Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 45


__ADS_3

“Halo Tuan, ada informasi yang harus saya sampaikan saat ini juga!” Seorang anak buah Alan di seberang via telepon yang ditugaskan di kampus untuk urusan rahasia.


“Cepat katakan!!”


“Mengenai nona Silvi dan Ririn, Saya mendapatkan kabar bahwa kedua orang itu sudah dikeluarkan dari kampus dan kedua orang tua mereka mengirimnya ke luar negeri!,” jelas anak buah Alan dengan sangat hati-hati.


“Oh ya..., Bagus dong!”


“Tapi Tuan,.....Apa tidak berlebihan?. Padahal tinggal sedikit lagi mereka lulus dari kampus ini!” lanjut anak buah Alan dengan nada suara yang berempati.


“Mulai berani kamu berempati pada duo serigala itu! Kamu mau dibayar atau punya nasib yang sama kayak mereka?”


“Ampun Tuan! Maafkan saya! Saya mohon beri kesempatan bagi saya untuk berkarier di kampus ini!”


“Ya sudah! Jaga bacotmu itu, mau Si Silvi or Ririn anak pejabat kalau berani kurang ajar, ya harus di ajarkan, paham!”


Tak lama Arini muncul dan menghadang Alan karena Rendra sepertinya masih berpamitan dengan keluarga Tuan Ferdian sehingga Arini mendapati Alan yang berdiri di parkiran. Sebenarnya Arini enggan menghampiri tapi karena nama teman kelasnya Ririn sempat disebutin Alan disela-sela perbincangannya di sambungan telepon itu makanya Arini mendekat.


“Kenapa dengan Ririn? Kamu bisa kenal dengan dia,Lan?” tanya Arini penuh selidik dong pada Alan yang seketika menengok ke arah Arini yang sudah berdiri dibelakangnya. Sempat kaget tapi Alan berpura-pura bersikap normal. Dengan spontanitas panggilan itu diakhiri begitu saja.


“Arini! Kamu belum balik? Mau aku antar, asalkan tunanganmu tak marah!”


“Jawab pertanyaan aku,Lan! Kamu kenal Ririn? Dan apa maksud pembicaraanmu tadi?”


“Kamu salah dengar kali, Ar! Tadi partner bisnis, justru aku ga ngerti arah pembicaraanmu sekarang!” Alan bergaya tampan dan gagah didepan Arini.

__ADS_1


“Ouh...aku tahu, kamu mencari aku untuk berpamitan kan? Baiklah aku akan menberikan ciuman termanis malam ini untuk menemani tidurmu” Alan langsung menghampiri Arini dan mengarahkan bibirnya ke arah Arini tapi dengan sigap ditangkap dengan telapak tangan Arini.


“Sikapmu itu selalu seenaknya! Aku peringatkan, Lan! Mulai malam ini stop memperlakukan aku seperti boneka yang boleh kamu cium seenak jidatmu itu, kemudian hubungan kita sudah berakhirkan, kita sama-sama tahu bahwa kamu dan aku awalnya tak pernah serius, apalagi kamu juga akan segera menikah dengan Nagita.” Arini menjelaskan dan tangannya masih membekap mulut Alan dan playboy ini seakan memanfaatkan moment, ditangkap tangan Arini dicium permukaan telapak tangannya, kedua mata mereka saling bertatapan, di elus dengan perlahan,ciuman itu mulai menjalar dari telapak berlahan ke badan tangan, Arini bingung malah menikmati sampailah di ujung pangkal lengannya. Alan mau meraih bibir Arini, pinggang Arini sudah dalam dekapan tangan Alan, kedua insan ini ternyata menikmati suasana syadu malam diparkiran yang cukup remang-remang oleh cahaya lampu taman. Tapi seketika Arini tersadar, logikanya kembali menjadi waras maka tanpa sadar di dorong Alan sehingga tersandar di mobilnya. Seketika bunyi alarm mobil berdenging kencang, secepat kilat Alan memposisikan tubuhnya, berdiri tegap dan merogoh saku celana untuk mengambil kunci mobil untuk menghentikan alarm mobil itu secepatnya agar tidak menjadi pusat perhatian.


