
Ar.. Arini sayang!" Suara ibu Yanti memanggil karena sedari pulang kampus sampai jam makan malam pun Arini tak kunjung keluar kamar. Ibu Yanti kuatir anaknya sedang sedih, karena sudah menjadi kebiasaan Arini kalau sedang sedih pasti memgurung diri. Tak berapa lama Arini pun muncul batang hidungnya diruang makan, membuat ibunya legah melihat kehadirannya.
" Ar, kamu tidak lagi ada masalah kan? "
"Arini baik-baik saja bu! Arini lagi sibuk membuat tugas kuliah, soalnya besok pagi harus segera dikumpulkan"
" Syukurlah! Ayo kita makan nak! Panggil adik kamu juga mungkin ada diteras depan sama teman-temannya sekalian aja! "
Arini segera keteras depan sesuai perintah ibunya.
"Tara... Kamu dipanggil ibu! "
"Loh! Dimana teman-temanmu?"
"Mereka udah balik kok! Tadi mereka hanya bantuin Tara ganti busi motor karena disekolahan sempat macet", Jelas adiknya Tara.
" Kenapa teman-temannya tidak disuruh makan dulu! "
" Udah kok! Merekanya aja ga mau,"
" Ya udah kita makan yuk! "
" Ok, kak! Tara beresin dulu, kakak duluan deh! ".
Arini kembali keruangan makan, disana ibunya sudah menanti. Keluarga kecil ini terlihat sangat bahagia, walau sekali-kali Arini menatap ibunya penuh guratan kerutan wajah yang menandakan bahwa ibunya sudah mengalami masa tua, karena kurang dari 7 tahun lagi ibunya akan memasuki masa pensiunan sebagai ASN. Yang menjadi suatu tanda bahwa Arini harus bersiap-siap menjadi tulang punggung keluarga, sehingga Arini bertekad sebelum ibunya pensiun Arini sudah menggapai cita-citanya menjadi seorang desainer terkenal.
Sedangkan Alan masih berada bersama teman- temannya di klub yang menjadi tempat tongkrongan mereka. Walaupun demikian Alan masih sibuk dengan handphonenya, menghubungi beberapa kolega-kolega untuk mendapat suntikan dana dalam kegiatan camping matkul Budi pekerti dan kerohanian itu.
"Lan, sedari tadi gua perhatikan elu tak berhenti mainin hp? relax bung! ", Sapa Bento yang kebetulan hanya ada mereka berdua saat ini.
"Gua cari dana untuk kegiatan matkul dosen killer itu, palingan dana PP dari Jakarta-Bali, kebutuhan lainnya mah gampang, kan di villa keluarga gua! "
"Matkul Pak Abas belum tuntas? kita mau ajukan proposal skripsi dan jadwal magang entar lagi keluar, elu sibuk camping! "
"Mau gimana lagi! Kalau ga lulus matkul ini mana mungkin bisa ajukan proposal skripsi, elu tahu kan si killer itu, mana mau di neko-neko, bisa drop out gua! "
" Berapa hari diBali? Gua bisa ikut donk! "
" Anj** lu.. Tadi pake nasihatan gua soal proposal skripsi, sekarang elu mau minta ikut! "
"Kalau anak-anak lain mau ikut, biaya tanggung sendiri dan ditambah uang administrasi 15juta/orang"
"Elu mau peras gue lan! Mahal banget sih! "
"Elu pikir kegiatan ini gratis, atau hanya bersenang-senang, semua sudah diatur Bento! "
"Tuh proposalnya sudah dirancang sama Arini, pastinya elu tahu kan si gadis alim itu acaranya pasti dipenuhi dengan rekoleksi dan doa"
__ADS_1
" 15 juta mah kecil! Pasti anak-anak gua ajak! "
" Tadi aja elu bilang mahal, dasar pria plin-plan! "
" 15 juta mah tidak menguras harta keluarga elu bento! ", sambung Alan agak kesal.
