Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 14


__ADS_3

Keadaan Hendra di Paris.


Mommy Dian terus menemani anaknya Hendra di ruangan ICU. Sejak beberapa hari yang lalu kondisi Hendra lemah karena kemotrapi. Hendra akhirnya siuman membuat mommy Dian legah dalam hatinya mengucapkan banyak terima kasih kepada yang Mahakuasa.


"Nak, are you ok?."


"Iya, mommy!."


"Kamu harus lebih kuat dari penyakitmu, mommy yakin kamu pasti sembuh!."


"Iya mommy! Hendra akan berjuang dan selalu berdoa mohon penyembuhan dari Tuhan. Soalnya Hendra masih pengen hidup mommy!."


Mendengar begitu kuat anaknya, mata mommy Dian meneteskan air mata. Tak lama seorang dokter masuk keruangan itu,


"Wah, tuan muda kecil! Anda memang anak muda yang penuh semangat, hebat!."


Hendra hanya membalasnya dengan senyum kecil.


"Nyonya, tuan muda kecil segera di pindahkan ke kamar!."


"Baiklah dok!," jawab mommy Dian singkat.


Tak lama beberapa suster turut masuk ke ruangan itu untuk mempersiapkan pindahan Hendra ke kamar rawat seperti semula.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?," tanya mommy Dian.


"Nyonya, setelah tuan muda di pindahkan, nyonya bisa keruangan saya untuk saya jelaskan beberapa hal penting!," jelas dokter.


"Baiklah dok!."


Setelah Hendra di pindahkan kamar rawat, mommy Dian segera pergi ke ruangan dokter yang menangani penyakit anaknya Hendra.


"Permisi dok! Boleh saya masuk!."


"Oh nyonya, silakan!." Sang dokter dengan ramah mempersilakan mommy Dian untuk duduk.


"Bagaimana kondisi anak saya sekarang, dok?."


"Nyonya, tak perlu terlalu kuatir! Penyakit ini bisa sembuh kalau kita percaya pada Tuhan. Tuan muda sangat baik kondisinya sekarang ini!."

__ADS_1


"Lalu, kenapa anak saya masuk ICU, dok?."


"Itu karena sistem imun tuan muda lagi drop, karena kemotrapi yang dilakukan. Oleh karena itu, tuan muda di harapkan jaga selalu kondisi mental dan fisiknya."


Mommy Dian mengangguk tanda memahami maksud dokter.


"Kemotrapi yang yang di lakukan biasanya mengakibatkan tubuh jadi lemah, sering mual dan pusing," jelas dokter kembali.


"Apakah itu tidak membahayakan?."


"Oh, tidak apa-apa nyonya! Jaga saja pola makan tuan muda, berdasarkan resep dari dokter ahli gizi yang saya rekomendasikan ke nyonya!."


"Apakah setelah melakukan kemotrapi, sel kanker itu bisa hilang, dok?."


"Kemotrapi itu di lakukan untuk mencegah atau mematikan sel-sel kanker agar tidak menyebar, dan setelah itu boleh kami melakukan proses operasi pengangkatan sel kanker tersebut di sertai pengobatan!." Dokter menjelaskan panjang lebar.


"Oh, lakukanlah yang terbaik dok! Soalnya anak saya masih pengen hidup dan mau menikmati masa mudanya, dok!," ungkap mommy Dian memelas.


"Kita sama-sama berdoa supaya tuan muda kecil cepat sembuh!."


"Terima kasih, dokter!."


...****************...


Kembali keadaan Arini yang sedang mencari Alan di Villa utama.


Setelah beberapa saat Arini masuk ke villa itu, awalnya Arini mengetok-getok bahkan menekan bel yang ada layar monitor kecil itu, tapi tak ada orang yang mau membukakan pintu. Tak lama pintu di buka juga oleh seorang ibu-ibu paruh baya menggunakan pakaian tradisional Bali, yaitu kebaya dan kain.


