
Suara burung berkicau begitu nyaring, suara deburan ombak masih terdengar, matahari mulai muncul dari peraduannya. Dengan panas mentari pagi yang begitu lembut mulai menyusuri isi kamar yang luas dan furniture mewah sebagai pelengkapnya. Arini tak menyadari bahwa dirinya sudah berada di dalam kamar bak kamar VVIP di sebuah hotel. Arini terbangun karena sebuah panggilan telepon. Masih dalam keadaan ngantuk Arini berusaha mencari hp miliknya di atas meja, seperti yang di lakukan ketika dirumah. Dan Arini belum menyadari keadaan sebenarnya. Setelah hp itu di raih terlihat di layar monitor Ibu memanggil,
"Ibu..., aduh gawat!. Aku belum ngasih kabar ke ibu!."
Arini langsung terduduk dan menjawab panggilan itu.
"Good morning bu!. Sorry, Arini sibuk belum sempat kasih kabar bu!." Arini langsung merasa bersalah.
"Arini, Arini..., kamu kebiasaan nak!. Kamu suka lihat ibu kuatir ya?."
"Ga gitu, bu!. Ibu tahu kan kegiatan ini, Arini yang merancangkan semuanya. Jadi Arini harus stand by untuk mengkoordinasikan semua kondisi."
"Ibu paham nak!. Hanya ngirim sebuah pesan singkat pun kamu ga bisa?."
"Maafkan Arini, bu!. Arini nyesal deh!, sekarang Arini baik-baik saja. Soalnya hari ini kegiatannya padat banget bu!."
"Baiklah... semoga kegiatanmu lancar ya!. Tuhan memberkatimu, nak!."
"Amien!. Terima kasih bu!. See you, salam kangen buat Tara!."
Panggilan pun berakhir, setelah meletakan hp miliknya, di lihat sekeliling kamar. Ada yang berubah menurut dirinya. Berungkali di tampar kedua pipinya karena Arini berpikir ini adalah mimpi,
"Wow, kok sakit!. Ini aku dimana?. Apa aku di alam mimpi?, tapi kayak nyata sih!." Arini masih kebingungan dan berbicara sendiri.
Arini beranjak dari ranjang berusaha di singkap kain gorden tapi tak bisa di bukakan, maklum Arini tak tahu kalau gorden tersebut di buka menggunakan remote atau kalimat perintah dari pemilik kamar. Terpaksa di ikat simpul gorden tersebut oleh Arini supaya sinar matahari masuk kedalam kamar.
Di lihat dari jendela kaca segede itu Villa yang lain ada di hadapannya.
"Jadi, aku di Villa utama milik Alan!. Kok bisa!." Arini tersadar.
Segera Arini menuju pintu keluar dari kamar tersebut untuk memastikan. Karena berada di lantai atas Arini harus menuruni anak tangga. Dari tangga terdengar beberapa suara pria sedang berbincang. Arini semakin penasaran dan campur aduk dengan rasa takut, kalau itu benar suara Alan dan sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
Suara itu semakin dekat, karena mereka ternyata sedang duduk santai sambil ngopi di ruang tengah yang tepat dekat ujung anak tangga.
Ketika Arini menuruni anak tangga yang dahulu melihatnya adalah Bli Agung yang barusan tiba di Villa itu setelah sehari menghilang,
"Loh, kenapa juga cewe kampungan itu ada disini?." Agung bertanya ke teman lainnya, Alan berpura-pura tak mendengar karena Alan tahu teman-temannya pasti ga suka kalau Arini bareng mereka.
"Elu, kan Ben!. Bawa cewe kampung itu!."
"Please deh, Bli Agung!. Cewe kampung itu ada namanya kali. Namanya Arini, Bli!." Bento ga suka aja Arini di panggil begitu.
"Elu, belain banget sih tu cewe!."
"Kamu bli!. Kenapa benci banget sama Arini?."
Bela Bento lagi, membuat Alan menjadi aneh akan sikap Bento. Dan malah dia yang mempersilakan dan menyambut Arini duluan untuk gabung bareng mereka. Alan tak berkutik hanya memainkan jemari tangannya itu, bertanda Alan dalam kemarahan yang terpendam.
Arini pun hanya mengikuti ajakan Bento untuk bareng mereka.
"He, cewe...!." Bli Agung belum melanjutkan, Bento sudah mendelikan matanya menandakan sebuah ancaman.
Bli Agung terdiam, tak bisa bertanya lagi malah melemparkan wajah yang seram kepada Arini supaya menjawab pertanyaannya. Arini seperti di intimidasi mau menjawabnya pun bingung, karena dirinya sendiri juga tak tahu kalau dirinya tiba-tiba ada di Villa itu.
