Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 24


__ADS_3

Arini mengikuti kegiatan terakhir dengan di bayang-bayangi peristiwa yang terjadi dalam kamarnya tersebut. Hal ini bukan merupakan hal yang biasa bagi Arini, karena sesungguhnya Arini memang masih polos. Sehingga Arini tidak bisa mengikuti sesi terakhir kegiatan rohani ini dengan baik.


Saat Arini tak memperhatikan, Alan ternyata sudah berada tak jauh dari dirinya. Dari jarak itu Alan mengedarkan sebuah kertas untuk di berikan pada Arini.


"Kak, ini dari kak Alan!." Seorang junior duduk berdampingan dengan Arini menyodorkan kertas itu.


"Terima kasih," suara Arini agak pelan takut menganggu yang lain.


Arini membuka lipatan kertas itu dan membaca sebuah pesan didalamnya, "Kita harus bicara sekarang!."


Arini membaca itu dan kembali menengok ke arah Alan, dan memberi kode padanya untuk segera keluar. Tapi Arini tidak mau mengikuti keinginan Alan. (Tidak menggunakan hp karena selama kegiatan berlangsung hp di nonaktifkan). Alan jadi sebal, ditulis lagi pesan di secarik kertas.


"Kalau kamu ga mau, sekalian kamu ga bisa balik ke keluargamu besok!." Alan mengancam.


Arini menjadi takut juga, ketika orang berkuasa sudah bertindak apa yang bisa Arini lakukan selain mengalah saja dan memgikuti maunya. Pas ada acara pujian berlangsung, semua tentu mengambil sikap berdiri. Arini dengan pelan mengendap-endap di kerumunan orang, keluar dan mencari keberadaan Alan. Tak lama Alan menariknya dengan keras dan menghuyungnya ke gazebo yang terletak di tepian batu karang, tempat di mana Arini pernah ketiduran di situ.


Alan sengaja membawa Arini jauh agar tak terlihat siapa pun. Arini hanya diam saja, keduanya berdiri agak berjauhan.


Alan sebenarnya bingung mau bicara apa. Mengenai kejadian di kamar tadi atau apapun itu membuat Alan menjadi salah tingkah.


"Sebenarnya, apa yang mau kamu bicarakan Lan?." Arini memulai obrolan duluan karena tak ada reaksi dari Alan.


"Kenapa sih, kamu pake ke kamar tadi?."


"Oh itu, sorry deh!. Sudah mengganggu!."


Arini berusaha senyantai mungkin menanggapi pertanyaan Alan padahal ada grogi menjawabnya.


"Kamu sepertinya tidak merasa bersalah?. Permintaan maaf kamu, aku tolak!."


"Ya, terserah kamu!. Aku ga sengaja juga!, siapa suruh bercumbu di kamar orang?."


"Kamu...!!!." Alan tak bisa melanjutkan perkataannya.


Alan berusaha mendekati Arini "Aku mau tahu apa yang kamu rasakan sekarang?, perasaan kamu?." Alan bingung mau bertanya seperti apa, yang keluar dari mulutnya ya pertanyaan yang tak masuk akal kan, bahasanya pun ga enak di dengar.


"Maksudnya?."


"Kamu ga merasa cemburu atau apa ke?."


"Cemburu!!. Untuk apa?."


"Ar, bisa ga kalau kamu ngomong liatin aku!."


Alan merasa Arini sedikitpun tak mau menatapnya, padahal itu di lakukan Arini hanya untuk menghindar agar Alan tak bisa melihat warna wajahnya. Merasa di sepelekan Alan membalikan wajah Arini untuk menatapnya.


"Ar.. tatap wajah aku!," sambil menunjuk wajah Alan.

__ADS_1


"Kamu marah?."


"Aku ga punya hak marah, ataupun melarang kamu Lan!. Kita memang pacaran tapi ingat, syarat yang ketiga untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing!."


"Bukan itu yang aku maksud Ar?."


"Lalu apa?. Aku terserah kamu aja Lan!."


"Aaahhh... sudahlah!. Kenapa kamu ga pernah paham sih?."


"Sebaiknya begitu, tak perlu saling memahami soalnya status kita aja pacaran bukan berarti aku harus tahu semua tentang kamu kan?."


"Arini Anggraini Cipta, kalau memang begini jadinya sebaiknya dari awal kita ga usah pacaran!."


"Halo.. Alan Ferdian!. Sang Playboy gila, aku juga ga mau jadi pacar elu, kalau memang elu mau putus, boleh!," nada Arini agak meninggi suasana semakin tak terkendali.


Alan tak tahan akan sikap Arini yang meremehkan dan mengabaikannya. Arini adalah satu-satunya gebetan Alan yang agak belagu, jual mahal dan susah di dekatin, membuat Alan murka juga. Alan langsung memeluk Arini, merangkul dengan erat dari pinggang sehingga keduanya semakin rapat wajah mereka, napas keduanya pun saling bertabrakan yang menimbulkan detak jantung mereka berdegub kencang


"Lepasin Alan!. Apa mau kamu?."


"Kenapa?. Aku mau peluk kamu, ingat aku paling benci ditolak!."


"Aku teriak Alan!"


Coba aja!. Ini Villa aku, bila perlu aku mau cium kamu!"


