
Nagita terlihat cantik dengan gaun merah maroon yang dikenakannya, se** dan anggun membuat Daniel tak pernah lepas memandang kekasihnya. Dinner romantis yang di impikan para wanita, bunga, music dan sebotol anggur seharga mobil menemani kebersamaan mereka sambil menikmati makanan berkelas hotel berbintang yang harganya selangit, diselingi juga perbincangan ringan antar mereka.
"Ada yang salah dengan gaunku Daniel?." Nagita bertanya karena tatapan Daniel selalu tertuju padanya.
"Kamu terlihat sangat cantik dan se** sayang!."
"Terima kasih."
"Kamu tahu ga, kamu bagai candu bagiku sepertinya malam ini aku jadi enggan pulang karena pesona mu itu Nagita Wilson!."
Nagita membalasnya dengan sebuah senyuman manis, sepertinya kali ini Daniel benar-benar jatuh cinta pada Nagita. Setelah sekian lama Daniel baru kali ini terlihat romantis dan manis.
"Sayang, tak bisakah kali ini kamu menemani aku balik ke Ausiee?. Aku semakin tak bisa jauh darimu!."
"Ga bisa kayak gitu Daniel!, aku juga sibuk dengan kuliahku. Urusi bisnismu saja, jangan kuatirkan aku lagi pula ada anak buahmu yang selalu menjaga aku kan!," ungkap Nagita
"Baiklah sayang!."
"Daniel, boleh aku minta satu hal dari kamu?."
"Apa sayang?. Apapun itu pasti akan aku kabulkan untukmu. Sekali pun nyawa akan aku berikan!."
"Aku hanya meminta kepercayaan dari kamu, jika kamu ingin kita memulainya dari awal dan memperbaiki hubungan ini berikan aku kepercayaan mu itu, agar aku bisa menata hati dan perasaan ku untukmu!," jelas Nagita dengan suara memelas penuh permohonan.
"Kepercayaan!." Daniel mengulang kata itu sambil mencerna maksud dari perkataan Nagita, batin Daniel "Apakah Nagita tulus mengatakannya atau dia ingin lepas dari diriku?."
"Baiklah Nagita!, aku akan coba belajar percaya padamu, tapi ingat! Daniel akan membuat perhitungan jika kamu sendiri yang melanggar kepercayaan itu!."
"Terima kasih sayang!." Nagita mulai mengambil hati Daniel dan tahu titik kelemahan Daniel sekarang.
"Bos, kami menangkap seseorang yang mencurigakan sepertinya penguntit!," bisik salah satu anak buah Daniel yang menghampirinya dan berbisik.
"Dimana orang itu sekarang?," suara Daniel juga diperkecil agar Nagita tak mendengarnya.
"Kami sekap di toilet pria!."
"Baiklah, aku segera kesana!." Anak buah itu kembali. Nagita melihat kedatangan anak buah itu menjadi curiga dan bertanya dalam hati "Ada masalah apalagi?."
"Sayang, aku ke toilet sebentar!."
Nagita hanya menganggukan kepala, karena mulutnya masih menikmati makanan enak.
Daniel tiba di toilet pria, yang sudah diblokir oleh anak buahnya agar tak ada yang mengusik mereka untuk sementara waktu. Pria asing yang menguntit Daniel sedari tadi sudah di ikat kedua tangannya, dalam keadaan berlutut dan mulutnya disumpal tisu wc."
"Siapa yang menyuruh kamu?."
Pria asing itu hanya menggeleng.
"Buka sumpalan dimulutnya, buat dia bicara!," perintah Daniel pada anak buahnya. Beberapa pukulan dan tendangan masuk mengenai perutnya sehingga membuat orang asing itu meirntih.
"Ambil kamera itu darinya, saya ingin tahu apa yang diambilnya!," perintah Daniel lagi. Kamera itu diselidiki, di dalamnya banyak foto antara dirinya dan Nagita.
"Apa maksud semua ini breng***?."
