
Biasanya malam minggu Alan sudah kencan bersama Nagita, tapi pas malam minggu ini dihabiskan waktunya bersama teman-temannya di club tempat biasa mereka nongkrong. Ketika asyik menengak minuman berakohol, muncul si gadis agresif
"hai sayang!.Lagi asyik aku temanin yah!".Ucap Silvi sambil menyenderkan tubuhnya ke bahu Alan dan setengah memeluknya. Alan langsung menghindar soalnya gadis ini kalau dikasih hati malah minta jantung sekalian aja ditolak mentah-mentah.
"Tolonglah Silvi! kita sudah putus. Dan selesai!, cari pria disetiap sudut club ini untuk kamu temanin aku sudah bosan ditemanin kamu terus", ucap Alan agak sedkit menahan emosinya.
"Sayang.. Tapi aku cinta sama kamu dan tidak mau putus dari kamu." Rengek Silvi sambil bergelayut manja lagi ditubuh Alan. Dalam hatinya Alan "ini gadis bikin aku gerah". Terpaksa Alan pergi meninggalkannya. Ketika sedang melangkah dilihatnya Nagita sedang berdansa atau berjoged ria dengan teman-temannya di arena dansa. Matanya melotot sambil diseka dengan tangannya ternyata benar Nagita. Dengan cepat melangkah menuju ke arah Nagita dan menarik lengan tangannya dan membawa ke depan toilet karena disana tempat yg mudah diajak untuk ngobrol jika ke klub.
"Nagita.... Ngapain kamu kesini!?". Sambil melihat Nagita yang sudah setengah tak sadarkan diri karena mabuk. Nagita pun sampai tidak mengenali siapa yang menarik dirinya dari arena dansa adalah Alan. Nagita berusaha melebarkan bola matanya melototi Alan, dengan sempoyongan Nagita tahu juga bahwa itu adalah Alan. " Alan... Pacar aku yang tampan.... "
" Ayo kita pulang!!! Aku antar kamu ke apartement kamu. " Ajak Alan kuatir terjadi hal buruk pada dirinya sambil membawa tas miliknya. Kunci mobil Nagita terpaksa diberikan pada Bento agar dapat diamankan sementara.
Tanpa menjawab lagi ajakan , langsung aja dibopong Nagita yang mungil,cantik, putih dan mulus, berambut lurus berwarna kecoklatan kedalam mobilnya. Sepanjang perjalanan hanya ditatapin wajah nagita dalam batinnya "Kenapa lagi nih cewe tidak sepeti biasanya, mabuk-mabukkan?". Sampai juga mereka diapartemen milik Nagita. Di apartemen ini Nagita tinggal seorang diri. Orang tuanya tinggal diluar negeri.. Karena orang tuanya sudah bercerai. Ayahya tinggal dinegara Singapura sedangankan ibunya di negara Australia. Selama ini Nagita ikut bersama ibunya tapi entah kenapa dia mau tinggal sendiri di Negara ini tempat dimana dia dilahirkan.
Alan membawa Nagita langsumg ke kamarnya, Alan langsung menidurkannya di atas ranjang miliknya tapi tangan Nagita masih terus menggengam lengannya mereka berdua jatuh bersama diatas ranjang. Alan sudah berada diatas Nagita, pakaian bagian atas sudah sedikit tersingkap dan Alan berusaha memperbaikinya dan menghindar, tapi desiran aliran darahnya membuatnya sesak bernapas dan jantungnya berdetak mengebu-gebu menahan gejolak asmara, manarik napas dalam dan menelan ludah secara perlahan. Alan sudah mulai tergoda dengan kemolekan Nagita, berusaha ditepisnya tapi Nagita terus menariknya semakin dekat dan dekat sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan itu. Nagita tersadar tapi tak memperdulikan lagi mereka saling menikmati sampai keduanya terlelap bersama.
Keesokannya, Alan terlebih dahulu bangun dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sedangkan Nagita masih pulas. 30 menit berlalu Nagita terbangun, sepertinya dia masih lupa apa yang terjadi semalam dia terus masuk ke kamar mandi mendapati Alan yang sedang mandi diguyur air hangat yang keluar dari shower kamar mandinya hanya berdinding kaca polos terlihat tubuh kekar Alan. Disitu Nagita teringat apa yang terjadi semalaman. Nagita sedikit tersenyum tipis menatap Alan yang terlihat seksi. Tanpa Alan sadari Nagita sudah berada dibelakang dan sontak saja menjadi kaget, Nagita merayu Alan lagi tapi Alan berusaha menghindar buru-buru menyelesaikan mandinya."Aku sudah selesai, kamu bersihkan diri, aku mau bersiap pulang, ada kuliah pagi ini bersama pak Abas". Teringat Alan pada Arini masalah mereka pada pak Abas belum diselesaikan.
