
"Aaaaaaaaaa," teriak Arini. Suaranya sungguh memekakan telinga seakan ada sesuatu yang menyeramkan terjadi.
Alan yang terganggu akan teriakan itu terbangun juga walau setengah tersadar, padahal kepalanya masih berat dan pusing karena pengaruh minuman keras semalam. Masih sangat pagi bahkan langit masih terlihat gelap karena matahari belum terbit.
"Apaan sih Nagita?. Pekak telinga aku!." Alan berseloroh memposisikan tubuhnya, dalam keadaan tengkurap.
"Lan, bangun!. Aku Arini, elu kenapa tidur di sini?."
Alan belum merespon lagi.
"Iiiihhhhhhh." Arini merinding dan menutup setengah mukanya karena Alan hanya mengenakan celana pendek, tanpa menggunakan sehelai baju dan Arini pun agak menjauh dari tubuh Alan. Selimut yang semula menutup tubuh Alan sudah tersingkap dan sebagian sudah di ambil alih Arini untuk menutupi setengah tubuhnya yang menggunakan lingerie yang agak seksi.
"Apaan sih Nagita?. Bukannya kamu pernah melihatnya?."
"Lan, please wake up!. I'm Arini!."
Mendengar pernyataan Alan, membuat perasaan Arini tak karuan tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, sedih bercampur kecewa. Arini juga tak bisa membayangkan apa yang terjadi semalam antara dirinya dengan Alan.
"Lan, kamu apain aku semalam?. Please, Alan bangun!."
Alan terganggu juga karena Arini terus membangunkannya sehingga dengan terpaksa Alan pun bangun, posisi duduk menghadap Arini
"Kamu...!!. Ar, ngapain kamu di kamar aku?."
Mata Alan melotot, dalam bayangan di hadapannya adalah Nagita.
"Justru aku yang harus nanya kayak gitu?."
"Loh, ini kamar aku kan!. Katanya kamu mau out dari sini kekemarin. Salah aku?."
"Aku sudah di bolehin sama Bento untuk tetap di kamar ini, nanti Bento yang bertanggung jawab sama kamu!."
"Lah, mana aku tahu kamu masih di sini!."
__ADS_1
Mendengar nama Bento lagi yang membantu Arini Alan agak sebal.
"Lalu, apa yang kamu lakukan semalam pada diri ku sampai kamu kayak gitu sekarang?." Arini kembali bertanya tapi tatapan tak penuh karena tentunya tubuh telanjang Alan semakin terpampang nyata di hadapannya yang membuat Arini menjadi malu dan rona mukanya menjadi memerah.
"Aku mabuk, Ar!. Justru kamu yang sadar tahu dong!."
"Maksud aku, kenapa kamu tak menggunakan pakaian?."
"Eh..., Arini kamu itu polos atau bodoh sih?. Aku kalau tidur harus kayak gini. Kalau kamu mikir aku mesum terhadap kamu pergi periksa sana!."
"Soalnya, kamu dan Nagita.....!!." Arini tak bisa melanjutkan kata-katanya karena Arini masih terganggu dengan pernyataan Alan tadi.
"Apa?."
"Ga jadi deh!. Aku mau ke kamar mandi!." Arini berusaha bangun dan beranjak dari ranjang itu, tapi selimut di bawa juga oleh Arini sehingga membuat Alan menarik selimut karena Alan mau melanjutkan tidurnya.
"Kamu mau bawa mandi juga tu selimut!."
Alan terus menarik selimut sehingga mereka saling tarik menarik memperebutkan selimut.
"Kamu mau ke kamar mandi kan?. Ya, tinggal ke sana aja!."
"Tapi..., aku butuh ini!."
Alan tetap tak mau terima, sehingga Alan memposisikan tubuhnya dengan kuda-kuda yang pas di atas ranjang agar selimut itu menjadi miliknnya. 1,2,3..,Alan menghitung dalam hati dan seketika selimut itu sudah berpindah tangan menjadi milik Alan namun Arini menjadi salah tingkah dan tak bisa berbuat apa- apa. Setiap lekuk tubuhnya di lihat oleh Alan dengan tatapan mata yang tak berkedip.