"Gue cabut!. Pagi ini kita mulai kegiatan dengan berolahraga, kalau kalian mau nyantai silakan!." Alan beranjak dan sengaja menengahi karena di lihat Arini mau menjawab pertanyaan Bli Agung. Alan melakukan itu karena dia tahu pasti ribet urusannya kalau Arini ladeni mereka.
Alan sudah berjalan pergi, dia pikir Arini juga bangun mengikutinya dari belakang malah masih duduk di antara mereka sehingga Alan berbalik dan berkata,
"He, gadis lugu!, ngapain juga kamu masih di situ?. Kamu ga ikutan, masih mau di kasih hukuman oleh Pak Abas, " suara Alan agak meninggi, Arini segera tersadar.
"Maaf!. Gue harus pergi, terima kasih!." Arini juga beranjak sambil melirik Bento dengan bahasa tubuhnya berpamitan. Bento membalasnya dengan senyum manis. Alan melihat itu tambah kesal dong.
Arini hanya mengikuti Alan dari belakang, Alan menuju kamar atas untuk bersiap-siap, sedangkan Arini menuju pintu keluar dari villa itu, karena ia tahu koper dan perlengkapannya ada di villa 3.
__ADS_1
"Ar, kamu mau kemana?."
"Mau bersiap-siap!. Soalnya barang-barangku di Villa sebelah!," jawab Arini dengan polosnya.
Alan yang sudah menginjakan kakinya di anak tangga kedua, turun kembali langsung menyeret Arini dari hoodie yang di kenakan. Karena posisi Arini sudah membelakangi dari pintu depan yang sudah sedikit terbuka.
"Tutup kembali pintunya!. Dan kembali ke kamar atas!." Alan masih menyeret Arini.
"Ah, ah, ah..., pelan-pelan aku bisa jatuh, Lan!. Kalau jalannya kayak gini!." Alan pun melepas pegangannya.
"Oh, jadi kamu yang pindahin aku semalam ke villa ini!." Alan berpura-pura tak mendengar dan terus berjalan menaiki anak tangga.
"Gimana kamu cara mindahinnya?." Arini penasaran.
"Kamu gendong aku ya?." Arini bertanya lagi.
"Lan, kamu pasti melakukan hal di luar bataskan makanya kamu diam aja!."
Alan tambah diam, mereka sudah sampai di lantai atas Alan hendak masuk kamar di sebelah kamar utama.
"Lan, dasar pria mesum!. Playboy gila cari kesempatan dalam kesempitan." Arini mengumpat. Alan yang sudah memegang gagang pintu hendak membuka tapi tidak jadi di lakukan. Malah Alan kembali ke arah Arini. Berdiri berhadapan di tatap Arini dari ujung kepala sampai ujung kaki dan berhenti di titik yang rawan yaitu buah da**. Arini menjadi salah tingkah dan berusaha menutupi area itu.
"Kamu, heumham hemehemmm!." Alan langsung membekap mulut Arini dengan telapak tangannya karena Alan tahu pasti Arini mau mengatainya lagi. Alan memandangi wajah Arini dari dekat dan di telusuri lekukan mata Arini karena telapak tangan Alan sudah memenuhi wajah Arini yang mungil itu sehingga yang terlihat bola matanya.
Arini hampir kehabisan napas, Alan langsung mengarahkan bibirnya seakan mau mencium. Arini semakin meronta, tangan Arini tak diam mau mengantam sesuatu berharga milik Alan namun di cekal dengan sebelah tangan Alan.Tangan Arini yang satunya berusaha melepaskan bekapannya tapi tak bisa karena Alan lebih kuat.
"hemmmhemmmmhemmm." Arini terus meronta.
Alan melakukannya lagi, mendekatkan bibirnya lalu menciumnya padahal hanya sentuhan tipis.
"Ihhh, ihhh..., apa-apaan sih kamu?."
__ADS_1
"Kamu, empuk di bagian itu!." Alan menggoda lagi dan berlari menuju kamarnya sambil menyimpulkan senyum lebar sedangkan Arini wajahnya sudah memerah, otak Arini sudah kemana-mana. Arini tak bisa berbuat apa-apa. Dengan kesal Arini kembali ke kamar itu, di cari barang-barangnya ternyata ada dikamar itu, semuanya lengkap.
Sebelum itu Arini harus menetralkan degub jantungnya yang seakan mau memecahkan rongga dadanya, rona muka memerah harus di basuh dengan air di wastafel agar kembali normal sehingga otaknya pun mulai bekerja untuk melakukan sesuatu.