Pria asing itu ternyata orang suruhan Silvi yang ditugaskan untuk mencari tahu tentang Daniel dan Nagita. Anak buah Silvi sudah babak belur, walau demikian dia masih setia kepada tuannya dengan tidak mengungkapkan kebenarannya.
"Maaf tuan! saya hanya penggemar Nona Nagita." terbata-bata dijawabnya, tapi akalnya masih berfungsi dengan baik untuk membuat tipu muslihat.
"Penggemar!. Aahh....,aku tidak percaya!."
__ADS_1
"Kenapa tidak ada foto Nagita saja melainkan kita berdua?."
"Soalnya selama saya mengikuti nona, hanya tuan yang selalu bersamanya."
Anak buah Silvi ternyata pandai berkelit. Masuk akal juga jawaban penguntit itu, namun Daniel tak mau foto itu menjadi konsumsi sembarang orang yang tidak dikenal. Di ambil memori kamera itu dan kamera di kembalikan kepada si penguntit. Lalu memori itu diberikan pada anak buah Daniel yang menjadi orang kepercayaannya.
"Ambil ini dan bereskan dia!."
"aku tidak percaya orang itu, cari tahu!," bisik Daniel pada anak buahnya.
Daniel pun kembali, di cuci tangannya diwastafel. Dengan gagah Daniel menuju Nagita yang telah di tinggalkan kurang lebih 10 menit.
"Sayang, bagaimana makanannya enak?"
"Hemmm"
Daniel memberi kode pada pelayan untuk melayani mereka minum anggur termahal itu. Sebotol anggur yang besar tak bisa dihabiskan oleh mereka sehingga melanjutkan minum di kamar hotel yang sudah di reservasi oleh Daniel. Malam ini mereka habiskan waktu romantis mereka dikamar, dengan kehangatan yang membara.
...****************...
Arini mengurung diri dikamar, Ibu Yanti sepulang dari lembur dikantor kira-kira pukul 7 malam, dan langsung mencari anak gadisnya itu.
"Arini... Arini... boleh ibu masuk nak?" Ibu Yanti mengetuk pintu kamarnya.
"Ya bu..!"
"Kamu sudah tidur? masakan kamu pulang tidak mau menyapa ibu nak!."
"Bentar bu, Arini baru selesai mandi. Setelah itu baru Arini menyapa ibu, soalnya Arini kangen!."
"Baiklah nak!."
Ibu Yanti menuju ruang tengah, dan ternyata anak bujangnya juga ada disitu sedang menikmati es krim.
"Lagi pengen aja bu!."
"Hemmmmm" Ibu Yanti gemas dan mencubit hidung anaknya itu. Tara merebahkan kepalanya dipangkuan ibunya itu dengan manja.
"Kamu kenapa? pasti melakukan kesalahan kan?"
"Ga kok!. Tara mau dimanjain ibu aja!," jawab Tara memelas, dan sang ibu membelai rambutnya.
"Bu..., Ka Arini punya pacar!."
"Masa sih?."
"Iya, pacarnya seorang polisi, ganteng banget bu!"
"Kak Arini mengenalkannya padamu?."
"Heemm!," jawab Tara singkat karena terlalu asik menikmati es krimnya.
"Ibu tanya aja sama kak Arini!."
"Iya... iya...!. Tapi kalau kamu pacaran ibu ga ijinin loh Tara!. Belajar dan pendidikan harus nomor satu"
"Lah ibu gitu!. Tara ngomongin kak Arini malah Tara yang di ceramahin, bete deh!."
"Ibu hanya menasehati, bukan ceramah nak!. Sejak papa pergi kamulah yang menjadi harapan ibu kelak!."
__ADS_1
"Iya bu!. Tara akan menjadi anak berbakti!."
"Good Boy! I Love You nak!." Ibu Yanti mencium pipi anaknya dengan kasih sayang.