"Dasar mesum kamu Lan!." Arini langsung berlari menuju kamar mandi sedangkan Alan menjadi terkesima melihat keindahan tubuh seorang Arini di hadapannya. Alan sumringah dan tersenyum di sertai dengan degupan jantung yang kian mendebarkan dalam benaknya hanya bisa berkata, "Wow..." Alan kembali tidur, matanya boleh terpejam tapi otaknya sudah mulai traveling kemana-mana. Ya namanya laki-laki begitu lihat dikit yang mempesona terus aja terbayang-bayang.
Arini boleh saja asik mandi, dan menjadi kendala berikutnya adalah Arini harus mengambil pakaian ganti di Almari yang tentunya melewati ranjang itu lagi. Arini takut Alan akan menggodanya dengan pikiran mesumnya itu. Kira- kira 15 menit berlalu, Arini sengaja berlama-lama di kamar mandi itu sambil menunggu Alan nyenyak dalam tidurnya. 25 menit pun berlalu sampai menit 30, Arini memastikan dirinya bahwa perhitungan waktunya sudah tepat kalau Alan sudah kembali tertidur.
Arini memberanikan dirinya untuk keluar, langsung menuju lemari. Arini sudah tak berani untuk ngecek.
Arini asik mencari pakaian untuk di gantinya, dan ketika selesai dan hendak kembali ke bathroom
__ADS_1
"Astaga...., Tuhanku!." Arini kaget setengah berjingkrak karena Alan ternyata sudah duduk di ranjang dan sedang memperhatikan dirinya dengan tak berkedip. Alan terbangun karena aroma sabun mandi yang yang menyeruak rongga hidungnya yang membangunkan nalurinya.
"Kamu... !."
Alan beranjak dari ranjang yang juga hanya menggunakan celana pendek dan dengan percaya diri tanpa malu, mendekati Arini yang menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya. Arini tak bisa berbuat apa-apa, bercampur rasa takut.
"Seksi Ar!. Kamu cukup membuatku tergoda!."
Alan membisikan itu di telinga Arini ketika Alan mau mendekatinya. Wajah Arini semakin memerah sampai kedua kupingnya terasa terbakar dan rongga dadanya mau meledak. Sedangkan Alan menyimpulkan senyum kemenangan bahwa dirinya mampu menaklukan hati Arini kali ini karena kegagahan tubuhnya, dengan memanfaatkan kepolosan Arini.
"Tok.., tok..,tok," suara pintu kamar. Arini sudah selesai mengenakan pakaian, segera di buka pintu kamar itu.
"Good morning, Ar!," ternyata Bento.
"Hai Ben, good morning!."
"Mau lihat sunrise bareng!," ajak Bento.
"Boleh tu, bentar Ben aku ambil hp!."
"Siapa Ar?," suara Alan yang sudah berdiri di belakang Arini yang juga ingin tahu, siapa yang datang mencari Arini.
"Alan..., kalian?." Bento kaget karena Alan dalam keadaan menggunakan handuk selesai mandi.
"Hai Ben, mau kemana?. Masih pagi banget loh!."
Otak Bento sudah membuat kesimpulan yang tak masuk akal karena melihat pemandangan yang terjadi pagi ini.
"Ben please!. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu, kami tidak melakukan apa-apa kok?."
Arini sudah membela diri dan menjadi tak enakan di hadapan Bento. Sebenarnya Arini tak perlu menjelaskan apapun karena Arini tak mempunyai hubungan dengan Bento. Tapi Arini takut image-nya bisa rusak gara-gara Alan, takut di bilang pelakor.
Alan tambah sumringah akan moment ini di ketahui oleh Bento. Istilahnya sedikit memberi warning pada Bento kalau hanya Alan yang boleh bersama Arini apalagi Arini juga masih pacarnya kok!.
__ADS_1
"Ben, nanti aku jelasin!. Sebaiknya kita jalan aja yuk!. " Arini menenangkan Bento dan mereka pun pergi.
Selama perjalanan Arini menjelaskan kejadian sebenarnya pada Bento. Setelah semuanya di clear-in oleh Arini, sunrise yang indah pun dapat di nikmati mereka dengan tenang dan penuh rasa syukur.