perasaan takut.


"Apakah aku sudah mati? Inikah proses menuju alam baka? Sangat gelap, tapi juga berisik apa jangan-jangan Malaikat akan membawaku ke neraka karena aku sering bolos sekolah?" Adel sedang komat-kamit di dalam hati antara sadar dan tidak sadar gadis itu masih sempat-sempatnya memikirkan tentang sekolah.


"Neng bangun neng!" Tanpa Adel ketahui, sudah banyak orang yang mengelilinginya akibat kejadian tersebut dan suara berisik yang Adel maksud sebelumnya adalah suara orang-orang yang berusaha menyadarkan dirinya.


"Jangan mati dulu gue masih banyak dosa!!!" Teriak Adel, akhirnya gadis tersebut tersadar dan langsung bangun ke posisi duduk. Butuh beberapa saat untuk Adel menyadari bahwa sudah banyak orang yang mengerumuninya.


Seperti tanpa dosa, gadis itu nyengir kemudian bertanya ke orang-orang disekelilingnya, "Ini ada apa ya pak? Kok pada ngumpul gini?" Adel bertanya dengan hati-hati.


Salah satu dari orang yang mengerumuninya menjelaskan, "Kamu tadi keserempet motor, gimana ada yang luka gak neng?"


Bukannya menjawab Adel justru celingak-celinguk mencari orang yang menyerempetnya lagi-lagi dia bertanya ke orang yang menjelaskan tadi, "Orang yang nyerempet saya dimana pak?"


"Itu sudah diamankan warga, biar gak kabur dan tanggung jawab." Jawab orang itu sambil menunjuk ke arah pemuda yang sedang diamankan warga.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Adel langsung berdiri kemudian menjelaskan ke warga bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak ada luka yang cukup serius yang membuatnya harus dibawa ke rumah sakit, tak lupa gadis cantik itu juga mengucapkan terima kasih kepada orang-orang itu karena telah menolongnya. Mendengar penjelasan dari Adel para warga pun lekas membubarkan diri dan kembali ke aktivitas masing-masing.


Adel terlihat berjalan dengan keadaan pincang karena kakinya keseleo, dia berjalan ke arah pemuda yang menabraknya, dan setelah sampai di hadapan pemuda itu Adel kemudian berkata, "Gue gak butuh tanggung jawab apa-apa dari lo, gue cuma minta lo anterin gue ke sekolah."


Pemuda yang tangannya masih dipegangi dua orang bapak-bapak di samping kanan kirinya itu menjawab, "Eh sorry ya, gue gak salah apa-apa tapi elu sendiri yang berdiri di tengah jalan, sebelumnya gue juga udah kasih klakson agar elu minggir tapi bukannya minggir elu malah cuma diem kek orang bego!" Jawab pemuda itu dengan ketus.


Sebelum Adel bisa menjawab, kedua bapak-bapak yang memegangi pemuda tersebut sudah lebih dulu naik pitam, salah satu dari mereka berkata, "Eh bocah masih untung lu nggak dibawa ke kantor polisi, si neng ini cuma mau dianterin bukan minta dinikahin elah."


"Lu mau tanggung jawab apa kagak? Kalo kagak, ini masih ada orang-orang yang mau bawa lu ke kantor polisi." Yang lainnya ikut menimpali.


Pemuda tinggi yang masih mengenakan helm itu tidak bisa berkutik apa-apa lagi karena orang-orang disekitarnya, meskipun dirinya tetap merasa tidak bersalah akhirnya dengan berat hati dia mau mengantarkan gadis yang ia serempet sebelumnya.


Kedua bapak itu pun menuruti keinginan pemuda tersebut, tetapi mereka masih tetap disana untuk memastikan bahwa pemuda itu benar-benar akan bertanggung jawab.


Si pemuda langsung naik ke motornya dan berkata, "Cepet naik!" Katanya singkat kepada Adel.


Adel pun buru-buru naik ke motor yang sama dengan si pemuda, dia naik ke motor tersebut dengan hati-hati karena kakinya yang masih terasa sakit, "Udah ayo jalan." Ucap gadis cantik tersebut.

__ADS_1


Pemuda itu langsung mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi bukannya tanpa alasan, dia masih merasa kesal karena harus bertanggung jawab atas perbuatan yang menurutnya bukanlah kesalahannya. Keadaan jok motor yang tinggi dibagian belakang itu membuat Adel sedikit kesulitan saat membonceng apalagi dalam kondisi kebut seperti itu.


"Bisa pelan-pelan aja gak?!" Pinta Adel dengan ketakutan dengan berpegangan kepada pundak pemuda tersebut.


Namun sayangnya pemuda itu justru tidak menanggapi sama sekali, sebaliknya dia justru menambah kecepatan motornya yang membuat Adel semakin ketakutan. Karena saking takutnya, Adel tak lagi berpegang pada pundak pemuda itu, dia beralih berpegang erat ke perut pemuda tersebut dengan sangat erat sambil memejamkan matanya. Menyadari gadis yang dibonceng berpegang ke perutnya, pemuda itu pun langsung berhenti mendadak.


"Eh elo nyari kesempatan ya, hah?!" Pemuda itu berteriak dibalik helm yang dikenakannya.


Adel langsung melepaskan pegangannya kemudian menjawab dengan tak kalah sengit, "Dari tadi gue udah minta elo buat gak ngebut, tapi lo malah semakin menjadi elo kali yang nyari kesempatan biar bisa gue peluk kan?!"


"Mending gue boncengin bencong daripada nyari kesempatan ke anak gak jelas kek lo!" Keduanya berdebat di atas motor.


"Eh mak-..." Sebelum Adel bisa menyelesaikan perkataannya, pemuda tersebut dengan cepat memotong perkataan gadis itu.


"Ah brisik! Diem, atau gue ceburin lo ke sungai itu!" Ancam pemuda tersebut sambil menunjuk ke bawah jembatan tempat mereka berhenti.


Adel pun diam tanpa melanjutkan perdebatan lebih jauh, dia takut kalau dirinya akan benar-benar diceburkan ke sungai, mengingat dia sama sekali tidak mengenal pemuda yang membawanya itu.

__ADS_1


Mengetahui Adel hanya diam, pemuda itu kemudian bertanya dengan nada ketus, "Dimana sekolah lo?" Tanyanya, yang dijawab oleh Adel dengan menyebutkan nama sekolahnya.


Keduanya melanjutkan perjalanan menuju sekolah Adel, kali ini pemuda itu mengendarai motor dengan kecepatan sedang sehingga tidak ada drama yang tercipta diantara keduanya.


__ADS_2