Nagita hanya menganggukan kepala, seakan memberi kode bahwa Alan boleh pulang. Dalam perjalanan kerumah Alan masih membayangkan kejadian semalam. Bahwa baru seminggu lebih Alan pacaran dengan Nagita tapi hubungan mereka sudah melampaui batas. Memang benar Alan memiliki cewe segudang tapi sampai berhubungan diranjang jarang terjadi. Hanya sampai pada ciuman panas tidak sampai pada urusan ranjang. Karena rangsangan tiap ciuman dari setiap wanita yang dikencani tak ada yang spesial apalagi membuat jantungnya berdebar.
Tapi malam ini kenapa bisa terjadi bersama Nagita, apakah karena pengaruh alkohol?. Banyak tanya dalam benaknya, perlukah dia menyesalinya.
Setelah berganti pakaian dirumahnya, ditemukan ayahnya telah kembali kecuali ibu masih mengunjungi kota Paris bersama adiknya yang lelaki bernama Hendra.
"Selamat pagi, ayah! Sudah kembali dari kapan?",tanya Alan sambil mengambil posisi di meja makan untuk sarapan bersama ayahnya.
"Kata Mak Siti, semalam kamu tidak pulang,tidur dimana Lan?, ayah coba telepon, hp kamu tidak aktif" Ayahnya balik bertanya.
"Ayah tiba dari kemarin”,jawab Ayahnya singkat.
“aku tidur dirumah teman, lalu ibu bersama Hendra belum pulang, memangnya anak itu tidak mau sekolah kerjanya hanya jalan-jalan melulu", Alan berusaha mengalihkan pembahasan ke adiknya supaya ayahnya jangan bertanya lagi tentang dia.
__ADS_1
"Urusi kuliahmu saja dulu, ayah harap setahun lagi kamu harus segera lulus dan melanjutkan bisnis ayah dan ibu dan juga kamu mendapat pendamping seperti ibumu yang mau membantu suaminya dalam hal apapun selain berbisnis ",nasehat ayahnya hanya dapat diangguk- anggukan oleh Alan.
"Ingat... Jangan terlalu lama dalam pergaulan bersama wanita-wanitamu, percuma saja punya wanita segudang tapi cara menaklukan wanita menggunakan hatimu kamu tidak mampu. Wanita jamanmu sekarang kalau sudah dimanjain dengan kekayaan pasti langsung takluk dan itu sifatnya hanya sementara, apabila sudah bosan pasti ditinggalin",penjelasan ayahnya begitu penuh makna baginya. Sekali bertemu ayahnya langsung memberikan wejangan yang seakan menampar pipinya.
"Satu hal lagi, wanita itu hanya ingin dimengerti Lan...",ayah hanya tersenyum tipis melihat anak bujangannya hanya terdiam dan meresapi tiap perkataan ayahnya. Sepertinya kali ini tidak terjadi pertengkaran karena apabila ayah berusaha sedikit mencampuri urusan bersama wanita-wanitanya pasti langsung dibentak atau berjalan pergi meninggalkan ayahnya. Tapi kali mereka menghabiskan sarapan bersama dimeja makan, dan ini merupakan pemandangan yang langkah, sampai mak Siti yang sudah puluhan tahun bekerja dirumah mereka terkesima melihat perubahan sikap Alan dalam semalam.
Yang menjadi permenungan Alan bukan perubahan sikapnya tapi inti dalam petualangan cinta dengan segudang wanita itu apa? Perasaan apa? Bagaimana merasakan jatuh cinta?
Dalam pikirannya"cinta....Apakah memandangi wanita cantik, molek, mulus, seksi, berciuman dan tidur diranjang adalah cinta". Dari semua yang telah dilakukan itu masih terasa ada yang hilang dan kosong didalam sini, sambil memegangi dadanya. Mau dibilang pernah cinta monyet pun tidak pernah dirasakannya, karena sejak dibangku sekolahan Alan sudah dikelilingi gadis dan wanita cantik dan tajir, sehingga gaya hidupnya ada gaya hidup raja. Lihat cantik sedikit langsung saja dijadiin pacar,"Wah.... Udah setua ini belum mengenal cinta bisa ditertawain sama abg nanti",batinnya.
"Mungkin terus dan harus dicari kali cinta itu dengan wanita-wanita yang lain. Alan terus berjuang!!”, lirihan kecil Alan untuk menyemangati dirinya untuk bertualang mencari cinta sejati. Sambil memegangi kunci mobilnya Alan berpamitan pada ayahnya untuk pergi ke kampus.
Dalam perjalanan Alan sudah mulai membuat penilaian tiap wanita-wanita yang menjadi gebetennya sampai pada Nagitamulai menilai, bicara sendiri sambil mengendarai mobilnya menuju kampus “Nagita parasnya cantik, molek, rambut lurus dan coklat tapi kurang tinggi dan sifatnya?”,Alan berusaha berpikir keras sifat nagita belum bisa dinilai karena mereka baru pacaran seminggu penuh. “Paling baik dan murah senyum,selebihnya nanti aku pelajari.”.
