Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 56


__ADS_3

Tak dapat dibayangkan oleh Alan bahwa Arini pergi secara diam-diam darinya. Mau marah tapi untuk apa?. Dadanya hanya terasa sesak, tak bisa bernapas dengan leluasa. Diusap dadanya berlahan, sambil memberi keteguhan untuk dirinya sendiri bahwa ini semua tak apa. Namun sebenarnya perasaannya kacau.


"Kenapa Lan? Ada masalah" Ronny bingung melihat Alan menjadi turun wajahnya.


"Tuan Casildo barusan berangkat bersama private jet-nya! Semuanya lancar kok, masa elu lemas gitu!" sambung Ronny lagi karena tak mendapat jawaban dari Alan yang dikira kuatir akan partner bisnisnya yang seharusnyan dirinya yang mengantar kepergian mereka.


"Nothing, I'm Ok! Come on we get out now!"


"Oh ya,.. thank you Ron!" lanjut Alan sambil bersiap pergi tapi ditahan Ronny untuk menunggu disitu karena sopirnya akan menjemput mereka.


Kurang dari 15 menit berlalu, mobil jemputan tak kunjung tiba. Ronny cukup was-was Alan akan marah karena menunggu terlalu lama. Tapi Ronny dengan seksama memperhatikan wajah Alan flat tanpa ekspresi. Ronny pun berinisiatif mencalling sopir lagi.


"Hallo Pak, dimana?"


"Maaf tuan Ronny! ada musibah kecil terjadi, saya menabrak mobil orang, tuan!" sang sopir agak ketakutan menjelaskannya.


"Apa? Lalu anda dimana sekarang?"

__ADS_1


"Tepat didepan gate arrived luar negeri tuan!"


"Tunggu, saya akan kesitu!" Ronny mengakhiri panggilan dan segera beranjak ke tempat sopir itu berada.


"Lan, elu tunggu disini sebentar! Gue ada urusan"


"Loh mobilnya? Gimana sih, elu suruh gue nunggu, sekarang elu malah pergi, anjir! cepetan sana, kalau lama gue tonjok muka elu!" Alan benar marah juga.


"Oleh karena itu bro, gue nyusul sopir kita katanya ada problem kecil. Elu tunggu aja kalau gue lama minta manajer elu tuk nelpon taksi, Ok!"


"Apa-apaan sih, gue lagi kesal loh!" Alan menjadi tempramental. Ronny paham situasi ini pasti akan memicu Alan untuk naik pitam. Segeralah Ronny pergi menyusul sambil memesan beberapa staff dan manajer yang ada disitu untuk tidak bertindak kelewatan yang membuat Alan tambah marah.


Ronny pun jadi kesal akan sikap pria bule itu, banyak alasan katanya "Sudah membuang waktunya jadi harus ganti rugi juga waktu yang sudah terbuang itu dengan biaya 1 menit 100 dolar"


"Gila lu ya, bule tak tahu diri!" umpat Ronny


"Ada apa ini?" Alan akhirnya muncul diantara mereka, dirinya cukup penasaran sehingga menyusul Ronny.

__ADS_1


"Ini tuan! Saya tak sengaja menabrak mobil tuan bule ini dari belakang. Awalnya diminta rugi kerusakannya tapi sekarang malah diminta kerugian waktu yang terbuang akibat kecelakaannya" sopir Alan memberi penjelasan pada tuannya.


Tuan bule itu menjadi terkejut karena dihadapannya adalah Alan Ferdian. Tuan bule ini sebenarnya adalah Daniel Pearl.


Alan memperhatikan kerusakan mobil bule itu, bampers belakang agak penyok. Dihitung-hitung kerugiannya tak sampai 5 jutaaan, cuman menjadi masalah bagi Ronny dan sopirnya yaitu harus mengganti waktu yang terbuang karena menghambat pertemuan bisnisnya.


"Berapa yang kamu minta?" Alan dengan gayannya menantang Daniel Pearl.


" 1 menit 100 dolar belum ditambah kerusakannya" tanpa ragu Daniel berkata.


"Hanya segitu! kamu tahu tuan bule, bukan hanya waktumu saja yang saya beli tapi hidupmu juga. Atau bahkan perusahanmu sekalipun saya beli!" Alan mengancam Daniel Pearl untuk menjatuhkan harga dirinya, sehingga membuat Daniel menggeramkan giginya.


Memang Daniel tak bisa berbuat banyak ataupun melawan karena Daniel tahu siapa sebenarnya Alan Ferdian. Maka surutlah murka Daniel untuk menuntut Alan. Daniel juga berpikir bahwa Nagita juga barada dipihaknya saat ini.


"Ini ambil kartu nama saya! Kita selesaikan nanti kalau anda hubungi saya. Kamu tahu waktu saya itu sama dengan 1T tiap detiknya, kalau mau sombong jangan sama Alan Ferdian, paham!" Pesona Alan mana bisa dilawan. Daniel bahkan tak bisa membalas perkataan Alan.


"Ayo pulang!" ajak Alan setelah menyelesaikan masalah itu dengan gayanya.

__ADS_1


Selama perjalanan pulang mereka tak banyak bicara, bahkan Ronny takut memulai perbincangan. Intinya hari ini Ronny tak pernah memulai pembicaraan kalau tidak diajak duluan oleh Alan dengan kata lain hanya bisa menjawab pendek tiap pertanyaan Alan. Hari ini Alan banyak menghabiskan waktunya di perusahan sampai menjelang pagi sebagai penghilang rasa sakit karena selalu teringat pada Arini.


__ADS_2