
Lanjutan Flash back on ( Malam perpisahan Daniel Pearl)
"Nagita, maafkan aku ya selama ini telah banyak membuatmu menangis dan terluka" ucap Daniel disela-sela mereka sedang menikmati makan malam.
"Daniel, kamu benar-benar mau melepaskan aku. Aku masih ga yakin sama kamu"
"Kan dari dulu kamu ga pernah yakin dengan cintaku selama ini. Oleh karena itu aku putuskan merelakanmu pergi"
"Iya...kerena kamu selalu kasar padaku dulu dan tak pernah mau mengerti padaku"
"Maka dari itu Nagita, aku ga mau lagi kamu akan terluka karena sikap tempramenku, maafkan aku My Angel untuk semua perbuatan kasarku terhadapmu selama ini"
"Malam ini, kita ga perlu bahas yang telah lalu, aku pengen perpisahan kita berakhir dengan indah Nagita, bolehkan?"
"Hhemmmm" Nagita menganggukan kepalanya bertanda dia setuju. Kedua insan ini melanjutkan makan malamnya dengan tenang, sesekali Daniel menatap dalam terhadap wanita yang ada didepannya.
Hati Daniel sebenarnya sakit harus melepas Nagita pada pria lain. Hal ini sudah dipikirkan dengan baik sebelum membuat keputusan ini. Mencintai tak selamanya harus memiliki, itulah pepatah yang awalnya tak pernah diyakini tapi menjadi pilihannya. Karena untuk mencintai wanita yang tak pernah mencintai itu sungguh sulit untuk dipertahankan. Kenangan indah bahkan pahit bersama Nagita disimpan rapat dalam lubuk hatinya.
Daniel mengambil sebuah botol anggur mahal, untuk keduanya nikmati. Bukan hanya itu, Daniel mengambil sebatang rokok, untuk menemani gelas anggur itu.
"Kamu merokok Daniel, sejak kapan?"
Nagita melihat Daniel sepertinya sudah terbiasa dengan batang rokok yang terselip di ujung jarinya. Daniel memang tidak terbiasa merokok, soalnya bagi Daniel kesehatan itu nomor satu.
"Oh ini, sudah lama kok. Hanya untuk iseng aja."
"Ayo duduk disini, kita sambil ngobrol!"
Daniel menunjuk sebuah kursi santai yang berada diujung balkon, dan Daniel mengambil gelas anggur milik Nagita.
"Kamu bahagia dengan anak konglomerat itu Nagita?" tanya Daniel penasaran, untuk membuka obrolan mereka.
__ADS_1
"Iya, aku sangat bahagia dengannya"
"Pasti pria itu memperlakukanmu dengan baik, sehingga kamu begitu bahagia"
"Iya Daniel" Nagita dengan yakin menjawabnya tanpa berpikir perasaan Daniel yang terluka.
"Baguslah, aku hanya bisa mendoakan kamu selalu bahagia ya"
ungkap Daniel lagi dengan tulus. Ketika berkata demikian, Nagita seketika perasaannya menjadi aneh, seperti tak mau terima kalau Daniel akan menyerah pada dirinya.
Untuk menutupi perasaan itu, pertanyaan yang random dari Nagita pun muncul,
"Daniel, apa kamu sudah punya wanita lain untuk dicintai?"
Danieil langsung menengok ke arah Nagita, sehingga membuatnya salah tingkah.
"Kenapa? Kamu pengen tahu atau hanya sekedar tahu aja" balas Daniel dengan enteng.
"Banyak wanita yang ada disampingku untuk dicintai, jadi tak perlu kuatir soal diriku" jawaban Daniel membuat Nagita menjadi bingung.
"Daniel, dimana kamu kenal Alan Ferdian?" tanya Nagita tanpa ragu lagi.
"Kita ga sengaja bertemu di bendara waktu itu, ada insiden kecil antara kita sehingga kita harus menyelesaikanya"
"Kenapa waktu itu kamu ga cerita yang sebenarnya pada Alan tentang kita? Kan bagus untuk kamu"
Daniel langsung tertawa "Hahahahhaa... Nagita, Nagita!"
"Kamu serendah itu berpikir tentang diriku!"
"Ga, bukan begitu!"
__ADS_1
"Aku tak perlu main kotor seperti itu untuk mendapatkan seorang wanita, lagi pula untuk apa juga aku berbuat demikian, toh kamu tak pernah mencintaiku lagi"
Mendengar ucapan Daniel demikian membuat Nagita menjadi merasa bersalah. Kini Nagita yakin pria yang ada dihadapannya benar sudah berubah, namun kini menjadi dingin terhadap dirinya.
Tak lama, hp milik Daniel mendapat panggilan video, tercantum dengan jelas nama seorang gadis bernama Jessica. Herannya dengan nyantai Daniel memperkenalkan kepada Nagita wanita itu pada dirinya, bahkan gadis diseberang sana sedikitpun tak mempermasalahkan kalau mereka menghabiskan malam ini bersama.
"Itu pacar kamu?"
"Oh.. Jessica, dia gebetan aku sekarang"
"Kita jalan-jalan aja yuk, boring juga disini mulu!" ajak Daniel.
"Oh iya terserah kamu aja!" jawab Nagita merasa seperti dipermainkan Daniel.
Nagita menjadi benar-benar aneh akan sikap Daniel yang dingin, Nagita merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Daniel bahkan menjaga jarak, tak lagi berani menyentuhnya dengan sembarangan. Nagita seperti menjadi orang lain bagi Daniel.
Selama perjalanan Daniel pun tak banyak cerita,
"Loh, katanya kita mau jalan-jalan sebentar, kenapa kamu mengantar aku pulang sekarang?" tanya Nagita bingung, Daniel mengantarnya pulang ke apartemen.
"Maafkan aku Nagita, aku tak bisa menahan kamu lebih lama lagi ditempatku. Saat ini kamu sudah milik orang lain. Aku harus konsisten dengan keputusanku, aku takut nanti semakin lama kita bersama aku takut tak bisa melepaskanmu lagi" terang Daniel membuat Nagita menjadi berkecamuk hatinya, tak mau terima pada akhirnya Daniel yang akan melepasnya.
"Tapi Daniel, katamu ingin melepasku dengan indah!"
"Cukup dengan makan malam ini sudah membuatku mengenang tentang kamu dengan indah"
"Terima kasih Nagita, sudah datang menemuiku, selamat malam!" ucap Daniel datar dan turun membukakan pintu mobil untuk Nagita. Biasanya Daniel selalu nyosor duluan menciumnya ataupun memeluknya tapi kali tak ada sedikitpun.
Akhirnya malam perpisahan terjadi begitu saja, Nagita tak habis pikir bahwa hubungannya dengan Daniel akan berakhir segampang itu, padahal awalnya Daniel terlihat begitu semangat untuk memilikinya. Seharusnya Nagita senang tapi malah sebaliknya menjadi sedih.
Flash back off
__ADS_1