Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 20


__ADS_3

"Loh, kalian mau kemana nih?, pada rapi banget!," tanya Alan yang terlihat lelah duduk di kursi santai dekat kolam renang. Alan memang sampai duluan ke Villa sedangkan Arini dan Bento masih menikmati pinggiran pantai sambil menikmati sunset, untuk menghilangkan penat.


"Elu ga ikutan!. Kita mau nongkrong ke club!,"


jawab Rony


"Oh ya!. Nagita kemana?."


"Dia pergi dari pagi katanya mau nungguin elu!."


Alan hanya diam, dalam benaknya " Nagita mungkin nyari ketenangan karena masalah tadi pagi, gue juga salah sih!."


"Inikan masih sore bro, gue istirahat dikitlah!."


"Entar lu nyusul dah!. Bento juga nyusul kok, bareng aja!."


"Hhmmm," jawab Alan masih kesal sama Bento.


Tak lama Bli Agung muncul, "Kita cabut ya bro!," pamit Rony.


"Hati-hati ya!. Soalnya dari sini ke club jauh loh!."


"Elu ga ikutan?," tanya Agung pada Alan


"Entar, gue nyusul!. Share location!."


"Siap, tuan muda!."


Tinggalah Alan sendirian di villa itu, sebenarnya ada juga pembantu, ART dan tukang kebun di situ. Cuman ga terekspose aja karena mereka pasti bertugas dan bekerja seperti biasanya.


"Ben, bolehkan elu temanin gue ambil koper dan barang lainnya di villa utama?."


"Boleh sih, cuman nanti elu nginap dimana Ar?. Katanya elu ga kebagian kamar!."


"Ga apa-apa Ben!. Ruang tengah Villa 3 juga cukup luas, apalagi sofanya gede!."


"Menurut hemat gue, sebaiknya elu tetap bareng kita!."


"Gue, ga mau nyari masalah aja sama Nagita!."


"Soal Nagita entar gue atur!. Alan pastinya mau kok, kan dia sendiri bawa elu ke sana!."


"Baiklah, kalau ada elu yang belain gue!."


Bento membalasnya dengan senyuman. Sebenarnya di Villa tiga masih di sisakan 1 kamar kosong, sengaja tidak di ijinkan Alan karena sudah di perhitungkan kalau kamar itu di buka berarti Arini tak jadi luntang- lantung mencari kamar. Seperti dugaan Arini awal bahwa ini di sengaja Alan karena masalah di pesawat itu.


Tak terasa keduanya sudah menghabiskan waktu selama 1 jam, mereka kembali sekitar jam 7-an. Villa sudah tak ada orang lagi, Arini kembali ke kamar atas dan begitu pula Bento ke kamarnya yang ada di lantai bawah. Arini sudah membersihkan dirinya dan mau ke ruang makan karena perutnya juga sudah lapar. Makanan sudah tersedia di meja, Arini sudah tak sabar untuk menikmatinya.


"Ben, makan yuk!. Gue duluan ya soalnya sudah ga tahan!."


Bento muncul tapi sudah berpakaian rapi hendak pergi.


"Lanjut, Ar!. Gue mau hang out bareng teman-teman, elu mau ikutan!."


"Ga deh!. Gue cape seharian mau istirahat aja!."


"Ok..., gue berangkat Ar!."

__ADS_1


"Hati-hati, Ben!."


Arini sendiri di villa utama, akhirnya dia memutuskan untuk main ke Villa sebelah, mungkin anak-anak belum pada tidur, sambil mengisi waktu. Dan memang benar, malah pada rame bermain games.


...****************...


Sedangkan keadaan di club malam, Alan dan teman-temannya tampak sangat bergembira. Bli Agung dan Rony malahan sudah menggandeng seorang cewe cantik di lantai dansa. Sang DJ memainkan music yang membuat seisi club berguncang. Ada seorang gadis berpakaian seksi sangat menyukai Alan dari awal sudah menyiapkan aksinya untuk menariknya ke lantai dansa.


