Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 19


__ADS_3

"Good morning brothers!. God bless you all!," sapa Nagita Wilson ketika mendapati teman-teman Alan di ruangan tengah. Nagita masih menggunakan piyama karena baru bangun dari tidurnya.


"Hai, good morning Nagita!." Hampir ketiga sobat Alan menjawab serempak.


"Alan kemana?. Kok, belum kelihatan?."


"Katanya, pagi ini sudah mulai kegiatan!," jawab Rony. Sedangkan Bli Agung menganggukan kepala mengiyakan dan Bento sedang sibuk dengan handphonenya.


Nagita menuju dapur untuk mengambil segelas air


"Lalu hari ini kalian rencana mau kemana?."


"Ga tahu juga!. Soalnya tuan muda pasti sibuk!," jawab Rony.


Nagita sudah bergabung bersama mereka di ruang tengah itu.


"Bosan dong, kita hanya di Villa!."


"Emangnya, kamu punya rencana apa Nagita?," tanya Bli Agung.


"Ga ada sih!."


Tak lama muncullah kedua sosok dari anak tangga, yang masing-masing sudah berpakaian olahraga rapi. Keduanya adalah Alan dan Arini, walaupun keduanya tak jalan beriring karena Arini masih sebel sama Alan. Nagita menjadi melotot ketika yang di lihat jalan bersama Alan adalah Arini, langsung saja Nagita menghampiri Alan dan menghadangnya,


"Apa-apaan nih Alan?. Kalian, kok bisa turun berdua dari atas?."


Arini malah nyosor pergi begitu saja karena merasa tak penting juga menjelaskan pada Nagita.


"He..., cewe kampung!. Elu mau kemana?. Gue masih berurusan dengan elu!," cegat Nagita sehingga Arini pun hanya bisa menuruti.


"Alan, jawab pertanyaan aku?."


Ketiga sahabatnya saling bersitatap, pasti terjadi perang dunia ketiga.


"Sudahlah!. Jangan jadikan ini masalah! , aku hanya mau membantu karena Arini tidak kebagian kamar. "


"Oh, jadi maksud kamu, aku tempati kamar tamu sedangkan Arini kamar utama kan?."

__ADS_1


"Kamar semua sama Nagita di Villa ini!."


"Aaahh..., aku ga ngerti jalan pikiranmu Lan!. Aku ini pacar kamu!."


"Iknow, I know..., You are my girlfriend!. Tapi aku kan sudah mengatakannya bahwa aku hanya mau membantunya."


Arini yang masih berdiri di antara mereka menjadi tak enakan karena pertengkaran terjadi.


"He, cewe kampung!. Sebaiknya, elu pergi dari sini!. Dasar tak tahu malu!. Elu itu parasit!," maki Nagita pada Arini.


"Gue, juga ga pengen kok disini!. Sebelum elu suruh pergi pun gue emang mau out dari sini!," balas Arini.


"Bagus!. Seharusnya dari awal elu buat begitu, kan gue pernah memperingatkan elu!." Nagita pun tak mau kalah membalas kata-kata Arini.


Arini tak banyak bicara langsung cabut dari situ, eh malah Alan ikut dan menarik tangan Arini dan membawanya pergi.


"Lan, Alan...!." Nagita memanggil Alan.


"Lepaskan tanganku, Alan Ferdian!. Kamu ga perlu memperlakukan aku kayak gini!, sebaiknya kamu bujuk pacar kamu yang lagi marah itu!," suara Arini marah.


Tapi Alan terus memegang erat tangan Arini dan menyeretnya pergi. Tapi sebelum Alan membukakan pintu Bento langsung menghadang mereka dan melepaskan pegangan tangan mereka, karena Arini terus memberontak untuk di lepaskan, mungkin karena hal ini Bento turun tangan,


"Lan, bisa ga kamu sedikit menghargai wanita!. Tanpa sadar kamu sudah melukai dua wanita sekaligus, selesaikan masalahmu bersama Nagita, Arini biar bersamaku!." Bento cukup bijak menenangkan sahabatnya yang satu ini. Alan menatap dalam Arini tapi tak sedikit pun Arini memberi muka pada Alan.


"Terserah!." Alan menimpali. Dan Nagita hanya mengangguk menyetujuinya. Alan pergi begitu saja tanpa Arini. Maka Bento-lah yang menjadi tameng lagi buat Arini kali ini.


"Aku ikut kamu kesana Ar!."


"Terima kasih, Ben!."


"Kamu Nagita, jangan terlalu tersulut emosi, selesaikan masalahmu baik-baik dengan Alan, ok!." Bento menasihati Nagita dan menganggukan kepala menyetujuinya.


