
Acara pembukaan kegiatan camping akan di mulai. Sekembalinya Arini dari kejadian di Pos Satpam, sound systemnya ternyata sudah terpasang. Dan siapa yang mengatur semua itu adalah Alan Ferdian.
"Ar, kamu dari mana aja sih?. Kata anak-anak, kamu ngurus sound system, malah aku jadinya yang ngurusi sih!," tanya Alan berusaha mencari tahu keberadaan Arini sedari tadi.
"Katanya hal teknis kamu yang tangani malah aku juga. Dari awal hanya aku yang menyelesaikan semua masalah, urusi sound system aja kamu udah repot!," nada Arini agak keras. Mengingat kejadian barusan Arini masih terlihat trauma dan mulai menyalahkan Alan.
"Acara pembukaan mau di mulai loh Ar!. Kenapa juga kamu ngegas sih?."
"Semua ini gara-gara kamu Lan!." Arini sudah tak tahan matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Alan kebingungan apa yang salah dari kata-katanya sampai membuat mata Arini jadi sensitif. Arini tak peduli lagi dengan Alan, langsung pergi menuju villa 3, untuk membersihkan diri mengikuti acara pembukaan kegiatan camping rohani.
Alan juga tak bisa berbuat banyak karena sudah berkumpul banyak mahasiswa/wi serta ada beberapa dosen termasuk Pak Abas sudah berada di tempat acara.
Kurang lebih 2 jam lamanya acara pembukaan itu selesai juga. Kini masuk ke sesi acara makan dan di lanjutkan acara bebas. Ada beberapa mahasiswa/wi terlihat sedang bernyanyi sambil bermain gitar, ada yang sedang barbekyu dan ada juga sedang bermain games. Suasana malam di temani angin pantai, gemerlap lampu warna-warni yang indah. Persahabatan dan kekeluargaan juga terjalin dan tak lupa ada juga yang memanfaatkan moment dengan pacaran.
Arini hanya bergabung dengan junior-juniornya, yang paling di kenalnya hanya Si Feri dari Fakultas Hukum. Arini memang tak punya sahabat atau pun teman akrab karena status sosial yang di sandangnya yaitu golongan menengah. Apa mau di kata yang mereka cari bukan persahabatan melainkan materi, ketenaran, dan keviralan aja di kampus. Tapi itu bukan masalah buat Arini, prinsipnya Arini harus menjadi wanita yang hebat dan sukses kelak yang memiliki dedikasi yang mempuni.
"Arini, gue mau bicara ama elu!."
Arini menengok ke arah datangnya suara itu, karena Arini memang sedang asik bermain games. Dan itu Nagita Wilson. Dalam benak Arini, "Kenapa lagi nih cewe?. Gue udah trauma malah dia pake datang nyariin gue tuk ngobrol, bisa kacau nih!."
"Boleh! Apa ada hal penting?, Kalau ga disini aja, ga apa-apa kan?."
"Penting! Gue mau ngobrol berdua aja!."
Arini tak membalasnya, tapi langsung beranjak pergi dan mencari suatu spot yang agak sepi mengikuti Nagita.
"Kejadian tadi sore, sebaiknya elu tutup mulut!, berani ada isu sana-sini, gue bisa aja menghancurkan reputasi elu di kampus atau....!,"
"Beasiswa elu, bisa gue cabut supaya elu bisa hengkang dari kampus bergengsi ini. Kayaknya elu kurang cocok berada di sini, dasar kampungan!," lanjut Nagita kasar di barengi ancaman dan makian. Arini tak bisa membalas makian Nagita itu walaupun sakit mendengarnya. Apa mau dikata, kalau Arini melawan pun percuma tak ada efek apapun padanya.
"Sepertinya elu keliru! Gue ga pernah mau tahu atau mencampuri urusan elu. Jadi please jangan di hubung-hubungkan masalah ini dengan beasiswa gue. "
"Ya, terserah gue donk!."
Arini hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dan sikap Nagita yang arogan.
"Dan satu hal lagi! Elu jangan pernah menceritakan hal itu juga pada Alan Ferdian dan juga elu jangan terlalu nempel dengannya. Gue ga suka, paham!," ancam Nagita lagi.
"Gue juga...," Arini hampir keceplosan mau mengatakan bahwa dirinya adalah pacarnya Alan tapi mau dikatakan pun pasti nanti aku di bilangin ngehalu.
"Apa yang mau elu katakan?," tanya Nagita.
"Ga jadi! Ga penting juga!," jawab Arini enteng.
"Oh, jadi maksud kamu apa yang gue katakan itu ga penting?."
Arini menarik napas panjang, "Sudahlah Nagita! Kita bukan anak kecil lagi, gue tahu porsi gue disini. Maksudnya, Alan ama gue hanya partner dalam menyelesaikan tugas, jadi elu ga perlu kuatir!," jelas Arini.
__ADS_1
"Ok, gue harus pergi! Anak-anak pasti nyariin gue untuk sesi selanjutnya." Arini langsung pergi setelah mengatakan demikian Nagita hanya menatap kepergiaan Arini sambil ngedumel,
"Dasar cewek kampung! Sok di butuhkan banget!."
"Nagita, ngapain kamu di tempat gelap dan sepi disini?. Apa kamu ga takut?," sapa Bento yang kebetulan lewat.
"Hai Ben! Ga cuma mau nenangin diri aja!."
"Oooohhh, kayak ngelihat Arini ya barusan?."
Nagita jadi sebel, "Kenapa sih semuanya tertarik banget sama cewe kampung itu?," batin Nagita.
"Aaaaa, elu salah lihat kali Ben! Dari tadi gue sendiri aja kok di sini!," jawab Nagita berbohong.
