Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 57


__ADS_3

Alan kira untuk melupakan Arini dengan menyibukan diri, bekerja sampai lupa waktu dapat membuatnya tenang. Tapi malah sebaliknya, bayangan raut wajah Arini bahkan aromanya masih melekat dalam dirinya. Semua seperti sebuah layar yang sedang diputar di hadapannya, kenangan tiap kenangan bersama Arini.


"Tok, tok, tok" suara ketukan pintu dikamarnya, Alan berpura- pura tak dengar karena semalaman tak bisa memejamkan matanya.


"Selamat pagi tuan muda! Tuan dan nyonya ada menunggu untuk sarapan!" suara Mak Siti mengikuti. Alan membalikan tubuhnya, dilihat jam di layar ponselnya, sudah pukul 09.00 pagi. Alan harus bangun dan bersiap karena beberapa urusan diperusahan belum diselesaikan.


"Good morning Yah, good morning mom!" Alan menyapa kedua orang tuanya. Yang membuatnya kaget bahwa Nagita ternyata juga sudah hadir bersama keluarganya.


"Hai sayang, good morning!" Nagita langsung menghampiri Alan dan memberikan pelukan dan kecupan di pipi kiri dan kanan Alan.


"I miss you, beib!" Nagita membisikan ditelinga Alan ketika tubuh Alan dalam pelukannya. Reaksi Alan hanya memandang wajah Nagita penuh selidik bahwa ada yang berbeda hari ini. Alan terpaksa mengambil posisi di samping Nagita saat berada di meja makan keluarga.


"Lan, mommy dengar mobil kamu tiba dinihari tadi, sibuk banget ya?"


"Hemmm... Mau gimana lagi mommy! Tapi ada acara apa hari ini, kok pada ngumpul!" Alan menimpali.


"Kita sarapan dulu yuk! Pagi ini ayah ada pertemuan bisnis lagi!" Mommy Diana membalas.


Alan memperhatikan anggota keluarganya seperti menyembunyikan sesuatu hal yang berhubungan dengannya, apalagi Nagita selalu menyimpulkan senyuman manis di wajahnya. Mereka pun menikmati sarapan paginya, setelah 25 menit berselang, mommy mulai membuka pembicaraan yang terlihat serius.


"Lan, Ayah sama mommy sudah sepakat dan membuat keputusan bahwa kamu dan Nagita akan segera bertunangan dalam minggu ini, bagaimana menurut kamu?"


"Tunangan?" suara terdengar datar, Alan sudah bisa menebak sedari tadi dalam hatinya bahwa hal ini pasti akan terjadi.


"Iya.. Ayah lihat hubungan kalian cukup intim selama ini, semakin cepat malah lebih baik"


Alan berusaha mencari alasan, karena dirinya sebenarnya belum siap.


"Loh Alan kan belum di wisuda yah!"

__ADS_1


"Bukan menikah tapi tunangan Lan, Kan ga masalah!" .


"Setelah kamu wisuda, kita tinggal urus nikahnya aja kan!" Mommy melanjutkan.


"Iya sayang! Kita tunangan dulu" Nagita ikut menimpali kata-kata mommy, tangan Nagita memberi sentuhan manja di lengan Alan, sehingga mereka pun terlibat dalam pandangan kekasih yang sedang kasmaran.


Alan tak bisa berpikir banyak atas tawaran orang tuannya, tanpa ragu lagi Alan akhirnya menyetujui pertunangan itu dilaksanakan.


"Baiklah, kalau itu kemauan ayah sama mommy!"


"Loh.. Kok gitu sih sayang" Nagita tak terima Alan mengatakan demikian.


"Lan, kamu loh yang memilih Nagita! Memang awalnya ayah mau menjodohkan, tapi malah takdir yang mempertemukan kalian pada akhirnya. Kalau hubungan ini tidak dibawa ke perkawinan lalu mau kemana lagi?" Ayah Ferdian turut membela Nagita.


"Ok, Alan setuju!" Alan mengulangi jawabannya walau agak berat. Alan tak mau membuat banyak pembelaan, percuma saja karena kenyataan menggiringnya untuk menikahi Nagita.


Nagita tersenyum lebar dan sangat bahagia.


"Besok Nagita bisa terbang ke Ausse untuk memberitahukan pada ibu!"


"Jangan pergi sendiri Nagita!"


