
Disudut sebuah club terdapat sebuah minibar, Alan bersama teman-teman segengnya lagi nongkrong yaitu Bento, Rony, dan Agung yang kebetulan berasal dari Bali keluarga mereka adalah keturunan darah biru dan memiliki perusahan besar di Indonesia begitu juga kedua temannya Bento dan Rony merupakan keluarga tajir alias Sultan. Tak heran ada beberapa gadis yang ikut nimbrung untuk di belai. Dan itulah kebiasaan anak-anak orang kaya. Jika sedang di club malam, minuman dan wanita adalah hiburan mereka. Hanya Alan malam ini tanpa gandengan wanita. "Lan, gimana gebetan loh?," tanya bento.
Jawabnya, "Bosan ah..., gua mau cari cewe yang beda aja! Tapi wanita di dunia ini sama aja kali! Dimana-mana hanya mau di belanjaan mulu, ke mall, barang-barang branded, apalah!! Aku ga ngerti!."
"Kelihatan elu sudah menyerah dengan petualangan cintamu, Lan!," sambung Roni nyinyir.
"Lalu Silvi kurang apaan, Nadia apalagi dan Si Ratna..dan yang lainnya, Wah sekalian di bangunin museum, Lan!"
"Atau mereka servicenya kurang kali di ranjang." Bento menimpali sambil sedikit melirik ke arah Alan tapi Alan hanya duduk termenung mendengar perkataan teman-temannya tanpa reaksi apapun.
"Lan, elu mau yang beda kan, coba aja elu gombalin Arini cewe lugu dan alim itu, siapa tahu elu jadi ikutan berubah jadi cowo yang kepaksa alim dan lugu hahahaha......!," ucap Bento dibikuti gelak tawa teman-temannya.
"Lan, gua ga bisa bayangin kalau elu jadi cowo alim lugu apa sih istilahnya cool man." Rony ikut mengomentari sambil nahan geli.
"Lan,..Di Fakultas Teknik, kebetulan ada cewe cuaaantik banget! Nagita namanya, kayaknya cocok buat elu Lan, besok di kenalin deh, kalau elu mau?," ungkap Bento.
“Ngga salah nih Bento, elu nawarin buaya daging pastilah di makan juga walaupun perutnya udah kenyang!,” ngeledek Roni.
Alan hanya sumringah tak membalas ejekan teman-temannya, ada goresan senyum di bibirnya seakan di otaknya sudah merancangkan sesuatu taktik atau jurus mematikan untuk menaklukan hati para gadis.
"Ok, Besok gua mau kenal cewe itu, siapa namanya Nagita," lirih Alan sambil menarik napas.
"Kita lihat saja besok apa yg terjadi?." Sambil senyum tipis Alan menengak minuman keras yang sedari tadi sudah ada di tangannya yang belum sempat di minum olehnya.
Malam itupun di akhiri Alan dan teman-temannya dengan mabuk- mabukan seperti biasanya.
...****************...
Alan masih di Fakultasnya (Manajemen dan Bisnis), Alan memang playboy dan nakal tapi soal pendidikan jadi nomor 1, hanya mata kuliah pak Abas yang sering mengulang sudah kedua kalinya bukan karena nilainya tak mencukupi melainkan karena selalu mencari masalah dengan dosen killer itu. Setelah selesai Alan keluar ruangan mendapati teman-temannya yang sedari tadi sudah menunggu. "Kita nongkrong yuk! Setelah ini tak ada kuliah lagi," ajak alan.
Tiba-tiba hp-nya berdering di lihat pada layar nama Silvi yang muncul, memang sih dari sekian gadis yang jadi gebetamnya Silvi yang paling agresif, selalu dekatin dan nyosor duluan.
"Halo, Silvi! Kenapa? gua ga bisa sore ini ada janjiaan sama Bento dan Roni ngerjain tugas, sorry yah!," nada Alan yang sedikit kesal dan membohongi Silvi langsung aja saluran telepon itu ditutup.
"Lan, kenapa lagi si Silvi?," tanya Roni.
"Biasa!," jawab Alan singkat.
