Sang Playboy Mencari Cinta

Sang Playboy Mencari Cinta
Bab 6


__ADS_3

“selamat pagi tuan muda!!” sapa mak siti


“pagi mak siti! Ayah kemana?”


“tuan besar tugas ke singapura, kemarin sore perginya!”


“ Nyonya, sepertinya belum kembali sampai tiga bulan kedepan, katanya tuan muda kecil mau sekolah di Perancis!”


“ibu kok sampai segitunya sama si Hendra, kalau dimanjain terus itu anak mana bisa dia mandiri” gerutu Alan. Karena melihat orang tuanya sepertinya banyak mencurahkan perhatian mereka kepada adiknya saja.


“mak siti ga tahu tuan muda! Sebaiknya tuan nikmati sarapannya nanti keburu dingin!”


“terima kasih mak siti!”


Mak siti pergi meninggalkan Alan, hanya ditemani seorang pelayan yang berdiri stand by diruang makan itu. Alan segera mengambil hp dihubungi kembali Nagita, sebab sedari malam dihubungi tak pernah aktif. Di dial nomor milik Nagita, ternyata jawaban masih sama dari pihak telkomsel bahwa nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkuan, segera dimatikan panggilannya.


“nih...Nagita kemana sih? Susah amat dihubungi!” gerutu Alan sambil dilanjutkan sarapannya. Hari ini Alan harus kekampus menemui dosen killer itu yaitu Pak Abas untuk mempertanggung-jawabkan proposal itu.


Arini sudah menunggu Alan dikampus kurang lebih 30 menit, tapi tak kunjung juga nongol batang hidungnya, Arini terlihat cemas.


“kemana sih Alan? Apa dia lupa hari ini mau ketemu pak Abas?”, Arini bergumam sendiri.


Arini sedari pagi sudah menunggu Alan di parkiran mobil tempat biasa Alan memparkirkan mobilnya. Tak lama kemudian sahabat-sahabat Alan muncul, Arini berpikir pasti Si Alan bareng mereka, tapi apa mau dikata harapannya nihil.


“Arini....!!! nungguin tuan muda Alan ya?”, sapa Bento yang hanya terlihat akbrab dengan Arini.


“ya...tugas sama Pak Abas belum kelar ni anak pake ngilang segala bisa runyam urusannya entar!”, ungkap Arini menahan rasa kesalnya dihadapan sahabat-sahabatnya itu.


“aduh...! agak telat tu tuan muda, soalnya tu playboy menghabiskan malam panasnya bersama kekasihnya mungkin habis 5 ronde kali!”, Bento menimpali sambil tersenyum tipis, sedangkan Rony dan Agung turut menyunggingkan senyum seakan meremehkan Arini dengan tatapan tajam. Sehingga dalam hati Arini bergumam “Songong nih teman-temannya Alan!”


“elu Si gadis alim itu? Siapa namanya Bento?”,Rony berucap dengan gayanya macho seakan tidak menyukai Arini, tapi Arini bersikap biasa aja.


“ Arini, kenapa sih bro?” jawab Bento sambil menatap penuh selidik pada Rony


“ga level deh! Cewek kampungan! Kok mau sih Alan nempelin elo terus...”, sindir Rony


“apaan sih? Hati-hati kalau elo ngomong, jangan elo pikir gua takut! Mulut lu lemes banget deh! Kayaknya perlu disekolahin”,


“wajah emang tampan, tajir mah bokap lu, gua cewe kampungan aja ilfeel sama elo!”, balas Arini panjang lebar telak pukul mental Rony.

__ADS_1


“elu...berani banget! Gampang bagi gua untuk mengusir elu dari kampus ini” ancam Rony karena merasa direndahkan harga dirinya.


“udahlah..bro!!! kita pergi aja!!” Bento berusaha menenangkan Rony yang sudah tersulut emosi.


“sorry Arini!” ucap Bento lagi.


“Ron, kenapa sih elu? Kesurupan ya?, cewe kayak gitu elu urusin, cabut yuk!”,sambung Agung


“apa sih maksud kalian? Cewek kayak gitu?, ngesilin banget!!”


“sudahlah, Ron...Gung.. please deh!! Jangan saling sulut dan nyindir, kita cabut yuk!”, sambil Bento menjorokan sahabat-sahabatnya untuk segera pergi dari situ, karena sepertinya brother berdua ini tidak menyukai Arini.


“Ar...sekali lagi sorry!!” ucap Bento sambil pergi bersama sahabat-sahabatnya itu.


Arini yang semula kesal terhadap Alan, sekarang lengkap sudah emosinya terhadap sahabat-sahabatnya itu. Setelah kejadian itu Arini pun memutuskan untuk segera pergi, karena kurang dari 15menit lagi kuliah jam pertama segera dimulai.