"Ga masalah juga sih! Ayo kita gabung!."
Nagita menyetujui dan mengikuti langkah Bento untuk bergabung bersama dalam acara itu.
Tak lama kemudian, terjadi sesuatu peristiwa ketika Nagita melewati sebuah kerumunan orang
"Oh My God!." Nagita kaget sepiring bumbu sate berbahan kacang yang kental yang tentunya rasanya yang enak memenuhi tubuh Nagita akibat ada seorang gadis yang menabraknya.
"Uuuppss, sorry!." Ternyata gadis itu adalah Si Silvi.
"Apa-apaan sih elu?. Mata elu di kemanain?."
"Hai, elu sengaja kan?."
"So sorry! Tapi sebaiknya elu bersihin deh, baju elu yang kotor itu daripada elu di ketawain," jawab Silvi tak peduli bukannya membantu Nagita membersihkan bumbu sate tersebut, malah ngeledekin. Orang-orang di sekitar melihat kejadian itu malah hanya bengong.
"Sudah Nagita! Elu ganti dulu sana!." Bento menimpali.
"Elu bisa temanin gue Ben!."
Nagita merasa malu kalau berjalan sendiri menyusuri kerumunan orang. Dengan adanya Bento sangat membantu dirinya. Memang dasar Bento adalah orang baik tentunya mengiyakannya.
Silvi senang sudah menjahili Nagita, dengan senyum lebar Silvi pergi mencari orang yang menjadi incarannya yaitu Alan. Karena Si Penghalang sudah di singkirkannya untuk sementara.
...****************...
Flash back on ( Kejadian menjelang sore di Post Satpam)
Setelah adegan mesra antara Nagita dan Daniel, maka seketika juga kekesalan dalam hati Daniel mulai meredup.
Arini yang berdiri bengong di situ mengambil langkah ke arah buggy car yang diparkirkan tidak jauh dari Post Satpam. Anak buah Daniel tak mengambil tindakan apa-apa lagi karena menurut mereka urusan sudah beres ketika nona Nagita muncul dihadapan bos.
"My Angel! Kenapa kamu tidak bilang kalau mau ke Bali?."
"Daniel, kami kesini karena kegiatan kampus bukan bersenang-senang!," jelas Nagita.
__ADS_1
Nagita tak bisa berkutik, mau sampai di ujung dunia manapun pasti Daniel tahu keberadaannya. Jadi Nagita tak menjadi heran lagi kalau Daniel tahu Villa ini.
"Ok-lah sayang! Tapi aku kangen kamu beib!."
Nagita jadi ogah-ogahan melihat sikap Daniel yang mulai bersikap manja, "Muka sangar, tapi manjanya ampuuuun deh!," batin Nagita.
"Temanin aku jalan-jalan sebentar sayang!."
"Tapi Daniel....,"
"Ayolah! Entar pasti kamu sibuk dengan kegiatan kampus kalian, 5 menit aja sayang!."
Nagita tak bisa menjawabnya lagi, kalau tak mengikuti keinginan Daniel bisa-bisa dia juga ikutan nimbrung di Villa itu, Nagita cari aman saja.
"Baiklah! Tapi cuman 5 menit!."
"Ya, sayangku!."
Daniel langsung memberi kode pada anak buah dan sopir pribadinya yang semula ada di mobil miliknya untuk segera berpindah ke mobil lainnya.
"Loh, Kenapa sopirnya pindah ke mobil lain?."
"Aku mau kita hanya berdua aja!."
Nagita menuruti dan segera menaiki mobil mewah itu. Dan Daniel sendiri yang menyetirnya sampai di tepi pantai yang sunyi yang hanya terdengar deburan ombak yang menghantam tepian batu karang, di tambah angin pantai yang amat keras yang menimbulkan alunan suara seperti seruling ketika mengenai dedaunan pohon.
Mobil anak buahnya sudah di beri isyarat juga untuk tidak berada di sekitar mereka.
Sekitar 2 menit berlalu, Daniel belum mulai percakapan mereka. Terlihat lelah sih, mungkin beberapa hari di Bali untuk urusan bisnis sangat menguras energi Daniel.
"Kamu, kenapa Daniel? Ada masalah dengan bisnis kamu?."
Daniel menoleh ke arah Nagita, "Ya, aku lelah! Untung ada kamu, sehingga bisa membuat aku sedikit terhibur, " jawab Daniel pelan.
Dalam batin Nagita "Daniel sepertinya mulai berubah, sikapnya mulai terlihat manis akhir-akhir ini"
"Kalau gitu kamu tidur sebentar! Nanti aku bangunin!."
Daniel mulai merebahkan jok mobilnya begitu pula Nagita. Daniel berbaring sebentar memejamkan matanya tapi tidak nyenyak, sambil merangkul sebelah tangan Nagita untuk di jadikan sandaran di wajahnya.
Inilah yang menjadi masalahnya, jantung Daniel berdegub kencang, suhu tubuhnya menjadi hangat hanya karena sentuhan hangat jemari tangan Nagita yang ada di wajahya. Daniel tak bisa bertahan lagi, di ciumi ujung jemari tangan Nagita dengan lembut, sampai pada suatu titik Nagita mulai merasakan getaran.
Kedua insan ini tak bisa lagi menahan gejolak, apalagi Daniel sangat memanjakan dirinya. Terlihat Daniel sangat merindukan Nagita dan mulai terlena dengan setiap sentuhan manis Daniel.
Setelah keduanya menyelesaikan adegan hangat dan mesra itu, Daniel mengantarkan Nagita kembali ke Villa dengan perasaan berbunga-bunga dan energinya seperti sudah terisi full.
Flash back off
"
__ADS_1