Tampak begitu mewah Villa utama, segala fasilitas di dalamnya sangat modern dan terlihat elegan arsitekturnya bergaya Modern Glass House. Arini menjadi terkesima melihat kemegahan itu sampai-sampai Arini bermimpi, "Seandainya saja aku juga punya villa seindah ini, "ungkap lirihnya.


"Permisi nona! Mau mencari siapa?."


"Mbok, ada Alan ferdian di sini?."


"Tuan muda, sepertinya masih berkeliling Villa, hanya ada Tuan Bento dan Tuan Rony nona!."


"Begitu ya!" Mendapat informasi tersebut Arini berdiri terpaku.


"Nona, temannya tuan muda juga?."

__ADS_1


Untuk beberapa saat Arini tak bisa menjawab, karena dia sendiri tidak tahu hubungan seperti apa antara dirinya dan Alan.


"Ya, mbok! Saya temannya Alan Ferdian!." Dengan terpaksa Arini mengatakannya.


"Kalau begitu nona boleh masuk! Silakan menunggu tuan muda di dalam saja!."


Arini menuruti saja perkataan mbok itu, untuk menyelesaikan persoalannya.


Arini pun masuk mengelilingi isi ruangan dengan takjub, sampai di suatu koridor terlihat jelas view yang sungguh indah yaitu pemandangan pantai nan asri dan adem. Arini seketika menjadi terlena dan merasa damai dan tenang.


"Hai Ben!," sapa Arini. Ternyata ada Bento di koridor itu sambil berbaring di kursi santai menikmati pemandangan.


"Hai juga Ar! Loh, kamu di sini juga!."


"Ga, aku hanya mau ketemu Alan! Ada hal penting yang mau aku bicarakan!."


Arini langsung mengambil duduk di sebelah Bento karena masih ada kursi santai di sebelahnya.


Ternyata Bento dan Arini cukup cocok, karena terlihat dari pembicaraan mereka yang sangat luwes, saling bertukar pikiran, membicarakan hal-hal yang mereka suka dan tidak suka dari diri mereka masing-masing sehingga tanpa sadar hari sudah menjelang siang tapi Alan juga tak pernah muncul. Arini mulai terlihat gelisah dan itu di perhatikan oleh Bento,


"Kenapa Ar? Kamu terlihat gelisah!," tanya Bento.


Arini tak bisa lagi berdiam diri dan mengatakan yang sebenarnya pada Bento,


"Namaku tidak ada dalam daftar pembagian kamar! Katanya Alan yang mengatur, makanya aku ke sini untuk menanyakan itu?."


"Arini, Arini..! Villa ini sangat luas ga mungkin kamu tidak kebagian kamar. Kalau memang demikian kamu di sini aja bersama kami!," jelas Bento.


Mendengar ajakan Bento, Arini kembali berpikir keras, "Waduh bisa gawat kalau aku disini, Bli Agung pasti akan marah besar. Bukan hanya dia teman-teman yang lain pun demikian."


"Kamu ga usah kuatir! Aku yang akan bertanggung jawab pada Alan nanti!." Bento meyakinkan Arini.


"Gini aja! Aku kembali ke panitia yang mengatur, mungkin masih ada kamar untuk aku tempati!."


"Terserah kamu aja Ar! Aku hanya mau membantu kamu!."


"Terima kasih Ben! Kamu selalu baik padaku!."


Bento hanya memberi balasan senyum manis ketika Arini memgatakan dirinya baik. Arini beranjak pergi sambil menderek kopernya lagi. Bento mengantar Arini untuk keluar dari villa itu, di temukanlah Rony sedang berada di ruang tengah, Arini berusaha ramah untuk menyapa Rony tapi tak sedikit pun di balasnya. Bento pun memberi isyarat pada Arini dengan menyentuh bahunya untuk segera meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Arini mencari mahasiswa junior yang mengatur pembagian kamar tersebut, untuk menyelesaikan masalahnya. Soalnya menjelang sore akan ada acara pembukaan camping rohani.


__ADS_2