Arini memutuskan setelah kuliah jam pertama, dia yang akan menemui Pak Abas sendirian, Arini tak peduli akan nasib Alan kedepannya


“masa bodoh ah!!! Kayaknya aku terlalu memaksakan diri untuk terlalu baik pada dirinya”,Arini berkata pada dirinya sendiri.


...****************...


Setelah Pak Abas membaca dan menelaah secara seksama proposal rencana camping rohani itu akhirnya, Pak Abas menyetujuinya. Mendapat persetujuan dosen killer itu ternyata Arini berjuang mati-matian seperti akan mau di sidang ujian skripsi. Untungnya semua dapat dijawab dengan bijak dan kalkulasinya tepat dan masuk akal sehingga Pak Abas akhirnya dengan bijak juga memutuskan untuk menyetujuinya.


Muncullah Alan dihadapannya, ketika Arini telah keluar dari ruangan Pak Abas dengan tergesa-gesa, seketika emosi yang ditahan sejak pagi kembali kepermukaan, apalagi diingatnya ketika dia membela abisan-abisan Alan didepan Pak Abas, sehingga membuat dirinya sendiri tampak tolol.


“Ar...Sorry! gimana Pak Abas menyetjuinya?”


Arini hanya berjalan masa bodoh tak mau mendengar, karena emosi dan amarahnya masih membakar isi dadanya.


“Ar...kenapa sih? Aku sedang ngomong loh? Bisa ga berhenti bentar!”


Arini sudah tak tahan lagi menahaan emosinya itu, tak sabar untuk menghabisi pria yang ada dihadapannya dengan sebuah tonjokan, berusaha untuk diam untuk menghindar pun percuma, Alan terus saja membanjarinya dengan pertanyaan –pertanyaan yang membuatnya tambah marah, kesal dan emosi semuanya menjadi sepaket.


“apa sih peduli elo? Apa elo pernah serius, elo selalu menganggap enteng semua masalah dengan duit elo!”


“Ar...kamu kok kasar banget! Ga biasanya kayak gini”


Alan merasa jawaban Arini kasar karena menggunakan kata “elo dan gue” dalam percakapan mereka, Alan merasa seketika menjadi asing.

__ADS_1


“oh...ya!!! bukan ga biasanya tapi sudah terbiasa”,


“aku udah bilang ini penting, kamu malah sibuk urusin pacaran”,lanjut Arini dengan suara agak keras.


“sorry Arini, ada hal urgent yang harus aku selesaikan dari pagi sampai saat ini”


“perempuan kan? Apa kamu tidak membedakan mana yang lebih penting sih?”


“I know,..Ar! i say Sorry...!!!”


“emang dengan sorry dapat menyelesaikan masalah, jika bisa dari awal aku masa bodoh aja dengan tugas ini”


“lalu aku harus gimana sekarang ?”


“urusi Nagita-mu itu atau terserah kamu aja!!”


“Ar...kamu cemburu!!!”


“what....?? aku cemburu!!!” langkah Arini terhenti sejenak, dan mendekati Alan sambil melototinya.


“perhatikan baik-baik wajah ku, apa ada cemburu disini!!”


“yang ada malah Ke-ben-ci-an, dan Ke-ma-ra-han....!!!,” lanjut Arini sambil mengejanya perlahan.


Alan malah menanggapi dengan santai, dan menampilkan senyum dibibirnya dalam benaknya “ kamu terlihat menggemaskan Ar ketika marah”


“kenapa kamu senyam-senyum, aku lagi marah loh!!”


“oh...yach!!! Aku suka kalau kamu marah Ar” bisik Alan ditelinganya


Seketika jantung Arini berdetak kencang, dirinya mulai salah tingkah kata-kata yang hendak diucapkankan pun seketika juga hilang alias blank,cara menghindar yang baik agar Alan tak membaca sikapnya itu, Arini beranjak pergi melangkah cepat atau berlari kecil.


“Ar....tungguin !!! aku belum selesai ngomong!”


“ngomong tu sama tembok atau sama sahabat-sahabat kamu yang songong itu, kalian sama aja!!”


Untung saja Alan tidak terus mengikutinya. Arini tak peduli lagi dengan Alan, pergi begitu saja. Akhirnya kemarahannya terlempiaskan juga setelah ditahan-tahan, ada satu hal yang harus dibereskan adalah detak jantungnya yang masih berdegub tak karuan,warna wajahnya pun sempat memerah untuk saja Alan tak memperhatikan itu, sehingga Arini masuk ke toilet sebentar untuk membasuh wajahnya.


“dasar Alan sinting!! Bisa dibedain ga sih orang lagi marah!!!”

__ADS_1


“kenapa juga nih jantung pake berdegub kencang!!! Seharusnya aku tak kepancing emosi tadi,tolol...tolol”, Arini bergumam sendiri depan cermin dalam toilet sambil dijitak kepalanya ketika merasa dirinya terlihat tak berdaya.


__ADS_2