Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Pergi Jalan-jalan


__ADS_3

Nadella Putri


Sayang?


Belum bangun?


Kok nggak bales? Kamu nggak apa-apa kan?


Beberapa pesan singkat yang Kaisar kirim ke nomor Adel serta ada beberapa panggilan yang sengaja tak dijawab oleh gadis itu. Bukannya tanpa alasan, pagi ini Adel bangun lebih awal namun raganya masih setia bermalas-malasan di atas ranjang. Hati dan perasaan gadis itu masih kacau karena pertengkaran yang dilaluinya bersama Satya tadi malam sehingga Adel tak berselera untuk melakukan apapun. Bahkan pesan dan panggilan dari Kaisar pun ia abaikan begitu saja meskipun sudah membaca pesan tersebut.


Ponsel Adel berdering sekali lagi dan terlihat nama 'Kak Kaisar' tertera dalam panggilan tersebut.


Karena beberapa kali tidak mendapat respon apapun dari Adel, pemuda itu mengirim pesan yang berisi sedikit ancaman.


Kalo kamu nggak balas atau angkat telfonku, aku akan ke rumah kamu sekarang.


Mendapat pesan seperti itu membuat Adel seketika menjadi gelagapan dan langsung menghubungi Kaisar saat itu juga.


"Hallo maaf, aku sedikit nggak enak badan jadi nggak buka hp dari tadi." Adel berusaha mengontrol suaranya sebaik mungkin agar tak terdengar gugup.


"Perlu ku ancam dulu baru mau menghubungi ya?" Balas Kaisar dengan kesal.

__ADS_1


Adel terbatuk pelan mendengar perkataan Kaisar kemudian berkata, "Ah bukan begitu, karena semalam aku jadi masuk angin. Ini aja aku belum keluar kamar."


Kaisar terdengar menghela nafas panjang kemudian mulai berkata dengan suara pelan, "Maaf ya gara-gara aku kamu jadi sakit begini. Apa perlu ku antar ke dokter?"


"Nggak, nggak usah. Nanti ku bawa istirahat aja juga baikan kok."


"Atau ku belikan obat nanti ku antar ke rumah kamu?"


"Hei, kan udah ku bilang nggak usah. Ya udah ya kepalaku pusing nanti ku kabari lagi." Adel menjawab dengan suara kesal.


"Kok kamu marah sih, emang salah aku khawatirin keadaan kamu?" Kaisar pun tak kalah kesal.


Adel memijat kepalanya yang memang terasa pusing kemudian menjawab Kaisar, "Maaf bukan begitu kak, aku lagi nggak enak badan dan yang aku butuhkan cuma istirahat udah itu aja. Kakak nggak perlu beliin aku obat atau sampai datang ke sini."


"Iya kak."


"Baiklah, istirahatlah dengan benar sayangku."


"Iya kak." Jawab Adel yang kemudian mengakhiri panggilannya dengan Kaisar.


Adel menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong dengan sesekali menghela nafas panjang, "Maaf kak aku harus bohong sama kamu, pikiranku sangat kacau dan aku nggak bisa cerita ke kamu, karena aku nggak mau membebani kamu dengan masalah keluarga ku, selama ini kamu udah terlalu baik sama aku."

__ADS_1


Adel memilih untuk kembali memejamkan matanya meskipun matahari sudah mulai meninggi. Namun sebelum sempat bisa terlelap dengan sempurna, seseorang mengetuk pintu kamarnya yang membuat Adel kembali terjaga.


"Siapa?" Tanya Adel tanpa beranjak dari tempat tidurnya.


"Tante Rani, apa tante boleh masuk?" Seru Rani dari balik pintu.


Setelah keadaan Rani mulai membaik meskipun harus kehilangan sebagian ingatannya, Satya menegaskan kepada Adel untuk jangan sampai mengungkapkan kebenaran tentang hubungan keluarga mereka, apalagi sampai Adel mengaku bahwa dia adalah putri kandung dari Rani dan juga Satya. Hal itu Satya lakukan sembari menunggu Rani bisa sembuh dengan total, dan barulah Satya akan mengungkapkan semua kebenarannya.


Hati Adel selalu merasa sakit ketika dia harus berpura-pura menjadi orang asing bagi Rani dan harus memanggil Rani dengan sebutan Tante, tapi mau tidak mau Adel harus melakukan semua itu demi kesembuhan mamanya.


"Oh iya Tante boleh, pintunya nggak dikunci kok." Jawab Adel lalu bangun kemudian duduk di sisi ranjang.


"Baru bangun?" Rani bertanya dengan tersenyum lembut sembari menghampiri Adel kemudian duduk di sampingnya.


Adel menggeleng pelan kemudian menjawab, "Enggak, mungkin udah ada sepuluh menitan, hehe."


Rani mengangguk pelan dengan mulut membentuk huruf O kemudian berkata, "Ya udah buruan mandi gih, nanti kalo udah selesai langsung nyusul ke bawah ya, kita sarapan bareng."


"Dandan yang cantik ya, Tante mau ajak kamu jalan-jalan." Imbuhnya kemudian pergi dari kamar Adel.


Adel memandangi punggung Rani hingga hilang dari balik pintu dengan seutas senyuman tipis yang menghiasi bibirnya.

__ADS_1


"Asal bisa dekat dengan mama, apapun akan aku lakukan." Ujarnya yang kemudian beranjak dari ranjang bersiap untuk membersihkan diri.


Jangan lupa klik rate, vote, like dan komen ya. Jangan jadi silent reader yaa... Terimakasih 💜


__ADS_2