
"Hai bro!, gue kira kalian masih di Bali!," tanya Alan ketika melihat Bento sedang sibuk depan monitor Sistem Informasi Akademik dekat Fakultas sedang Rony dan Agung masih menghadap Dekan.
"Ngapain elu?"
"Gue lagi check in jadwal magang, katanya sih udah bisa!"
"Makanya jangan kelamaan di Bali. Cepetan! penjadwalannya hampir tutup, sampai jam 12 malam ini!"
"Elu sih, ga ngabarin kita, teman apa se-egois ini!." Bento marah
"Ga gitu Ben! Tugas gue banyak dikasih sama Pak Abas, kalau gue ga selesaikan mana ada gue bisa membuat jadwal magang. Bayangin aja, akun gue diblokir langsung sama Dekan!"
"Oh ya, pantesan aja Rony dan Agung sedang menghadap Dekan, pasti akun mereka diblokir juga tuh!"
"Ha..ha..ha..dasar tengil tu anak-anak!"
"Loh Lan, ada berita di website kampus, viral nih!," suara Bento kaget.
"Apaan?"
"Arini dituduh plagiat, kemungkinan akan di DO!"
"Mana gue lihat!"
"Oh jadi ini yang dimaksud Pak Abas tadi, tapi masa iya sih Arini melakukan hal curang kayak gitu?" Alan merasa aneh dan tak percaya.
"Gue sih ga percaya makanya kita cari tahu yuk!" ajak Bento.
Ketika Alan dan Bento hendak mencari informasi di Fakultas Art & Design, muncul Nagita mencegah mereka,
"Kalian mau kemana?," tanya Nagita dan langsung merangkul lengan Alan. Sedangkan Alan sudah memberi kode pada Bento agar tidak memberitahu maksud mereka pergi.
"Oh itu, kita mau mencari Rony sama Agung doang kok!"
"Tadi gue lihat mereka ke ruang Dekan Fakultas Manajemen, apa tidak sebaiknya kita cari angin segar aja!"
"Sebentar Nagita, gue angkat panggilan telepon dulu!"
Alan berpura-pura, dan sengaja agak menjauh dari mereka, dan ternyata Alan sedang mendial sebuah panggilan ke anak buahnya,
"Halo..elu cari tahu sekarang! Kenapa Arini Anggraini Citpa di Fakultas Art & Design, Jurusan Fashion dituduh plagiat? Kasih gue informasi lengkap!"
"Siap tuan muda!," jawab anak buah Alan diseberang sana. Dan ternyata di kampus ini Alan juga mempunyai kaki tangan, ada mahasiswa, ada juga dosen bahkan sampai ke cleaning service pun ada.
Seantero kampus ternyata sudah mengetahui bahwa Arini dituduh plagiat, banyak juga yang sedang mempergunjingkan Arini sehingga membuat Alan menjadi kesal ingin rasa dikucek mulut mereka yang kotor itu.
Tapi tidak bagi Nagita, malah senang karena akhirnya keinginan melihat Arini diusir dari kampus ini terjadi juga.
__ADS_1
...**********...
"Sore mak Siti, dimana ayah?." Alan bertanya ketika sampai dirumah.
"Tuan besar diruang baca, tuan muda!"
"Terima kasih mak siti, tolong buatin aku secangkir kopi ya!"
"Ya tuan muda, kopi diantar ke ruang baca?"
"Ya, mak siti!"
Alan menaiki anak tangga menemui ayahnya diruang baca, yang berdampingan dengan kamar tidur orang tuannya.
"Selamat sore ayah, lagi sibuk? Alan mau bicara sebentar!"
"Ya...ga sibuk amat hanya membaca dan mempelajari beberapa kontrak bisnis yang baru di take end!"
"Ooww... Tapi ga ganggu kan? Soalnya Minggu depan Alan sudah bergabung ke perusahan, tapi di Armando Entertaiment Group ( AEG )!"
"Alan harap! ayah mau mempercayakan AEG untuk Alan kelola."
"Itu bagus Lan! Ayah sih terserah kamu saja, kalau kamu suka AEG, ayah ijinkan itu!"
"Terima kasih yah! Tapi Alan bareng Rony, dia ga mau kembali ke perusahan keluarganya."
"Katanya percuma saja bekerja disana hasil akhir semua perusahan dan aset akan menjadi milik saudara tertuanya, katanya mau belajar diperusahan kita dan kelak Rony akan membangun perusahannya sendiri"
"Ayah suka mindset anak mileneal sekarang, jika anak muda di Indonesia berpikir demikian maka akan muncul pengusaha bonafit baru, tercipta lapangan pekerjaan baru untuk membangun perekonomian negara," jelas ayah Armando tapi pembicaraan mereka tertunda karena hadirnya ART,
"Permisi tuan, saya bawakan kopi untuk tuan muda Alan!"
