
Lagi-lagi mencium aroma laut. Angin pantai berhembus kencang, ombak kecil menerpa tepian. Ketika ayunan langkahnya keluar dari mobil itu, tampaklah oleh Arini beberapa Yacht yang terlihat sangat mewah berjejer di sebuah dermaga yang dikhususkan bagi konglomerat. Takjub akan kemewahan yang ada didepan mata, Arini tak berani membayangkan seberapa kaya keluarga Alan Ferdian. Alan hanya mengumbar senyum bangga karena rasa takjub Arini seakan membuat Alan merasa bahwa tak ada satupun pria dapat dibandingkan dengan dirinya. Tibalah mereka disalah satu Yacht yang ukuruannya agak besar dari yang lainnya dan beberapa anak buah Alan menyambut mereka,
“Selamat siang tuan muda!”
“Selamat siang!!” Alan membalas
“OMG...ini kapal atau rumah sih mewah amat bak hotel diatas air!” Arini bergumam saat sudah berada dalam Yacht milik keluarga Ferdian. Alan tak memberi reaksi dan membiarkan Arini menikmati keindahan dan kemewahan isi kapal. Furniture kapal sangat elegan dan berkelas serta dilengkapi kecanggihan AI (Artificial Intelegent) membuat Arini semakin terlena. Kepolosan Arini inilah membuat Alan semakin tak ingin Arini jauh dan hilang dari pandangannya sedetik pun.
“Apakah investor dari Dubai sudah datang?” Alan bertanya pada anak buah itu.
“Belum, saya sudah prepare semua kebutuhan Tuan muda!”
“Bagus, lalu satu set gaun yang saya pesan sudah disiapkan?”
“Itu juga sudah saya siapkan Tuan, sekalian dengan beberapa pelayan wanita yang membantu Nona muda!”
Menyebut Nona muda, Alan menengok ke arah Arini yang tepat dibelakangnya dan menarik tangannya agar dapat berdiri sejajar bersamanya. Tak banyak bicara Alan hanya memberi kode kepada anak buahnya itu untuk membawa Arini ke suatu tempat untuk bersiap dan membersihkan diri. Arini hanya melirik Alan karena anak buah Alan itu langsung membawa Arini kepada beberapa pelayan wanita yang barusan muncul dihadapannya.
“Aku mau dibawa kemana Tuan bodyguard?” tanya Arini penasaran disertai rasa takut tapi masih mau mengikuti apa yang diperintahkan oleh anak buah dan pelayan-pelayan wanita itu.
“Nona muda, tak perlu kuatir! Kami takkan mungkin menyakiti Nona, Tuan muda kami orangnya sangat baik hati Nona!”
“Oh ya,...se-arogan itu dan tempramen begitu dibilang baik hati! Kalian pasti sudah dikibulin oleh Alan Ferdian” Arini berkata sinis karena perkataan pelayanan dan anak buahnya sungguh berbanding terbalik dengan sikap Alan terhadap dirinya.
“Maaf Nona, kami tak bisa menanggapi pernyataan Nona barusan!”
“Tuh kan...kalian pasti di intimidasi oleh Alan Ferdian, pasti hak-hak kalian ditekan olehnya juga kan?” Arini semakin berani berkomentar sehingga membuat pelayan-pelayan itu saling melirik dan memberi kode untuk tidak membalas lagi apa yang dikatakan Arini. Arini melihat pelayan-pelayan itu diam saja,
“Kenapa kalian diam?”
“Maaf Nona muda, kami hanya ditugaskan untuk membantu Nona malam ini, jadi pertama-tama Nona boleh kami gantikan bajunya dan ke bathroom untuk membersihkan tubuh Nona!”
__ADS_1
“What? No...no I don’t want, Saya bisa melakukannya sendiri! emangnya aku bayi!” Arini tampak aneh akan sikap pelayan-pelayan itu memperlakukan dirinya seperti serorang anak bayi.
“Baiklah” jawab pelayan itu.
Arini masuk ke bathroom yang dimaksudkan untuk membersihkan diri seperti kemauan mereka. Semua kebutuhan Arini ternyata sudah disiapkan oleh pelayan-pelayan itu. Bahkan lilin-lilin aroma terapi lavender yang sangat smooth sudah semerbak dalam bathroom tersebut sehingga membuat Arini terlihat rileks dan menikmatinya.
“Kapan lagi bisa kayak gini? Cinderela semalam...Terimah kasih Tuhan nikmat- Mu hari ini!” Arini berkata sendiri berlagak mirip orang kaya baru. Tak berapa lama Arini sudah menyelesaikan ritual mandinya, hampir saja Arini ketiduran untung saja pelayan itu mengetok pintu bathroom menawarkan bantuan karena mungkin Arini terlalu lama didalam.
