
"Selamat pagi tuan muda!. Anda dan teman-teman mau makan apa hari ini?," tanya seorang ART. Alan sedang berada ruang makan, dan sibuk memainkan hp-nya hanya untuk mendial nomor Nagita. Tapi beberapa kali ditelepon tak ada jawaban.
"Bisa masak western food kan?."
"Bisa tuan!. Apa menunya tuan!."
"Terserah mbok aja, harus healthy ya!."
"Baik tuan!." ART itu pun kembali ke peraduannya yaitu dapur untuk menjalankan titah tuannya itu.
"Wait mbok!. Nona Nagita sudah ada di kamarnya?."
Alan mencegat ART itu karena penasaran akan keberadaan Nagita. Kali terakhir yang dia tahu katanya ada bersama temannya di Ubud. Barangkali aja Nagita telah kembali tanpa sepengetahuannya.
"Maaf tuan!. Nona dari kemarin pagi pergi dan sampai sekarang belum kembali lagi!."
"hmmm baiklah!." Alan menikmati secangkir kopi pahitnya lagi.
Tak berselang Bento pun muncul, tapi tanpa Arini karena Arini harus mengatur persiapan kegiatan terakhir mereka yang sepertinya hanya setengah hari saja. Beberapa dosen memang telah kembali ke Jakarta karena masih banyak tugas kampus, hanya panitia yang diberikan tanggung jawab.
Bento ikut duduk bareng Alan di ruang makan itu, soalnya ada beberapa hal yang harus di tanyakan pada Alan.
"Lan, semalam kenapa kamu bisa pindah ke kamar Arini?. Soalnya gue yang antarin elu masuk ke kamar."
"Mana gue tahu Ben!. Gue mabuk berat, yang gue tahu itu kamar gue yang dipake Arini. Elu ga kasih tahu gue kalau Arini masih di situ!," terang Alan.
Bento mau bisa apalagi, itu memang benar keadaannya. Bento memang belum memberitahukan padanya bahwa Arini tetap bareng mereka, karena memang ga ada waktu mau di beritahukan pada Alan.
"Boleh gue ngomong Lan!."
"Ngomong aja!. Emang dari tadi gue ngelarang elu, ga kan?."
__ADS_1
"Lan, janganlah Arini elu jadikan sebagai bagian dari target elu!."
"Maksud dari perkataan elu Ben?."
"Elu boleh mainin perasaan wanita manapun tapi janganlah Arini!."
"Elu sebagai apa-nya Arini?. Elu aja, baru dekat sama dia. Masa sih mau ngatur!."
"Bukannya gitu Lan, ga pas aja Arini elu samain sama wanita-wanita mu itu!."
"Ben, elu teman gue!. Jangan hanya gara-gara ini gue marah sama elu!."
"Justru itu Lan!. Gue peduli sama elu, begitu juga dengan yang lain. Gue mau elu berubah Lan!, sekarang kamu bersama Nagita, jagalah perasaannya!."
Alan mulai emosi, Bento semakin saja membela Arini, sebagai lelaki Alan dapat melihat dengan jelas kalau Bento menyukai Arini. Alan tak bisa mengatakan sebenarnya kalau Arini pacarnya juga. Dan itu pasti akan menjadi masalah buat Bento karena sekaligus menjadikan kedua wanita itu sebagai pacarnya walau berbeda perlakuannya karena memang Arini dari awal sudah membuat peraturan yang membuat Alan respect akan hal itu.
"Sudahlah Ben!. Gue tahu apa yang harus gue lakukan!, biar gue urus masalah hidup gue!."
"Terserah elu aja Lan!. Semoga Nagita menjadi pencarian elu yang terakhir!."
" Ya, ya..." Alan harus mengalah kali ini dengan sahabatnya bagaimana pun juga apa yang di katakan Bento ada benarnya.
"Lalu Si Rony ama Bli kemana Ben?."
"Heran gue!. Mereka sama gilanya sama elu!"
