
Disebuah ruangan di perusahannya, Alan sudah mengumpulkan beberapa anak buahnya untuk di mintai keterangan. Apalagi untuk orang suruhannya yang ada dikampus mereka kini memjadi sasaran empuk kemarahannya.Sedangkan Nagita dibiarkan menunggu diruang kerjanya.
"Brengsek, kalian semua!" Alan menggebrak meja
"Elu! gue tempatkan di kampus dengan maksud segala informasi sekecil apa pun harus di cari tahu, goblok!"
"Maaf tuan muda! Saya sudah menjalankan tugas dengan baik selama ini!"
"Lalu kenapa Arini Anggraini Cipta ke Italia, saya tidak tahu, eh..?"
"Maaf, saya kira tuan muda tahu bahwa nona Arini akan ke Italia, soalnya waktu itu tuan sendri menyuruh saya untuk memberi pelajaran pada Ririn"
"Elu, emang ya bener-bener bikin gue naik pitam! Yang gue maksud itu Arini apa hubungannya lagi sih dengan perempuan itu?"
"Oleh karena itu tuan muda, masalah plagiat itu ada hubungannya dengan nona Arini ke Italia, saya kira tuan muda sudah mengetahuinya sehingga menyuruh saya memberi pelajaran pada Ririn itu"
"Aaaaahhhh... Anjir!" Alan teriak. Beberapa anak buahnya yang sedang berkumpul disitu, ketakutan. Mereka hanya menunduk, ada satu dengan yang lain sedang berbisik,
"Kamu kerjanya ga becus, akhirnya kita kena kan!" saling menyalahkan.
"Apalagi yang kalian obrolkan? Cepat cari tahu dimana Arini sekarang berada?, Gue ga mau dengar alasan kalian"
"Kan nona Arini di Italia tuan!" jawab enteng salah satu anak buah Alan.
"Brengsek! Elu sudah berapa lama kerja disini? Elu,..gue suruh pake jalan kaki dari sini ke Italia sana!" Alan menghampiri anak buah itu sambil menunjuk depan keningnya.
"Pake ini, paham! ingat gue kasih 1x24 jam, alamat jelas, kontak Arini di Italia sudah ada dihadapan saya, ingat hal ini tak perlu ada yang tahu selain saya, sana Let's get out!"
Anak buah Alan membubarkan diri, mereka bingung satu dengan yang lain, bagaimana cara menjalankan perintah tuan muda mereka?.
"Good morning Lan! Loh,..nona Nagita!" muncul Ronny masuk ke ruang kerja Alan.
"Good morning, Ron! Alan katanya ada darurat meeting!"
__ADS_1
"Oh ya, kok saya ga dikasihtau kalau ada meeting!" Nagita hanya mengangkat kedua bahunya sebagai tanda tidak tahu.
"Kalau begitu saya nyusul Alan bentar ya! Nona Nagita tunggu aja disini, nanti saya balik lagi!"
"Oh ga pa-pa, Ron!" Ronny pergi meninggalkan Nagita di ruangan kerja Alan. Sebelum Ronny tiba diruang meeting yang dimaksud, Ronny sudah bertemu dengan seorang sekretaris Alan yang juga keluar dari ruangan meeting itu.
"Lidya, Tuan muda Alan ada di dalam? emangnya meeting darurat apaan sih? ada masalah ya?"
"Oh itu,.. maaf tuan Ronny! saya di minta oleh Tuan muda Alan untuk tidak mengganggu, saya pun diminta demikian!"
"Oww gitu! ada tamu penting ya?"
"Saya juga tidak tahu tuan Ronny. Maaf, saya harus pergi ada beberapa file yang harus saya siapkan untuk proyek baru kita!"
"Ok-lah" Ronny pun seakan paham dan tak mau mencari tahu lagi malah kini Ronny mulai menggoda sekretaris Alan itu.
...****************...
"Oh gitu! boleh aja, persilakan masuk! mungkin saya bisa menemani tamunya sebentar, sambil menunggu bos kamu!" jawab Nagita.
"Baik nona, terima kasih!"
Setelah itu sekretaris Alan yang bernama Lydia itu keluar sebentar dan mempersilakan tamu tersebut.
"Good morning, nona!" seorang pria perawakan yang tak asing bagi Nagita.
"Daniel Pearl... " sontak Nagita berdiri dengan suara lirih dan matanya seketika melotot karena kaget. Hal yang sama pun terjadi pada Daniel Pearl tapi dengan terampil Daniel bisa mengontrol dirinya untuk bersikap sewajarnya.
