Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 66


__ADS_3

Keadaan Arini sedang berada di kota Paris, karena project Italian Fashion Week sebentar lagi, perusahan menugaskanya untuk melakukan review design dengan para designer diseluruh dunia yang ikut dalam acara fashion show tersebut. City of Love penuh keindahan, Arini memutuskan pagi-pagi sekali untuk berjalan-jalan sebentar merefresh stimulan tubuhnya. Cuaca hari ini cukup dingin, seketika ada kejadian membuat Arini menjadi berdebar, dan agak mengerikan,


"Hei.. wait! No, please jangan lakukan itu!" teriak Arini saat dirinya sedang dalam perjalanan melewati jembatan Alexander yang membentang di sungai Seine untuk menikmati udara pagi.


Arini melakukan itu karena ada seorang pria muda yang hendak melompat dari jembatan. Arini berusaha mencegah, berlari menghampiri pria itu.


"Please, jangan lakukan itu! semua masalah pasti ada jalan keluarnya, ingat sama orang-orang yang mencintaimu pasti mereka akan sedih" Arini berusaha membujuknya. Keadaan masih sepi, tak banyak orang pagi ini, sehingga Arini nampak panik mau minta pertolongan pun Arini belum fasih bahasa Perancis.


Anak remaja itu, berbalik dan menatap Arini dengan pandangan kosong, pucat, bibirnya agak gelap tubuhnya juga lemas. Ternyata anak remaja itu adalah Hendra Ferdian.


"Adik, turun yuk! disitu berbahaya, kita bicara dulu baru setelah itu kamu boleh melakukannya sesuka hati jika melompat dari situ adalah pilihan terakhirnya, Ok?" Arini masih mencoba membujuk Hendra.


"Kenapa? Apa pedulimu? Hidupku sudah ga ada gunanya lagi."


"Karena Aku menyukai hidup ini, dan aku peduli sama kamu"


Hendra menjadi tertegun atas jawaban Arini yang terdengar simpel tapi mempunyai arti yang mendalam baginya. Bagaimana mungkin ada orang yang menyukai hidupnya, padahal didunia ini banyak sekali ketidakadilan. Hendra menjadi penasaran, hendak menghentikan langkahnya, melihat Hendra mulai luluh, Arini berusaha menarik tangan Hendra dengan berlahan, membuatnya nyaman dengan membuka tangan memberi ruang baginya untuk bisa berbagi kesedihan dan luka yang dialaminya.


Akhirnya Hendra dapat ditaklukan Arini, mereka sudah duduk disebuah taman dikursi panjang itu sambil bercerita. Arini menatapnya dengan seksama, cukup memprihatinkan karena tubuhnya terlihat kurus.

__ADS_1


"Kak, saya ingin mati saja"


"No. jangan katakan hal itu. Kamu masih hidup hari ini pun karena ijin Tuhan, lalu kenapa kamu mau mati tanpa ijin-Nya, apa itu bukan dosa?".


"Sama aja ka, mau hari ini ataupun nanti saya pasti mati kok.Karena penyakit ini, menurut dokter kapanpun aku bisa mati"


Arini menarik napas berlahan, terlihat jelas keputusasaan diwajahnya.


"Kita semua manusia pasti mati dek, tapi bukan berarti kita punya hak untuk menghentikan hidup. yang bilang penyakitmu bisa membuatmu mati itu kan dokter bukan Tuhan"


"Lalu kenapa Tuhan memberikan penyakit mematikan ini pada saya?"


Arini berusaha berpikir keras, bagaimana menenangkan anak ini, pertanyaan semakin membuatnya harus bijak.


"Saya ga kuat lagi kak, saya sudah lelah"


Arini menjadi sedih, dirangkul Hendra dengan penuh kasih, diusap punggungnya agar kuat seakan memberi semangat pada dirinya. Arini tak ingin banyak bicara lagi, untuk tidak membuatnya semakin terluka dengan menceritakan rasa sakitnya. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah tempat curahan dan orang yang mau mengerti akan dirinya.


"Iya, kamu boleh lelah sayang tapi tetap harus kuat ya! Saya percaya kamu akan baik-baik saja jika kamu bertahan untuk terus melakukan pengobatan dengan rutin"

__ADS_1


"Kamu juga boleh menangis sekarang, saya tidak akan melihatnya" Hendra mengangkat wajahnya menatap Arini dan keluar dari pelukan, seketika air mata itu mengucur deras. Arini pun langsung membalikan tubuhnya membelakangi, memberi waktu bagi Hendra untuk melepaskan rasa sakit yang dirasakannya. Sangat sesenggukan, bahkan suaranya semakin kencang, seperti anak kecil yang menangis. Arini pun tanpa sadar meneteskan air matanya, sepertinya energi kesedihan sudah mengalir juga dalam dirinya.


Setelah adegan tangisan itu, suasana semakin tenang dan ada keakraban diantara keduanya. Tak ada lagi kecanggungan diantara mereka, sudah saling bercerita.


"Selamat pagi Tuan muda kecil! Maaf, tuan sekarang waktunya pulang" Ada sekitar 4 orang bodyguard mengelilingi mereka dan seorang diantara mereka tampak dekat dengan tuan muda Hendra.


"Siapa kalian?" Arini panik lagi, tubuh kekar dan tampak besar, sudah mendekat saja.


Hendra tahu, Arini nampak takut, langsung bersiap berdiri,


"Nona, kami penjaganya tuan muda" jawab seorang bodyguard.


"Ka, maaf saya harus pulang sekarang! terima kasih sudah menjadi temanku hari ini, saya suka kaka, semoga kita dapat bertemu lagi!" Hendra langsung didudukan pada sebuah kursi roda yang sudah ada disalah satu penjaganya.


"Kamu harus sehat ya!"


"Iya pastinya, saya akan berjuang untuk terus hidup kak, bye"


Pertemuan singkat yang sangat mengenang, setelah kepergian anak itu, lagi-lagi Arini jadi panik.

__ADS_1


"Aduh siapa lagi namanya?.. " sambil berpikir.


"Tapi benar ga sih orang-orang itu penjaganya, atau jangan-jangan penculikan, aduh gimana dong...?? kenapa saya bisa bego sih?? membiarkannya pergi begitu saja". Arini bergumam sendiri. Sampai pulang ke penginapan bahkan ditempat kerja pun Arini masih kepikiran, tentang nasib anak yang dijumpainya tadi pagi di jembatan.


__ADS_2