Jantung Arini yang berdegub kencang mulai berlahan normal, setelah beberapa kali mengambil napas.


“Kenapa sih aku selalu jatuh dalam pelukan playboy gila ini?” batin Arini


Keduanya saling bersitatap, Alan kembali mau mendekati Arini.


“Please, Jangan dekat-dekat, Lan!” Arini menarik kaki kebelakang untuk menghindar.


“Ya, suka-suka aku dong!” Alan malah tak mau tahu, melangkah perlahan ke arah Arini.


“Kenapa? Kamu takut mereka akan melihat kita, bagus dong!”


“Lan! Urusan tak semudah itu, Emangnya apa yang akan kamu jelaskan pada keluarga kamu, kepada Nagita dan begitu juga aku!!”


“Ya, aku katakan....” Alan tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dalam otaknya semuanya akan mudah ketika dia mengatakan sebenarnya padahal dia sendiri tidak tahu tentang perasaannya sendiri sehingga membuatnya seperti orang gila.


“Aku sangat menghargai Rendra, kami bukan baru kemarin saling mengenal bahkan sudah bertahun-tahun Rendra menyimpan rasa cinta hanya untukku, oleh karena itu tak sedikit pun niat aku untuk menyakiti hati Rendra, Lan!”


Mendengar pengakuan Arini, seketika bagai petir yang menyambar Alan menjadi berubah, darahnya berdesir sampai ke ubun-ubun. Seperti tak mau terima, Arini memilih Rendra akhirnya.


“Kamu jangan berbangga pada tunanganmu, seorang polisi itu! Besok pun bisa aku pindahkan dia dari sini ke Africa sana jadi polisi binatang buas, kayaknya cocok buatnya!” nada sinis Alan.

__ADS_1


“Oh ya...dan kamu playboy hutannya! Kenapa tidak sekalian singa-singa betina kamu ajak di ranjangmu!” Arini tak mau terima Rendra dikatain demikian sehingga terjadi perang mulut antar keduanya.


“Oh jadi, istilah baru lagi buat aku ya! Playboy hutan....hahahaha Arini,..Arini. Kamu belum tahu siapa aku ya?”


“Apa maksud kamu?” Alan sudah mendekati Arini dan meremas mulutnya. Alan mau membalas perkataan Arini, tak lama suara Nagita terdengar memanggil Alan. Padahal sudah berulang kali Nagita menelpon Alan tapi tak diangkatnya, karena perbincangan antara Alan dan Arini sungguh menguras emosional mereka.


“Ngapain kalian disini?” Alan sudah dalam posisi berdiri tegak dan menjauh dari Arini, untuk menghindar banyak pertanyaan dari Nagita nantinya.


“Hanya ngobrol!” jawab singkat Alan.


“Hei gadis kampungan,pergi sana! Kamu mau merayu Alan kan?” Nagita dengan kasar sedikit mendorong lengan Arini.


Arini memang tak mau membalas omongan Nagita, langsung pergi begitu saja. Alan malah membalikan badan melihat kearah sebaliknya.


“Arini, kamu darimana aja? Aku kira kamu ke toilet atau kamu bareng Tuan Alan tadi?”


“Ga bareng Ren, Kebetulan aja ketemu disitu!”


“Gitu ya, soalnya tunangannya mencarinya sedari tadi!”


Arini menyimpan wajah kesalnya pada Alan, dengan berpura-pura menyimpulkan senyum depan Rendra.


“Kita balik yuk Ren!”


“Ayo! Tuan Ferdian dan Keluarga Tuan Felix menitip salam buat kamu, apalagi dua bocil tadi merengek mau pamitan sama kamu Ar! Kamu sih main hilang aja, cute banget deh!” Rendra dengan polosnya bercerita, padahal Arini masih kalut dengan isi kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2