"Kita kan mau mencari yang terbaik Ben, dari pada elu, guy ya?."
"Anjir lu!. Gue masih normal!, tapi bukan berarti harus tidur kan!."
"Itu yang elu ga tahu!. *** merupakan bagian dari ungkapan cinta Ben!."
__ADS_1
"Siapa bilang?. Oh jadi maksud kamu PSK itu bagian dari ungkapan cinta, malah itu bagian dari nafsu dunia bro, neraka yang elu dapat!." Bento menimpali sambil menjelaskan agar sobatnya itu ke buka otaknya.
"Ok-lah Pak Pendeta atas nasihatnya!." Alan menanggapi tidak terlalu serius, karena pikirnya terlalu kaku aja kalau dalam pacaran ga ada namanya bercinta. Alan pun mengubah arah pembicaraannya kepada diri Bento.
"Daripada elu jomblo melulu, atau elu masih mau nunggu artis siapa sih yang pernah buat elu bucin banget?."
Bento pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita yang sangat di cintainya, dia seorang artis terkenal yang kini sedang meniti karier sebagai artis internasional di America namanya Natasha Brelin. Hubungan mereka saat ini sedang backstreet. Bento memang masih menunggu kekasihnya itu dan mempunyai rencana untuk menyusul Natasha jika sudah selesai dengan pendidikannya.
"Oh Natasha! kalian masih saling komunikasi kan?"
"Masih!," jawab Bento singkat agar pembicaraan mengenai Natasha tidak di perpanjang.
"Baguslah!," sambung Alan singkat juga karena dia tahu Bento tak mau membahasnya. Bento memang agak tertutup dengan masalah wanitanya tapi kalau hal lain memang masih bisa di kompromi.
Tak lama makanan yang di pesan Alan telah di hidangkan di atas meja, mereka berdua pun menikmati waktu breakfast.
...****************...
Bisakah kalian bayangkan bagaimana nasib Nagita?. Daniel benar-benar memanfaatkan waktunya bersama Nagita, quality time dengan menikmati moment ranjang yang tat kala membuat Nagita juga tak bisa berbuat apa-apa. Hubungan Nagita dan Daniel layaknya suami-istri. Dan itu pernah mereka jalani waktu pacaran dulu, mereka pernah seatap waktu di Australia walau belum di sahkan secara agama dan hukum karena komitmen seperti itu banyak dilakukan oleh pasangan yang tinggal di luar negeri. Perpisahan terjadi karena Daniel terlalu posesif, dan kasar alias tangan pun ikut bicara, emosinya terkadang tak bisa di kontrol. Nagita sepertinya tak memiliki rasa kuatir ataupun bersalah pada Alan. Karena sudah terlanjur hubungan itu berlangsung Nagita harus menjalaninga, pikirnya " Daniel kan pasti kembali lagi ke Australia karena pusat bisnisnya disana."
"Halo, elu dimana?. Gue ada tugas buat elu!." Silvi membuat panggilan telepon kepada salah satu anak buah ayahnya yang di tugaskan untuk menjaganya.
Silvi penasaran dengan foto yang di ambil semalam di restoran itu.
"Ya nona!. Saya ada di lobi hotel tempat nona nginap!."
"Elu, cari tahu pasangan yang ada dalam foto itu, sedetail mungkin! gue udah kirim ke WA elu!."
"Siap nona!."
Silvi benar-benar nekad dan sangat terobsesi dengan Alan. Dari sekian wanita yang pernah di putusin Alan hanya Silvi yang sepertinya tidak rela Alan memperlakukan dirinya demikian. Walaupun Silvi tahu Alan adalah seorang playboy. Cinta mah tak bisa lagi di bedakan kalau sudah buta dan ini menjadi bahaya buat wanita karena akal sehatnya pasti telah tertutup kesannya bukan lagi cinta malah nafsu dan obsesi.
__ADS_1
Dan pria bule yang sempat di ajak makan malam bareng Silvi itu bernama Ronaldo Keit.