"Lan, siapkan waktu luang besok bareng Nagita bertemu dengan ibunya! Bila perlu nginap 2 hari disana"


Memdengar Mommy Diana berkata demikian, Nagita dalam hati kegirangan karena akan berduaan dengan kekasihnya itu.


"Yaah.. Ga gitu donk Mom! 1 hari aja soalnya Alan harus selasaikan beberapa urusan bisnis sebelum hari pertunangan Alan nanti!" Alan memberi alasan, dan kali ini memamg benar adanya.


"Terserah kamu Lan! Tapi ingat pria sejati adalah pria yang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya!" Mommy membuat penegasan pada anaknya. Alan langsung terpukul mentalnya, dan terpikirkan tentang Arini yang selama ini di permainkan olehnya sampai Arini muak dan pergi meninggalkan dirinya tanpa sepengetahuan. Alan merasa sangat bersalah, menurut Alan bahwa Arini pasti sangat membenci dirinya.

__ADS_1


Perbincangan singkat antar keluarga Ferdian pagi ini, tentunya membuat Alan menjadi kepikiran, belum habis menyelesaikan masalahnya dengan Arini, Alan harus mendapatkan kenyataan bahwa dirinya akan segera bertunangan. Seharusnya berita ini merupakan kabar baik buat Alan juga, tapi entah kenapa kali ini berat rasanya harus menerima kenyataan. Alan mengalami tekanan karena perasaannya sendiri.


Kedua orang tua Alan sudah berangkat kerja, kini tinggallah Alan bersama Nagita dirumah, keduanya sedang berada diruang tengah, sambil Alan menikmati secangkir kopinya.


"Sayang.. Hari ini kamu masih sibuk ya! Kita shoping untuk keperluan pertunangan kita yuk!" ajak Nagita karena melihat Alan merapikan pakaiannya.


"Sorry Nagita! Aku ga bisa untuk hari ini ada kontrak kerja yang harus aku take end, kalau kamu mau belanja pake ini! (menyodorkan sebuah kartu berwarna black)." Nagita mengambil kartu itu dari tangan Alan.


"Ini kan untuk keperluan kita, Lan!"


"Aku kira, kamulah yang tahu banyak untuk keperluannya, biasanya wanita lebih telaten untuk urusan itu! Aku percaya kamu kok!" Sambil di elus pipi Nagita sedikit dimanjakan supaya jangan rewel.


Tak lama sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel milik Alan, terdengar Alan marah dan emosional sehingga membuat Nagita menjadi mengurungkan niatnya untuk memaksa Alan.


"Ok-lah, tapi bolehkan aku temanin kamu kerja hari ini! Sambil refreshing, aku penasaran sama tempat kerja kamu, Lan!" Nagita tak hilang akal untuk mengekor Alan.


"Kamu ga kuliah hari ini?"


"Ada sih, jam 2-an. Tapi masih ada beberapa jam, bolehkan, Lan!"


"Emangnya kamu mau ngapain disana? Boring loh!"


"Ga-lah, sama kamu ma aku selalu happy, sayang!" Nagita malah mendekat, berdiri tepat dibelakang kursi Alan dan melingkarkan lengannya di leher Alan dan kepalanya disandarkan dibahunya bahkan wajah mereka sudah saling menempel. Terkadang Nagita sengaja memberi kehangatan di batang lehernya dengan kecupan ringan membuat Alan terbawa suasana. Nagita tak hanya sampai disitu, dirayu Alan dengan sentuhan manja membuat pria playboy ini terjatuh juga, keduanya pun menjalankan aktivitas mesra mereka.


"Permisi tuan muda! Oh.. Maaf!" Sopir Alan masuk begitu saja tanpa sadar telah menganggu pasangan ini sehingga Alan pun tersadar. Sang sopir itu sudah berbalik arah, tapi dicegat oleh suara tuannya.


"Kenapa mang?" Sedangkan Nagita terlihat dongkol karena gangguan kecil ini, Alan berdiri dan merapikan setelannya lagi.


"Maaf tuan muda! Kita berangkat sekarang, mobil sudah siap!"

__ADS_1


"Ga pa-pa, mang! Iya, kita berangkat!" Nagita turut bersama Alan, setelah seminggu lebih tak bersama kekasihnya membuat ingin bersama Alan kali ini. Nagita tak tahu bahwa Alan sedang kalut, hatinya sedang tak tenang karena memikirkan cara untuk mencari Arini.


__ADS_2