
Ketika hati tergoyahkan oleh perhatian dan ketulusan seorang Rendra, ketampanan dan kegagahannya meluluhkan nurani feminimnya dibalik seragam kebesarannya Arini mendapat kenyamanan bak seorang ratu. Rasa yang dikira hanya karena perhatian persaudaraan, apakah mampu membuatnya menentukan kebenaran cinta antara Rendra dan Alan.
"Rend, kenapa ga kasih tahu kalau mau kesini?"
"Aku sudah coba hubungi kamu tadi, tapi tak ada jawaban!"
"Oh.. Ya! Masa sih hp aku aktif ko!" Arini merogoh tasnya dan dilihat ternyata memang benar ada 3 kali panggilan tak terjawab dari Rendra, mungkin karena di silent.
"Maaf Rend! Ternyata ter-silent! Sekampus jadi hebohkan karena kedatangan Ka Rendra, untung seragamnya ketutup pake jaket kulitnya, kalau ga wah... Arini dikira penjahat kan tuh!"
Rendra hanya membalasnya dengan senyuman manis.
"Maaf ya, tadi sih masih dinas! Karena aku kuatir panggilanku tak dijawab makanya aku kesini, Ar!"
"Iiih... Kamu bisa aja deh, Ren! Arini sudah gede loh masa masih terus dijagain sih!"
"Kenapa? Kamu ga suka kalau aku kuatir?"
"Bukan gitu ka! Arini suka dan sangat senang sekali kok, soalnya tugas negaranya lebih penting kan daripada hal kecil ini!." Arini merasa ga enakan
__ADS_1
"Kamu juga penting kok buat aku" Kata-kata Rendra membuat Arini menjadi tertegun, sikap Rendra membuatnya menjadi merasa bersalah.
"Baiklah!" Rendra memecah lamunan Arini
"Aku tunggu dicafe depan ya!"
"Ok, terima kasih!" Jawab Arini terkesima akan sikap Rendra yang lembut.
"Ga usah sungkan padaku ya, Ar!" Dicoel hidung kecil milik Arini seperti gemas, membuatnya malu-malu kecil dan menganggukan kepalanya pelan.
...**************...
"Halo ka Silvi, wanita bernama Ririn itu sudah bersama kami sekarang!." Panggilan telepon antara Silvi dan seorang junior yang diperintahkan untuk mencari sosok Ririn yang dimaksudkan Alan.
"Hei, buka pintunya! Kalian maunya apa? ," teriak Ririn yang ternyata sudah disekap di sebuah bilik toilet yang sudah diblokir oleh teman-teman sekomplotannya Silvi.
"Oh.. Jadi elu yang sudah menganggu sang pangeranku!." Silvi langsung menghadang Ririn tanpa bertanya lagi.
"Siapa kamu? Gue ga ada urusan sama elu, apalah pangeranmu itu, gua ga mau tahu atau elu nanti terima akibatnya." Ancam Ririn balik malah Silvi menganggap itu hanya isapan jempol saja.
__ADS_1
"Ambil air, gue akan membuat otaknya menjadi dingin! Pelac*** kayak elu harus dibuat jera!"
"Eh... Dasar elu yang pelac***!!" Tak lama seember air es tersiram di kepalanya. Ririn kaget langsung tak berkutik, tubuhnya kedinginan.
"Gue ga kenal elu, jala**! gue akan buat perhitungan balik, berani kamu!"
"Elu jangan sok berkuasa disini! Gue mau elu hengkang dari sini, berani elu tunjukan batang hidung elu dikampus ini, maka penderitaan elu tak akan berakhir, paham!," balas Silvi tak mau kalah sambil dicengkram mulutnya dengan keras sehingga kukunya yang panjang melukai daerah bibir bawah Ririn. Dengan peristiwa ini Ririn bingung akan sikap perempuan yang tak dikenalnya bisa menyiksa dan membully dirinya, padahal mereka tak saling mengenal dan tentunya tak ada masalah dong awal mulanya.
Pikiran Ririn menerawang dan berpikir keras kesalahan apa yang diperbuat sehingga perempuan ini bisa segila dan sejahat ini. Ririn tak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya lemas, ada beberapa lebam dikaki dan tubuhnya akibat tendangan Silvi yang masuk karena tak bisa ditangkis.
"Kunci dia!" Eh gue peringatkan jika elu masih berani dekati pangeranku, keadaanmu akan lebih parah dari ini, paham!." Sambil ditarik rambut Ririn yang terlihat lemah, dan teman-teman Silvi yang lain mengunci bilik toilet. Dan mereka pergi begitu saja, Ririn meringkuk tak berdaya, diambil handphone berusaha untuk menghubungi seseorang agar dapat membebaskannya. Hari ini mungkin kurang beruntung bagi Ririn, satu persatu temannya dihubungi tak ada jawaban sampai hampir 30 menit tak satupun yang datang menolongnya.
...**************...
"Tolong, tolongin gue! Siapa saja yang ada situ tolongin gue?," suara Ririn memelas, ketika dia tahu ada seseorang yang berada dalam toilet itu.
Tak lama pintu bilik yang terkunci dari luar, terbuka juga dan terlihat Ririn yang lemas hampir pingsan dan berantakan disertai tubuh yang menggigil. Seketika Arini menjadi panik, melihat keadaan Ririn tak berdaya. Sosok Arini memang tak pernah sedikit pun menyimpan dendam pada Ririn yang sudah membenci bahkan berbuat curang padanya. Kata-kata kasar pernah mengarah padanya, dianggap sebagai angin lalu, tapi Arini tidak akan lupa perbuatan Ririn bukan untuk menyimpan kebencian tapi dijadikan sebagai suatu pelajaran. Arini tetap baik serta mau menolong. Arini berteriak agar mendapat pertolongan, tapi karena kedap suara dalam toilet itu tak sedikitpun suara Arini terdengar sampai diluar. Karena menunggu terlalu lama bantuan, Arini terpaksa harus meninggalkan Ririn dan mencari bantuan.
"Hai Fer, tolong bantuin gue!," panggil Arini yang kebetulan melihat Si Ferry yang kebetulan lewat.
__ADS_1
"Kenapa kak? Ada yang pingsan di toilet, tolong bantu gue membawanya ke ruang kesehatan!"
"Baiklah, ayo kak!" Keduanya segera menghampiri Ririn, dan membopong keluar dari bilik toilet itu. Tentunya menjadi pusat perhatian bagi seisi kampus, karena melihat adegan ini. Adalah seorang mahasiswa turut juga membantu mereka. Karena kejadian ini Arini juga belum sempat ke ruang Dekan.