
Setelah Arini mengurus Ririn ke ruangan kesehatan, keadaan Ririn masih belum stabil. Arini terpaksa harus pergi tak bisa berlama-lama lagi karena teringat olehnya bahwa Rendra masih menunggu dirinya di kafe depan.
"Hai kak, eh Ren! Sorry lama ya! Arini jadi ga enakan!," ungkap Arini saat menemui Rendra yang asyik dengan ponselnya, dan terlihat sudah 2 gelas air putih di habiskan olehnya dan gelas yang ketiga yang masih tersaji adalah secangkir kopi americano.
"Oh ga apa-apa tapi lumayanlah!"
"Maafkan aku ya, Rend! Soalnya tadi ada teman yang pingsan di toilet, habis itu ke ruang dekan ambil ini!." Arini menunjukan paspornya yang telah jadi. Rendra mengambil dari tangan Arini paspor itu, di perhatikan dengan teliti.
"Kok ada visa Italia juga Ar! Kamu berencana pergi lama?." Rendra menjadi agak patah semangat.
"Oh.. Ya!"
"Kenapa ga kasihtau aku dari awal, Ar?"
Arini bingung cara menjawabnya. Baru sebentar mereka bersama, Arini sudah mau pergi lagi. Pupuslah sudah harapan Rendra untuk membuat Arini jatuh hati padanya. Padahal Rendra sudah berencana mengajak orang tuanya mengunjungi keluarga Ibu Yanti untuk bersihlahturami dan rencana itu kandas seketika saat mendengar jawaban Arini.
"Maafkan Arini!," sambil di tatap wajah Rendra yang sangat terlihat jelas tak bersinar lagi tergurat kesedihan. Arini melihat itu tak tega, diraih tangan Rendra mencoba menenangkannya dan perlahan menjelaskan pada Rendra.
"Ren, Aku kesana untuk mewujudkan impian ku, dan kamu tahu itu kan!"
Mereka saling bersitatap, Rendra tak sanggup membayangkan harus berpisah dari Arini dengan waktu yang lama.
"Aku kesana juga adalah bagian dari syarat kelulusan aku kelak, palingan 3 bulanan aku sudah balik kok!"
"3 bulan? Itu lama loh, Ar!"
"Tapi kita masih bisa teleponan atau pun video call kan! Padahal sebelumnya kan kita pernah saling terpisah 10 tahun lamanya, itu pun tak ada kabar, kita masih baik-baik saja kan!"
"Kali ini beda Ar! 10 tahun tanpa kabarmu itupun aku hampir putus asa!"
"Rendra, sudahlah ga usah bersedih! Aku hanya mau minta tolong, untuk jagain Ibu sama Tara, bolehkan?." Rendra membalasnya dengan anggukan kepala.
"Lalu kapan kamu berangkat, Ar?"
"Paling cepat minggu depan, soalnya lusa ada acara pembekalan dulu di kampus, sebelum mahasiswa/wi di lepaskan untuk magang!"
"Apa? Secepat itu, wah... Ar! Berarti seminggu ini, kamu harus quality time bareng aku dong! Aku ingin kamu pergi di temanin memori tentang kita!"
__ADS_1
"Hehehe, Rendra, Rendra...! Baiklah kalau itu mau kamu"
"Oleh karena itu, sekarang kita makan dulu! Laper loh, sedari tadi hanya ngobrol doang!," lanjut Arini.
Genggaman tangan yang awalnya di mulai Arini kini berbalik, Rendra yang menggenggam erat, bahkan di cium punggung tangan itu. Seketika Arini terenyuh akan sikap Rendra, dan menjadi salah tingkah. Arini mulai tersadar kalau Rendra ternyata mulai menyukainya.
...*********...
"Tuan muda! Sepertinya rencana anda untuk membuat nona Ririn kena mental dan kapok, kayaknya berhasil!"
"Buktinya apa?"
"Sekitar siang tadi, Ririn kedapatan pingsan di toilet dan sepertinya sudah tak berdaya!"
"Oh.. Ya! Aku perlu fotonya untuk memastikan kalau wanita itu tak berani mengintimidasi Arini di kampus lagi!"
"Baik tuan! Urusan itu biar aku saja yang bereskan."