"Maaf tuan Daniel, anda bisa menunggu tuan Alan sebentar disini, sepertinya meetingnya hampir selesai, lagi pula ada tunangan tuan muda yang menemani anda!" sekretaris Alan menunjuk ke arah sofa melingkar diruangan itu, agar Daniel Pearl bisa mengambil posisi untuk membuat dirinya nyaman.
"Tuan Daniel minum apa? dan nona saya ambilkan secangkir teh lagi?" sekretaris kembali berbicara diantara keheningan sebab Nagita masih dalam keadan seperti tak sadarkan diri akan bertemu Daniel Pearl di ruang kerja tunangan sendiri.
"Ya.. ya..boleh!" Nagita dengan suara agak gagap, dan ketika Lydia sudah keluar dari ruangan itu, Daniel Pearl langsung menghampiri Nagita yang masih saja terpaku.
__ADS_1
"Hai My Angel! lama kita tak bertemu" Daniel tentunya tidak diam, langsung mengusap wajah cantik Nagita sehingga membuat Nagita gelisah akan kenekatan Daniel.
"Daniel... please! Jaga sikapmu, kita akan ketahuan."
"Apa yang kamu takutkan Angel!" Daniel semakin tertantang untuk mendekatkan dirinya.
"Kamu adalah milikku, ingat selalu itu!"
Daniel mendekatkan wajahnya pada Nagita
"Fuuuuhhh... " Daniel membuat hembusan halus diwajahnya untuk menggoda Nagita namun tak bereaksi apapun. Nagita masih was-was akan selanjutnya apa yang hendak dilakukan Daniel pada dirinya. Sejujurnya Nagita takut Alan akan memergoki mereka, ketika Daniel nekad.
"Aku dengar minggu depan kalian akan tunangan! Itu tidak membuat ku gentar sayang! Aku pastikan kalian takkan sampai pada jenjang pernikahan!" suara Daniel penuh percaya diri.
"Stop Daniel! Apa maksud kamu sampai datang kesini mencari Alan?" Nagita sudah takut kalau Daniel datang menemui Alan untuk membeberkan kisah cinta mereka, untuk menggagalkan pertunangannya.
"Kenapa? kamu takut! jika aku mengatakan yang sebenarnya.. hahahaaha!"
"Nagita.. Nagita! ternyata tidak secinta itu kamu pada Alan Ferdian atau malah sebaliknya? bahwa Alan Ferdian sebenarnya mencintai wanita lain! " Daniel menyindir Nagita karena memang Daniel juga tahu, Alan juga mempunyai hubungan istimewa dengan seorang wanita yang bernama Arini. Mendengar ucapan Daniel demikian, membuat Nagita sempat berpikir ke arah Arini. Tapi dibuyarkan lagi, karena sekarang ini Alan mau bertunangan dengan dirinya adalah suatu bukti cinta Alan.
Daniel kembali mendekat pada Nagita bahkan kali ini, Daniel berani mendekatkan wajahnya dihadapan Nagita yang juga berusaha menghindar sampai akhirnya tubuhnya bersandar pada tembok. Nagita tak bisa bergerak lagi, Daniel mulai menghimpitnya sehingga kedua tangan Nagita menempel pada dada Daniel untuk memberi jarak atau melawan pergerakan Daniel.
"I miss you beib, rindu wangi tubuhmu dan gairahmu sayang!" bisik Daniel pelan tepat didepannya sehingga hembusan napas Daniel dapat dirasa Nagita diwajahnya.
"Malam ini aku tunggu kamu disini!" Daniel memberikan secarik kertas beralamatkan sebuah hotel tempat dirinya menginap.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Tinggal kamu buat pilihan! Alan Ferdianmu akan tahu segalanya tentang kita atau malam ini kamu menemui aku dan rahasia kita aman, deal sayang!" Daniel meregangkan jaraknya memberi senyuman sinis pada Nagita.
"Permisi tuan, saya bawakan kopi dan tehnya!" seketika Lydia nyelonong masuk saja, tapi untungnya mereka tak lagi berdekatan. Tapi Lydia tetap saja heran kenapa nona Nagita dan tuan Daniel berdiri dipojokan dan apa yang mereka lakukan? apakah mereka saling kenal?. Inilah pertanyaan Lydia yang sekelebat ada di otaknya yang melihat suasana diantara mereka juga agak canggung.
.
__ADS_1