Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 44


__ADS_3

Tentunya adegan makan malam tidak habis sampai disitu saja, masih ada kejutan lainya yang sangat dramatik bagai kisah sinetron. Sekarang hidangan penutup belum terjamah. Sang pelayan resto masih menyiapkan. Kedua bocah ini, Mantho dan Mitha tak tenang di tempat duduk mereka. Berlari kesana kemari, bermain dan bercanda tanpa memperdulikan orang dewasa yang ada dekat mereka. Rendra semakin akrab dalam perbincangan dengan keluarga Ferdian. Mungkin yang dibicarakan adalah bisnis, yang terkadang membuat Arini agak bosan dan tidak tertarik, berpura-pura aja tersenyum dan menganggukan kepala suatu-waktu untuk menghargai lawan bicaranya.


"Tante, kita main yuk!," ajak Mitha anak gadis kecil itu. Arini sejenak melirik ke arah Rendra, memohon ijin. Karena Mitha seperti merengek ke arah Arini sehingga menjadi pusat perhatian seisi ruangan.


"Mitha, jangan ganggu tantenya ya! Sana main sama abangmu!." Sang Ibu mulai menegur anaknya.


"Mitha maunya sama tante ini, bolehkan om ganteng!." Mitha malah berbalik ke arah Rendra dan memohon. Mitha si kecil ini tahu, kalau Arini adalah milik om ganteng itu.


"Kamu temani aja adik-adik ini main! Ga apa-apa Ar, lagi pula Mantho dan Mitha terlanjur menyukaimu"


"Maaf tuan! Saya harus meninggalkan pembicaraan ini!." Arini merasa tak enak. Tapi hatinya turut senang akhirnya bisa keluar dari obrolan yang membuatnya tak pernah paham dan kaku baginya.


"Oh.... Tidak masalah! Justru saya yang merasa ga enakan, ponakaan saya merepotkan nona Arini!"


"Tidak merepotkan kok Tuan, saya suka dengan anak-anak!," balas Arini dengan ramah. Tuan Ferdian hanya mengangguk dan mengijinkannya menemani ponakan-ponakan itu bermain.


Lalu bagaimana dengan Nagita, tentunya memandangi Arini dengan tatapan sirik. "Kampungan ya tetap aja kampungan. Mana mampu dia bergabung dalam pembicaraan berkelas ini, pastinya neraka buatnya" batin Nagita ternyata mengumpat Arini. Tak henti-hentinnya Nagita membencinya, dalam hatinya pun Nagita masih punya waktu mengeluarkan kata-kata kasar itu. Tapi Arini tanpa banyak bicara pun orang-orang di sekitarnya pasti menyukainya karena auranya selalu mendatang kebaikan bagi orang lain. Alan pun turut berbincang dalam percakapan antara mereka. Tatkala dua wanita ini pun ikut menambahkan, sehingga terkadang ada gelak tawa atau gurauan disela-sela obrolan itu.


"Tante, kita main petak umpat yuk!"


Ruangan VIP itu sangat luas. Bahkan ada juga disiapkan ruangan santai disitu, ada sepasang sofa ukuran sedang like a living room. Tepatnya sebelum masuk ke meja jamuan tentunya melewati ruangan kecil ini, sehingga Arini bersama Mantho dan Mitha bermain pun tak menganggu orang dewasa didalamnya.


"Ok, Mantho sama Mitha ngumpet ya! Tante yang tutup matanya dan mencari kalian!!"


"Ok deh!," jawab kedua anak itu serentak dan sangat bahagia. Permainanan dilakukan sampai beberapa kali, dan kedua anak itu sangat senang.


Dan untuk kali ini, Si Mantho yang ditugaskan untuk menutup mata dan mencari musuh. Mitha dan Arini mencari tempat persembunyian yang bagus agar tak terlihat.


Arini malah bersembunyi dibalik tirai dekat balkon. (Sebenarnya Tidak bisa disebut balkon karena hanya menyisahkan tempat kecil untuk jendela kaca itu bisa terbuka). Sedangkan si Mitha kembali ke sang Ibu bersembunyi dibawah kursi. Mantho mencarinya dengan susah dong.


Tak lama tubuh Arini terhuyung masuk dalam sebuah pelukan yang sangat dikenalnya. Alan menariknya sehingga mereka berdiri berhimpitan dibatas tirai jendela serta balkon yang luasnya hanya setengah meteran itu.


Langsung dibekap mulut Arini, karena pasti Arini kaget dan mengeluarkan suara jeritan yang pastinya nanti bisa kacau urusannya.


"Alan... Kenapa sih? Sesak nih aku ga bisa bernapas!"


"Suuuut.... Diam, nanti ketahuan!"


"Biarin aja! Emangnya kita ngapain!"


"Kamu ga takut, tunanganmu menemukan kita kayak gini!"


"Kamu sengaja kan! Aku tahu otak mesum itu!"


Tubuh mereka saling berpelukan, Alan malah semakin mengeratkan tangannya, agar Arini tak bisa lari darinya.

__ADS_1


"Lan, aku hampir tak bisa bernapas nih!"


"Mau aku berikan napas buatan padamu!"


"Jangan.. Jangan, aku teriak Lan!"


"Ar, kamu cantik malam ini!," bisik Alan di telinga Arini yang dekat dengan mulutnya. Seketika rona muka Arini memerah sampai ke telinga, bahkan jantungnya pun ikut berdebar.


"Apaan sih nih jantung? Hanya mendengar gombalan Alan aja, pake bergetar segala, kamu ga cukup apa dikibulin melulu ama playboy gila ini" Batin Arini yang mengumpat dirinya sendiri.


"Bisa ga kamu hanya terlihat cantik didepan aku saja!"