"Hai, boleh kenalan bli!."


"Hai juga, Alan aja ga usah pake bli, gue dari Jakarta!."


"Oh sorry!. Gue, Ayu dari Bali. Lagi suntuk ya, dance yuk!."


"Terima kasih!."


"Ayolah, masa cuman minum doang!," bujuk Si Ayu lagi. Alan memperhatikan gadis itu dengan seksama, cantik dan seksi. Akhirnya Alan pun mau juga ke makan umpan gadis club. Pikirnya ga ada Nagita mending nyari cewe aja dulu untuk bersenang-senang.


Biasalah kalau di club jogetnya ga bisa di bayangin lagi, soalnya kehidupan malam selalu saja menggoda bagi umat manusia yang suka akan dunia gemerlap.


Bento, mungkin salah satu cowo cool, mana ada dia mau ke lantai dansa. Sudah ada beberapa wanita merayunya tapi Bento menolak dengan gayanya yang memikat. Palingan Bento hanya ditraktir wanita cantik dengan segelas minuman dan ngobrol.


"Ben, elu disini! berarti ada Alan dong!."


Silvi lagi muncul di club itu, emang anak ini kayak hantu.


"Pucuk di cinta ulam pun tiba!," lanjut Silvi.


"Eh Sil, dimana-mana kenapa selalu ada elu sih?."


"Kok elu yang ribet sih Ben!. Terserah gue!."


"Siapa juga yang mau di liatin sama elu?. Gue ga demen sama elu Ben!."


"Dasar cewe ga tahu diri aja elu!."


"Apa sih urusan elu Ben?. Gue, maunya sama Alan!."


"Aahh, gue cape ngomong sama elu!."


"Weeeeeweee...., siapa juga yang mau ngomong sama elu?." Silvi ledekin.


Bento akhirnya kesal juga di buat oleh Si Silvi, karena tak mau berlama-lama Bento keluar sebentar dari club nyari angin segar.


Memang mata Silvi tak pernah pudar kalau melihat sosok Alan. Dalam hatinya jadi panas melihat Alan asik aja dance dengan wanita lain.


Setelah satu putaran lagu dance berakhir, Sang DJ berpindah ke lagu berikut, Alan pun mengajak Ayu kembali ke meja tempat minum mereka. Malah di situ sudah ada Silvi yang sudah menantinya. Silvi memandangi wanita yang merangkul lengan Alan dengan mata penuh selidik. Si Ayu santai aja, dan tak memperdulikannya. Silvi tidak hanya diam langsung aja di tepis tangan Ayu.


"He..., Pria ini adalah pacar gue!. Jangan kegatelan ya!."


"Sorry, gue hanya nemanin dia minum kok!."


"Silvi, sebaiknya elu out dari sini!."


Ayu tersenyum mengejek Silvi.


"Tapi Lan.... !, dan kenapa sih elu ngelarang gue masuk Villa elu?."

__ADS_1


"Elu pikir kita lagi liburan!. Dan seenaknya elu main masuk pake ancam security gue lagi!."


Ternyata pada malam kegiatan camping rohani itu Silvi maksa masuk ke Vila Alan, dan sempat mengancam Pak Satpamnya. Hal ini di ketahui Alan sehingga melarangnya, "Jika Silvi datang lagi usir saja!."


"Yuk, kita ke lantai dansa lagi!." Alan di rangkul lagi sama Ayu tapi di teguk dulu satu gelas minuman memabukan itu.


Wah gawat nih, Alan mulai di kuasai oleh kadar Alkohol dalam tubuhnya, sehingga pandangan sudah mulai kabur.


