
Saat Arini sedang bersama dengan Rendra, malah Alan seperti orang gila ketika mengetahui ternyata Arini sudah pergi dari Yacth miliknya sejak malam itu. Karena pagi-pagi sekali Alan sudah kembali ke rumah dengan muka kesal dan amarah yang memuncak. Percuma Alan menghubungi Arini sebab handphone milik Arini masih disitanya. Yang membuat Alan bingung, bagaimana Arini bisa pergi malam itu dari Yacht-nya?, padahal mereka sedang berlayar.
"Good morning sayang!" sapa Mommy Diana ketika melihat Alan baru saja masuk rumah. Tersirat dengan jelas di wajah tampan Alan bahwa mood anaknya ada diatas ambang batas.
"Morning Mommy!"
"Kenapa dengan wajahmu itu Lan? Kriting amat!"
"Apa-apan sih mom? Alan lagi malas ngomong!"
"Loh kok gitu, emangnya Mommy yang membuatmu kesal, ya ga adil dong kalau kayak gini!"
Alan tak mungkin menjadikan Mommy sebagai pelampiasan emosinya, benar juga yang dikatakan mommy bahwa amarahnya kali ini sebenarnya tak jelas. Sebenarnya kemarahan Alan ini karena merasa Arini sepertinya tak pernah menghargainya, ketika Alan mengatakan untuk jangan pergi malah sebaliknya Arini selalu seenaknya pergi. Alan paling marah ketika perintah dan permintaan tidak dipenuhi. Alan baru merasakan, gadis yang satu ini selalu mengabaikannya. Karena selama ini Alan-lah yang selalu menjadi incaran para gadis-gadis berkelas bukan seperti Arini. Alan menjadi sedikit terluka harga dirinya, karena Arini selalu menganggap dirinya pria enteng.
"Ya... Ya sorry mommy! Alan ga bermaksud demikian kok!"
"Pertemuan bisnisnya lancarkan? Kamu pake menghilang segala sih, kasihan Nagita menunggu kamu!"
"Bisnis ma selalu beres mom! Oh ya.. Nagita balik ke apartemennya kan?"
"Iya, awalnya Nagita mau nginap dirumah tapi Mommy katakan; ga boleh, tapi tu ayah kamu nyosor aja malah di bolehin!"
"Oh... Lalu mommy sama ayah berdebat dong pastinya!"
"Hemm.. Mana ada ayahmu berani, kalau mommy katakan ga boleh, ya belum boleh!"
"Berarti mommy dong yang kolot, zaman sekarang ma boleh aja tu calon istri nginap di rumah calon suami!"
"Lan.. Berani kamu bilang mommy kolot ya! Awas loh..!"
Tak lama muncul Mak Siti disela-sela perbincangan ibu dan anak ini.
__ADS_1
"Tuan muda, mau kopi hitam pahit?"
"Boleh Mak Siti, soalnya bentar lagi Alan mau pergi sama partner bisnis untuk keliling, malah sudah mau ngantuk! Thank you Mak Siti!" Mak Siti pergi ke peraduannya membuat secangkir kopi untuk Tuan mudanya itu.
"Lah, kamu semalam begadang, Lan?" Lanjut mommy bertanya
"Semalam Alan menggunakan Yacht kita untuk pertemuan bisnis, soalnya partner bisnis Alan kali ini orang timur tengah, Dubai.." Sebelum Alan melanjutkan kata-katanya ada sebuah panggilan masuk ke handphonenya dan memohon ijin menjawab panggilan itu, sehingga tanpa sengaja Alan mengeluarkan hp milik Arini dan diletakan di meja, pikirnya ada panggilan di hp milik Arini.
"Selamat pagi Tuan Muda, saya mohon maaf tuan!" Suara tergagap. Ternyata panggilan telepon dari anak buahnya.
"Kenapa kamu terdengar ketakutan?" Tanya Alan bingung
"Tuan, aku yang mengantar nona muda malam itu kembali ke daratan, maafkan saya tuan!"
"Apa? Kurang ajar... Kamu mau aku habisi sekarang,breng***!"
"Maaf tuan, soalnya malam itu saya juga di ancam nona muda. Katanya kalau saya tidak mengantarnya pulang, nona muda akan terjun ke laut dan mengatakan bahwa saya yang bertanggung jawab atas kematiannya!"