"Ya silahkan!"
Alan berpindah topik pembicaraan, karena sangat merindukan mommy,
"Yah.. Mommy ga balik ke sini? Kalau Hendra, sekolahnya sudah selesai urusan, ya mommy balik aja! emangnya bisnis mommy untuk saat ini aman?"
"Kayaknya mommy belum bisa balik sekarang! soal bisnis mommy, sudah dihandel. Zaman sekarang mah gampang dimonitor Lan, dunia digital semua dipermudah!"
"Ga gitu juga yah, save control keep going on, nanti error sistem or human error dapat menyebabkan defisit"
"Wah calon pengusaha, sudah mulai peduli nih, ayah ikut control Lan, so don't worry about it!"
"Baguslah, good team work and couples goals!"
"Ha, ha, ha... " Tawa kecil ayah Armando Ferdian.
__ADS_1
Keduanya banyak berbincang mengenai perusahan dan rencana bisnis mulai dibuat dan Alan terlihat begitu antusias.
...**********...
Kini situasi Arini siang tadi di meeting room, semuanya berjalan baik. Arini mempresentasikan portofolio desainnya sejelas-jelasnya, karena Arini juga sudah mempersiapkan portofolio secara digital sehingga dibeberapa bagian penting tim Mode & Design Italy menganggukan kepala tanda menyukainya. Selesai itu Arini diberi selamat oleh Rektor, dan tim tersebut kepada dirinya.
"Dasar kampungan, dia pikir sudah menang, lihat saja senyummu itu akan aku rubah menjadi air mata!" Ririn menggerutu iri melihat Arini disambut baik.
"Ar, selesai ini ke ruangan ibu sebentar!" Ibu Dekan mencegah Arini ketika hendak keluar dari ruangan itu.
"Baik bu!"
Ririn dengan tak tahu malunya sengaja mencari perhatian pada Rektor dan tim dari Italy, dan juga menjatuhkan nama Arini dengan terus-menerus mengatakan karya Arini adalah hasil plagiat. Tapi sayang tidak ditanggapi dengan baik oleh mereka.
"Ar, kamu check ini akun kamu dalam penjadwalan magang sekarang karena batasnya sampai jam 12 malam!" perintah Ibu Dekan mulai perbincangan dalam ruangannya.
"Ya bu, tapi Arini harus bagaimana sekarang untuk rencana tempat magangnya? Apa perlu diubah lokasinya?"
"Ga usah, kamu hanya perlu checkin aja supaya terbaca oleh sistem kalau mahasiswa yang siap magang sudah terdaftar!"
"Kamu ga usah kuatir, ibu yakin minggu depan kamu akan berangkat ke Italia bareng orang-orang bule itu!" sambung ibu Dekan lagi.
"Wah yang benar bu! Tapi kan belum ada keputusan mengenai persoalan ini!"
"Masalah itu, aku yakin pak Rektor mengambil keputusan yang bijak sekali pun Ririn adalah orang yang berpengaruh di kampus ini!"
Arini terharu, hari gini masih ada keadilan buat orang kecil seperti dirinya, batin Arini "Terima kasih Tuhan, Engkau memang baik!".
"He... Cewe kampung! Elu pikir sudah menang kan?" cegat Ririn ketika Arini keluar dari ruangan dekan. Arini terus pergi dan berlalu dari Ririn dengan tak mau menanggapinya, Ririn kesal langsung dijambak rambut Arini.
"Kamu belagu amat ya!"
Arini berusaha menahan sakit, agar tidak terlihat lemah.
"Lepaskan Ririn! Aku tak pernah sedikit pun menganggu kehidupan kamu, kenapa kamu sebenci itu padaku?"
"Ya... Karena tempat kamu bukan disini! Itu yang membuat aku benci!" Ririn masih menarik rambut Arini.
"Please, lepaskan Ririn!" Arini masih menahan sakit dan meminta Ririn melepaskan jambakan itu.
"Hei, lepaskan tanganmu darinya!" Dosen prodi yang kebetulan juga adalah anak buah Alan langsung menolong Arini, namun sebelumnya dosen tersebut sudah mengambil gambar mengenai adegan jambakan itu.
Ririn melepaskan tangannya juga, Arini merapikan kembali rambut seadanya.
"Kamu, Ririn! Jangan bertindak seenaknya! Ini sudah termasuk kekerasan dan bullying! Kamu pasti akan dapat hukuman!"
Ririn sedikitpun tak ada suara, hanya memandang enteng dan remeh Dosen Prodi itu, serta Arini secara tidak langsung di intimidasi oleh Ririn dengan tidak perlu membela diri.
__ADS_1
"Bubar!" Kejadian ini memang ada beberapa mahasiswa/wi sudah berkumpul untuk melihat kejadian itu, tapi bubar juga karena Dosen prodi tersebut sudah menanganinya.