
Melihat adegan keakraban antara Tuan Ferdian dan Rendra, sekalian mereka di sekitarnya hanya berdiri bengong.
"Pak Rendra, sama tunangannya ya?." Sambar Tuan Ferdian yang sedari tadi sudah hilang fokus akan kecantikan Arini, bukan bermaksud genit loh tapi mengangaguminya.
"Ya.. Ini tunangan saya!." Rendra memberi kode pada Arini untuk bersalaman dan memperkenalkan dirinya. Namun pernyataan Rendra barusan sempat membuat Arini melongo, kaget dan hampir ragu-ragu menyalami Tuan Ferdian di hadapannya.
"Salam kenal, tuan! Saya Arini Anggraini Cipta!"
Tuan Ferdian membalasnya dengan senyuman dan ramah padanya.
"Oh...ya! Ini adik saya bersama istri dan anak-anaknya." Arini dan Rendra pun tak lupa bersalaman sambil memperkenalkan diri mereka. Dan Arini masih belum ngeh kalau itu adalah keluarga Alan. Dan adik dari tuan Ferdian itu bernama Felix Ferdian dan Istrinya bernama Elisabeth Martha.
"Ga keberatan kan kalau saya mengundang Pak Rendra dan tunangannya untuk makan malam bersama?." Tuan Ferdian mengajak pasangan ini. Rendra kembali melirik Arini, meminta persetujuannya. Nampaknya Arini tak bisa berbuat apa-apa selain menghargai undangan itu. Arini langsung menggandeng dan merangkul lengan Rendra sebagai tanda meyetujuinya.
"Boleh tuan! Dengan senang hati!"
"Moment yang pas ya! Ayo kita masuk sekarang, pada lapar kan!." Tuan Felix menengahi agar tak perlu banyak mengobrol lagi.
Tuan Ferdian dan keluarga ternyata sudah mereservasi ruangan khusus/VIP untuk makan malam mereka. Masing - masing sudah mengambil tempat duduknya, Arini dan Rendra tentu saling bersebelahan.
"Permisi! Saya ke toilet sebentar, silahkan order duluan aja!," sambung Tuan Felix.
Kesibukan selanjutnya kalian pada tahulah kalau sedang makan di sebuah restoran, terkadang ada percakapan ringan di antara mereka untuk menghias suasana agar tidak terlihat canggung.
Tuan Felix pun akhirnya ambil bagian setelah sekembalinya dari toilet. Tapi Tuan Felix menghampiri Tuan Ferdian terlebih dahulu sebelum mengambil tempat duduknya.
"Bang, diruang sebelah ada Alan bersama dengan seorang gadis!," bisiknya.
"Oh ya! Kamu sempat menyapanya!," suara bisikan lagi dari Tuan Ferdian.
__ADS_1
"Belum, mana berani, Bang!"
Tuan Ferdian hanya mengangguk paham akan situasinya. Dari adegan ini sang istri Elisabeth pun jadi penasaran ingin bertanya tapi berusaha ditahannya karena ada tamu.
Eh tak lama, Tuan Ferdian pun mohon permisi ke belakang, bukanya ke toilet malah menghampiri Alan di ruangan sebelah. Ternyata bapak-bapak juga bisa rempong ya!
"Ehem,..., ehem." Tuan Ferdian berdehem menggoda pasangan yang ada dihadapannya. Padahal Alan belum sempat mengutarakan maksudnya, tapi sang ayah sudah merecoki suasana itu.
"Ayah...!! Kok bisa ada disini?." Terlihat raut wajah Alan jadi bete melihat sosok ayahnya yang tiba-tiba aja muncul.
"Lah,... Mau makanlah! Kamu kan tahu ini resto langganan keluarga!," jawab Tuan Ferdian enteng dan sambil dilirik gadis bersama Alan itu.
"Kamu... Wait!! Nagita Wilson?." Tuan Ferdian berpura-pura kaget, padahal selama ini Tuan Ferdian sudah tahu kalau Alan sedang dekat dengan anak sahabatnya itu. Tuan Ferdian hanya mau menunggu moment aja, Alan mau memperkenalkan Nagita pada keluarganya.
"Maaf, tuan kenal saya!" Nagita juga turut kaget. Alan agak sedikit bingung dan mengernyitkan dahinya.
"Ini loh Lan, anak perempuan dari teman ayah yang di Singapura itu, Pieter Wilson!"
"Ya.. Daddy mu dan saya adalah teman waktu di SMA dulu!" Terang tuan Ferdian. Alan malah semakin berat dan merasa semuanya jadi tak terkendali. Wanita yang pernah di singgung ayahnya untuk di kenalkan padanya yang pasti akan menjadi pasangannya adalah Nagita Wilson.
Alan semakin terpojokan, keinginan ayahnya untuk menjodohkannya semakin dekat, karena tahu mereka adalah pasangan kekasih. Padahal malam ini Alan sudah mengambil keputusan akan mengakhirinya, karena perasaannya sudah jelas menuju pada Arini.
Alan merasa penyesalan luar biasa, "Kenapa aku tak memastikan hubunganku bersama Arini terlebih dahulu sih, sudah begini aku harus gimana?" Benak Alan berkompromi dengan dirinya sendiri.
Tuan Ferdian tak membiarkan mereka berduan, malah mengajak mereka turut serta ikut makan malam bersama mereka, sekalian Nagita memperkenalkan diri pada keluarga paman Alan, Felix.