" Ya.. Ya.. I know! So kamu ajak Nagita juga? "
"Itu mah urusan gua! "
"Kalau lu bawa Nagita pasti Si Roni dan Si Agung mana mau ketinggalan bawa gebetan mereka! "
"Boleh sih! Tapi ingat villa keluarga gua bukan tempat maksiat, kalau mau berbuat mesum cari hotel, nanti keluarga gua ketiban sial akibat berbuatan kalian! "
"Dasar lu! Bilang aja kalau elu merasa terganggu sama Nagita ketika lagi gituan! Pake alasan ketiban sial, padahal elu aja pembawa sial! "
"Gua jitak kepala lu! "
"Hehehehe"
Tak selang beberapa lama handphone milik Alan berdering, terlihat nama Arini si Gadis Alim memanggil dengan buru-buru Alan mengangkatnya dan beranjak keluar menuju toilet.
"Hai.. Pacarku yang Alim dan lugu, kali pertama kamu menelpon aku saat awal kita pacaran! Ada perlu apa sayang! "
" Lan, bisa ga embel-embel itu lu buang aja! To the point deh! "
" 150 juta itu sudah termasuk biaya perjalanan PP? "
"Sudah! PP Jakarta-Bali kurang lebih 100 juta selama 3 malam, sisanya biaya konsumsi dan lain-lain!, dengan 700rb/org,apa kamu setuju anggaran sebanyak itu atau apa perlu aku pas-pasin lagi?”
"Menurut aku, segitu sudah cukup, kurangnya aku yang atur dan lebihnya kamu yang atur, and fix..! "
" Baiklah! Aku percaya kamu soal biaya kekurangannya pasti beres! "
" Selamat malam! ", Arini hampir saja menutup panggilannya tapi diurungkan niatnya ketika mendengar Alan berkata;
"Wait Arini, please! Kamu lagi ngapain? "
"Lagi dikamar, dan membuat proposal, emangnya kenapa? "
" Kamu tidak mikirian aku, kangen gitu, atau apa kek! "
"Emang harus ya! Mikirin kamu sepertinya buang-buang waktu dan energi aku saja, lagian playboy kaya elu pastinya lagi asyik sama gebetanmu! "
" Ga aku sama Bento aja kok di club bareng teman aku yang lain"
" Ga penting Lan buat aku! Kamu mau sama siapapun, ingat syarat yang ketiga! "
__ADS_1
"Ah.. Kalau kayak gini mendingan kita ga usah pacaran aja! Mana ada gaya pacaranmu Ar"
"Masa playboy kaya kamu butuh dikangenin, ingat loh yang minta pacaran duluan kamu! Kamu ga merasa derajad playboy kamu jadi turun level sama cewe alim dan lugu kaya aku ! "
"Justru itu Ar,... Dari sekian pacar-pacar aku semuanya tergila-gila pada ku, masa kamu sedatar itu padaku! "
" Ah.. Lan! Ga usah dibahas lagi, kamu mau besok Pak Abas marah besar karena proposalnya tidak selesai! Aku tutup telponnya, bye!", Arini segera menutup panggilannya, Alan diseberang sana menjadi sangat kesal akan sikap Arini. Dia bingung kenapa Arini mau menerima mau jadi pacarnya, mau ajak mesra dikit aja sudah ditolak. Arini hanya senyam-senyum sendiri melihat sikap Alan, karena ini merupakan suatu permainannya untuk membuat Alan menjadi baper, setelah itu Arini akan minta putus. Agar si playboy gila itu insyaf dan tidak lagi main-main sama perasaan wanita. Arini merasa Alan sudah masuk perangkapnya, maka selanjutnya Arini akan membuat rencana agar Alan semakin baper.
" Kenapa lu Lan?" Tanya bento
Alan hanya diam aja, dan duduk disamping Ronny, karena kedua temannya itu akhirnya ikut nimbrung seperti biasa.