Silvi yang kesepian ternyata dapat juga teman ngobrol seorang pria bule, terpaksa Silvi ikut aja. Tapi untungnya pria bule itu, hanya kebetulan di club itu, tak ada niat mau minum ataupun berdansa. Makanya pria bule itu ngajak Silvi keluar aja, di traktirnya untuk makan di sebuah restoran. Silvi mengiyakan ajakan pria bule itu.


Di sebuah restoran yang sudah terkenal, mereka putuskan untuk makan di situ.


Silvi mulai di ajak mengobrol, memperkenalkan diri mereka masing-masing, sampai makanan mereka di sajikan mereka terlihat nyambung. Namun ada satu hal yang membuat Silvi penasaran adalah sosok gadis yang berada kira-kira 3 meter jauhnya dari meja mereka, yaitu Nagita Wilson dengan seorang pria bule juga. Cuman wajah pria bule membelakangi dirinya.


"Nagita, pacarnya Alan bareng cowo bule?. Selingkuhan kali!."


"What do you say?."


"Nothing!."


Silvi tentu tak hilang akal dong, di ambil hp miliknya di foto-lah kebersamaan Nagita dengan pria bule tersebut, Silvi menjadi senang ternyata ada senjata yang dapat di gunakan agar Alan bisa putus dengan Nagita.


"What you doing dear!."


"Oh, no I just take a photo!."


"Who are them?."


"I don't know, it doesnt matter!. Come on eat again!."


Mereka kembali menikmati makanannya lagi.


Kembali keadaan Alan yang sudah benar-benar teler, ternyata di ambil kesempatan oleh Ayu untuk mulai meraba-raba Alan. Memberikan sentuhan manja, dan Ayu juga sudah mulai berani memberikan sensasi ciuman manis di bibir Alan sehingga membuat Alan menikmatinya. Tak lama ciuman itu semakin hot, membuat keduanya semakin membara di bakar hawa nafsu juga hawa panas alkohol dalam tubuh mereka. Semakin lama dan semakin lama semakin dalam, naluri mereka membawa mereka ke sebuah lorong kecil untuk keluar dari suasana ramai music. Ayu memang wanita club yang sangat lihai dan mempesona.


"Hei, Lan!." Bento menarik gadis itu dari pelukan Alan yang sudah terbuai.


"Elu siapa?. Dasar jala**!."


Ayu tak bisa berbuat apa-apa, dan pergi.


"Lan, sadar bro!." Bento memapah teman itu untuk mencari tempat aman, agar Alan tak mencari minuman lagi.


"Bento, Bento..., Kenapa harus elu sih?. Dia tak pernah mau mandang gue sebagai pria Ben!. Gue emang brengsek, Ben!." Alan mulai ngelantur.


"Apa sih yang elu bicarakan?."


"Aaahhhh, elu ga ngerti!. Katanya dia pacar gue, tapi gue pusing bro!."


"Nagita!. Mungkin pacar elu cemburu, elu bawa Arini tanpa sepengetahuan dia!."


"Nah itu dia!. Masalahnya dia ga pernah cemburu, Ben!."


"Masa sih!. Dan juga elu ga biasanya kayak gini bro!." Bento hanya geleng-geleng kepala melihat Alan yang sudah tak sadar dan kelakuannya yang makin parah.


"Elu tunggu di sini!. Gue telepon Rony sama Agung, mereka mau balik bareng ga!."


Pembicaraan sama orang mabuk memang tidak akan pernah nyambung, yang di maksudkan Alan adalah Arini malah Bento mengertinya adalah Nagita.

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul 12 malam, artinya sudah tengah malam. Bento tak bisa menghubungi kedua temannya itu, hanya di buat pesan singkat bahwa mereka sudah kembali ke Vila. Bento juga berpesan, "Kalau sudah mabuk ga usah paksa bawa mobil, buka kamar aja di hotel dan jika bawa cewe ingat pake pengaman bro!." Sungguh setia kawan Bento dalam pertemanan mereka saling memperhatikan dan peduli.


__ADS_2