"Ayo, lagi ngobrolin apa?." Arini menghampiri ibunya dan memeluk dengan kehangatan serta kerinduan dan ibu Yanti mencium ujung kepala Arini. Bertiga bagai teletubies saling berpelukan.
"Bagaimana kegiatan di Bali nak?." Arini melepaskan pelukan dan mengambil tempat duduk disebelah ibunya.
"Semuanya berjalan dengan lancar bu!."
"Kamu sakit Ar?. Kenapa menggunakan sweeter berleher tinggi kayak gitu, ga kepanasan?."
Arini menjadi kalang kabut, ibunya ternyata jeli juga penglihatannya, maka Arini pun dengan menyesal harus berbohong pada ibunya lagi gara-gara Alan untuk kedua kalinya.
"Ya bu!. Arini merasa mau flu dan badannya ga enakan mungkin terlalu banyak terkena angin laut deh!, tapi Arini sudah minum obat kok!."
"Ya sudah!."
Niat Arini mau meminta adiknya berbagi es krim pun tak jadi karena terlanjur memberi alasan ke ibu kalau lagi sakit.
"Arini bawa ole-ole bu!. Wah Arini hampir lupa kan". Arini balik ke kamar dan mengambil sekantong besar jajanan khas Bali untuk keluarganya. Tak lama hp milik Arini berdering, Di lihat ternyata video call dari Rendra Wira. Seketika Arini memjerit dong membuat ibunya kaget.
"Kenapa Ar?."
"Kak Rendra Wira bu!," jawab Arini namun ibunya mengerutkan dahinya bertanya -tanya siapa dia? apa mungkin pacar Arini yang dimaksudkan adiknya.
"Selamat malam kak!."
"Hai Ar, lagi ngapaian?."
"Lagi sama ibu dan Tara ngobrol sambil membuka ole-ole dari Bali yang Arini bawakan untuk mereka!."
"Oh ya..!."
"Kak mau ngobrol sama ibu juga!."
"Itu tu bu, pacar kak Arini yang Tara bilangin tadi!," sambung Tara yang terdengar oleh Rendra yang membuatnya berbunga-bunga.
"Selamat malam ibu!. Masih ingat saya, Rendra Wira?. Teman kecilnya Arini, anaknya bapak Riwanto!." Ibu Yanti mencoba menelusuri memori diotaknya, maklum sudah termakan umur.
"OMG, Rendra!," suara ibu kegirangan ketika sudah ditemukan ingatan itu.
"Kamu sudah berubah menjadi setampan ini, makanya ibu jadi lupa ingatan kan!."
"Ibu bisa aja!."
"Bagaimana kabar kamu dan keluarga, semuanya sehatkan?."
"Puji Tuhan sehat, sekarang bapak tugas di Palembang jadi semua keluarga disana. Kecuali Rendra mendapat tugas baru balik ke Jakarta!."
Arini hanya senyum-senyum disamping ibunya dan obrolan mereka mulai mencair.
"Kamu juga seorang polisi nak Rendra?."
"Ya bu!. Kebetulan tadi siang ketemu Arini dan Tara di kantor makanya malam ini Rendra langsung menyapa!." Ibu Yanti menjadi bingung dong untuk apa anak-anaknya ke kantor polisi.
Seketika Tara dan Arini saling bersitatap, Arini memberi kode pada Rendra untuk diam atau tidak melanjutkan cerita mengenai pertemuan mereka di kantor polisi pagi tadi.
"Oh syukurlah, penerus bapakmu sudah ada!." Ibu Yanti menjawabnya dengan ringan dan tenang.
__ADS_1
"Nak Rendra lanjut ngobrol sama Arini ya!. Ibu mau nyiapin makan malam. Nanti kapan-kapan main ke rumah ya?."
"Siap bu!." Ibu Yanti memberi hp ke tangan Arini. Tara tak mau di intimidasi ibu, segera pergi meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Arini berbincang berdua. Ibu Yanti sibuk menyiapkan makan malam mereka.