
"Ar, Arini...!." Panggil Alan ketika Arini mau bergegas masuk kelas karena 5 menit lagi. Mata kuliah umum Si Dosen Killer akan segera mulai. Dosen itu adalah Pak Abas.
"Ar, tunggulah sebentar! Janganlah terlalu terburu-buru!." Hadang Alan dan berdiri tepat di hadapannya. Dengan nada agak keras Arini membentak Alan,
"Kenapa sih? Sekarang matkul pak Abas. Jika aku di marahin Pak Abas gara-gara kamu, aku laporin ke Pak Abas kalau kamu sering bolos mata kuliahnya. "Arini geram. Karena hampir setiap hari arini sering sekali dijahilin.
"Aduh, gadis alim yang cantik! Gitu aja kok marah! Aku kan cuma manggil kamu sebentar mau pastin, ada senyum di wajahmu yang lugu itu, hehehe. " Sindir Alan. Arini sedikit mengekor mata tajam ke arah Alan namun tak bisa berbuat banyak karena dia harus segera bergegas masuk keruangan sebelum dosen killer itu. Alan pun berlari mengikuti Arini sambil ngoceh di belakang tapi tidak di pedulikan Arini bagai angin lalu. Sampai di ruangan kuliah, Arini mengambil tempat pas di belakang karena sudah banyak mahasiswa/wi dari berbagai jurusan.
Arini tidak begitu memperhatikan, Alan duduk tepat di belakangnya. Alan sudah menggandeng beberapa mahasiswi cantik untuk di rayu jadi pacarnya. Alan terkenal di kampus adalah seorang playboy. Gadis cantik mana sih yang tidak dia gombalin. Hampir setengah gadis cantik di kampus sudah termakan bujuk rayunya untuk jadi gebetannya.
Alan termasuk cowok tajir, orang tuanya pengusaha terkenal di kota, bahkan orang tuanya sering tinggal ke luar negeri untuk urusin bisnis. Segala fasilitas mewah dia miliki. Bukan hanya tajir, Alan juga memiliki paras yang tampan, maskulin kalau mau di bandingan kayak opa-opa korea-lah, memang sih ada keturunan cina dikit dari eyangnya.
__ADS_1
Kurang dari beberapa detik Arini duduk sudah di bangkunya. Pak Abas pun akhirnya memasuki ruangan kuliah dan memulai kuliahnya. Semua tampak serius, tapi tiba-tiba ada segumpal kertas yang telah di ramas menjadi gumpalan bola kecil menimpa kepala Arini, dan reflek Arini bersuara di tengah keheningan,
"Aduh, Siapa yang nimpuk aku pake ini?." Arini celingak - celinguk mencari biang keroknya dan ternyata Si Alan yg duduk di belakangnya. Sontak saja jadi pusat perhatian seisi ruangan yang kala itu sepi dan pak Abas pun dengan tegas,
"Hei, Kamu kenapa? Kalau tidak suka mata kuliah saya silakan keluar! Hal-hal yang tidak berguna jangan pernah dibahas ataupun terjadi diruangan ini ketika saya mengajar, paham!."
Arini mencoba membela dirinya, "Maaf pak! Saya menggangu ketenangannya. Saya kaget Pak, karena di timpuk pake ini!."
"Saya tidak bertanya anda ditimpuk oleh gumpalan kertas, saya suruh anda keluar!." Tegas Pak Abas.
"Kalian berdua, keluar!." Ulang Pak Abas sambil menunjuk Alan untuk keluar ruangan. Dalam hati arini mengatakan "Alan, Breng**** !." Dengan langkah yang lemah Arini di ikuti Alan keluar ruangan.
__ADS_1
"Alan, Kamu kurang kerjaann yah!." Sambil memukuli pundak Alan berulang kali reaksi alan pura-pura menahan sakit "Aduh..duh, sakit Ar!."
Arini menimpali, "Saya sudah cukup bersabar menghadapi kamu, tapi tidak begini caranya. Kenapa harus Pak Abas sih becandanya? Pokoknya kamu harus tanggung jawab, dan saya tidak mau mengulang mata kuliah Pak Abas di semester berikutnya, kamu paham Alan!." Arini beranjak pergi, tapi Alan tetap bersikukuh mengikutinya.
"Ok, Besok kita keruangan pak Abas. Kita minta maaf sama beliau. Bila perlu sanksi apapun dari Pak Abas, kita lakukan!." Alan berusaha menenangkan Arini yang lagi marah.
"Kita,...!! Kamu saja kali, yang salahkan kamu. Pokoknya kamu harus bertanggung jawab!," ungkap Arini dengan kesal lagi.
"Ar, Kita ke kantin yuk! Dinginin otak dan hati kamu yang lagi panasi itu!." Ajak Alan tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Tak lama mereka berdua sudah berjalan menuju kantin. Sambil duduk bersama dan menikmati minuman yang sudah di pesan. Munculah Si Silvi, cewe gebetan Alan yang kesekian. Dengan perlahan Alan meninggalkan Arini dan menyapa Silvi. Mereka ngoborol banyak hal, sehingga Arini turut pergi meninggalkan kantin tanpa harus berpamitan lagi dengan Alan,
Arini adalah gadis biasa berasal dari keluarga yang sederhana saja. Dari kecil Arini sudah di didik orang tuanya dengan keras dan tegas karena ayah Arini seorang polisi yang sudah 3 tahun meninggal dunia karena kecelakaan. Arini hanya memiliki seorang adik laki-laki yang masih duduk di bangku sekolah menengah umum. Ibunya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di salah satu Instansi Pemerintah. Yang membiayai mereka untuk melanjutkan pendidikan adalah ibunya sedangkan pensiun ayahnya untuk kebutuhan hidup harian mereka.
__ADS_1
Kehidupan Arini sudah di anggap berkecukupan, tapi kalau datangnya lagi susah ya susah. Tapi semua itu dapat di lewati dengan cara bersyukur. Arini yang merupakan anak pertama yang memiiki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, sifat dan sikap yang mandiri, keras kepala, tegas, dan kuat dalam berbagai situasi kadang Arini jarang untuk menangis. Arini menangis ketika ayahnya meninggal saja.
Baginya tidak ada dalam kamus kehidupannya air matanya mengalir untuk seorang pria ataupun untuk hal-hal yang tidak berguna. Jika lagi sedih hanya diam dan mengunci diri dalam kamar bahkan sampe berhari-hari tanpa makan. Kalau minum iya (Diet air putih) yang di lakukan Arini dengan mengunci dirinya dalam kamar yaitu menggambar, melukis adalah salah satu bakat yang di milikinya. Karena bakat yang dimiliki Arini mengambil kuliah jurusan Desain-Fashion untuk menjadi seorang desainer.