Gaun Arini sudah disiapkan dan digelar diatas ranjang tak menunggu lagi pelayan-pelayan itu langsung membantu Arini mengenakannya. Gaun berwarna hitam tampak blink-blink kecil menghiasi jika terkena cahaya lampu akan bersinar bagai bintang, dibagian depan ada belahan batas pahanya, bahunya tampak terbuka menampilkan kulit mulusnya yang halus. Arini tampak cantik yang pastinya membuat Alan takkan melepasnya lagi. Sambil menunggu Arini bersiap, kita ke situasi Alan Ferdian. Hari pun mulai gelap, pebisnis yang berasal dari Dubai pun tiba,
“Selamat malam Tuan Raiyan Casildo, Selamat datang!”
Alan Ferdian membuat penyambutan pada insvestor yang katanya dari Dubai itu yang tentunya juga tidak sendirian ada beberapa rekan kerjanya dan seorang wanita yang disandingnya.Hari pun mulai gelap,
"Selamat malam Tuan Alan Ferdian, nice to meet you!”
“Thank You! Come in, sit down please!” Alan bersikap ramah
“Salam kenal Tuan Alan Ferdian, saya Roxit Khana sebagai Konsultan Hukum dan Fraud Analis dari The Future Network!”
Seorang rekan kerja dari Raiyan Casildo yang tak kalah gagah terlihat kalem dan tenang seperti perawakan orang India, menyalami Alan dengan ramah lagi.
“ Ya..ya Tuan Khana! Thank You..so relax and enjoy it!!”
Alan membuka pertemuan bisnis mereka dengan percakapan ringan sambil memberikan beberapa file atau profile perusahannya kepada Tuan Raiyan agar tidak ragu lagi bekerja sama dalam perusahannya. Namun ada satu hal membuatnya gelisah adalah Ronny yang ditunggu sedari tadi belum juga muncul, karena Ronny akan menjadi partnernya mendampingi kuasa hukum perusahan mereka dalam penandatanganan kontrak kerja dan Mou.
“Lan, Alan Ferdian....apa-apaan sih aku harus dandan kayak gini?” suara agak meninggi Arini tanpa berpikir panjang lagi langsung menerobos ruang pertemuan itu, karena pikirnya hanya ada mereka berdua saja di yacht tersebut. Pasti semua pasang mata yang berada diruang pertemuan itu tak berkedip menatap Arini yang tiba-tiba muncul.
“Uupppss.......ada apa ini?”
“Lan...apa ini?” Arini masih belum mengerti akan situasi yang terjadi dihadapannya, sehingga dengan polosnya masih bertanya pada Alan tanpa perasaaan bersalah. Alan tak bisa bereaksi berlebih, tatapan masih fokus pada penampilan Arini yang begitu cantik dihadapannya, bahkan Tuan Raiyan Casildo yang disitu pun ikut terpana dengan lirikan nakalnya membuat Alan menjadi was-was.
__ADS_1
“Wooow...anda cukup jeli mencari wanita, Tuan Alan!” goda Tuan Raiyan Casildo.
“Wanita disamping anda juga tak kalah cantik dan menawan kok Tuan Raiyan!” Alan kembali menggoda Raiyan Casildo. Kalian pasti tahulah nada-nada suara seperti ini sebagai benteng perlindungan atau sebagai bentuk tanda bahwa wanita yang ada dihadapan mereka adalah “She’s mine, don’t touch her”
Alan langsung bangun dan menghampiri Arini yang masih berdiri bengong tak tahu harus berbuat apa.
“Ar..Please bersikap yang manis malam ini, aku tak mau dengar omelan mu lagi!” suara pelan.
“Tapi,..jelaskan padaku untuk apa aku berdandan kayak gini? Untuk apa juga orang-orang itu ada disini?”
Alan sedikit menutup mulut Arini yang nyerocos tak henti, apalagi suaranya sudah agak meninngi.
“Ar, aku ajak kamu kesini untuk temanin aku dalam pertemuan bisnis dengan perusahan dari Dubai, So kamu lihat kan wanita disebelah Tuan yang agak tampan itu!”
“Hemmm (sambil mengangguk) aku lihat! Kenapa emangnya? Cantik, tapi tunggu! Apa pertemuan bisnis harus ada wanita? emang apa ada pengaruhnya?”
“Ar, simpan pertanyaanmu itu, nanti aku jelaskan! Bersikaplah tenang, seperti wanita itu! OK”
“Baik, tapi dengan satu syarat?”
“Apa?”
“ Setelah ini, antar aku pulang Lan!”
Alan menantap wajah Arini dengan seksama, Alan tampak agak tergoda dan hampir hilang fokus, walau dalam hatinya ingin sekali mengatakan bahwa Arini jangan dulu pergi sebelum dirinya puas untuk bersama dirinya.
“OK, ingat! Ini bisnis penting jadi aku harap kamu bersikap manis, dan jangan kemana-mana tetap disampingku saja!”
“Iya...ya..Tuan Alan Ferdian!” Arini menjadi penurut.
Alan hanya mengiayakan untuk sementara waktu, agar Arini tak bertanya lagi. Arini langsung bersikap sopan dan elegan untuk menyeimbangkan dengan gaun yang dikenakan itu. Alan langsung membuka lebar lingkar lengannya supaya Arini merangkulnya untuk ikut bersama dalam pertemuan bisnis itu.
__ADS_1
to be continued " flash back on"