Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 38


__ADS_3

"Ar... "


"Hhmm"


"Kita masih melanjutkan hubungan ini kan?"


Alan mencoba bertanya, hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa Arini tidak berubah pikiran. Namun reaksi Arini hanya terdiam, tak berani menatap Alan. Dalam benak Arini sebenarnya tak mau menjalani hubungan yang rumit ini. Entah kenapa Arini menjadi baper akan hubungan tak jelas ini.


"Lalu aku harus bagaimana? Kamu menginginkan hal ini"


"Mengenai hubungan ku dan Nagita, kamu tak perlu kuatir!." Alan berusaha menenangkan Arini dengan pernyataannya bahwa dibalik sikapnya itu Alan akan menentukan keputusan yang tepat untuk mereka.


"Hmmm" Arini masih belum menanggapi dengan serius.


Alan memandang Arin kembali yang masih belum berani menatapnya.


"Ar... Coba lihat aku sebentar?"


Arini masih terlihat enggan


"Ar..... Kenapa? Sedari tadi kamu hanya terdiam saja, apa kamu memikirkan kasus plagiat karya kamu itu?,"


Langsung saja Arini memalingkan wajahnya ke arah Alan, menatap curiga, "Kenapa Alan bisa tahu?." Arini dengan polosnya berpikir masalah itu hanya disekitar fakultas Art.


"Kok kamu bisa tahu Lan! apakah kamu memata-matai aku dikampus?."


Arini cukup was-was, soalnya Arini juga menyembunyikan kepergiaannya ke Italia dari Alan. Setidaknya sampai hari keberangkatannya.


"Yap... Kamu nanya, kamu bertanya-tanya ( gaya Alan meniru virus nanya yang viral di tiktok)."


Arini awalnya serius, akhirnya terlepas juga senyum diikuti tawa, karena melihat tingkah Alan yang aneh, sisi lain Alan yang tak pernah di lihatnya, soalnya Alan memang terkesan serius bawaannya.


"Ha... Ha... Apaan sih Lan? Jargon apa lagi tu, dasar aneh!"


"Loh.. Kamu ga tahu, itu lagi viral di medsos tepatnya di para tiktokers!"


"What? Aku ga salah dengar, kamu anak tiktokers juga!" Arini masih tertawa malah semakin menggelitik akan ungkapan Alan barusan.


Alan turut senang, Arini akhirnya mulai mencair, dan moodnya kembali akan candaan Alan barusan.

__ADS_1


"Aneh dan lucu ya?"


"Aku ga bisa kebayang aja!!kamu alay juga ternyata!." Olok Arini masih ga percaya, anak konglomerat kelakuannya memang selalu aneh.


Sebenarnya Alan hanya meniru gaya viral itu kemarin pagi di taman saat dirinya lari pagi, ada pasangan muda-mudi (seumuran anak SMA) menjargonkan itu untuk merayu pasangan yang sedang marah, dan itu berhasil.


"Wah ternyata berhasil juga menaikan mood Arini, dan trik itu ternyata jitu!," ungkap Alan dalam hati. Trik ini berhasil karena memang Arini tidak aktif di dunia maya / medsos. Arini masih menyunggingkan senyum-senyum tipis ketika hendak sampai, dipintu rumah pun Arini masih menahan tawanya. Pembicaraan serius mengenai kasus plagiat itu pun tak ada tanggapan karena Alan tak mau mengusik keceriaan Arini.


"Syalom,selamat malam bu!." Salam Arini saat sampai dirumah, dan Ibu Yanti sedang duduk di teras yang terlihat cemas dan Tara pun juga disitu yang kebiasaannya selalu mengotak-atik motor antiknya itu.


"Syalom bu!" Alan ikut memberi salam.


"Syalom nak! Darimana aja Ar? Ibu tadi berpikir kamu pergi bersama Rendra, namun Ibu jadi kuatir ketika barusan Rendra memberi kabar kalau sudah mengantar kamu pulang, dan tidak melihat sosokmu sedari tadi!."


Alan langsung merasa bersalah dan menjawab pertanyaan ibu Yanti,


"Alan minta maaf bu! Arini memang sudah balik sedari tadi bersama Rendra, karena aku ada urusan penting bersama Arini, kita ngobrol diluar! Sekali lagi Alan mohon maaf karena diawal tidak meminta ijin ke Ibu!," ungkap Alan dengan memelas dan sopan. Arini hanya memandang ke arah Alan.


