
Flash back on ( Keesokan hari setelah Mommy Diana berada di Indonesia)
Beberapa hari sebelum keberangkatan Arini ke Italia, siang dengan panasnya matahari yang menyengat Arini sedang di pusat perbelanjaan untuk membeli keperluan yang harus dibawanya. Karena waktu sudah menunjukan makan siang, Arini menyempatkan diri untuk singgah di sebuah kedai makanan atau restorant yang terdapat di mall itu. Kali ini memang Arini sendiri tidak ditemani Rendra karena memang masih jam dinasnya. Soalnya nanti malam pun mereka akan bertemu lagi. Arini memang selalu enjoy menikmati me time walau di tempat umum sekalipun bagi orang-orang introvert adalah kendala namun Arini mampu membuat dirinya nyaman. Tak berapa lama makanan yang sudah di order pun dihidangkan untuknya, sesekali Arini bermain dengan handphonenya sehingga tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya. Di salah satu meja ternyata sudah ada orang yang sangat di kenal Arini sedang memperhatikannya yaitu Alan Ferdian. Tapi kali ini Alan bersama Nagita dan Mommy Diana. Alan-lah yang terlebih dahulu menyadari bahwa Arini berada di resto yang sama dengan mereka, sedangkan Nagita sama sekali tak menyadarinya. Nagita memang tidak melihat sosok Arini karena keberadaan Arini membelakangi kedua wanita yang sedang duduk berhadapan dengannya.
Feeling seorang ibu memang sangat tajam dan tak dapat dibohongi, beberapa kali Mommy Diana melirik pelan ke arah Alan, ternyata anaknya itu sedang tidak fokus terhadap perbincangan mereka. Hanya Nagita yang terlihat sangat ramah dan menjawab semua pertanyaan Mommy Diana.
"Lan,... Sejak kapan kamu kenal Nagita?"
Tak ada jawaban, Alan masih terus memperhatikan Arini. Nagita yang semula yang sedang menikmati makanan pun akhirnya mengarahkan pandangannya kepada Alan.
"Sayang.... kamu kok bengong sih! Mommy sedang bertanya padamu, " suara Nagita agak meninggi.
"Ho.. hhmmm," sontak Alan buyar dalam lamunan.
"Ya! Apa yang Mommy pengen tahu?." Alan berpura - pura mengambil handphonenya seakan-akan menunggu telepon penting sebagai pengalihan agar tidak terlihat kagok. Reaksi Mommy Diana hanya senyum dan menggelengkan kepala.
"Alan... Alan! (bergumam) Kapan kamu mulai mengenal Nagita?"
"Oh itu..! Na, kamu aja yang cerita ke Mommy, soalnya aku lagi nunggu telepon penting dari perusahan." Alan tidak terlihat bersemangat lagi untuk mengenang kembali pertemuannya bersama Nagita untuk pertama kalinya.
"Kok gitu sih sayang! Dari tadi rasanya aku mulu yang ngobrol banyak bareng Mommy tentang kita"
__ADS_1
"Kan sama aja, aku cerita pun alurnya tetap tidak berubah pasti samalah!," jawab Alan seadanya dengan muka datar walau sesekali dia menyeruput kopi miliknya.
Memdengar jawaban Alan seperti itu, Nagita hanya menarik napas pelan. Nagita merasa Alan agak berubah akhir-akhir ini, tidak sama seperti awal mereka bertemu.
"Ga apa-apa Nagita! Mungkin benar Alan sedang menunggu telepon penting. Maksudnya Alan benar juga kok, sama aja nak Nagita yang bercerita dan mau ngobrol bareng Mommy aja sudah membuat Mommy senang supaya kita menjadi akrab dan saling mengenal satu sama lain, benarkan?"
"Ya Mom!!" balas Nagita disertai senyum tipis.
"Sifat dan karakter Alan memang gitu! keras tapi lembut, memang terlihat cuek dan dingin tapi perhatian. Jadi kamu sabar ya!" Mommy Diana menimpali sambil mengelus bahu Nagita memberi kode bahwa Nagita harus lebih dalam lagi mengenal watak dan sifat Alan sebenarnya.
"Ya Mommy!!" Disertai anggukan dan kembali tersenyum dan melanjutkan makan.
Tak berapa lama Alan memperhatikan dan melihat Arini sedang bersiap dan mau beranjak pergi dari mejanya. Tentunya membuat sedikit gusar karena tanpa disadari ada keinginan dalam dirinya untuk tidak membiarkan Arini pergi kali ini. Refleks Alan pun terbangun dari tempat duduknya.
"Hhmmm... sorry Mom! Alan mau ke toilet sebentar"
"Oh.. Mommy kira ada masalah!"
"Na, kamu temani Mommy!"
"Ya sayangku, kamu kan cuman ke toilet doang!" jawab Nagita polos tanpa tahu apa maksud perkataannya.
__ADS_1
Tak disangka Alan pergi menyusul Arini yang sudah beranjak dari resto itu. Alan berlahan mengikuti dari belakang, mengejar langkah Arini yang baginya tak begitu sulit untuk disusul. Alan hanya perlu mencari tempat yang agak sunyi untuk menarik Arini ke tempat yang aman.
"Aduh... duh... duh! Apa-apaan nih?" reaksi Arini ketika dirinya terhuyung mengikuti arah dimana Alan menariknya.
"Alan! ngapain lagi sih? kamu mau bawa aku kemana?"
"Sssuuuttt... diam!"
"Kamu mau menculik akau Lan? Aku akan teriak loh Lan, atau aku telepon polisi sekarang!" sambil Arini mengambil hp miliknya di saku celana tapi langsung di hadang Alan malah hp itu dimasukan ke saku celananya.
"Balikin ga hp aku, Lan!"
Alan bersikap cuek malah semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Untuk saat ini ancamanmu ga mampan Ar! jadi kamu harus patuh, paham!"
"Mau sekalipun kamu laporan pada pacar kamu yang polisi itu, aku sedikitpun ga takut!"
Itulah Alan, apabila diancam maka semakin berani.
Arini tetap memberontak tapi tidak di indahkan oleh Alan, hampir saja cengkraman Alan lepas dan Arini bersiap lari tapi apalah daya tenaga seorang wanita tetaplah lemah lembut. Alan ga kehabisan akal, langsung saja memapah tubuh Arini yang sintal itu dibahunya. Di basement ternyata Alan sudah mengkoordinasikan ke anak buahnya untuk stand by sehingga sebuah mobil Alphard hitam pun muncul dihadapan mereka, maka tak pake lama Arini langsung dimasukan ke dalam mobil itu.
__ADS_1
to be continued flash back on