Ruang Dan Waktu

Ruang Dan Waktu
Bioskop


__ADS_3

Adel tampak cantik mengenakan rok di atas lutut berwarna hitam dipadupadankan dengan kaos berwarna senada yang dimasukkan ke dalam rok. Rambut panjangnya yang di kuncir menambah kesan manis dari gadis tersebut.


Adel berlarian kecil menuruni anak tangga menggunakan sepatu warna putih yang sangat cocok dengan pakaiannya sekarang.


Saat sudah sampai di ruang makan, Adel menyapa Satya dan juga Rani yang sudah lebih dulu berada di sana, "Pagi ma- eh maksudnya tante, pagi om." Hampir saja Adel keceplosan memanggil Rani dengan sebutan mama, untung saja gadis itu cepat sadar sebelum Satya memarahinya.


"Pagi sayang, wah cantik banget." Ucap Rani yang memuji penampilan Adel.


Adel tersipu malu mendapat pujian dari Rani, "Ah nggak kok Tante, biasa aja. Hehe."


"Ya udah kita sarapan dulu ya, biar tante ambilkan."


"Makasih Tante." Jawab Adel dengan mengangguk.


Di sisi lain Satya hanya diam sibuk dengan ponselnya sebelum akhirnya ditegur oleh Rani untuk melakukan sarapan bersama.


"Satya, hari ini kita jadi pergi keluar kan?" Rani bertanya di sela-sela makannya.


"Jadi." Jawab Satya singkat dengan raut wajah datar.

__ADS_1


"Baguslah, aku mau ajak Adel pergi bersama kita. Karena kasihan kalau dia di rumah sendirian, nggak apa-apa kan?"


"Hmmm." Satya hanya membalas dengan erangan kecil.


"Makan yang banyak sayang." Rani berkata kepada Adel.


"Iya tante."


Ketiganya menghabiskan sarapan dengan diiringi dengan percakapan kecil antara Adel dan juga Rani, sedangkan Satya hanya diam menyimak pembicaraan keduanya tak ada sedikit pun niat untuk bergabung dalam percakapan tersebut.


Setelah menyelesaikan sarapannya, ketiganya kemudian bersiap pergi ke tempat tujuan, rencananya mereka akan pergi menonton film kemudian pergi ke pusat perbelanjaan.


"Oh ya? Kalau begitu kita nonton ini saja nanti." Jawab Rani tak kalah antusias.


Adel dan Rani duduk berdua di kursi penumpang belakang sedangkan Satya yang menyetir duduk sendiri di depan. Layakya seorang sopir pribadi, Satya sama sekali tak bersuara di sepanjang perjalanan dan hanya diam mendengarkan keseruan kedua perempuan yang duduk di belakangnya.


"Hais perempuan-perempuan ini, mereka pikir saya sopir apa?!" Satya hanya berani menggerutu dari dalam hati.


Karena kemacetan di hari libur membuat mereka cukup lama di perjalanan, tapi untungnya film yang akan mereka tonton masih belum di mulai sehingga ketiganya masih ada waktu untuk memesan tiket bioskop.

__ADS_1


Film yang mereka tonton adalah film bergenre komedi, sepanjang film di putar, selalu ada tawa yang menggema di dalam bioskop dari orang-orang yang menontonnya, tak terkecuali Adel dan juga Rani. Namun berbeda dengan Satya, layaknya manusia yang hidup tanpa hati, laki-laki itu hanya berekspresi dingin dan datar ketika orang-orang tak bisa menahan gelak tawanya. Satya justru sesekali menguap, seolah film yang mereka tonton sangat membosankan baginya.


Tak ada yang menyadari, selain memperhatikan film, Adel juga sering memperhatikan Rani yang duduk tepat di sampingnya, "Rasanya sudah lama sekali ya ma, sejak terakhir kali kita pergi bersama seperti ini. Mama tahu? Hari ini Adel sangat bahagia melihat mama yang tertawa lepas seperti itu, meskipun hari ini mama nggak ingat sama Adel tapi Adel berjanji, Adel akan berusaha buat mama ingat lagi sama Adel."


Adel berucap dari dalam hati, dan tanpa disadari air mata gadis itu luluh begitu saja.


Rani menoleh ke arah Adel dan menyadari gadis itu tengah menangis, lalu bertanya dengan khawatir, "Eh Adel kenapa nangis?"


Adel segera mengusap air matanya dan tersenyum, "Melihat tante, Adel tiba-tiba jadi kangen sama mama."


"Sayang, mama kamu pasti bahagia di sana, jangan menangis lagi ya?" Ucap Rani, Satya sengaja memberitahu Rani bahwa orang tua Adel sudah tiada, tentu saja itu adalah salah satu bentuk sandiwara yang dilakukannya.


Adel hanya tersenyum dan tak menjawab sepatah kata pun. Rasanya Adel ingin berteriak lantang bahwa mamanya adalah Rani sendiri yang kini tengah bersamanya, namun hal itu tak mungkin ia lakukan mengingat kondisi Rani.


Adel melirik ke arah Satya yang tengah memberinya tatapan tajam seolah memberi isyarat untuk tidak mengatakan apapun. Mendapat tatapan seperti itu, Adel segera mengalihkan pandangannya.


Mereka kembali menikmati film yang belum berakhir.


Jangan lupa klik rate, vote, like dan komen ya. Jangan jadi silent reader yaa... Terimakasih 💜

__ADS_1


__ADS_2