Awalnya Alan tak mau, berusaha menolak. Tapi karena Nagita pintar cari perhatian, Alan pun menurutinya.
Seketika ketiga sosok ini masuk ke ruangan yang dimaksud, tentunya seisi ruangan pada kaget. Tapi tidak bagi Rendra hanya terlihat biasa dan mengumbarkan senyuman.
__ADS_1
"Omg, adegan apalagi nih? Si Playboy itu bisa ada sini juga!," suara hati Arini.
"Pak Rendra, perkenalkan! Anak saya bersama pasangannya!"
Mereka bersalaman, adegan yang tak bisa dielakan. Kejutan yang luar biasa malam ini. Arini tak bisa berkata-kata lagi. "Wah... Ternyata mereka adalah keluarga besar Alan Ferdian, kenapa dari awal aku ga sadar sih! Seharusnya aku harus ngeh ketika tuan Ferdian memperkenalkan dirinya tadi," batin Arini lagi, saat tangan mereka berjabat. Bahkan Tuan Ferdian mengatakan kalau Arini adalah tunangan Rendra, membuat Alan jadi geram dalam hati "Apa-apan Arini? Bisa-bisanya kamu sudah bertunangan dengan pria ini!" Alan menatap Rendra dalam seperti tersaingi dan ingin rasanya di tonjok pria yang mengaku tunangan Arini ini.
"Dasar playboy gila, katanya aku disuruh menunggu dirinya, agar dapat membuat suatu keputusan yang tepat antara kita, apa-apaan ini?. Malah sekarang mengakui Nagita juga sebagai pasangannya!" Arini berkata lagi dalam hatinya.
Alan dan Arini seperti terkonek hati mereka, sehingga apa yang dikatakan dalam benak mereka masing-masing seperti saling bicara dan berdebat satu sama lain.
"Ok.. Kalau ini mau kamu, Ar! Kamu sudah memberi aku jawaban padaku malam ini" Alan membatin lagi.
"Seharusnya aku tak termakan rayuanmu itu, Lan! Emang gue pikirin, bentar lagi juga kita tak saling bertemu, dengan begitu, aku juga gampang melupakanmu. Rendra yang begitu tulus kenapa aku sia-sia kan!" Arini turut membatin lagi seakan membalas suara batin Alan.
Makan malam berlangsung sangat akrab, ditengah pembicaraan mereka, Nagita pun angkat bicara kalau Arini adalah teman kampus mereka. Bahkan seangkatan dengan Alan, Tuan Ferdian tentunya senang.
Kedua ponakan Alan, terlihat tidak begitu menyukai Nagita, beberapa kali Nagita melempar senyum pada kedua bocah itu malah dibalas dengan mata yang melotot. Memang kedua anak ini susah akrab dengan orang asing yang belum dikenal mereka. Malah anak perempuan bernama Mitha itu lebih condong akrab pada Arini yang menurut naluri anak, Arini adalah tante yang baik. Sesekali Mitha meminta bantuan Arini untuk memotong daging steik miliknya, soalnya ibunya Elisabeth agak jauh darinya. Yang juga sedang membantu anak lelakinya bernama Mantho, yang juga kesulitan dalam makanannya. Nagita sengaja mencari perhatian keluarga Alan, dan terkadang Nagita berbuat sok akrab untuk menyulut emosi Arini, agar memberi kesan bahwa dirinyalah yang pantas mendampingi Alan.
"Ar, kalian terlihat sangat serasi ya, cocok banget!," Nagita sengaja berkata demikian.
"Pak Rendra ini, seorang perwira polisi, dan sekarang menjabat sebagai Kasat Reskrim!," jelas Tuan Ferdian agar Nagita tak salah paham bahwa Rendra bukan orang sembarangan.
Keget dong Nagita dalam hatinya "Brengsek! cewe kampungan ini ternyata pandai mencari pasangan, ternyata targetnya adalah orang-orang berkelas, oh... jadi maksudnya agar dia juga dianggap berkelas!" batin Nagita tak terima, Arini selalu bernasib baik.
Rendra hanya membalas dengan sebuah senyuman, karena tak mau dianggap sombong karena jabatan yang di sandangnya.
"Seorang polisi aja kok belagu amat" batin Alan ketika mengetahui kebenaran Rendra. Sebenarnya ini adalah rasa cemburu Alan, merasa tersaingi sebagai pria.
Arini juga demikian terkejut mengetahui kalau Rendra seorang Kasat Reskrim di kepolisian. Ditatap Rendra, tapi dengan lembut dipegang tangan Arini, digenggam erat, seakan memberi kode bahwa Rendra mohon maaf, belum sempat memberitahu posisi Rendra dan jabatannya. Sungguh di luar dugaan Rendra memperlakukan Arini dengan sangat perhatian, bahwa hal ini bukanlah hal yang luarbiasa bagi Rendra.
__ADS_1
Alan menjadi panas dong, melihat pasangan ini sangat mesra.
Nagita merasa terintimidasi, bahkan mengira bahwa Arini sengaja melakukan itu, untuk memanasi dirinya dan Alan yang masih terlihat dingin. Bahkan Nagita harus memaksakan dirinya, beradegan mesra. Tapi tak sedikitpun membuat Arini terusik karena Rendra selalu natural menyikapi itu.