__ADS_1
"Biasa apaan sih!, Urusan ranjanglah, katamu Silvi paling hebat!." Roni menimpali sambil mengaruk kepalanya.
Di tabok kepala Roni, "Di otak elu hanya ada kata **** yah!."
"Kamu pikir dengan segudang cewe yang gua pacarin semuanya gua tidurin, gila! Gua ga mau kena penyakit mematikan tahu. Ya gua lihat-lihatlah cewe mana yang pantas. Ada cewe yang di luarnya cantik tapi dalamnya tidak ke urus. Mana gua mau tidurin, cium aja gua ogah! Ciehh jijik!!!," jelas Alan panjang lebar kepada Roni.
"Betul, betul, betul,...!." Bento ikut membenarkan.
"Ben, kamu kayak upin-ipin betul..betul...betul!." Candaan Alan mencairkan suasana.
"Wah si playboy ternyata gemar kartun juga ya! Upin & Ipin di singgung juga, dasar bocah lu lan!." Goda bento membuat Alan mendelikkan matanya seakan mau menerkamnya.
Mereka menghampiri halaman parkiran, terlihat Arini juga pulang bersama kendaraannya, sepeda motor matic kuning yang jadi ciri khasnya. Alan menghadang Arini.
"Stop! Cewe alim, mau kemana?." Alan menghentikan Arini.
Dengan kaget Arini menarik remnya dengan sekuat tenaga, beruntung masih di area parkir. Arini berusaha menarik kameja Alan tapi tak kesampean.
"Kamu, Jahil banget sih! Untung aja aku tidak jatuh,' geram Arini.
"Kan tinggal ku gendong, dan ku bawa pulang!," canda Alan.
"Denda!! Mau bayar berapa? Aku bayarin kamu?." Enteng Alan menjawab.
“Ngomong sama kamu, semuanya pasti dihargain sama duit ya!," lirih Arini kesal.
Tiba-tiba Nagita lewat, teman-temannya sudah memberi kode pada Alan bahwa itu adalah Nagita.
"Ar, Kamu jalan gih gadis lugu, Hati-hati dijalan!." Alan menyuruh Arini pergi.
"Dasar playboy lihat cewe mulus dan cantik sedikit aja langsung meleleh liurnya," umpat Arini dengan lirihan kecil di bibirnya. Alan menghampiri Nagita yang mendekati mobilnya,
"Hai Nona!...!," sapa Alan dengan gaya maskulinnya.
"Hai juga...!." balas Nagita lembut.
Tak sampai beberapa menit mereka sudah mengobrol lumayan akrab. Awalnya canggung kini sudah membaur ada tawa kecil dan senyuman manis dari Nagita ketika Alan sedikt memberi candaan ringan. Itulah kelebihan Alan, para gadis akan cepat takluk dengan buaian bahkan hanya obrolan biasa. Pesona Alan memang sangat melekat di hati para gadis jika sudah bercerita atau pun bersitatap dengannya. Tak membutuhkan waktu lama Alan sudah mengantongi nomor handphone bahkan sampai akun media sosialnya. Dalam batinnya berkata "Cewe ini lumayan juga, Cantik!."
__ADS_1
Beberapa minggu pun telah lewat, Alan dan Nagita sudah pacaran, sering ketemuan, nonton bioskop setiap malam minggu, aktivitas layaknya orang pacaran di jalanin bersama Nagita. Sehingga Alan pun tak ada waktu lagi untuk menjahilin Arini ketika bertemu.
Tapi siang ini, di sudut kantin ada Arini yang lagi kerjain tugas, di atas meja ada laptop dan beberapa buku. Alan datang menghamprinya dan mengagetkannya,
"Hai, gadis lugu dan alim! Ngapain? Sibuk yah!." Sambil Alan menarik kursi di sebelahnya dan ikut memandangi laptopnya. Karena tidak ada reaksi apapun dari Arini. Seperti di cuekin dan dalam hati Alan berkata "Apakah gadis ini sedang marah?."
"Ar, Arini Anggriani Cipta! Maukah kamu jadi pacar aku?."
