
Setelah membiarkan Adel menangis kurang lebih lima belas menit dipelukannya dan gadis itu pun terlihat sudah bisa tenang, barulah Kaisar pelan-pelan menarik pelukannya dari Adel.
Kaisar sungguh melakukan tindakan yang tak terduga, pemuda tersebut mengusap air mata Adel menggunakan jemarinya dengan sangat lembut. Jelas Adel juga sangat terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu. Kaisar lalu mengarahkan Adel untuk duduk disebuah bangku yang ada disana sambil menikmati pemandangan kota yang kini sudah tak lagi berkabut seperti sebelumnya, hujan telah reda dan berganti dengan angin sejuk yang menghiasi malam.
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, entah masalah apa yang mereka berdua hadapi sehingga mereka sama-sama terjaga hingga pergantian hari. Suasana menjadi sangat canggung, mereka yang selalu bertengkar setiap kali bertemu kini harus berada di situasi yang sangat berbeda dari biasanya.
Setelah kejadian beberapa tahun lalu dimana ia mengetahui Anika mengalami perselingkuhan dari Rendra, dibalik sifat kerasnya, Kaisar juga tumbuh menjadi sosok yang lebih peka terhadap perasaan wanita. Sehingga ia sama sekali tidak bisa melihat ada wanita yang menangis terlebih di depannya secara langsung seperti ini.
Kaisar berdehem pelan kemudian berkata, "Ternyata bocah tengil kaya lo bisa nangis juga ya." Ucap Kaisar dengan nada bercanda, dia sedang berusaha mencairkan suasana.
Adel membalikkan perkataan Kaisar, "Dan orang nyebelin kaya lo ternyata bisa lembut juga ya."
Keduanya sama-sama tertawa karena ucapan mereka sendiri.
Setelah hening selama beberapa saat barulah Kaisar membuka suara, "Pasti berat banget masalah lo ya?" Tanya Kaisar hati-hati agar Adel tak tersinggung dengan pertanyaannya.
"Ya begitulah, tapi tanpa adanya masalah kita nggak mungkin jadi orang yang kuat kan?" Jawab Adel, matanya hanya memandang ke arah lampu-lampu yang menghiasi kota.
"Halah kuat apanya? Buktinya tadi mau lompat dari atas sini." Goda Kaisar.
__ADS_1
Adel tersenyum pahit kemudian menjawab, "Ya karena gue bukanlah orang yang cukup kuat."
"Lo tahu? Tuhan tidak akan memberikan cobaan, diluar batas kemampuan hamba-Nya." Ucap Kaisar.
"Ya ya ya gue tahu, tapi semuanya tidak semudah yang kita bayangkan."
Kaisar mengangkat sebelah alisnya, "Lalu?"
Adel terdiam sejenak lalu menghela nafas panjang sebelum berkata, "Entahlah, semuanya tiba-tiba saja terasa begitu berat."
Kaisar mengangguk pelan mendengar perkataan Adel, dia paham rasanya karena dia dulu juga pernah mengalami hal yang sangat menghancurkan hidupnya, meskipun tidak sampai ada pemikiran untuk mengakhiri hidup. Tapi dia berhasil melewati itu semua dan bisa mendapatkan kehidupan hidup yang lebih baik, setidaknya sebelum Rendra datang kembali ke hidupnya saat ini.
Adel melanjutkan perkataannya, "Kalo lo tadi nggak datang, mungkin gue udah..." Adel tidak bisa melanjutkan perkataannya sendiri.
Adel menoleh ke arah Kaisar dan tersenyum, "Makasih ya udah nolongin gue."
Kaisar merasa canggung saat Adel tersenyum ke arahnya, dia pun berdehem pelan sebelum berkata, "Santai aja, meskipun bukan lo, gue juga pasti bakalan tolongin orang itu."
"Iya aku tahu." Jawab Adel singkat.
__ADS_1
"Kalau lo butuh tempat cerita, lo bisa cerita ke gue." Kaisar tiba-tiba berkata demikian.
Adel tertegun mendengar ucapan Kaisar, dia hanya memandangi Kaisar tanpa berkata apapun.
Kaisar yang mendapat tatapan seperti itu merasa telah salah bicara, "Eh tapi kalo lo nggak mau nggak apa-apa kok, gue nggak maksa." Ucapnya sambil mengibaskan tangan.
Adel buru-buru mengubah sorotan matanya, dia tersenyum kecut kemudian berkata, "Nggak kok, lo nggak salah. Gue cuma seneng aja karena baru kali ini ada orang yang mau dengerin cerita gue."
"Pasti lo nggak punya temen ya, haha." Kaisar bertanya dengan sedikit bercanda, pikirnya hal itu bisa sedikit menghibur Adel namun kenyataannya salah.
Adel yang mendengar itu lantas mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah langit, "Iya, gua nggak punya temen." Terlihat dari sorot matanya bahwa Adel sedih saat berkata demikian.
Kaisar segera menghentikan tawanya setelah tahu dia sudah menyinggung perasaan Adel, "Eh? Maaf gue nggak tahu."
"Nggak apa-apa kok, gue udah biasa." Jawab Adel, kemudian dia menghembuskan nafas panjang lalu memejamkan matanya cukup lama.
Kaisar yang merasa bersalah hanya bisa terdiam, dia memilih memandangi pemandangan lampu-lampu kota karena takut salah bicara lagi. Dan keheningan pun tercipta diantara keduanya dalam waktu yang cukup lama.
Setelah diam cukup lama, akhirnya Adel berkata, "Nyokap gue menderita gangguan kejiwaan." Ucap Adel yang membuat Kaisar menoleh ke arahnya.
__ADS_1
***
Hallo kak terus dukung karya novel "Ruang dan Waktu" dengan cara rate, vote, like dan komen ya. Jangan lupa juga untuk follow author, agar kita bisa menjadi teman baik! Terima kasih 😍