"Kamu selalu aneh, Lan! Nagita kurang cantik apanya sih. Aku kira malam ini sudah jelas kan, kamu dan Nagita sebentar lagi akan bertunangan, dan kamu sudah membuat pilihan. Jadi antara kita juga sudah jelas tak ada apa-apa dan tak perlu lagi kita melanjutkan hubungan ini seperti inginmu itu!"


"Itu keinginan orang tuaku bertunangan dengan Nagita, lagipula kamu juga pun sama, kenapa tidak memberitahu sejak awal kalau pria itu tunanganmu!"


"Emangnya dari awal hubungan kita seperti apa? Sehingga aku harus menceritakan segala hal tentang aku kepada mu!"


"Ar, jangan memancing emosiku!"


"Kalau begitu, biarkan aku pergi! Aku hampir ga bisa bernapas, terlalu sesak disini!"


"Aku siap memberikan napasku!"


Wow.... Ciuman yang tak berencana biasanya membuat pasangan akan lupa dan menikmati moment itu.


Arini tanpa disadarinya, tidak menolak ciuman itu, malah membalasnya dengan geteran-getaran cinta di antara mereka.


"Tante,.... Ngapain? Kok uncle Alan disitu juga!"


Jeng.. Jeng.... Jeng.... Kalau di sinetron pasti musik mengagetkan menyelingi adegan ini.


Kedua insan ini tersadar, mereka masih terhimpit disitu. Alan harus terlebih dahulu keluar agar Arini bisa terbebas.


"Uncle, ikutan main ya sama kita, tapi uncle kok cium tante kayak mommy and daddy!." Polosnya Mitha.


"Mitha sayang, mau es cream ga? Uncle beliin deh!"


"Hore.. Mitha mau! Tapi tunggu dulu, kata mommy yang boleh ciuman harus jadi kayak mommy and daddy dulu, lalu tante sama uncle..... " Belum sempat Mitha melanjutkan kata-katanya, Arini langsung menghadang.


"Mitha... Mitha..... " Arini jadi panik dong, anak ini pintar banget.


"Tante akan beli es cream dan coklat yang banyak asalkan Mitha ga cerita dan ngomong ke orang ya! Tante dan uncle ga ciuman kok hanya tadi tante kesempitan ga bisa keluar dari situ, makanya uncle datang menolong!" Arini berusaha menjelaskan tapi dalam otak anak ini, apa yang dilihatnya itulah yang direkam di memori otaknya. Walaupun Alan dan Arini terus mencoba membelokan tapi kepolosan anak-anak mana bisa kita tahan.


"Oh... Gitu ya! Mitha mau es creamnya uncle!" Keduanya menarik napas legah, setelah membujuk gadis kecil ini agar tidak mengadu ke orang tuannya didalam.

__ADS_1


"Loh, Mantho dimana?" Tanya Alan berusaha menetralkan suasana dan suhu tubuhnya yang tadinya memanas.


"Sama mommy! " jawab Mitha dengan gaya anak-anak.


"Mitha sama tante masuk duluan, uncle beli es creamnya dulu, Ok!"


"Ok, deh uncle!"


Arini membawa gadis kecil ini masuk ke meja jamuan, disitu mereka asyik menikmati dessert penutupnya.


Arini mendudukan Mitha, dan dirinya kembali ketempatnya semula.


"Ar, cobain cake ini! Enak banget!." Rendra menyuapi Arini.


Arini masih terlihat kagok, takut si bocah ini keceplosan saking cerewet ini anak.


"Hemmm... Enak!"


"Kamu suka?"


"Ya, terasa lembut dan tidak terlalu manis!"


Rendra masih menyuapi Arini, Mitha disebelahnya menjadi heran dan terus menatapi mereka.


"Om ganteng!" Mitha memanggil Rendra, seketika Arini jadi was-was. "Gawat nih! Apalagi yang ada di otak anak kecil ini, bikin aku riweh aja deh!"


"Kenapa, gadis cantik?"


"Om ganteng dan tante, sudah jadi kayak mommy dan daddy Mitha juga ya? Tante.. Emang bisa om ganteng juga ikutan"


Mati sudah, Arini menjadi tegang, apaan sih nih anak. "Alan, kamu lama banget sih!" Arini membatin tapi pandangan terus ke arah Mitha untuk tidak terus bertanya.


"Hahaahha... Mitha... Mitha! Anak kecil so dewasa sih, ya nantinya om ganteng dan tante akan jadi kayak daddy dan mommy kalau mereka udah nikah!," jelas ibu Elisabeth pada anaknya itu.


Mitha malah tambah bingung, tersirat jelas diwajahnya, sehingga masih mau bertanya. Arini semakin gusar dan tak nyaman.


"Tapi tadi tante.... "


Alan langsung mencela omongan Mitha, "Es cream! Ayo siapa mau?." Akhirnya nongol juga Alan, sehingga membuat Arini legah, dan mereka saling mencuri pandang dan Alan malah mengedipkan matanya ke arah Arini untuk menggodanya lagi.


" Mitha mau es cream, uncle!"


"Mantho juga suka es cream, uncle!" rengek kedua bocah itu.


Ibunya hanya bisa diam, Alan memperlakukan kedua adiknya dengan manja. Seharusnya kedua bocah itu, memanggil Alan dengan sebutan kakak (sepupuan) bukan uncle. Soalnya uncle Felix adalah adik ayahnya. Aunty Elisabeth dan Uncle Felix terpaut umur yang sangat jauh (18 tahunan) ketika menikah. Sehingga anak mereka masih kecil, apalagi kedua bocah itu tak mau kalau memanggil Alan sebagai abangnya.

__ADS_1


__ADS_2