Alan berdiam sejenak, teringat olehnya Arini. Hampir kelupaan gebeten terakhir yang diajak pacaran olehnya. “Arini....Kalau fisik tingginya semampai, rambutnya bergelombang tapi sering dikuncir, kulitnya sawo matang, mirip kayak orang India, hidung runcing. Tapi kelihatan biasa aja dan sederhana. sifatnya pekerja keras, keras kepala, juga mandiri serta cueknya kebangetan,”, tak terasa mobilnya sudah memasuki area kampus, Alan berhenti dengan pemikiran dan pembicaraan seorang diri sedari tadi dalam perjalanannya, harus fokus memarkirkan kendaraannya.
Setelah selesai memarkirkan mobil, hpnya berdering, dilihat Nagita yang menelponya segera diangkat.
“Halo sayang, Ga usah deh!! aku Cuma mau nanya mobil aku semalam masih ditempat semalam ya?”
"Oh mobil kamu aku titipkan pada Bento, belum diantarin?, aku minta tolong Bento antarin ke apartemenmu sekarang deh!!"
“oh...gitu!! Ya udah, aku tungguin,soalnya aku mau ada urusan sebentar”
"Aku jemput aja!”
“terima kasih Lan!!! Tapi sebaiknya kamu ke kampus aja, aku Cuma sebentar kok!”
“Ok ya udah, kamu ada keperluan lain, tidak apa hati-hati dijalan yah!”
“Jangan lupa minum obat pengar diatas meja, bye”,panggilan berakhir.
__ADS_1
Munculah Arini bersama matic kuning, terlihat jelas Alan didepannya pasti mau menghadangnya dengan perlahan diturunkan kecepatannya. Ketika hampir mendekatinya Alan benar menghadangnya " Stop! pacarku yang alim dan lugu juga manis."
Arini menghentikan kendaraannya, membuka helmetnya "Kamu lagi selalu saja...!"
“ssst...sudah aku katakan syarat ketiganya, aku harap kamu tidak melupakan itu,jadi cukup dengan panggil aku Arini, tak usah pake embel-embel-mu itu”
“terserah aku! Arini yang alim dan manis” sambil tersenyum.
“kamu susah dibilangin ya! Pantesan aja wanita-wanita gerah dan ga betahan sama kamu”,sindir Arini.
“oh...jadi kamu juga gerah jalan bareng aku, tapi kamu mau pacaran denganku,wanita biasanya gitu bilang tidak tapi sebenarnya mau”
Alan mau mencubit hidung Arini karena gemas tapi refleks saja Arini menepis seakan tahu bahwa Alan akan menyentuh hidungnya.
“ingat Lan, Syarat pertama!!” Arini mengingatkan kembali sambil nyinyiran Alan batinnya “emang elo aja yang bisa permainkan wanita, ingat macan pake strategi, buaya pake nafsu biasanya”
“terlalu banyak aturan deh kamu, antar aku ke fakultas ku baru kamu parkirin kendraanmu!!",jarak fakultas memang agak jauh, setidaknya bisa menghemat energinya untuk berjalan kaki.
"Ok,duduk dibelakang!!",tegas Arini tak memberi kesempatan Alan untuk mengemudi maticnya.
Alanpun tanpa malu langsung aja duduk dijok belakang, Arinipun mengantarnya ke fakultasnya.
"Ingat tanganmu jangan sentuh bagian dari tubuhku!!",peringatan Arini lagi ketika kendraan itu mulai pergi meninggalkan area parkiran mobil.
“Ya...pacarku yang alim dan manis” bisik Alan ditelinganya dari jok belakang, seketika bulu roma Arini bergidik, jantungnya berdetak kencang, Arini berusaha menahan rasa itu dengan tidak memberi reaksi apapun, aliran napas Alan seakan menjalar dileher jenjangnya.
Dengan terpaksa Alan duduknya dimepetin kedepan sehinnga wangi parfum dan aroma tubuh Arini tersembul masuk kedalam rongga hidungnya sampai pada batas titik hayalannya. Sungguh menggoda dan membuatnya ingin terus berdempetan dengan Arini, rambutnya juga wangi, berbeda dari gadis lain. Aroma tubuhnya menyatu bersama parfum yang dikenakan sehingga membuatnya terhipnotis. Batinya "Apakah Arini seharum ini setial hari? atau hari inj aja... "
"Alan, Lan.... Kamu tidur yah! Jangan macam-macam loh sudah difakultas kamu nih buruan",sergap Arini melihat Alan tak bergeming turun dari kendaraannya, Alan tersadar ketika Arini membunyikan klakson.
"Terima kasih pacarku", Alan mengucapkannya sambil berbisik lagi pas didekat telinganya pura-pura mendekati untuk mencium aroma tubuh gadis ini sebelum beranjak pergi meninggalkannya. Alan berusaha menarik nafas dalam secara berlahan dan melepaskan dengan penuh kenikmatan. Tapi Arini bereaksi berusaha menghindar “iihhhh....jangan dekat-dekat, kamu mesum deh!”
__ADS_1
Mengingat itu Alan tertawa kecil dibibirnya, tingkahnya aneh hanya bau parfum dan aroma tubuh Arini terus melekat diujung hidung serta ingatannya.