"Hai bro!. Gue cabut! kalian cari hiburan sana biar ga bosan!."


"Sip Ben!," jawab kedua sobatnya itu.


Pertengkaran kecil di pagi hari ternyata membuat Alan cukup membuatnya kehilangan mood. Sampai-sampai kegiatan awal pun Alan tak mau ikut tapi berhubung karena ada olahraga permainan volly pantai, Alan pun turut juga di dalamnya. Pikirnya dengan memukul bola sana-sini dapat meluapkan emosinya.

__ADS_1


Sudah ada beberapa kelompok yang di bentuk ada yang berolahraga zumba/SKJ dan yoga juga. Kali ini ternyata Alan dan Arini masuk dalam olahraga yang sama yaitu voly pantai, cuman Arini di tim lawan. Bento dari semula menemani Arini juga turut ada di situ sebagai penonton. Walau ada waktu Bento suka memainkan hp untuk menghilangkan bete.


Permainan itu cukup sengit, sesekali Alan mencuri pandang terhadap Arini, mengetahui hal itu Arini pura-pura saja tak memperhartikan, walau terkadang Arini pun demikian pada Alan tapi namanya juga wanita paling pintar mencari moment agar tidak ketahuan lawan jenisnya kalau sedang mencuri pandang pula. Yang membuat Alan kesal yaitu waktu Arini menguasai bola, pandangan Bento pun terlihat sama seperti dirinya. Bento terlihat begitu mengagumi Arini. Karena tersulut juga oleh moment itu, Alan akhirnya melempiaskan emosinya dengan membuat bola smash yang kuat ke arah Arini yang juga saat itu ada di bagian depan.


"Buuuuuukkkk," mengenai wajah Arini. Seketika Arini menjadi gelap penglihatannya dan ambruk.


Melihat kejadian itu, Alan tersenyum karena baginya emosinya akhirnya terlampiaskan. Dan juga pikirnya Arini pasti pura-pura pingsan. Teman-teman dan panitia hanya diam tak melakukan apa-apa sedangkan Bento dengan sigap menghampiri ke tengah kerumunan dan langsung di gendong Arini ke sebuah gazebo yang ada di pinggir pantai. Melihat adegan kepanikan Bento terhadap Arini membuat Alan semakin panas, karena dorongan dalam dirinya Alan turut serta memastikan keadaan Arini.


"Lan, kenapa sih mukul bola sekeras itu?. Ini bukan pertandingan serius Lan!."


"Aahhhh, paling dia pura-pura!." Alan jawab seenaknya karena tak bisa lagi mengekspresikan perasaan sebenarnya, yakni dalam kekalutan.


"Namanya juga permainan, pasti ada ciderakan!," bela Alan lagi.


"Sudahlah Lan!. Gue lihat kelakuan kamu kayak anak kecil!," ucap Bento kecewa akan sikap Alan.


"Tolong dong!, cari sesuatu agar Arini sadar!." Bento meminta bantuan pada teman-teman yang ada di sekitar.


Tak lama seseorang membawa minyak angin di oleskan pada hidung, agar Arini mendapati kesadarannya. Tak berapa lama, Arini tersadar.


"Kamu ga apa-apa kan Ar?," nada Bento masih kuatir.


"Aku baik-baik saja Ben!. Aku cuman kaget aja dan pandangan ku tiba-tiba gelap!."


"Berarti, pukulan bola dari Alan cukup keras makanya kamu pingsan!."


"Sudahlah Ben!. Aku baik-baik saja kok!, ga ada memar atau apapun itu!."


"Kamu serius, tidak merasakan sakit?."


"Ga Ben, I'm Ok!."


Bento pun legah mendengarnya dan Alan setelah melihat Arini tersadar segera beranjak pergi. Sebenarnya Alan pun di liputi oleh rasa kuatir yang besar dan merasa sangat bersalah ketika melakukan itu. Tapi Bento lebih sigap, membuat Alan tambah kesal dan berlalu pergi.


Di eluskan dadanya karena Arini tidak mengalami cidera yang serius oleh karena dirinya.


"Oh ya, teman-teman!. Karena kita mengalami insiden ini, kita di beri kesempatan 30 menit untuk bersiap-siap untuk sesi berikutnya yaitu renungan harian bersama para pemuka agama." Seorang panitia yang mengurus acara memberi informasi.

__ADS_1


Semua mahasiawa/wi yang terkumpul itu pun segera membubarkan diri mengakhiri kegiatan olahraga mereka.


Kegiatan camping rohani pada hari ini berjalan lancar, dan berakhir sampai jam 6 sore.


__ADS_2