"Baiklah! Ibu harap, nak Alan jangan mengulang hal ini ya! Untung tidak terjadi hal buruk, ibu selalu menanamkan hal kecil ini pada Arini, mau kemanapun harus dikabarin. Ibu bukannya mengekang Arini, tapi nak Alan tahulah Arini adalah anak gadis, ibu punya tanggung jawab menjaga kehormataannya!." Penjelasan Ibu Yanti, membuat Alan terkesima, karena mungkin dikeluarga Alan anak laki semua sehingga Ibu Dian selalu memberi kepercayaan dan nasihat pada Alan, untuk melatih tanggung jawab akan perbuatannya sendiri.


"Ya bu! Maaf!" jawab Alan lagi sambil membungkukkan postur tubuhnya, mohon ibu Yanti tidak memandangnya sebagai pria brengsek .


"Ya sudah! Ayo masuk, kita makan malam!"


"Tara kamu belum juga selesai dengan motormu itu nak! Ayo kita makan!"


"Ok, bu! Tara nyusul!"


Ternyata Ibu Yanti dan Tara belum makan malam, karena menunggu Arini. Kebiasaan keluarga Arini memang begitu, kebersamaan itu yang terpenting.


Keluarga kecil ini pun menikmati makan malam mereka dengan lahap, walau jamnya sudah lewat. Kali ini suasana agak berbeda karena ada Alan yang menunjukan sisi lain lagi dari dirinya yaitu bisa melucu bahkan Ibu Yanti sampai terpingkal-pingkal dibuatnya sekeluarga ini dihiasi senyum sampai Alan pamit pergi meninggalkan rumah itu, begitu juga yang dirasakan Alan.


Malam disaat jam tidur Arini pun mendapat telepon dari Rendra, mereka mengobrol sampai larut malahan sampai Arini tertidur.


...****************...


Alan pagi-pagi sudah di kampus, karena ada beberapa hal yang harus di beresin mengenai kasus Arini. Alan sampai menemui Rektor agar mau bertindak tegas dan bijak akan masalah ini.


"Hai pacarku yang tampan!"

__ADS_1


"Silvi, gue pikir elu sudah ke planet mars bermigrasi!"


"Kangen ya! Masa aku kesana tanpa kamu! Tumben sayang pagi-pagi dari ruangan rektor? Ada masalah?"


"Idiih siapa juga mau kesana dengan elu!"


"Ah.. Gue enek deh, pagi-pagi sudah disambut oleh elu!," sambung Alan menghindar dan melepas pelukan tangan Silvi pada lengannya. Alan terus melangkah pergi dan sedikitpun tak mau menanggapi Silvi yang selalu dianggapnya penganggu.


Dan tiba-tiba muncul good idea dalam otak Alan, untuk memberi pelajaran pada Ririn teman kelas Arini itu.


"Eitsss tunggu Silvi!" Alan berhenti mendadak.


Silvi yang mengikuti Alan dari belakang ikut kaget, dan tentunya menabrak tubuh Alan. Karena Alan tahu hal ini terjadi, Alan tidak membiarkan Silvi mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memeluk dirinya.


"Wow... Jangan bernafsu Sil!"


"Ini anugerah aku dong, mendapat pelukan hangat dari pacarku!"


"Ok.. Kamu boleh peluk gue, tapi ada syaratnya!"


"Oh.. Ya!"


"Tunggu! Dengarkan gue, Silvi!." Silvi melepas pelukannya dan mendengar dengan seksama perkataan Alan.


"Silvi... Elu tahu kan Ririn di Fakultas Art?"


Silvi menjelajah ingatan di otaknya untuk menggambarkan sosok Ririn itu, tapi tetap aja tak mengenalnya.


"Kenapa Lan dengan si Ririn itu?"


Alan mulai bercerita bohong, kalau Ririn itu ternyata adalah saingannya untuk menjadi pacarnya bahkan Alan memanasi Silvi bahwa Ririn hendak berbuat nekad padanya, sehingga kesimpulan akhirnya Alan meminta Silvi untuk memberi pelajaran pada Ririn itu. Terlihat jelas Silvi menjadi marah dan ga terima, dalam hati Alan senang berhasil memancing amarah Silvi dan memang Alan tahu sifat Silvi kayak gitu dan pantas untuk dimanfaatkan. "Karena kebohongan Ririn mau menjatuhkan martabat Arini maka dengan hal serupa wanita itu mendapat balasannya" benak Alan.


"Gimana? Elu harus buat dia tidak berani datang ke kampus ini, ok!"


"Siap sayang! Untuk dirimu, apapun akan aku lakukan, apalagi dia berani menyaingi aku! Dasar pela***!"


"Peluk aku dong Lan!" rengek Silvi.


Alan tak bisa mengelak, itu sudah menjadi perjanjiannya agar misinya untuk memberi pelajaran pada Ririn terlaksana.

__ADS_1


__ADS_2