"Bagus, kamu boleh pergi! Ingat konsekuensinya kalau hal ini sampai bocor, elu yang gue buat lenyap di muka bumi ini!"
"Siap boss!." Laporan singkat salah satu anak buah Alan.
"Tunggu bentar! Aku mau nanya anak-anak, apa sudah beres?"
"Kita nyusul aja mereka, Lan! Daripada kita nunggu tanpa ada kejelasan"
"Baiklah"
Sampai mereka untuk menemui teman-temannya, ternyata bertiga lagi ngobrol tepat di depan ruangan dekan.
"Hai bro! gimana? bereskan?," hadang Alan
"Udah, balik yuk!," ajak Bento
"Loh,.. elu belum balik dari tadi Lan? gue pikir kalian sudah pergi pacaran, soalnya bentar lagi ga ada waktu untuk berdua-duaan kan!," sambung Bli Agung sembari senyum-senyum tipis memberi kode untuk pasangan kekasih itu memadu kasih.
"Ya.. Lan! kita paham kok!." Roni ikut nimbrung
__ADS_1
"Anjir lu! bukannya terima kasih malah ngeledekin gue! mau gue pecat, agar elu ga jadi magang di perusahan gue!"
"Yah.. ga gitu juga kan! Nagita, elu ga takut Alan selingkuh soalnya di AEG banyak artis dan model yang cantik-cantik loh untuk brand perusahan mereka!." Rony malah semakin berani ngeledek, Nagita dibawa-bawa juga. Alan seketika melototin Rony.
"Mulut elu gue lakban, Ron! tapi sebelumnya gue jahit dulu!." Alan mengancam
"Sudah,.. sudah ga usah berdebat! elu sama aja Ron, siapa sih ga tahu otak mesum elu, karena banyak artis dan model di sana makanya elu mau ikut Alan kan?," sambung Bento.
"Bli, gimana? elu jadi ke Bali magangnya?"
"Hemm... soalnya nyokap mau kesini anterin adik perempuan gue pindah sekolah. Pastinya di Bali ga ada yang handle!"
"Ok-lah, karena kita nanti akan berpisah untuk sementara waktu, jangan lupa komunikasi itu penting. Apabila di antara kita ada masalah jangan lupa di kabarin ya!," ungkap Alan menyela pembicaraan.
"Lalu gimana? malam ini kita nongkrong di tempat biasa!." Bento menimpali.
Nagita langsung memberi kode pada Alan kalau malam ini mereka ada temu janji untuk dinner.
"Sorry, bro! besok malam aja, malam ini gue ada janji deh!," sambung Alan.
"Bagaimana teman-teman?"
"Besok malam aja! Gue juga ada kesibukan dikit." Bli Agung juga memberi alasan.
"Sepakat ya! mari kita bubar deh! balik dan istirahat, bye!." Ronny tak pake lama pergi meninggalkan mereka dan diikuti Bento dan Bli Agung.
"Sorry, Lan!," lanjut Ronny. Alan hanya menganggukan kepala.
Bento belum seberapa jauh pergi, terlihat balik lagi dan menarik Alan dengan tiba-tiba agak menjauh dari Nagita.
"Sorry Nagita, gue pinjam Alan bentar!." Nagita membalas dengan senyum.
"Ada apa lagi sih Ben?"
"Tadi gue sempat kenalan sama pacarnya Arini. Cewe-cewe di kampus ini pada histeris loh ketika pria itu masuk kesini!." Bento berbisik.
"Apa maksud elu?"
__ADS_1
"Ya ini maksud gue, bergosip! gue sebagai pria aja melting, Arini yang alim dan lugu menurut elu itu, ternyata pintar loh nyari pasangan!." Bento seakan sengaja menyulut emosi. Padahal ini salah satu umpan Bento melihat reaksi Alan, tapi sayang karena Sang Playboy pandai menata perasaannya makanya apa yang di harapkan Bento nihil. Alan melakukan hal demikian karena Nagita berada di dekatnya, tentunya harus bertindak hati-hati. Walaupun sebenarnya dalam dadanya seakan sudah terbakar, panas.
"Gue pamit! semoga elu baik-baik saja ya, Lan!" Bento berlari kecil meninggalkan Alan, takut ditabok oleh tuan muda yang tempramen itu.