Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 23


__ADS_3

"Nagita, kemana aja sih?. Aku kan pernah bilang, aku paling ga suka kalau di abaikan!."


Alan dan Nagita bicara ketika sampai di Villa, nada suara Alan agak keras karena tak ada kabar darinya. Nagita memang masih kesal terhadap Alan, akan sikapnya yang ambigu itu. Dan tak memperdulikannya dengan berusaha menghindar. Inilah membuat Alan tambah marah, maka di tariklah Nagita ke kamar atas, soalnya di situ ada Bli Agung dan Rony sahabatnya.


"Alan, sakit!!." Alan memegang tangan Nagita begitu keras tetap tidak peduli rintihannya namun tetap Nagita tidak bisa melepaskannya.


"Nagita, tolonglah hargain aku?."


"Oh ya, kamu minta aku menghargai kamu lantas kamu bagaimana terhadap aku?."


"Aku sedang berusaha memahami dirimu!."


"Lalu kamu nempel dengan wanita kampung itu, apa itu di sebut menghargai?."


Alan terdiam sejenak akan pernyataan Nagita


"Kamu pikir, aku ga merasa sakit!. Kamu lebih memperhatikan Arini!." Nagita menimpali.


"Aku sudah katakan padamu bahwa aku cuma mau membantunya, aku tegaskan!. Kami tak punya hubungan apa-apa, teman pun bukan!." Alan berkata tanpa beban, dan tak memperdulikan perasaan Arini jika mengetahui perkataan yang menyakitkan ini.


"Ok, kalau memang begitu pengakuan kamu!. Oleh karena itu, aku harap kamu ga nempel-nempel lagi dengan gadis kampung itu!."


"Baiklah, tapi setelah kegiatan ini selesai!."


Nagita mendekati Alan dengan pesonanya, menatap dengan dalam sehingga Alan pun luluh, kesempatan ini tidak di sia-siakan Nagita.


"Lan, kamu mencintai aku?."


Nagita sudah memberikan sentuhan-sentuhan manis di wajah Alan.


"Hhmmm." Alan menjawab dengan berat karena dirinya sendiri belum memahami apa yang di rasakan dalam hatinya untuk Nagita.


"Kok, jawabnya kayak gitu!."

__ADS_1


"Lalu kamu?. Kita jalani aja hubungan ini!."


"Aku....," Nagita pun ternyata demikian tak bisa menjawab dengan pasti perasaannya kepada Alan.


"Ok-lah, kita jalani hubungan ini sambil menata perasaan kita masing-masing. Aku memang menyukai kamu Lan!"


"Aku juga menyukai kamu Nagita. Karena inilah makanya aku mau bersama kamu tidak seperti gebetan ku yang lain!"


"Iya, aku mengerti akan hal itu. Kamu sedang mencari yang terbaik dan semoga aku menjadi pelabuhan terakhir mu!."


Alan semakin tenang karena akhirnya Nagita mau memahaminya. Nagita tak tinggal diam, langsung saja di peluk Alan dengan mesra. Tak hanya di situ di cium bibir Alan dengan manja. Alan yang berusaha menolak dalam batinnya tetap tak bisa karena naluri sebagai laki-laki memdorongnya sehingga mereka semakin intim dan menikmati moment dan hasrat mereka yang menggebu-gebu itu. Ciuman yang manja kini berubah menjadi ciuman yang panas dan bergairah sehingga kenikmatan itu membawa alam sadar mereka traveling sehingga sentuhan-sentuhan dari Alan membuat Nagita merintih, ranjang pun tak dibiarkan begitu saja, keduanya sudah berada di atasnya karena intensitas hasrat mereka.


"Oooopppssss sorry!." Arini tiba-tiba nongol di kamar itu karena merupakan kamarnya. Kedua insan itu seketika terdiam dan aktivitas ranjang mereka terhenti dan kondisi mereka masing-masing sudah setengah tak berbusana hanya pakaian dalam saja membaluti tubuh Nagita. Arini menjadi kalang kabut tak tahu harus berbuat apa, malah terus berdiri di depan pintu kamar. Alan dan Nagita melototinya, Alan memberi kode dengan matanya menyuruh Arini keluar, sontak Arini kaget langsung ditutupi kembali pintu kamar. Arini seperti patung, hatinya seperti terluka, di pegang dadanya yang terasa sesak batinnya "Kenapa aku merasakan sakit?."


