Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 51


__ADS_3

Tak berapa lama, Ronny pun muncul dihadapan mereka. Alan agak dongkol akan kelakuan temannya itu. Padahal ini pertemuan bisnis pertama mereka ketika terjun di dunia kerja. Untungnya Alan ditemani juga oleh beberapa staff serta Manajer Pemasaran, Manager Accounting dan Ahli Hukum perusahan sehingga sangat membantu dirinya dalam proses pertemuan itu.


"Ron, please bro! Ini pertemuan penting, kenapa pake acara telat sih?"


"So Sorry, sorry!! Aku sangat salah, seharusnya ini tidak terjadi, alasanku memang tak masuk akal untuk saat ini, makanya aku sangat menyesal Lan!"


"Disiplin waktu penting bro! Gue ingatkan kalau mau menjadi pengusaha harus on time supaya partner kita ga nyesal bergabung dalam perusahan kita. Apalagi ada project milyaran rupiah didalamnya, bisa-bisa kita guling tikar! bila perlu kita harus menyuguhkan yang terbaik"


"Siap Tuan! Terima kasih sudah mengingatkan, ini pertama dan terakhir, I promise!"


Kedua sahabat ini akhirnya kembali akur, dan suasana hati Alan mulai tenang tak lagi gelisah dan amarah yang sedari tadi ditahannya sudah redam. Untungnya dirinya mampu mengontrol kemarahan itu kali ini.


Pertemuan bisnis tidak sampai disitu saja, adapun dilanjutkan dengan jamuan makan malam. Yacht tersebut akhirnya berlayar mengarungi lautan.


"Hai cantik..!" Raiyan Casildo mencoba mendekati Arini yang tampak agak gelisah karena kepalanya tiba-tiba saja pusing dan agak mual alias mabuk laut, padahal Arini sedang menikmati beberapa hidangan makan malam yang sangat menggoda selera makannya. Tapi seketika selera itu surut karena kondisi yang dirasakannya. Raiyan Casildo disebelahnya yang memperhatikan Arini dengan berpura-pura mendekati Arini dengan tujuan menggodanya.


"Hai...!" balas Arini agak ketus.


"Are you Ok, Sweety!" Raiyan menyapa lagi karena melihat Arini mulai oleng, Raiyan berusaha mendekati Arini dengan sedikit menyentuh pundak agar Arini tidak jatuh, refleks Arini langsung menengok ke arah Raiyan Casildo yang sudah berani menyentuhnya tanpa segan, dengan tidak bersuara Arini menatap sinis seakan membuat jarak dan benteng perlindungan agar Raiyan melepaskan tangannya.


"Sorry nona, Aku hanya berniat menolong!" Raiyan mengerti akan tatapan Arini sehingga membuat pembelaan. Arini masih terdiam karena menahan mual. Melihat kejadian Arini yang sedang didekati oleh Tuan Raiyan Casildo, tentunya Alan tidak tinggal diam, langsung saja menghampiri Arini dengan tidak tahu kejadian sebenarnya. Alan tahu bahwa partner bisnisnya ini adalah saingannya dalam dunia para wanita, sehingga membuatnya tak bisa melepaskan pandangannya dari Arini.


"Tuan Raiyan Casildo! Saya punya Chateau Lafite (Wine termahal kira-kira seharga 2,1 milyar dari Perancis) come on brother, kita bisa menikmatinya bersama-sama" Alan langsung menengahi dengan gayanya.


"Thank You, just a minute Tuan Alan, nona Arini sepertinya sedang mengalami mabuk laut, mari saya bantu nona!" Raiyan membalas ajakan Alan tapi langsung mengalihkan perhatiannya ke Arini.


"Don't worry Tuan Casildo! biar saya saja yang mengurus nona Arini, silakan Tuan ke situ! pelayan saya akan menyuguhkan wine-nya" Alan tak mau terima karena melihat Raiyan sudah berani menyentuh Arini untuk memapahnya, sehingga langsung menarik Arini dari tangan Raiyan.


Arinit tetap diam, malah dalam hatinya menjadi kesal akan tingkah laku kedua pria dihadapannya itu. Arini tak berani bicara karena rasa mual itu semakin menyeruak isi perutnya hingga mendekati rongga mulutnya. Arini berusaha menahan karena takut semua yang telah dilahapnya pasti akan keluar menjadi muntahan.

__ADS_1


"Hhmmmm.... (menarik napas panjang), Lepaskan tanganku! leave me alone, please!" ucap Arini dengan agak marah ke arah Alan tentunya yang membuat dirinya menjadi tak nyaman dengan membawanya menaiki Yacht tersebut.


"Hhhuuuuuuooooooo.....!" Arini seketika tanpa disadarinya langsung mengeluarkan isi perutnya ke arah dua pria tersebut yang berdiri tak berjauhan dari dirinya. Apakah yang terjadi? Pastinya kedua pria itu menjadi sasaran empuk Arini mengeluarkan muntahannya yang sudah tak pake permisi, karena ini bukan disengaja tapi memang gejala alami yang dialami oleh orang sedang mabuk laut.


"OMG, what the fu**?" spontanitas Raiyan bersuara karena tak sempat menghindar dan pastinya hampir semua muntahan memgenai dirinya, sedangkan Alan sempat menghindar sehingga hanya cipratan kecil mengenai setelan jasnya.


