
Arini begitu asik berbincang bersama Rendra di panggilan video itu, terkadang ada tawa menyelimuti diantara mereka sambil mengenang masa-masa mereka kecil dan sekolahan. Tara sambil menunggu makan malam, di isi waktunya dengan mengotak-atik motornya yang di parkirkan di teras rumah bersamaan dengan motor milik kakaknya itu. Rumah Arini tak besar, ada garasi kecil untuk di parkirkan mobil tua milik ibunya warisan dari ayah mereka. Ada juga taman kecil di hiasi bunga-bunga indah yang terawat milik ibu Yanti.
"Halo, selamat malam dek!, boleh bertemu dengan Arini?," suara seorang pria asing bagi Tara di lihat dari penampilannnya layaknya seorang pemuda kaya raya. Tara memperhatikan pria itu dari ujung kaki, sandal kulit terbaik, celana pendek, dan baju kaos di lapisi jaket semi kulit yang terlihat limited edition dan jam tangan yang di gunakannya juga mahal.
Ternyata orang kaya itu adalah Alan Ferdian dan Tara hanya memberi kode dari mulut yang di moncongkan untuk duduk dikursi teras. Setelah itu Tara kembali cuek dan tak memperdulikannya. Alan menjadi bingung akan sikap anak remaja yang ada dihadapannya. Dalam hatinya "Pasti ini adiknya Arini, kakak beradik memang nyebelin!." Tentunya Alan tak hanya diam, melihat anak ini menyukai motor pastinya gampang baginya untuk mengambil hati. Alan mulai berpura - pura berjongkok mengikuti Tara dan memperhatikan apa yang dikerjakan Tara.
"Motor ini keluaran tahun 2000 kan?. Mahal loh sekarang kalau dijual, soalnya jadi antik sekarang!." Alan membuka percakapan.
Tara hanya diam saja dan Alan masih berusaha bercakap-cakap.
"Di rumah saya ada vespa tahun 1989. Pernah di tawar sama collector 200 juta tapi saya ga mau lepas, anggaplah investasi!."
"oh ya!."
"hmmm... , punyamu kayaknya terawat ya!, masih bagus tapi kayaknya ini harus diganti deh!, pasti motor ini sering macet kan?."
Tara menoleh ke arah Alan, feelingnya mulai membaik ternyata orang yang ada di hadapanya ini sefrekuensi, menyukai motor dan tahu masalah motornya yang selama ini menjadi kendala. Tara belum bisa mengganti spare part yang usang itu karena belum ada duit masih menabung, karena Tara tak mau menyusahkan ibunya dengan pengeluaran yang tak berarti.
"Kakak suka motor ya?, atau collector motor antik?."
"Bisa dibilang begitu!." Dari perbincangan itu akhirnya Alan dapat meraih hati Tara dengan keramahannya. Perbincangan panjang lebar antara Tara dan Alan membuat mereka menjadi akrab dan luwes. Tak lama Arini merasa ada yang aneh dengan Tara, sepertinya rame ngobrol di teras rumah. Arini jadi penasaran, pikirnya "Tara bersama teman-teman kompleks". Tapi kok suara ini ga asing baginya, padahal Arini masih dalam perbincangan bersama Rendra. Cukup lama karena mereka masih saling melepas rindu dan banyak cerita.
"Bentar ya kak Rendra!."
"Tara dek, kamu sama siapa?." Arini sudah berada di depan pintu rumah sambil memegang hp-nya. Alan memang belum kelihatan karena masih terhalang sama sepeda motor disisi lainnya. Belum sempat Tara menjawab pertanyaan kakaknya, Alan sudah nongol dari balik motor dan seketika Arini kaget dong.
"Alan.......!."
"Hai Ar...!."
__ADS_1
"Di kasih tahu dong kak dari tadi!, kalau temannya kak Arini!." Tara menimpali.
Alan hanya membalas dengan senyuman. Rendra yang di seberang sana masih tersambung panggilan itu pun turut bertanya,
"Siapa Ar?." Arini bingung mana yang harus di dahulukan. Alan mendengar juga suara yang ada di panggilan hp milik Arini adalah seorang pria, suaranya agak berat dan bertutur sangat sopan. Membuat Alan menjadi tersaingi.
Belum sempat Arini menjawab pertanyaan Rendra, Tara sudah memotong pembicaraan dengan berkata,
"maklumlah, itu pacar kak Arini. Mereka baru bertemu makanya dari tadi video callnya ga berhenti dan kita dicuekin!," jelas Tara dengan polosnya seorang anak remaja. Mendengar perkataan Tara, Alan berubah rona wajahnya karena mengetahui Arini punya pacar, perasaan kuatir tiba-tiba muncul di hati Alan.
"Nama kakak, Alan!. Masuk aja!, biar Tara yang beresin motornya sekalian cuci tangan di dalam." Ga pake lama Alan bergegas dong masuk rumah sesuai arahan Tara. Arini malah lanjut percakapan dengan Rendra yang suasananya sudah tidak sama seperti di awal mereka berbincang begitu antusias, Arini menjadi canggung karena hadirnya Alan. Rendra merasa Arini menjadi aneh dan berusaha berpikir positif bahwa dirinya masih punya kesempatan mendekati gadis yang sudah lama dicintai itu. Rendra mengakhiri panggilan video, di akhir kalimat Rendra berjanji besok mau menjemput Arini di kampus sekalian mau main kerumahnya bersua dengan ibunya.