Tiba-tiba kata itu keluar begitu saja dari mulut Alan sebenarnya sih candaan hanya menarik perhatian Arini tapi karena situasinya serius, malah candaannya jadi kaku. Dan justru membuatnya menjadi canggung, dan berbeda sepertinya adrenalinnya bekerja dalam tubuhnya membuatnya berusaha menahan napas sebentar berlahan menghembuskannya. “Huuh...!.”
Arini kaget, tapi dalam hatinya berusaha menormalkan perasaan dan mengendalikan diri supaya terlihat normal dan biasa saja.
Tanpa berpikir panjang Arini langsung menjawab, "Boleh juga jadi pacar kamu!," jawab Arini tenang dengan sikap yang biasa aja. Karena dalam hatinya berkata,
"Mungkin dia mau jadikan salah satu koleksinya apalagi di anggapnya, aku gadis lugu dan alim yang mudah di taklukan, lihat aja!.”
"Kamu mau Ar? Wah tidak ku sangka bahwa kamu juga mengincar diriku ya!," tanggap Alan
"Mungkin... !!," jawab Arini enteng.
"Berarti hari ini, kita pacaran! Wah secepat ini yah! Aku pikir kamu gadis lugu dan alim yg susah di dekatin!," ucap Alan sumringah dan masih merasa canggung.
Tapi dalam batin Arini tertawa mengejek "Kamu pikir aku gadis murahan gitu, aku hanya ingin membalas dendam atas kejahilan kamu selama ini, dan aku tahu awalnya kamu hanya becanda minta pacaran. Heheh!." Sambil tersenyum tipis Arini menatap wajah Alan yang kelihatan girang.
Dengan cepat di raihnya tangan Arini tapi langsung di hempas oleh Arini, "Mau ngapain?." Sergap Arini.
"Mau pegang tangan pacar aku, biar ku cium dan ku elus!," jawab Alan berusaha romantis dengan wajah penuh kemenangan. Ternyata gadis model Arini juga mengincar dirinya.
Dengan tegas Arini menjelaskan, "Aku boleh jadi pacar kamu tapi ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi. Pertama, selama pacaran tak sejengkal pun kamu memegang atau menyentuh bagian dari tubuh aku seujung kuku pun tidak. Kedua, jika mau saling menghubungi lewat handphone harus aku yang memulai duluan”, Sambil di tunjukan layar hpnya bahwa nomor kontak Alan di blokir dan hanya dia yang bisa menghubungi "Dan ketiga, jangan mencampuri urusan masing-masing. Aku tak pernah mau tahu urusan sama pacar-pacarmu yang lain diluar sana. Semua terserah dan begitu juga sebaliknya dan juga tidak perlu kamu umbar-umbar ke teman-teman kamu atau siapapun mengenai kita, Ok!," jelas Arini panjang lebar.
“Mendingan, ga usah pacaran terlalu banyak syaratnya! Aku lebih suka menggoda kamu dari pada pacaran seperti gaya kamu itu!.”
Alan mengernyitkan dahinya, menatap wajah Arini penuh kecurigaan.
"Kamu menjebak aku yah?," tanya Alan. Dengan memperhatikan gerak-gerak Arini memastikan gadis ini tidak sedang becanda atau merancangkan hal buruk untuk mempersulitnya. Karena penguasaan diri Arini yang kuat, dengan tenang tanpa keraguan membalas "Awalnya bukannya kamu yang mau menjebak aku!, Kalau kamu tidak menyetujuinya ya sudah tidak usah pacaran!," ungkap Arini pura-pura menyerah dan tak peduli.
"Ok, deh! Aku setuju syaratnya! Mulai hari ini kita pacaran!." Alan kembali sumringah. Tapi batin Arini tertawa terbahak bahak, "Kamu boleh jadi buaya untuk gadis- gadis di luar sana, tapi sekarang aku yang akan jadi macan- nya hahahaha!."
__ADS_1
Arini ikut tersenyum dan saling beradu pandang, masing-masing mereka memyiratkan senyuman yang sungguh misterius.
Setelah Alan pacaran dengan Arini, dia dipusingkan lagi dengan Silvi. Padahal Alan sudah memutuskan hubungannya dengannya.