Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 37


__ADS_3

"Apalagi yang perlu kamu bicarakan? Aku kan sudah katakan hubungan ini hanya mainan, tak ada artinya bagi kita!"


Alan kesal dong dengan pernyataan Arini barusan.


"Oleh karena itu, kita mainkan saja peran ini! Kita saling memanfaatkan saja satu sama lain!"


"Aku ga ngerti maksud kamu Lan?"


"Ya.. Kita jalani aja seperti gaya pacaran orang pada biasanya!"


"What? Aku sangat keberatan, sebaiknya kita akhiri malam ini! Aku tidak mau menyia-yiakn waktu untuk hal yang tidak pasti, Lan! Justru kamu harus berubah dari sekarang, belajarlah untuk mengencani satu wanita saja!"


Mereka masih berada dalam mobil sambil berbincang, mereka sedang berada dipinggiran pantai yang terlihat sepi hanya terdengar deburan ombak dan ada beberapa rumah, melewati kampung nelayan.


"Aku ga perlu nasihat kamu Ar! Aku hanya mau lanjutkan saja hubungan ini!"


"Kamu sudah kehilangan kewarasanmu yah! Kamu pikir hubungan ini akan berhasil tanpa cinta atau kasih sayang! Aku tahu, kamu melakukan ini karena merasa tak mau dianggap remeh dan ini hanyalah obsesimu saja kan!"


"Oh.. Jadi maksud kamu hubunganmu dengan priamu yang itu adalah cinta!"


Arini menarik napas panjang, Alan akhirnya menyinggung juga hubungannya dengan Rendra.


"Aku tak pernah mencampuri urusanmu dengan Nagita, jadi kamu tak perlu menyinggung hubunganku dengan Rendra! Aku heran sama kamu Lan, waktu itu kamu juga marah karena terlalu dekat dengan Bento sekarang juga demikian, kamu membuatku bingung!"


"Dan satu hal lagi, aku tak peduli apapun yang kamu lakukan dengan Nagitamu itu!," lanjut Arini sudah memantapkan hati untuk tidak terlena dengan kata hatinya yang tanpa sadar selalu condong kepada Alan. Arini harus melakukan ini agar tidak terjadi kesalahan dalam mencintai, dan kecewa kedepannya karena sikap Alan yang selalu terlihat tidak serius dalam membangun hubungan.


"Oh.., Rendra ya namanya! Apa sih lebihnya sehingga kamu terlihat begitu nyaman dengannya?"

__ADS_1


"Aku tak perlu membandingkan kalian! Sudahlah Lan, kita akhiri saja, percuma kita berdebat panjang lebar disini!"


Alan menatap Arini dengan penuh selidik, dalam hatinya menjadi kesal akan sikap Arini selalu tarik ulur pada dirinya, dan kali ini benar-benar menolak.


"Aku perlu membuktikan satu hal padamu malam ini!"


"Apa?"


Alan langsung saja menyambar bibir kecil Arini yang sedari tadi sudah membuat Alan kehilangan fokus karena ocehannya. Arini terus memberi penolakan, didorong-dorong dada bidang Alan agar menjauh,


"Heummheummheummm...haw.., haw..haw" Napas tersengal Arini karena napasnya hampir habis karena berusaha menahan. Dengan kuat dorongan Arini, mental juga Alan kembali ke jok mobilnya.


"Kamu...!! Pembuktian apa yang kamu maksudkan ah? Ini namanya pelecehan Alan!"


" Kamu tak merasakan apapun, Ar?"


"Maafkan aku Ar!" Mereka saling berhadapan, Arini tak kuat berlama-lama dalam satu pandangan, berusaha memalingkan wajahnya Alan menariknya dengan perlahan dari ujung dagunya. Napas keduanya sudah saling bertabrakan dan tak beraturan, Arini berusaha mengembalikan ke posisi normal tapi tetap tak bisa, karena dalam hatinya selalu memberi dorongan dan menyukai aroma Alan begitu juga sebaliknya.


"Aku akan melakukan dengan perlahan, dan tidak akan memyakitimu!,"suara Alan tersengal karen degub jantungnya membuatnya hampir tak bisa bicara.


Herannya Arini malah mengangguk mengiyakan serta mengijinkan Alan menciumnya lagi. Alan benar melakukan ciuman itu dengan lembut, tanpa ragu lagi Arini membalasnya. Keduanya terlibat dalam ciuman yang hangat sepertinya hati mereka juga saling bicara satu sama lain.


"Aku sangat menyukai aromamu Ar!," bisikan kecil Alan.


Tak lama Arini sudah berpindah posisi di atas pangkuan Alan dan masih dalam kehangatan itu. Setelah itu karena malu, Arini mendekap Alan, sampai getar jantungnya saling terdengar. Cukup lama Arini memeluk Alan! Ada sesuatu yang membuat mereka tak bisa berbicara satu sama lain.


"Kita nikmati saja, apa yang sedang kita rasakan saat ini, Ar!"

__ADS_1


"Hmmm"


Kurang lebih 20 menit Arini masih dengan posisinya,


"Kamu masih mau diatas pangkuan ku Ar? Kita bermalan aja disini!." Mendengar Alan mengatakan demikian rona mukanya semakin memerah, telinganya seperti kena setrika panas. Arini malah tak mau lepas dari Alan, diawalnya berusaha menolak, sekarang malah tak mau lepas. Arini secepatnya kembali ke tempat duduknya, dengan merapikan beberapa helai rambut yang berantakan, Alan tak hanya diam, malah ikut merapikan rambut-rambut itu,


"Ada sesuatu di pipi kamu Ar! Dekatkan kesini!" Dengan polos Arini mencondongkan tubuhnya ke arah Alan, tiba-tiba Alan mencium tipis bibir Arini lagi.


"Alan.. Kamu!!"


"Kenapa?"


"Ga" Jawab Arini singkat masih menetralkan senyawa-senyawa hormon dopamin dan endorfin dalam tubuhnya.


"Kita balik aja yuk! Kuenya pasti lumer deh!"


Keduanya melihat ke jok belakang ada bungkusan kue yang dibelinya untuk keluarga Arini. Bukan hanya itu jajanan yang dibeli bersama Rendra sudah dingin karena suhu di mobil Alan.


"Kita makan sama-sama dengan ibu dan adik kamu ya!"


Arini hanya menganggukan kepala dan tak berani menatap Alan.


"Lalu apa yang kamu beli itu, Ar?"


"Oh ini martabak manis dan martabak telur!"


Reaksi Alan hanya diam. Dari peristiwa itu akhirnya Alan menemukan jawaban kalau ada cinta diantara mereka. Alan ingin memantapkan hatinya setelah pulang kerumah nanti. Sebab ada beberapa keputusan harus diambil untuk hubungan mereka kedepannya.

__ADS_1


__ADS_2