
"Hai Ar, sudah lama menunggu?." Rendra tiba dengan sepeda motor, yang tampak gagah sehingga membuat Arini sempat pangling.
"Ka Rendra! Arini kira aktor tampan Kim Soo Hyun yang datang menghampiri, Arini jadi gugup!."
"Oh ya, anggap saja demikian Ar!."
"Ah... Ka Rendra bisa aja!."
"Ga ah, Ka Rendra lebih tampan kok!," sambung Arini lagi memuji.
"Gitu ya! Tapi kamu suka kan?."
Arini jadi bingung menjawabnya seperti apa kepada Rendra, karena baginya pertanyaan itu begitu ambigu, Arini tampak berpikir sejenak, dengan gamblang menjawab,
"Ya.. Iyalah! Kak Rendra setampan ini, baik lagi! Apalagi Ka Rendra sudah menjaga Arini dari kecil, dan kita sudah saling mengenal satu sama lain, masa Arini tidak suka sama Ka Rendra?," jawaban Arini membuat Rendra terbesit sedikit rasa kecewa karena Arini masih menganggapnya sebagai saudara.
"Ya sudah! Mau jalan ga? Kita makan yuk! Lapar kan?," ajak Rendra.
"Yuk Ka! Kita ke restoran Jepang aja Ka!"
"Baiklah, kamu pakai helm ya! Aku pakaikan Ar!." Sebelum Rendra memakaikan helm, dibelai dengan lembut ujung kepala Arini. Arini merasa Rendra begitu sayang padanya, sikap Rendra dari dulu tak pernah berubah pada Arini, sehingga kali ini membuat Arini merasa ada perbedaan, mungkin karena mereka sudah sama-sama dewasa. Di moment inilah ada dua pasang mata insan sedang memperhatikan mereka, yaitu Alan dan Nagita yang berada di dalam mobil ketika melewati mereka. Rona wajah Alan seketika memerah, pandangannya tak pernah lepas walau sudah melewatinya, kaca spion dilirik dengan mengekor matanya, karena Alan tahu Nagita pasti memperhatikannya.
"Cewe kampung itu ternyata penggoda juga!, berpura-pura polos dan alim untuk menggoda pacar orang dan sekarang siapa lagi tuh?." Nagita sengaja memanas-manasi Alan agar perpikiran buruk pada Arini. Alan tak menanggapi pernyataan Nagita, karena Alan lebih berfokus pada gejolak batinnya "Brengsek, beraninya dia mendekati laki-laki lain!"
Dalam perjalanan tak lama sepeda motor yang dikendarai Rendra melewati mobil Alan, tentunya menjadi boomerang buat Alan lagi karena Arini terlihat memeluk erat pria di depannya seakaan tak ada jarak lagi. Alan mengancing kencang giginya tanda kemarahannya sudah memuncak, berhentilah mereka di lampu merah, Alan melampiaskan emosinya dengan menyembunyikan klakson, karena sepeda motor Rendra tepat di depan mereka. Seketika Arini menoleh kebelakang sambil menggerutu,
"Tu orang ga bisa bersabar ya!"
Batin Arini ketika yang dilihat sosok dalam mobil itu, yang cukup dikenalnya "Alan Ferdian!!"
"Siapa Ar?," tanya Rendra sambil membuka kaca helm dan menoleh kebelakang, Rendra malah kalem dan tak menanggapi.
"Ga kenal! Orang gila kali yang ga sabaran!."
"Oh.. Biarin aja!."
"Hhmmm." Arini tak memperdulikanya malah semakin mempererat pelukannya sehingga Alan menyembunyikan klaksonnya lagi, malah kali ini Nagita yang mengoceh,
"Apaan sih Lan? Berisik banget, bersabarlah!"
__ADS_1
Nagita tak memperhatikan penyebab Alan menyembunyikan klakson, karena Nagita asik memainkan hp miliknya sehingga tak memperhatikan kalau di depan sana ada Arini.
"Ka Rendra mau makan apa?," tanya Arini setelah akhirnya mereka tiba juga di restoran Jepang. Dengan meninggalkan peristiwa di traffic light membuat Arini tak habis pikir akan sikap Alan yang arogan.
"Terserah kamu aja Ar!," jawab Rendra sembari menatap lembut pada Arini, yang membuatnya salah tingkah.
"Ok-lah"
"Ar..!"
"Hhmmm," Arini masih memperhatikan buku menu.
"Lihat aku sebentar!." Rendra meminta Arini untuk fokus pada pembicaraannya kali ini sehingga Arini mengikutinya.
"Ya kak!"
"Boleh kan, aku meminta! Kali ini, aku mau kamu panggil aku Rendra aja!." Arini seketika termenung, arah pembicaraan Rendra mulai serius,
"Kenapa kak? Eh... Rendra!." Tanpa sadar Arini sudah menyetujuinya.
