
"Kai, m-mama p-papa..." Nara berkata lirih dengan air mata yang mengalir deras dari matanya.
Dengan penuh kelembutan Kaisar berusaha memenangkan Nara, "Nara kuatlah, mereka akan sedih kalau melihatmu seperti ini."
"Hidupku akan jadi seperti apa kalau tanpa mereka?!"
Kaisar tidak menjawab lagi, pemuda itu tahu betul di kondisi Nara yang sekarang, perkataan apapun yang Kaisar lontarkan tidak akan mampu membuat gadis itu menjadi lebih tenang. Yang Nara butuhkan saat ini bukanlah kalimat Nasihat, melainkan kehadiran orang-orang terdekatnya untuk memberinya semangat hidup dan tidak membiarkan Nara merasa sendiri setelah kehilangan kedua orang tuanya.
Secara tiba-tiba Nara melepaskan diri dari pelukan Kaisar dan bersiap turun dari ranjangnya, "Aku mau menyusul mama sama papa, aku harus ikut mereka pergi." Ucapnya yang sudah bersiap mencabut selang infus dari tangannya.
Meskipun terkejut, dengan sigap Kaisar langsung mencegah Nara untuk turun dari ranjangnya, "Tenanglah Nara apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Kaisar yang sudah menangkap tubuh Nara menggunakan kedua tangannya.
"Kaisar aku harus pergi menyusul kedua orangtuaku. Aku harus ikut bersama mereka, tolong lepaskan aku!" Nara terus berontak agar Kaisar mau melepaskan tangannya.
"Iya tapi kamu tenang dulu Nara!"
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa tenang Kaisar! Kamu nggak tahu karena kamu nggak ada di posisiku!" Selepas berkata demikian, Nara akhirnya berhasil melarikan diri dari Kaisar.
Namun saat langkah kakinya baru sampai di ambang pintu, tubuh Nara terlihat kehilangan keseimbangan dan jatuh pingsan begitu saja.
Kaisar dengan cepat berlari menghampiri Nara kemudian menangkapnya yang hampir jatuh ke lantai itu.
"Nara sadarlah!" Ucap Kaisar yang kini sudah duduk bersimpuh di lantai dengan memangku Nara yang dalam keadaan pingsan.
Tidak ada respon sama sekali, Kaisar segera menggendong tubuh Nara untuk dibawa ke ranjang. Setelahnya, Kaisar segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Nara.
"Bagaimana dok?" Tanya Kaisar ketika dokter sudah selesai memeriksa.
Kaisar menghela nafas panjang setelah mendapat penjelasan dari dokter, pemuda itu memandangi wajah Nara yang masih setia terpejam.
"Baik dok terima kasih." Ucap Kaisar, dokter pun pergi meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Kaisar menarik kursi dan duduk di samping ranjang Nara, "Bagaimana ini Nara, apa aku harus memulangkanmu ke kerabatmu yang lain?"
"Ah tidak, aku tidak yakin mereka bisa mengurusmu dengan baik." Kaisar menggelengkan kepalanya.
Kaisar mengacak-ngacak rambutnya sendiri karena merasa frustasi, "Argh!!!"
***
Waktu sudah menunjukkan tepat jam sepuluh malam, tapi masih ada seorang gadis yang menunggu dengan perasaan cemas di kamarnya sembari pandangannya tak beralih dari layar ponsel.
"Udah jam segini tapi nggak ada pesan atau panggilan apapun."
"Katanya mau mengabari, tapi sampai malam pun nggak ada apa-apa." Gumam gadis itu yang kemudian membenamkan wajahnya ke bantal.
Adel mengubah posisi tengkurap ke terlentang, sambil memandangi langit-langit kamar Adel berkata, "Kakak nggak apa-apa kan? Apa kondisi kak Nara cukup parah sampai kak Kaisar lupa menghubungiku?"
__ADS_1
Adel mengambil ponselnya dan menatap layarnya sekali lagi, "Apa aku aja yang menghubungi dulu? Ah tapi jangan deh, takutnya dia lagi repot." Ucapnya pada diri sendiri.
"Tapi semoga kak Nara dan kedua orangtuanya baik-baik saja." Selepas berkata demikian, Adel memilih untuk tidur meskipun pikirannya tidak tenang.