
Kaisar menjaga Nara sampai tertidur dalam keadaan masih duduk, hingga ia tersentak bangun akibat bunyi alarm dari ponselnya.
Kaisar memijat pelipisnya karena merasa pusing, pemuda itu baru tidur dua jam, "Ah iya aku memasang alarm jam tiga dini hari. Pagi ini aku harus membantu mengurus pemakaman orang tua Nara."
Kaisar memandangi wajah Nara beberapa saat sebelum akhirnya terbelalak karena mengingat sesuatu, pemuda itu mengambil ponsel yang sudah di sakunya dengan tergopoh-gopoh.
"Adel, Adel, Adel." Kaisar bergumam memanggil nama Adel sampai beberapa kali sembari menggulir layar ponselnya.
"Sial! Kenapa aku bisa lupa begini, padahal kemarin sore aku udah janji akan menghubunginya." Gumamnya yang kemudian memulai panggilan telepon.
Setelah mencoba sampai empat kali, tak ada tanda-tanda bahwa Adel mengangkat panggilan dari Kaisar.
"Ah iya juga, jam segini pasti dia belum bangun, ku kirim pesan saja." Ucap Kaisar kemudian mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
Hai, belum bangun ya? Maaf ya aku baru sempat mengabari, keadaan disini benar-benar kacau. Nara kehilangan kedua orang tuanya, kondisi Nara pun cukup berat. Hari ini aku akan mengurus pemakaman kedua orang tua Nara, datanglah ke pemakaman jam dua siang ini. Jaga diri baik-baik ya. Sekali lagi aku minta maaf.
__ADS_1
Kaisar menghela nafas panjang setelah mengirim pesan tersebut, dimasukannya ponsel ke dalam saku, "Aku yakin kamu bisa mengerti, Del."
***
Pukul dua siang, hari ini banyak kerabat dan orang-orang berlapis baju serba hitam datang berkumpul untuk menyaksikan proses pemakaman kedua orang tua Nara. Di sisi lain, Nara tidak bisa hadir ke pemakaman dikarenakan kondisinya yang tidak memungkinkan. Gadis itu bahkan tidak mengetahui soal pemakaman ini dikarenakan mentalnya yang belum stabil. Nara hanya menunggu di rumah dengan beberapa orang yang tidak ikut ke pemakaman.
"Tante sama om Anggara orang baik ma, Kai nggak nyangka mereka akan pergi secepat ini." Kaisar berkata kepada Anika yang saat itu juga datang ke pemakaman.
"Tuhan lebih sayang mereka nak, mama lebih khawatir kepada Nara kedepannya." Jawab Anika.
"Kak Kaisar!" Dari arah belakang ada yang memanggil Kaisar dengan suara yang tidak terlalu keras.
Adel mengangguk sambil tersenyum ketika melihat Anika juga ada di samping Kaisar, "Tante." Sapa Adel yang dibalas senyuman dari Anika.
Kaisar menoleh dan mendapati Adel sudah berada di belakangnya, "Hei baru datang?"
__ADS_1
"Iya maaf kak, jalanan macet." Jawab Adel kemudian gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan sebelum bertanya, "Dimana kak Nara?"
"Dia nggak bisa datang karena kondisinya nggak memungkinkan, dia ada di rumah." Jawab Kaisar.
Adel hanya mengangguk pelan setelah mendapat jawaban dari Kaisar. Kini, tak ada lagi yang berkata lebih jauh, semuanya diam dalam keheningan menyaksikan pemakaman kedua orang yang dikenal baik oleh banyak orang. Beberapa keluarga pun menangis mengiringi kepergian pasangan Anggara itu.
Orang-orang baru kembali ke rumah pukul lima sore, Kaisar berjalan beriringan dengan Anika dan juga Adel. Saat ketiganya baru menapakkan kakinya di rumah Nara, mereka langsung dikejutkan dengan Nara yang berlari menghampiri Kaisar dan langsung memeluk pemuda tersebut.
"Kaisar kamu kemana aja, aku nungguin kamu dari tadi." Ucap Nara yang dengan berderai air mata.
Kaisar begitu terkejut sampai mengangkat tangannya, "M-maaf sudah membuatmu menunggu." Jawab Kaisar dengan canggung.
Tidak hanya Kaisar, Adel yang ada disana pun ikut terkejut, namun Adel hanya bisa diam menyaksikan pemandangan yang ada di depannya, gadis itu memegangi dadanya seolah ada perasaan yang aneh yang melewati hatinya.
"Apa ini? Kenapa rasanya aneh sekali melihat kedekatan mereka berdua." Ucap Adel dalam hati.
__ADS_1
Kaisar melirik Adel yang ada disampingnya dengan tatapan sendu seolah ingin berkata untuk jangan khawatir dan berpikir terlalu jauh. Kaisar membawa Nara masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Adel yang masih mematung di tempatnya.