
Sesampainya di rumah Rendra, pemuda dengan tubuh jangkung itu bergegas ke kamar tempat Adel beristirahat, rupanya gadis yang sangat dicintainya itu telah sadarkan diri dan tengah menunggu Kaisar kembali.
Rendra yang duduk di sisi ranjang menoleh ke sisi pintu ketika tahu Kaisar telah tiba, "Kemarilah, Adel sudah menunggumu sejak tadi." Rendra melambaikan tangan yang diikuti Kaisar. Kemudian laki-laki paruh baya itu memberikan ruang agar Kaisar dan Adel dapat bicara berdua.
Kaisar meraih tangan Adel yang tampak lemah, "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sudah lebih baik?" Tanyanya serasa mengusap lembut pipi gadis manis itu.
Adel mengangguk ringan kemudian menjawab, "Sudah lebih baik dari sebelumnya."
"Ah ini salahku, seharusnya aku mendengarkan perkataanmu sebelumnya saat meminta pulang, kalau aku tau kamu sedang sakit, aku tidak akan memaksakan diri seperti ini." Ucap Kaisar yang begitu menyesal.
"Aku pingsan bukan karena aku sakit." Adel tertunduk dalam saat berkata demikian.
Sedangkan Kaisar memasang wajah heran, "Maksud kamu? Aku nggak paham."
Adel semakin menundukkan kepalanya, kedua tangannya bahkan mencengkeram sprei kasur yang ditempatinya, "Aku terlalu takut, aku takut melihat kenyataan bahwa kakak benar-benar putra kandung papa Rendra."
Kaisar membelalakkan matanya, sampai detik itu Kaisar belum bercerita mengenai kebenaran hubungan antara dia dan juga Rendra, tapi bagaimana Adel bisa tahu tentang itu.
"I-itu artinya, kamu..."
__ADS_1
"Iya, sebelum kakak mengajakku kesini, aku sudah tahu kalau kakak adalah anak papa tapi aku belum bisa memastikan soal itu. Sampai pada akhirnya kakak mengajakku ke sini, ke rumah papa Rendra." Jawab Adel.
Gadis itu memejamkan matanya dengan erat dan semakin mencengkram spreinya sebelum melanjutkan, "Katakan, apakah kekhawatiranku itu benar, kak?!" Adel bertanya tanpa berani menatap langsung wajah Kaisar.
Kaisar yang sudah kehabisan tenaga hanya bisa menghela nafas panjang sebelum menjawab, "Seperti yang kamu pikirkan, semua itu benar."
Adel yang sebelumnya terpejam kini membuka mata lebar-lebar setelah mendengar jawaban Kaisar yang begitu mengejutkannya, gadis itu mulai terisak sembari memeluk kedua lututnya.
Kaisar tak bisa berkata apapun, pemuda itu hanya mampu menenangkan Adel dengan mengusap lembut punggungnya, seperti Adel, Kaisar pun merasakan kehancuran yang sama.
"K-kenapa a-aku harus mencintai anak dari papaku sendiri?!" Tangis Adel semakin pecah.
"Tapi tetap saja, papa Rendra yang sudah aku anggap melebihi orang tua kandung aku sendiri, mana mungkin aku bisa mencintai anaknya yang harusnya aku anggap sebagai kakak aku!"
Kaisar diam, dia secara sadar mengerti perasaan Adel, pemuda itu pun akhirnya melontarkan pertanyaan yang membuat Adel merasa dilema, "Jadi apa keputusan kamu setelah tahu semuanya? Kamu mau terus berjuang denganku, atau berhenti sampai di sini?"
Adel menatap Kaisar dengan begitu lekat, memang benar dia sangat mencintai Kaisar, namun logikanya menolak untuk melanjutkan hubungan itu.
"A-aku tidak tau." Jawab Adel singkat.
__ADS_1
Kaisar mengepalkan tangan dengan keras,
"Andai aku bisa memberitahu Del, aku bukan kecewa karena kamu mempunyai hubungan keluarga dengan papa, tapi yang membuatku marah adalah, hubungan kita yang ditentang semua orang karena masa lalu orang tua kita." Batin Kaisar berteriak lantang.
Kaisar mencengkeram bahu Adel dengan cukup erat, "Lihat aku! Aku akan menentang mereka semua yang menolak hubungan kita!"
Kaisar diam beberapa saat, dia memperkuat tatapannya sebelum melanjutkan, "Bahkan jika aku harus melawan orang tuamu, akan aku lakukan!"
Selepas berkata demikian Kaisar keluar kamar meninggalkan Adel yang dilanda kebimbangan.
Rupanya Rendra sejak tadi mendengar pembicaraan Kaisar dan Adel dari luar kamar, laki-laki paruh baya itu berdiri dengan seksama di sisi dinding yang memisahkan kamar tidur dengan ruang tamu.
"Apa yang membuatmu yakin bisa melawan Satya?" Pertanyaan Rendra membuat Kaisar cukup terkejut, karena pemuda itu tidak menyadari keberadaan papanya tersebut.
"Sejak kapan papa ada disitu?!"
Bukannya menjawab, Rendra justru melanjutkan perkataannya, "Kamu tidak tau siapa Satya, orang itu adalah orang yang mengerikan. Dia bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, apa kamu pikir dia akan menyetujui hubungan kalian setelah tau siapa kamu sebenarnya?!"
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Kaisar terlihat cukup tenang, bahkan dia menunjukkan senyum seringai, "Dan apakah papa lupa siapa aku sebenarnya?"
__ADS_1