Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 34


__ADS_3

Arini mampir ke toilet untuk membasuhi wajahnya, dicek batang lehernya apakah ulah Alan ada berbekas disana,


"OMG, gimana donk? Dasar playboy gila! Dia selalu seenaknya saja memperlakukan aku, dengan gampang mengatakan kalau aku miliknya, dia pikir aku juga mudah dimiliki!." Arini menggerutu di depan toilet namun masih bingung cara menutupi ci*** di batang lehernya itu.


"Nyesal aku jadi pacarnya! Kenapa juga waktu itu aku mau?, padahal tujuanku hanya untuk candaan mempermainkan perasaan Alan, malah sekarang aku yang kejebak, herannya kenapa aku ga bisa menolak?, " menggerutu lagi.


Tak lama Arini pun teringat di tasnya ada plester yang tersisa, pernah digunakan untuk hal yang sama. Setelah selesai urusannya di toilet, Arini berniat kembali menemui Rendra yang hampir dilupakannya kalau sedang menunggunya.


"Sorry Ren! Arini kelamaan di toilet, soalnya ada hal mendesak, biasa masalah bulanan wanita!" Arini berbohong walau berat melakukannya.


"Oh.., ga apa-apa Ar! Makanan kita belum disajikan juga, aku meminta pada pelayannya karena aku pikir Motsunabe dan Udon dingin ga enak kalau dimakan!"


"Sekali lagi Arini minta maaf ka Rendra dan Arini berterima kasih sudah mau nunggu walapun Arini tahu kak Rendra pasti kelaparan!"


"Ah ga kelaparan juga Ar, memang aku tidak makan selama tiga hari!"


"Hehehehe, ga gitu juga sih maksud Arini!." Suasana mulai mencair karena Rendra pandai mengambil hati dan membuat Arini menjadi senang lagi. Rendra sudah memberi kode pada pelayannya untuk segera menyajikan makanan mereka.


"Loh Ar, kenapa leher kamu?," tanya Rendra tiba-tiba, mau bagaimana pun di sembunyikan tetap aja terlihat, dan Arini harus berbohong lagi untuk mencari alasan.


"Oh ini, tadi di toilet Arini mau benarin rambut, agak ribet sih, eh kena kuku, ya tergores dikit lehernya, soalnya ada ujung kuku yang ga rapi sehingga agak tajam!" Arini menjelaskan panjang lebar untuk meyakinkan Rendra, seorang perwira polisi mana mungkin dikibulin dengan hal receh, makanya Arini sambil menunjukan kukunya yang kebetulan agak mencong karena mungkin bekas patah mengenai tembok akibat perdebatannya bersama Alan tadi. Dalam benak Arini "Kok kebetulan sekali alasan yang aku pake, ga kepikiran loh kalau kuku aku pake patah segala tadi, tapi aku merasa bersalah banget sama ka Rendra yang selalu tulus memperlakukan aku!"


"Mana aku lihat Ar!" Rendra memegang tangan Arini dan memperhatikan jemarinya.


"Dari sini kita ke salon aja benarin kuku kamu supaya ga terjadi lagi hal demikian!," lanjut Rendra.


"Ga perlu ka, Arini bisa sendiri dirumah nanti!" Arini jadi malu, Rendra sedetail itu memperhatikannya.


"Kita makan aja Ka! Ga penting juga Arini sudah lapar nih!," lanjut Arini mengalihkan situasi.

__ADS_1


"Baiklah, tapi Rendra aja ga pake kakak dong!"


"Hehehehe.. Arini lupa, belum terbiasa!"


"Ga apa-apa, Ayo makan!!"


Keduanya akhirnya menikmati makanannya, lalu bagaimana keadaan Alan dan Nagita. Justru sebaliknya mereka awalnya juga berniat mau makan Jepang Food, harus kembali karena seketika mood Alan hilang ditambah Nagita juga membuat Alan kesal karena terlalu bawel pada dirinya.


Rendra dan Arini memanfaatkan waktu mereka dengan berjalan-jalan, sambil bernostalgia. Tanpa disadari mereka sudah menghabiskan waktu sampai jam 9 malam, dan Rendra mengantar Arini sampai ke rumah, sedikit ngobrol bareng ibu Yanti sehingga Rendra dapat kembali ke rumahnya agak telat karena masih diundang makan malam juga. Rendra akhirnya sangat bersemangat dan berbahagia akhirnya punya kesempatan mendekati Arini, dan ada peluang baginya untuk menyatakan cinta pada Arini suatu hari nanti.


...****************...


Dikelas desain pagi ini pada ramai, Arini diperlakukan seperti orang bersalah, dinyinyirin oleh anak-anak sekampus yang membuatnya bingung.


