
Dinner yang telah di rencanakan Alan malam ini bukanlah untuk memperbahrui hubungannya dengan Nagita, melainkan untuk mengakhirinya. Alan sudah memantapkan perasaannya, seperti yang Arini katakan untuk belajar mengencani satu wanita saja. Dan pilihannya jatuh pada Arini. Dan keputusannya itu terganggu oleh informasi yang disampaikan oleh Bento, bahwa Arini sudah berani memperkenalkan kekasihnya dihadapan teman-temannya. Alan tak kuasa menahan rasa cemburu yang di mixing with amarah sehingga menimbulkan sikap dan perlakuan yang konyol.
"Malam sayang, kamu jemput aku di apartemen kan?." Saluran percakapan sebuah panggilan yang dimulai oleh Nagita diseberang, yang nampak cantik, seksi dan di wajahnya tersirat kebahagian.
"Ya, gue otw kesitu! So elu juga harus sudah siapkan?." Alan jadi agak kasar ke Nagita.
'Hai... Kamu kenapa Lan? Suaramu terdengar tak nyaman sekali!"
"Ok.. Ok... Gue kesitu sekarang!." Alan menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya dan panggilan berakhir dari Alan yang membuat Nagita disana menjadi bingung akan sikapnya yang tiba-tiba saja berubah.
Malam ditemani bintang, sehingga langit tak lagi gelap. Walau cahaya bintang tak seterang rembulan, tapi bintang tetap setia menghias langit. Walaupun hati Alan sedang bergelora antara keraguan dan cinta, untuk menjadikan suatu kepastian dalam pencariannya mencari cintanya.
Jejak wajah Arini semakin membuatnya yakin bahwa hatinya menuju padanya walau harus ditepis Arini masih belum bisa ditaklukan olehnya.
Sekarang Alan sudah duduk berdua bersama Nagita dalam sebuah restoran yang tatkala menambah syahdu dan keromantisan bagi pasangan kekasih, keputusan itu sudah dibuatnya, hanya menunggu waktu yang tepat, hal itu akan di ungkapkan.
Ternyata Rendra pun tak kalah berjuang untuk mendapatkan hati Arini. Makan malam romantic pun sudah dirancangkan oleh Rendra.
"Syalom, selamat malam bu!," sapaan Rendra terdengar sampai ke tengah rumah, untuk menjemput pujaan hatinya, Arini.
"Syaloom, eh..., nak Rendra! Mari, silakan duduk sebentar! Arini sedang bersiap-siap!," jawab Bu Yanti ramah.
"Terima kasih"
"Kak Rendra, harum amat, udah gitu malam ini kok kak Rendra ganteng banget sih!," ungkap Tara polos.
"Bu, pasti mereka sudah pacaran tu! Lihat aja Kak Arini dari tadi dandan, ga pernah kelar!"
Reaksi Rendra hanya malu-malu, karena dipuji oleh calon adik ipar.
"Tara... " Bu Yanti sedikit melebarkan pupil matanya untuk tidak mencampuri urusan orang dewasa.
"Ya.. Kenapa bu?"
"Sebaiknya kamu pergi belajar sana! Anak kecil sukanya mencari tahu aja!"
"Maaf ya nak Rendra! Tara agak cerewet!," sambung Ibu Yanti ke arah Rendra.
"Ga apa-apa bu!." Sembari di ikuti senyum ramah ke arah Tara.
"Tara, sana masuk belajar!"
__ADS_1
"Ya.. Ya, baiklah!"
Ibu Yanti memang sedang menjamu Rendra dengan segelas air putih.
"Bu, ga usah repot-repot!"
"Hanya segelas air nak!"
Tak lama, Arini muncul di balik curtain. Sosoknya membuat Rendra menjadi pangling, dan terkesima. "Wow... So beautifull girl. " Benak Rendra menjerit.
"Kamu cantik amat Ar!" Ibu Yanti juga tak kalah kaget melihat anak gadisnya tampak cantik jelita. Selama ini kecantikan Arini memang benar tersembunyi dibalik wajahnya yang sederhana itu. Rambut yang biasa dikuncir, bergelombang menjadi lurus panjang kini digerai indah malah diberi sedikit sentuhan bandana berwarna senada dengan gaunnya berwarna baby pink.
"Apaan sih bu?." Arini senyam-senyumn dan salah tingkah karena dibilang cantik dihadapan Rendra. Rendra masih belum bergeming bahkan matanya belum bisa dikedipkan.
"Gaun ini kamu sendiri yang membuatnya?"
"Ya.. Kenapa? Ga cocok ya bu!"
"Gaun yang cantik tapi lebih cantik anak ibu deh! Ternyata anak ibu sudah gede, Semoga makan malamnya menyenangkan ya!"
"Terima kasih bu! Ayo Ren, kita berangkat sekarang!"
"Ren... Rendra Wira! Kok bengong!," panggil Arini memecah lamunannya. Ibu Yanti tersenyum lebar melihat kelakuan Rendra.
"Oh.. Ya!." Rendra kaget tersadar dari lamunan.
"Kami berangkat ya bu!," pamit keduanya.
