
Didalam mobil, Arini sudah membuang muka terhadap Alan. Arini menjadi kesal, Alan selalu nekat dalam tindakannya. Dan ini bukan pertama kalinya bahkan di Bali pun Alan pernah melakukan hal yang sama. Alan tersenyum bangga karena untuk menaklukan Arini adalah dengan melakukan hal di luar batas, Arini pasti nurut. Tak berapa lama handphone Alan berdering, dilihat layar monitor hp-nya adalah Mommy Diana.
"Hallo Lan! Kamu dimana? lama amat ke toiletnya. Mommy sama Nagita udah kelar makan, malah sekarang kamu menghilang sih?"
Alan menarik napas berlahan, mengatur irama napasnya agar tidak terdengar gugup soalnya tenaganya setelah membopong Arini membuat jantung dan suhu tubuhnya agak panas.
"Hai Mommy! So Sorry Mom, tiba-tiba aja Alan harus pergi karena ada telepon penting. Alan sudah siapkan mobil untuk Mommy sama Nagita untuk pulang kok!"
"Everything it' s ok?" tanya Mommy Diana memastikan sekali lagi bahwa semuanya baik-baik saja.
"Don't worry Mom! Alan pulang telat ya Mom! Alan titip Nagita, kalau sama Mommy pasti aman"
"Alright beib, take care"
Panggilan seluler itu akhirnya dimatikan, Mommy Diana tidak banyak bertanya lagi kemana anak itu pergi. Hanya menjadi aneh bagi seorang ibu melihat anaknya bertingkah tak biasa sedari tadi sampe pergi pun tak bilang-bilang.
"Mommy telepon Alan barusan?"
"Ya.. kenapa Na? tapi kamu jangan kuatir Alan pasti ada urusan penting di kantor" Mommy Diana berusaha menenangkan Nagita agar tidak banyak bertanya lagi.
Kita kembali ke situasi Alan dan Arini.
__ADS_1
"Lan, please antar aku balik sekarang! Padahal barusan ibu kamu kan yang menelpon? bisa-bisanya kamu melakukan ini, aku tak mau dicap wanita murahan kelak oleh ibumu Lan,ataupun wanita perusak tunangan orang"
"Kamu ga usah kuatir, Mommy ga kayak gitu! Kedua orang tua aku sangat menghargai privasi anak-anaknya."
"Tapi Lan,.... (sambil mikir) aku tu ga ngerti sama sikap kamu yang absurb ini. Padahal sudah ada batas diantara kita!"
"Aku sudah berulangkali katakan padamu Arini, selagi Alan Ferdian mengatakan bahwa ini belum selesai ya belum selesai, aku tak butuh banyak asumsi darimu, cukup kamu nurut dengan apa yang aku mau... ok!"
"Kamu sungguh gila Lan!"
Alan menatap Arini dengan intens, tapi Arini membalasnya dengan menggelengkan kepala menandakan sudah tak bisa berdebat lagi dengan pria seperti Alan.
Seketika pertanyaan itu muncul dari Arini saat mereka dalam keadaan hening. Tanpa berpikir lama langsung Alan menjawab," Kamu..!"
"Jawabnya yang jelas Lan, oh.. aku ngerti sekarang playboy kayak kamu kan sudah biasa tu sama wanita-wanita berkelas untuk menyalurkan nafsu kamu itu kan, sehingga kamu ingin berfantasi dengan wanita biasa kayak aku, cccuut.. cccuut... hebat kamu! kenapa dari awal aku ga ngeh ya akan sikap arogansi kamu selama ini padaku yang nyosor duluan mencium aku... oh jadi karena supaya terlihat keren gitu, wow!"
"aku kok goblok amat sih!" Arini menyadari betapa lemah dirinya ketika berhadapan dengan pria ini, apalagi mengingat kelakuan Alan yang selalu mau menfaatkan wanita hanya untuk keegoisannya, entah apa yang di cari Alan dari sekian wanita yang pernah menjalin asmara dengannya.
Arini menjadi agak emosi dalam nada suaranya.
"sssuuuuttt bisa diam ga sih! mau aku sumpal dengan ciuman!" Arini kesal dong Alan tak menanggapi pembicaraannya.
__ADS_1
"Kamu ga perlu berpikir keras tentang semua itu mengenai diriku, cukup kamu tak menghilang dari pandanganku saja maka semuanya akan baik-baik saja, Ok" pernyataan orang yang tak pake otak menurut Arini.
"Kamu idiot ya? wah..atau psikopat sih...! Aku mau pulang sekarang, ibu ku pasti kuatir!"
"Oh soal itu, kamu tak perlu kuatir sayang! Alan Ferdian takkan mungkin mencoreng wajah yang tampan ini kedua kalinya dihadapan ibu kamu!"
"Apa maksudnya?"
"Kamu tenang aja sayang, kamu akan pulang dengan selamat dan ibumu pasti menyambut kita dengan senyum lebar!"
"Kamu benar-benar nekat ya!"
Alan langsung mencoel dagu Arini karena melihatnya geram dan tak bisa berkutik dalam kata-kata lagi akan sikap Alan.
"Don't touch me, I hate you more!"
"Hati-hati ngomong benci beda tipis loh dengan cinta!"
Arini semakin ga ngerti akan sikap Alan, semakin mereka berdebat malah dirinya yang menjadi kesal. Diam adalah cara terbaik, dalam otaknya malah berpikir bagaimana keluar dan lari dari Alan?.
to be continued flash back on
__ADS_1