Mendengar percakapan Alan yang keras membuat mommy tertegun dan penasaran, apa maksud perbincangan itu?. Dan Alan menutup panggilan telepon itu.
"Kenapa sih, pagi-pagi sudah marah-marah? nona muda siapa yang dimaksud? Nagita?"
"Oh itu... (Tampak berpikir untuk memberi alasan tepat)... Nona muda temannya partner aku!" agak gelagapan menjelaskan, sehingga terdengar aneh alasannya.
"Apaan sih ga jelas? Mommy ga paham Lan!"
"Ga penting juga! mommy ga perlu sampe memahaminya kok"
"Hp siapa Lan? Cantik ya walpapernya!" Pastinya foto Arini menjadi layar depan ponselnya itu.
" Oh ini.. Punya teman Alan! Mom, Alan mau mandi dulu dan pergi lagi!"
__ADS_1
Alan secepat kilat memyambar hp itu dari atas meja, yang hampir saja diraih oleh mommy untuk dilihat.
"Lan, kamu ga kabarin Nagita dulu!" Agak berteriak karena Alan sudah berjalan pergi.
"Please, mommy bantuin Alan untuk temanin Nagita kali ini, belanja ke..atau jalan-jalan, boleh juga tu. Alan masih sibuk mom!" balas Alan dari lantai 2 rumah mereka.
...****************...
Arini masih terdiam ketika Rendra kembali mengungkapkan kata cintanya.
"Ar, jawab aku please?"
Arini berusaha memberi jawaban yang tak ingin melukai perasaan Rendra.
"Ren, aku pasti terlihat kejam ya? karena tidak pernah menyadari perasaanmu selama ini, bahkan sampai detik inipun aku merasa belum pantas menerima cintamu itu, lalu aku harus bagaimana Ren?"
Jawaban ambigu seorang wanita dan inilah sering dilakukan kaum wanita ketika sedang bingung sehingga terkesan menggantung dan memberi harapan.
Arini memang belum pernah merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya. Arini masih berpegang pada teori bahwa kalau sedang jatuh cinta ataupun mencintai seseorang pasti jantung akan berdebar kencang walau hanya memikirkannya.
"Ar, beri aku jawaban yang jelas!" Rendra kembali dengan pertanyaannya.
"Kamu jangan berpikir demikian Ar, aku-lah yang salah yang terlalu takut mengungkapkan perasaan waktu masih sekolah , karen aku takut aku kehilangan kamu, kehilangan persahabatan kita, kehilangan kebersamaan kita, makanya aku memutuskan; mungkin saat dewasa nanti aku bisa mengatakannya, tapi kenyataan malah sebaliknya ketakutan itu pun menjadi nyata bahwa aku harus kehilangan sosokmu selama 10 tahun, Ar! Dan akhirnya kita pun kembali dipertemukan sekarang, aku sangat bahagia Ar!" mendengar penjelasan Rendra panjang lebar membuat Arini tak bisa membuat Rendra menunggu lebih lama lagi.
"Ren, aku yang terbiasa denganmu tanpa rasa canggung, layaknya sebuah persaudaraan. Bagaimana aku harus menghadirkan cinta diantara kita? sejujurnya aku tak ingin menyakitimu Ren, bolehkan berikan aku waktu? apabila kamu bisa membuat hati ini selalu tertuju pada mu maka aku pasti aku berjalan ke arah mu Ren, seperti filosofi gelang kakimu ini!"
Rendra memang tak bisa memaksakan perasaan Arini untuk mencintainya, benar juga yang dimaksud Arini. Selama ini mereka adalah sahabat, setelah 10 tahun ada cinta di antara mereka, terdengar cukup aneh. Rendra berusaha rasional, tapi perasaan cinta mana ada bisa rasional. Rendra pastinya sangat tersiksa selama ini, bahkan berusaha menjadi pria idaman Arini seperti pria impiannya.
Kedua insan ini akhirnya saling memahami satu sama lain.
"Ar, 10 tahun waktu yang lama namun aku masih sama.Bahkan 3 bulan pun tak ada artinya bagiku, akan aku buktikan padamu 3 bulan kamu akan menemukan cintaku didalam hatimu"
__ADS_1
"Iya Rend, aku menghargai dan menganggumi cintamu, aku akan berusaha memberi ruang dihatiku untukmu. Terima kasih kamu mau memahami aku!," Arini membawa Rendra bangkit dan memeluknya dengan penuh haru.