"Ah.., gitu Ar!"
"Ga kok! Hanya kamu belum terbiasa aja!"
"Baiklah Rendra Wira!!." Rendra tersenyum, dalam ingin Rendra perlahan-lahan akan mendekati Arini dengan caranya, boleh saja Arini menganggapnya sebagai saudara, dan teman tetapi untuk menjadi pria yang di cintainya pasti sulit karena dua subjek ini yang selalu menjadi sosok awal mereka menjalin hubungan.
Tak lama sebuah pesan masuk di hp milik Arini,
"Kita harus bicara sekarang!." Pesan singkat ini ternyata dari Alan.
"Kamu gila! Apalagi yang perlu dibicarakan?."
"Aku tunggu kamu di toilet sekarang, ga pake lama!."
Arini menelusuri isi ruangan restoran mencari sosok Alan, tapi tidak ditemukan.
"Kamu menguntit aku! Sehingga bisa tahu aku ada disini," balas Arini lagi
"Kenapa Ar? Kamu mencari siapa?." Arini menjawab kaku ketika ditanya Rendra.
__ADS_1
"Oh.. Pelayannya mana ya?."
"Kamu sudah tahu mau makan apakan, kamu tunjukin biar aku aja yang pesan, lanjutin sms-nya mungkin itu penting buatmu." Rendra membalasnya dengan penuh pengertian. Arini hanya menganggukan kepalanya saja.
"Cepatan kesini! Atau kamu mau aku kesitu dan mengatakan kalau kita pacaran, atau Aku akan buat perhitungan dan pria yang bersama kamu itu," ancam Alan yang membuat Arini berpikir lagi.
"Kak... Eh maksudnya Rendra! Arini mau ijin ke toilet bentar ya!" Arini berpura-pura bersikap normal padahal sedang mengalami kegugupan luar biasa, takut Alan berbuat nekat.
"Silahkan Ar! Jangan lama-lama, makanannya sebentar lagi datang keburu dingin ga enak!"
"Siiip deh!"
Arini beranjak pergi ke toilet seperti yang dimaksudkan Alan, belum sempat kakinya melangkah masuk ke toilet, tangan Arini sudah ditarik oleh Alan, entah dari mana munculnya. Mereka bukan lagi di toilet tapi di sebuah ruangan pintunya langsung di tutup olehnya.
"Please, apa mau kamu?"
"Kamu pikir seenaknya dekati banyak pria, setelah Bento siapa lagi itu pria?"
"Itu bukan urusan kamu, Lan!"
"Tidak begitu aturannya, apa yang sudah menjadi milik Alan tidak boleh di ambil oleh siapapun, paham kamu, Ar?"
Perdebatan keduanya terjadi dengan sengit.
"Kamu egois Lan! Terserah aku mau berteman dengan siapa saja, kamu tahu hubungan kita kan hanya candaan kamu saja! Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu menganggap aku sebagai barang mainanmu kan?."
"Oh ya,...jadi kamu juga mau menjebak dengan berpura-pura mau menjadi pacar aku, apa tujuanmu Ar?"
"Iya...aku mau menjebak kamu! alasan sama seperti kamu yang menganggap aku sebagai mainanmu!." Alan geram mendengar jawaban Arini. Ternyata selama ini Alan dipermainkan oleh Arini langsung Alan mendekati Arini dan mengangkat dagunya sambil memandangi penuh selidik.
"Kamu pikir dengan segampang itu bisa lepas dari aku, kamu sudah bermain api dengan Alan Ferdian, sekarang kamu harus merasakan panasnya, paham kan!" Alan mencium bibir Arini dengan paksa karena Arini berusaha melepaskannya, malah Alan semakin brutal menjelajahi leher jenjangnya dengan membuat tanda kepemilikannya.
"Alan please!! Jangan.. Jangan lakukan!!"
Tanpa disadari air mata menetes di pipi dan Arini sudah tak bisa meronta lagi hanya diam terpaku, sehingga Alan berhenti dan memandangi Arini dengan rasa bersalah. Dihapus air mata dengan jemarinya.
"Aku harus pergi!"
"Tapi Ar..., tunggu!." Alan berusaha menarik tangan Arini lagi, tapi ditepis dengan kasar dan pergi begitu saja. Alan malah melihat Arini pergi dengan air mata tanpa berbuat apa-apa, dalam benaknya "Percuma dekati wanita yang sedang marah, malah hasilnya tambah parah nanti!". Karena urusannya bersama Nagita belum usai yang sedang menunggunya diruangan VIP yang sengaja disewakan oleh Alan direstoran itu.
__ADS_1