Ekspetasi Arini mengenai Alan yang begitu tinggi bahwa Alan tak mungkin melakukan hal di luar batas ternyata salah, dalam hatinya lagi "Palingan Alan selama ini hanya memainkan perasaan wanita saja dan cumbuan biasa". Arini menjadi illfeel dan menepis semua perasaan dalam dadanya dan kembali berpikir rasional bahwa di zaman ini tak ada pacaran karena murni perasaan jatuh cinta, detak jantung yang berdegub karena kehadiran sang kekasih ataupun bentuk kasih sayang lainnya. Kebanyakan dari mereka mengasumsikan cinta adalah sexualitas ataupun nafsu semata. Memang Arini se-konservatif itu mengasumsikan mengenai cinta.


Setelah itu Arini kembali ke lantai bawah, sebenarnya Arini kembali ke Villa utama karena mau berganti pakaian yang masih menggunakan pakaian santai sejak pagi keluar melihat sunrise bersama Bento.


Arini mengetahui bahwa Nagita dan Alan kini telah berbaikan maka di putuskan Arini untuk tidak tinggal lagi di Villa utama itu bahwa Arini harus kembali ketempat semula.


"Lan, Arini masih tinggal di kamar ini?"


Alan menjawab dengan santai, "Ga tahu!, tanya sama Si Bento?." Alan berpura-pura.


Alan tersadar juga, dia sendiri tahu kalau Arini masih di kamar itu malah membawa Nagita masuk kesitu. Alan semula tak kepikiran kalau akan ke-gap oleh Arini. Karena setahu-nya Arini ikut mempersiapkan kegiatan rohani mereka pagi ini, karena merupakan sesi terakhir. Besok pagi mereka harus kembali ke Jakarta.


"Arini, loh masih disini?. Ga gabung!, sesi terakhir kan?," tanya Bento.


"Ya...gue mau ganti ke kamar atas tapi kamarnya masih di gunakan oleh Alan dan Nagita!."


"Lah... Nagita sudah kembali?," lanjut Bento membatin "Lan.. ., gue tahu elu sengaja membawa Nagita ke kamar itu hanya untuk mengusir Arini"


Arini mengangkat kedua bahunya karena tidak tahu kalau ada Nagita dikamar itu juga.

__ADS_1


"Ben, tolong bantuin gue pindahin barang-barang ke Villa 3 aja!."


"Baiklah, sebaiknya dari awal gue ga bawa elu ke sini Ar!."


"Ga apa-apa Ben!. Gue sadar diri kok!."


"Jangan kayak gitu Ar!, merendahkan diri ga baik!."


"Ga Ben, memang harus begitu!. Supaya gue sadar siapa diri gue?."


"Sudahlah ga usah di bahas lagi!. Sekarang elu mau ngapain?."


"Gue lanjut ikut kegiatan sesi terakhir aja!. Setelah itu baru bantuin gue pindahin barangnya!."


"Ok-lah."


Bento mengantar Arini sampai ke pintu utama Villa dan memperhatikan kepergian Arini.


Setelah itu Bento kembali masuk ke dalam, Alan dan Nagita sudah menuruni tangga sambil bergandengan tangan dengan mesra. Bento melihat sekejab dan berlalu begitu saja menghampiri kedua sahabatnya Rony dan Bli Agung yang berada di area kolam renang.


"Hei brothers!. Pada balik ya?, gue pikir kalian masih ***-*** di hotel!."


"Maunya sih gitu Ben!, tapi wanita yang gue dapat ga asik," sambung Bli Agung.


"Elu Ron?," tanya Bento lagi.


"Gue ,juga gitu!."


"Loh, lalu ngapain kalian nginap di hotel?"


"Mabuklah!." Alan menimpali dari belakang


"Elu malah lebih parah Lan!, mau gue cerita di sini!"

__ADS_1


"Apaan elu bento?. Jangan macam-macam ama gue!," sambil Alan melirik Nagita, takut wanitanya ngambek lagi. Alan pelototin Bento memberi ancaman agar tutup mulut untuk tidak menceritakan kejadian semalam bersama gadis club. Bento juga tak mau turut campur urusanya hanya bercanda aja karena kesal juga dengan tingkah Alan yang arogan terhadap wanita. Mereka bercengkrama bersama, dan di antara mereka memutuskan untuk berenang. Mereka semua ikut berenang dengan senang begitu pun Nagita yang tak mau lepas bergelayut manja dengan Alan di kolam itu.


Walaupun mereka kadangkala sambil ngobrol rencana mereka balik kampus untuk persiapan magang dan proposal. Hanya Rony yang mau bergabung dengan Alan magang di perusahan milik Alan sedang kedua sahabatnya tentunya ke perusahan keluarga mereka masing-masing. Sedangkan Nagita masih di bawah satu tingkat dengan mereka, karena Nagita merupakan mahasiawa pindahan dari luar negeri karena harus penyesuaian beberapa matkul.


__ADS_2