"Katanya berprestasi, karya orang lain dijiplak dasar plagiat lu!." Ririn langsung mengatai Arini. Ingin hati tak menanggapi singa betina itu, tapi Arini penasaran juga apa maksud kata-katanya itu.


"Tahu...!" Sikap acuh tak acuh Ririn


"Tanya aja sama diri kamu yang sok pintar itu!," lanjut Ririn dengan sikap yang menyebalkan.


"Makanya kalau ngomong yang jelas, ga usah ngatain kayak gitu dong!"


"Siap-siap aja elu out dari sini, gue sudah muak sama elu!"


"Ah.. Ga penting juga gue ladeni elu!" Arini pergi begitu saja, malah sibuk dengan kegiatannya yaitu mempelajari beberapa bahan rancangannya itu.


"Ar, boleh ikut ibu keruangan sebentar!." Tiba-tiba ibu Dekan sendiri menghampirinya dalam kelas, tentunya Arini menjadi was-was akan terjadi hal buruk.


"Ada apa bu?"

__ADS_1


"Ikut aja ibu keruangan, ada beberapa hal penting yang perlu diklarifikasi disini!"


Arini langsung mempersiapkan dirinya, tak lama Ririn juga diajak oleh Ibu Dekan ikut bersama mereka. Sesampai di sebuah ruangan, sudah ada beberapa Dosen, Pak Rektor juga ada dan beberapa orang terlihat agak asing seperti orang bule berperawakan tinggi hadir juga dalam ruangan itu. Mereka ada 6 orang terdiri dari 2 pria dan 4 wanita dan ternyata mereka dari Italia khususnya perusahan fashion ternama Mode and Design Italy.


Arini seperti sedang diadili oleh mereka yang mempunyai peranan penting untuk masa depannya.


Setelah penjelasan Rektor mengenai alasan dipanggil, Arini menjadi tahu kalau karyanya di plagiat dan malah dia yang tertuduh. Tuduhan sungguh tidak masuk akal bagi Arini karena menjiplak karya Ririn menurut mereka.


"Arini, kami memberi kesempatan pada kamu dan Ririn untuk mempresentasikan karya kalian masing-masing langsung dihadapan Tim perusahan Mode & Design Italy agar mereka tahu siapa pemilik asli portofolio desain yang asli yang menang kompetisi itu!." Pak Rektor dengan bijak mengambil keputusan yang tepat, karena Sang Desainer akan lebih tahu karyanya.


Ririn menjadi bingung dan kelihatan gugup, dibuka lembaran portofolio dengan hati-hati untuk dipelajari lagi.


"Dikesempatan pertama untuk saudari Ririn mempresentasikan karyanya!," ungkap Pak Rektor setelah berbincang sebentar dengan tim Mode & Design Itali itu.


Ririn tambah bingung dong cara mempresentasikannya, portofolio digitalnya belum sempat dibuat karena tidak tahu akan seperti ini kejadiannya. Tapi karena sudah terlanjur basah Ririn tak hilang akal dong dengan cara manual dia dapat menjelaskan portofolio milik Arini itu dengan baik. Tapi dia tidak tahu konsep, alur ataupun ide portofolio dibuatnya ternyata sangat jauh berbeda bahkan ide bahannya pun jauh berbeda dengan ilustrasi karya 3D yang disertakan dalam portofolio desain tersebut. Intinya Arini menghabiskan waktunya selama kurang lebih 2 jam namun belum ada tindak lanjut masih menunggu.


"Siang Pak! Ini hasil laporan dan notulen dari evaluasi kami pagi ini mengenai camping rohani." Alan sudah berada diruang Pak Abas menyerahkan laporannya.


"Baiklah letakkan di meja saya!." Pak Abas menyuruh demikian karena karena sibuk dengan beberapa file.


"Teman wanita kamu, siapa namanya??, mmm...Arini itu, punya masalah di fakultasnya. Kemungkinan dia didrop out dari kampus jika bersalah. Tapi kalau tidak, mungkin nasib baik akan menghampirinya!." Basa-basi Pak Abas membuat Alan bingung dong.


"Mohon maaf, Apa maksud pernyataan Bapak barusan?"


"Cari tahu aja sendiri! Saya ga punya tugas jelasin ke kamu, sana keluar!." Pak Abas kembali dingin.


"Selamat siang Pak, saya permisi keluar!"


"Dasar dosen killer, dia yang sendiri yang memberi informasi dan giliran tanya balik malah marah." Alan menggerutu tapi tidak didengar Pak Abas karena suaranya lirih berbisik untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2