"Arini..!!! apa yang kamu lakukan?" Alan juga ikutan jengkel, nada suara meninggi karena tamu pentingnya juga kena kotoran muntahan itu.


"Hhuuuuoooooo" Arini masih mengalami mual, dengan cepat Arini berlari ke arah buritan kapal agar dapat menyelesaikan mual yang dialaminya. Dengan kejadian itu Alan langsung mengomandokan anak buahnya dan pelayannya untuk mengurus tuan Casildo.


"Rai, apa yang terjadi?" tanya Roxit Khana rekan kerjanya sekalian saudara sepupunya itu, sambil memperhatikan keadaan sekeliling untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya, walau Roxit sudah menahan hidung agar tidak mencium bau tidak sedap yang melekat di baju Raiyan. Wanita yang semula bersama mendampingi Raiyan turut menghampiri tapi karena dirinya tak mampu menahan bau berlari dan pergi menghindar dari Raiyan.


"Anjir, take off my setelan, hurry!" perintah Raiyan pada Roxit.


"So, kamu banyak tingkah sih!" Roxit menggoda Raiyan tapi dibalas tatapan tajam.


"Maaf, tuan Casildo! mari ikut saya, supaya tuan bisa menggantikan pakaian kotor itu!" Alan menengahi karena melihat Raiyan sudah marah. Alan dibantu pelayannya mengantar Tuan Casildo ke kamar untuk mengganti pakaian bahkan bila perlu sekalian mandi.


"He.. wanita kampungan! elu sadar ga sih kelakuan elo itu merusak reputasi Alan Ferdian dan bisnisnya" sergap Ronny yang sudah berada dibelakang Arini.


Arini menengok ke belakang ke arah suara yang mencerca dirinya. Arini awalnya tak bergairah membalas omongan sahabat Alan itu, karena kondisinya menjadi lemah.


"He.. elu dengar ga sih apa yang gua katakan barusan! heran gue dimana-mana selalu aja ada elu pasti akan sial kan! seharusnya tempatmu bukan disini!"


"Hei.. Ronny anak orang kaya, siapa juga yang mau ada disini? tanya sama tuan muda mu itu, gue juga ga sudi berada disekitar kalian. Kalian orang kaya selalu merendahkan derajat orang kecil, menghina seenaknya! gue benci tahu ga!" Arini berani menantang, karena Ronny memang keterlaluan.


"Sebaiknya kamu menghilang sekarang, daripada gue suruh bodyguard membuang dirimu ke tengah laut!" ancam Ronny yang kesal akan pernyataaan Arini barusan.


"Ga perlu, gue bisa pergi sendiri dari sini!!"

__ADS_1


"Sana, kalau kamu mampu menerjang lautan ini, palingan besok menjadi Headline News di semua media"


Arini pergi dengan melirik sinis ke arah Ronny. Benar juga, Arini bingung bagaimana caranya menggapai daratan?


Ronny kembali ke keadaan Alan, untuk mencari tahu keadaan partner bisnis mereka, apakah kejadian barusan bisa mempengaruhi kerja sama bisnis mereka.


Alan memang sudah tak ingat lagi keadaan Arini, karena kuatir dan dalam otaknya hanya pekerjaan untuk saat ini dan sangat mengharapkan Tuan Casildo bijak.


"Lan, gimana? Tuan Casildo aman kan?" tanya Ronny


"Moga-moga aja, Tuan Casildo menjadi tenang setelah ini. Oh ya.. elu lihat Arini kemana?"


"Mungkin ke kamar! tapi pastinya gue ga tahu"


jawab Ronny masa bodoh.


"Emang dasar sial aja wanita itu! bukannya meminta maaf malah menghilang!" sinis Ronny lagi, membuat Alan menoleh ke arahnya karena kata-katanya itu membuatnya sangat terganggu.


"Maksud gue, ga sial bagaimana? tadi gue telat itu aja karena pacarnya yang polisi itu, sekarang wanitanya membuat bisnis kita menjadi bermasalah, apa ga sepaket mereka?"


"Ron? what do you mean?"


"Yap.. perjalanan gue kemari terhambat karena polisi itu menilang mobil gue katanya gue import mobil bodong dengan jalur ilegal"


"Oh.. ya! lalu diapakan mobil elu?"


"Ditahanlah! tapi karena gue pikir ada bisnis penting, gue tinggalkan aja mobil itu dan abang gue yang selanjutnya mengurusnya, kan memang mobil itu atas nama dia!"


Alan tak lagi menanggapi pembicaraan Ronny, kacau otaknya harus memikirkan perkara yang ga penting, karena Alan harus mencari ide untuk mengembalikan mood Tuan Casildo sehingga semuanya bisa dikatakan aman untuk urusan bisnisnya.

__ADS_1


Akhirnya Raiyan sudah bersih, tampak bersinar dan tampan. Alan memperhatikan bahwa Tuan Raiyan ternyata tidak mempermasalahkan kejadian memalukan tadi dengan urusan bisnis mereka. Dan itu membuat Alan legah, dan pertemuan bisnis itu berakhir dengan baik sampai Yacth itu kembali bersandar ke dermaga. Semua kondisi dapat diatasi, dan Alan berpikir Arini masih bersamanya di Yacht itu, sehingga membuatnya santai sampai hari mulai masuk dini hari.


Flash back off.


__ADS_2