Melihat Alan menjadi berbeda, teman-temannya hanya saling melempar pandangan tak tahu apa yang terjadi. Alan menengak minuman berakohol itu,
"Agung, lu ikutan kita ke Bali, daripada mumet sama proposal skripsi, kita cari hiburan dulu, alias mencari ide- ide baru”
“ok-lah...bro”
“hai..ganteng! kamu kok murung!”,tiba-tiba saja si Silvi muncul dan langsung duduk disamping Alan yang kelihatan kesal sehingga dalam hati teman-temannya bergumam “wanita ini mencari gara-gara!”
“aku dengar kalian mau berlibur ke Bali, aku boleh ikutkan lan!” Silvi mulai merangkul manja pada dada bidang Alan, tapi segera saja Alan mengelak,tapi memang dasar si Silvi tak punya malu terus saja merayu Alan, teman-temannya hanya melihat dan tak berkutik.
“elu salah dengar kali! ,mana ada waktu kita berlibur ke Bali, semuanya pada sibuk pada proposal skripsi, apalagi jadwal magang bentar lagi mau keluar!” sambung Rony sedangkan Agung dan Bento mengangguk-angguk mendukung pernyataan Rony.
Alan malah segera beranjak bangun dan pergi menghindar dari si nenek lam*** yang terus saja menguntit dirinya.
“ gua balik duluan bro!”
“loh..loh..lan! kita belum selesai ngobrol, gimana donk rencananya? Kita boleh ikut kan!” cegah Agung.
“tanya aja sama Bento!”
“elu mau ke tempat Nagita?” lanjut Agung mencari tahu.
“maybe..bro!”, Alan berlalu pergi dari teman-temannya, sebenarnya Alan masih ingin duduk bareng teman-temannya, tapi gara-gara Silvi mood Alan jadi pahit dan benci melihat Silvi.
“Nagita? Siapa Nagita?” tanya Silvi penasaran ketika mendengar nama gadis baru lagi yang menjadi incaran Alan atau gebetannya.
Teman-teman Alan saling bersitatap satu dengan yang lain sambil memberi kode, apakah perlu menjawab pertanyaan Silvi.
“Hai Cantik.....yuk kita ke dance floor!” elak Agung yang kebetulan ada seorang gadis baru lewat depan mereka. Dan tak kalah akal Roni dan Bento pun berpura-pura sibuk dengan menerima telepon dan pergi ke toilet. Tinggallah Silvi sendirian mukanya tampak bete dan kesal akan sikap teman-teman Alan kepada dirinya, sehingga Silvi pun bergumam “Alan, jangan kamu pikir aku akan menyerah! Nagita gadis incaran mu itu akan ku buat tak berkutik!”
Ternyata selama ini gadis-gadis kampus yang pernah menjadi incaran Alan, Si Silvi –lah yang membuat mereka mundur pelan-pelan ketika mendekati Alan.
Dan malam ini Alan akhirnya memutuskan untuk ke apartemen Nagita, biasanya Alan akan menelpon dahulu tapi karena ingin hati membuat kejutan segeralah Alan menjumpai kekasihnya itu. Tak berapa lama tiba juga Alan, depan ruangan apartemennya Alan memencet bel pintu sampai pada yang ketiga kalinya pintu itu tak kunjung di buka oleh penghuninya.
“kemana lagi si Nagita malam-malam gini?” sambil diambil hp dalam saku celana ditelepon nomor milik Nagita ternyata sedang tidak aktif, dilihat jam tangannya masih pukul 23.00 Wib.
__ADS_1
“Mungkin Nagita sudah tidur, balik aja deh!” dengan langkah yang gontai Alan pergi, sebenarnya Alan masih enggan pulang masih mau ke Pub bersama teman-temannya tapi Silvi pasti masih ada disana, akhirnya Alan memutuskan untuk kembali kerumah aja.