
Sepanjang malam Adel tak bisa tidur, dia terus terjaga karena teringat percakapannya dengan orang tuanya saat makan malam tadi. Terhitung dari sekarang, waktu Adel bersama Rani hanya tiga bulan saja.
Waktu menunjukkan pukul satu dini sebelas malam.
Kak, apa kakak udah tidur?
Pesan singkat yang Adel kirim kepada Kaisar.
Belum sayang, kok tumben jam segini belum bangun? Apa kamu butuh sesuatu?
Adel tak membalas, dia memilih untuk berbicara dengan Kaisar lewat panggilan video.
Terlihat dari layar ponsel Kaisar sudah berbaring rapih di atas tempat tidur dengan bertelanjang dada. Rambutnya yang acak-acakan menambah kesan tampan bagi pemuda berkulit putih tersebut.
Kaisar menaikkan HP-nya ke atas wajah lalu menyapa Adel dari seberang sana.
"Tumben, biasanya nggak mau diajak vc, ini malah vc kakak duluan." Goda Kaisar.
"Kangen." Satu kata singkat yang sangat jarang keluar dari mulut mungil Nadella Putri.
Kaisar bahkan sampai tersedak nafasnya sendiri, "Kakak nggak salah denger kan?" Tanya Kaisar memastikan.
Kaisar mengarahkan speaker HP-nya ke telinga, "Coba ulangi, tadi kurang jelas."
Adel yang nampak malu-malu tidak mau meladeni kejahilan dari pacarnya tersebut, "Ih udah ah, aku matiin nih!"
__ADS_1
Kaisar merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap lalu menyandarkan HP-nya ke salah satu bantal agar bisa berbicara dengan mudah, "Kenapa? Sini cerita sama kakak." Tanya Kaisar dengan kepala yang menopang pada bantal yang lain.
"Aku nggak tau kak musti cerita gimana, rasanya hampa sekali." Adel berucap lemah sambil tidur miring dengan HP yang juga sama di sandarkan pada sebuah bantal.
"Berantem lagi sama papa?"
Adel menggeleng dari seberang telepon.
"Terus kenapa?"
"Aku pingin cerita, tapi nggak tau cerita gimana."
Kaisar terdengar gelisah dengan nafas yang tak beraturan, "Kakak paham, kalau begitu besok mau ketemu? Cerita langsung ke kakak, inget kakak nggak suka ada yang ditutup-tutupi dari kakak!"
Kaisar tersenyum kemudian mengalihkan pembicaraan, "Bagaimana acara makan malamnya tadi, apa semuanya lancar?"
"Yah begitulah, lancar nggak lancar sih sebenernya." Adel terlihat lemas dan kecewa.
"Banyak hal yang terjadi ya?"
"Begitulah, aduh nggak tau ah kak!"
Kaisar menangkap raut sedih dari wajah cantik gadis itu, dia bisa merasakan ada banyak hal yang Adel ingin ceritakan namun bingung harus memulai dari mana.
"Nggak apa-apa kalau mau nangis, meskipun kakak nggak ada di samping kamu, tapi kakak nggak akan pernah ninggalin kamu, sayang." Perkataan Kaisar berhasil meruntuhkan pertahanan yang Adel buat, gadis itu mulai berlinang air mata hingga membasahi selimut yang menutupi tubuh kecilnya.
__ADS_1
Adel mulai terisak, dengan suara yang tercekat dia berkata, "Baru aja bahagia malah mau diambil lagi kebahagiaannya, apa Tuhan nggak sayang sama Adel?"
Kaisar mengerutkan alisnya, menatap Adel dengan perasaan pilu, "Sayang, kalau kamu kehilangan satu kebahagiaan, aku akan memberikan seribu kebahagiaan untuk kamu, percayalah Tuhan nggak jahat, ada alasan dibalik situasi yang kamu alami sekarang.
Adel sedikit tenang mendapat nasihat dari Kaisar, memang pilihan yang tepat dia menghubungi Kaisar di saat-saat tersulit dalam hidupnya, Adel semakin yakin dan berjanji pada dirinya sendiri akan berjuang bersama-sama dengan Kaisar apapun yang terjadi.
"Terima kasih kak." Ucap Adel dengan suara yang masih sesenggukan.
"Tidurlah, ini sudah malam."
"Tapi Adel masih mau VC sama kakak."
Kaisar terdengar tertawa gemas melihat tingkah manja Adel, "Mau gini aja, nggak usah dimatiin VC-nya?"
Adel mengangguk cepat yang lagi-lagi membuat Kaisar semakin gemas.
"Baiklah, sekarang tutup matanya dan tidur, jangan lupa baca do'a dulu." Perintah Kaisar.
Adel merubah posisinya agar lebih nyaman seraya berkata, "Tapi jangan dimatiin ya VC-nya."
"Iya sayangku."
Setelah memastikan Adel lelap dengan tidurnya, Kaisar pun ikut memejamkan mata, dia menarik selimut hingga menutupi leher meskipun bertelanjang dada yang sudah menjadi kebiasaannya saat tidur.
...Jangan lupa untuk like, vote, dan komen ya kakak2, terimakasih....
__ADS_1