"Jangan Lan, please!. Aku benar-benar marah sama kamu!."


"Wow..., kamu ganas juga Ar!." Alan melepaskan juga pelukannya karena merasa perih. Dengan ibu jari tangannya di seka darah itu. Arini pun demikian berusaha membersihkan bibirnya dari jejak bibir Alan yang menempel, Arini merasa agak jijik.


"Aku benci kamu!!." Arini merasa dilecehkan, langsung pergi meninggalkannya. Alan malah senyum senang, akhirnya dapat juga bagiannya. Alan berucap lirih "Aku pastikan kamu takkan pernah di miliki siapa pun kecuali Alan Ferdian!!"


...****************...


Daniel Pearl masih membuat temu janji dengan rekan kerjanya di sebuah restoran, tak lama seorang anak buahnya muncul membawakan sebuah file.


"Permisi tuan!. Ini file yang di minta!."


"Ok...,thank you, good job!."


Daniel Pearl langsung membuka filenya dan membaca dengan seksama di situ tertera dengan jelas nama Alan Ferdian adalah pemilik Ferdian Cahaya Group, bukan hanya itu masih banyak lagi usaha-usaha lainnya yang terkemuka di Indonesia.


"Alan Ferdian!!." Daniel mengeja


"Anda termasuk orang pengaruh juga di negara ini!," lanjutnya.


"Tuan Pearl, perusahan anda juga menjalin kerja dengan Ferdian Cahaya Group?." Seketika rekan kerjanya itu berseloroh karena mendengar nama Alan Ferdian keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Perusahan itu sungguh punya pengaruh tuan!. Karena perusahan saya menjalin kerja sama dengan mereka, banyak investor langsung menanamkan saham, " jelas rekan kerjanya lagi.


"I see, I wanna join Ferdian Cahaya Group!."


"Sounds good, tuan!. I'm supporting of you , If you doing great!."


"Thank you!"


Daniel memberi kode pada anak buahnya lagi, untuk mengambil file itu. Daniel akhirnya tahu pria yang lagi dekat dengan Nagita bukanlah orang sembarangan, membuat perhitungan dengannya pun Daniel harus berpikir panjang karena perusahannya baru saja melebarkan sayapnya di Indonesia. Jadi Daniel harus bertindak hati-hati.


"Tunggu instruksi aku selanjutnya!," titah Daniel pada anak buahnya itu.


"Siap tuan!. Apakah nona Nagita-nya di jemput sekarang?." tanya anak buah itu lagi.


"Jangan dulu, kita biarkan saja Nagita bermain-main dengannya!. Kamu stand by disini!."


"Siap tuan!." Setelah percakapan Daniel dengan anak buahnya selesai di lanjutkan juga proses kerja sama dengan rekan kerja yang sedang bersamanya.


...****************...


"Loh Ben, elu mau balik sekarang?," tanya Rony yang kebetulan melihat Bento menenteng koper.


"Ini punya Arini, gue bantu pindahin ke villa sebelah!," terang Bento


"Bagus dong, akhirnya sadar juga gadis kampung itu kalau tempatnya bukan di sini!," lanjut Rony nyinyir.


Bento tak mau melanjutkan omongannya karena Rony sudah ke buru ga suka. Daripada bentar ribut apalagi dillihat Arini sudah menuruni anak tangga menghampirinya.


"Ayo Ben!." Arini mengajak, di lihat ke arah Rony.


"Gue permisi ya!. Terima kasih Rony, bilang juga sama Bli Agung,"


Rony sedikit pun tak mengangkat muka, masa bodoh berpura-pura tak mau mendengarnya. Bento menarik tangan Arini dan mengajaknya untuk segera pergi dari situ karena tak ingin melihat Arini tidak di hargai oleh sobat-sobatnya. Bento membatin "Heran gue sama mereka!. Apa sih salah Arini?, sebegitu bencinya mereka padanya!."


Bento mengantar Arini ke Villa 3, di buka juga kamar yang selama ini terkunci yang katanya tak bisa di gunakan dan itu hanya alasan Alan untuk mengerjai Arini.


"Kamu di kamar ini Ar!. Jamu bisa ajak teman lainnya tidur disini. Soalnya cukup luas ranjangnya!."


"Oh ya, pastinya!. Kasihan mereka tidur berdesakan di kamar sebelah!."


"Kenapa ga bisa di gunakan kamar ini kemarin Ben?. Besok mau pulang baru di buka kamar ini, percuma banget!," lanjut tanya Arini.


"Mungkin sudah di perbaiki Ar!, yang penting kamu bisa beristirahat malam ini!."


"hemm," sambil Arini membereskan beberapa barang bawaannya.


"Ben, boleh temanin gue belanja ole-ole sambil jalan-jalan?. Gue pengen coba kulineran di Bali!."

__ADS_1


"Siap nona!."


"Terima kasih Bento!. Elu paling baik deh, daripada teman-teman elu yang lain." Arini membalasnya sembari di hias senyum manja untuk Bento. Arini merasa Bento selalu ada ketika mengalami kesusahan, dan membuat Arini agak canggung menerima kebaikan Bento lagi, di tambah sikap Bento begitu manis padanya.


__ADS_2