Arini dengan was-was mengantar Alan ke dapur agar dapat mencuci tanganya di wastafel tanpa berkata-kata. Arini malahan masih heran kenapa juga Alan malam-malam datang kerumahnya?.
"Selamat malam bu, masih ingat saya!." Alan menyapa ibu Yanti di dapur yang sepertinya hampir menyelesaikan kegiatan memasaknya. Ibu Yanti menatap dengan seksama.
"Oh iya benar, ibu hampir lupa!, loh kok bisa disini?."
"Teman Arini bu!." Arini dengan cepat menjawabnya.
"Bagus dong!, terima kasih ya nak sudah membantu ibu hari itu!." Ibu Arini menepuk bahu Alan.
"Sama-sama bu!, saya permisi cuci tangan, tadi bantuin Tara beresin motornya!," ungkap Alan lagi sedangkan Arini hanya berdiri melihat tingkah Alan yang sok akrab dengan keluarganya.
"Aduh sih Tara, keterlaluan deh! maaf ya sudah membuatmu kotor penuh oli, ga salah nama kamu Alan Ferdian kan?. Kayaknya kartu namamu masih ada!."
"Disimpan aja bu!, kalau ibu ada kesulitan lagi, dicalling aja ga perlu sungkan!," ungkap Alan sambil melirik Arini yang sudah terlihat kesal, dan Arini memberi kode untuk Alan agar cepat pulang tapi Alan ga ngeh, ingin membuat Arini tambah kesal dan marah.
"Ar sekalian ajak temannya, kita makan malam bareng!." Ibu Yanti bergegas membersihkan diri di toilet membuka epron yang dikenakannya. Arini mengambil kesempatan itu untuk menarik Alan untuk keluar dari rumah sampai diruang tengah.
__ADS_1
"Bu...!, Alan sudah mau pulang katanya ada urusan penting!," teriak Arini supaya ibunya yang ada ditoilet mendengarnya. Alan mau menyangkal perkataan Arini bahwa itu tidak benar, malah Arini sudah membekap mulut Alan dengan tangannya agar tak bicara lagi.
"Suuuuutttt, bisa diam ga!."
"Dek, kalau ibu menanyakan kaka kasih tahu ada keluar sebentar, urusan tugas kampus ya!." Tara melihat kak Arini gelagat aneh karena Alan ditarik keluar, Tara hanya bisa menggelengkan kepalanya. Arini dan Alan sudah berada di depan jalan tempat Alan memarkirkan mobilnya. Di area itu memang agak gelap, rumah para tetangga di sekitar sudah pada sepi, hanya beberapa sepeda motor yang lalu lalang.
"Kenapa sih Ar?, aku masih mau ngobrol sama ibu kamu!."
"Ga usah dan ga penting juga!. Emang kita sedekat itu sehingga kamu pake ke rumah segala, sok akrab sama Ibu dan Tara lagi!," gerutu Arini.
Mereka sudah saling berdebat satu sama lain. Herannya Alan hanya diam memperhatikan Arini dengan seksama ketika Arini bilang ini bilang itu, marah-marah ga jelas. Alan dalam hatinya gereget banget, baru kali ini Alan berani diomelin wanita selain ibunya. Dan Alan sedikit pun tak merasa marah atau apapun itu malah membuat senyuman untuk Arini. Dengan cepat Alan membungkam mulut Arini dengan ciuman. Arini menjadi kaku, Alan sudah mendekap pinggang Arini, agar Arini tidak bisa mengelak.
Semakin dalam ciuman itu Arini menjadi lupa diri karena di dorong oleh rasa dan geteran dalam hati mereka masing-masing. Tanpa disadari tangan Alan sudah membuka pintu belakang mobil, karena intensitas ciuman mereka tak bisa dibendung lagi karena perasaan mereka yang saling bicara. Kedua insan ini semakin dalam membagi kasih dengan ciuman hangat, tak lama Alan menatap kembali wajah Arini dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan.
"Apa maksud ciuman ini Alan?." Arini pun bicara
"Kamu adalah milikku!."
Mereka sudah saling duduk bersebelahan dijok belakang mobil. Sebenarnya Arini ingin mendapat jawaban lebih, malah Alan mengatakan hal demikian membuatnya berpikir kalau Alan sedang mempermainkan kepolosannya. Karena kata-kata itu pernah di dengar Arini dari mulut Alan untuk para gebetan ataupun pacarnya. Arini merasa kecewa, menjadi sadar dan bertekad dalam hatinya bahwa ciuman ini adalah yang terakhir dan tak akan tergoda lagi dengan rayuan Alan, serta berpikir rasional.
"Baiklah, kamu boleh pulang sekarang Lan!."
Alan berusaha mencegah Arini dengan memegang pergelangan tangan Arini.
"Ar, aku...!." Alan tak tahu harus berkata apa.
"Pulang aja!, lain kali kita ngobrol. Hati-hati di jalan!." Arini dengan halus mengatakannya. Sehingga membuat Alan tak merasa Arini marah, cuman aneh saja Arini berubah menjadi lembut.
"See you!." Arini sudah melambaikan tangannya di susul dengan senyum yang indah dari Arini untuknya. Setelah kejadian itu, Arini kembali kedalam rumah, ibu dan adiknya ternyata sudah menunggu untuk makan malam bersama.
__ADS_1