Rendra menjemput Arini tidak dengan roda duanya melainkan dengan sebuah mobil mewah. Sepanjang perjalanan Rendra tak mampu berkata-kata, terkadang mencuri pandang ke arah Arini disebelahnya. Arini menyadari akan hal itu, malah berpura-pura. Bahkan sengaja memergoki kelakuan Rendra itu, tapi Rendra juga berpura-pura memalingkan wajahnya. Soalnya Rona muka Rendra berubah memerah.
...****************...
Tepat sebuah restoran yang terkenal mewah dan makanannya disukai para sultan, Rendra menjatuhkan pilihannya ditempat itu. Untuk menyeimbangi kecantikan Arini malam ini.
"Kak, kita kesini! Makanannya mahal loh, apa kita cari resto yang sederhana aja gimana?"
"Aku sudah resevasi sejak kemarin, Ar!"
Arini tampak berpikir, "Emang sih, kalau dibatalin, ga enak sama Rendra!." Tiba-tiba hp milik Rendra berdering, ketika Rendra sedang membukakan pintu mobil sebelah yang diduduki Arini.
"Ar, maaf aku terima panggilan dulu! Soalnya ini dari teman kantor ku." Rendra mohon ijin. Memang benar panggilan itu dari teman kantor, yang kebetulan lagi dinas dan meminta persetujuan dari Kasatnya untuk bertindak akan suatu masalah malam itu.
__ADS_1
"Aduh dek! hati-hati, jangan lari-lari ya!" Arini berlari kecil mendapati seorang anak perempuan yang berlarian bersama saudaranya sehingga menyebabkan anak itu jatuh, malah sang kakak membiarkannya (anak seumuran 10 dan 5 tahunan).
Belum nampak kedua orang tuanya ketika Arini sedang membantu anak perempuan itu. Ada goresan luka di lututnya, anak itu tidak sedikit pun menangis, hanya menahan perih.
"Dimana orang tua kalian, dek? Kamu kakaknya kan, panggil ibumu!," jiwa keibuan Arini terpanggil. Melihat anak itu menahan sakit, di bersihkan dengan tisu dan alkohol yang selalu tersedia di tas kecilnya. Dan sang kakak berlari mendapati ibunya atas perintah Arini.
"Nama kamu siapa, anak cantik?." Arini berusaha membuat anak itu berdiri karena masih terduduk diatas aspal. Senyum ramah dan lembut Arini membuat anak ini menjadi nyaman. Anak ini mungkin sudah diajarin untuk tidak terlalu ramah dengan orang asing, sehingga awalnya Arini sempat membujuk agar percaya padanya.
"Mitha, tante!." jawab anak itu malu-malu.
"Kamu ga usah takut Mitha, kita tunggu mama kamu disini ya!." Mitha hanya menganggukan kepala.
"Ada apa Ar? Anak siapa ini?"
Rendra melihat Arini yang sudah tidak ada di dekat mobilnya malah bersama dengan seorang anak, sehingga Rendra menghampirinya.
"Ini loh Ren, Mitha main kejar-kejaran sama kakaknya, dan lihat kakinya berdarah karena jatuh!"
"Orang tuanya dimana?"
"Aku suruh sang kakaknya untuk memanggilnya, kita tunggu bentar ya Rend, kasihan anak ini!"
"Oh.. ga apa-apa Ar!"
"Hai anak cantik, kuat banget sih, ga nangis kesakitan kakinya berdarah!," tanya Rendra yang juga peduli.
"Kenapa harus nangis om? Mitha hanya perlu menahan sakitnya aja kok, kalau nangis pasti tambah perih," jawab anak itu yang terlihat pintar dan pandai bicara.
Rendra dan Arini hanya saling melempar pandangan dan senyuman, karena jawaban anak perempuan ini.
Tak lama kedua orang tua anak ini pun muncul, "Mitha, mana yang luka nak!." Kekuatiran seorang ibu pun muncul, sampai keberadaan Rendra dan Arini tak disadarinya soalnya Sang Ibu masih sibuk mencari tahu di tubuh anak itu, apakah masih ada cidera yang lain.
"Mitha, hanya tergores dilututnya aja, bu! sudah saya bersihkan juga, tinggal dikasih obat!," sambung Arini agar sang ibu tidak kuatir lagi. Ibu itu langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara, sambil di tatap pasangan ini dengan seksama.
"Terima kasih ya! Sudah menolong anak saya"
"Hai.. Pak Rendra Wira!," sapaan dari suara seorang pria paruh baya namun di sebelahnya ada juga pria seumuran.
"Selamat malam tuan Armando Ferdian!," balas Rendra langsung berjabat tangan. Ternyata mereka adalah keluarga dari Alan. Ayahnya bersama sang adik (pria yang datang bersamaan dengan tuan Armando Ferdian) beserta keluarga kecil mereka yang juga makan malam bersama di resto ini.
Tuan Ferdian memang mengenal Rendra. Biasa seorang pengusaha harus menjalin relasi dengan aparat, demi kelancaran bisnis. Bahkan ayah Rendra pernah membantu tuan Ferdian dulu menyelesaikan masalah pengiriman barang yang ditahan oleh bea cukai.
__ADS_1