
"Turunin aku di Post Satpam Lan!."
"Baiklah!." Arini menampilkan sikap dinginnya pada Alan. Arini turun di post satpam depan villa, Pak Satpam itu tak menghiraukan Arini malah berlari ke arah mobil bosnya.
"Selamat malam tuan muda!."
"Pak, tolong antar nona itu menggunakan buggy car ke Villa 3!."
"Baik tuan muda!."
Alan melajukan mobilnya, sedangkan Arini sudah di bantu pak satpam sesuai perintah bosnya.
"Ar, kamu kemana aja?. Kata anak-anak, kamu belum tiba dari sore. Aku kuatir Ar!," hadang Bento ketika sosok Arini terlihat olehnya. Mendengar penjelasan Bento, Arini hendak berjalan terus dengan tak menghiraukannya. Namun seketika berhenti sejenak dan memandangi Bento dengan lembut.
"Ben, tolong jangan terlalu baik pada ku!."
"Kamu kenapa Ar?."
"Bolehkan, biarkan aku sendiri Ben?."
"Maaf Ar!. Baiklah!." Arini tetap nyelonong pergi, Bento menjadi bingung akan sikap Arini.
Begitupun dengan keadaan Alan, Nagita sudah menghadangnya depan pintu ketika dia tahu yang datang itu Alan, cuman beda penyambutannya. Nagita sudah menyimpulkan senyum menawan untuk kekasihnya itu karena memang Nagita tak tahu kalau Alan bersama Arini sebelumnya.
"Hai sayang, udah selesai urusannya!. Kok lama sih, aku tadi bete banget karena kamu tak ada. Untung teman-temanmu seru!." Nagita sudah nyosor duluan mencium pipi kiri kanan Alan.
"Oh ya!. Bagus dong!."
"Kita gabung yuk sama anak-anak, pada ramai di bawah!," ajak Nagita
"Kamu duluan aja!. Aku ke kamar bentar!."
"Mau ngapain lagi Lan?."
"Aku mau ambil sesuatu!." Alan sebenarnya mau menghindar dari Nagita karena masih kepikiran sama Arini.
"Baiklah sayang!." Nagita memberi kecupan tipis di bibir Alan.
Alan merebahkan tubuhnya diranjang, pandangan menerawang ke atap kamar, pikiran dan bayangannya masih dengan peristiwa di pantai tadi. Ingatan dipenuhi dengan Arini, tubuhnya masih melekat aroma Arini, yang membuatnya tak bisa lupa.
Justru Arini sebaliknya berungkali keluar masuk kamar mandi hanya untuk membasuh bibirnya dari bekas Alan dan bagian yang di sentuh Alan. Arini melakukan demikian karena merasa Alan mempermainkannya. Arini masih terbayang- bayang akan kelakuan Alan terhadap Nagita.
"Goblok banget sih!. Gampang banget gue jatuh dalam rayuannya!. Pasti dia merasa menang sekarang!." Arini berkata dan mengumpat untuk dirinya di depan cermin.
__ADS_1
"Oh My God!. Apalagi ini!." Arini menjadi kaget ternyata Alan sudah membuat tanda di batang lehernya.
"Dasar breng***!. Gawat, tadi Bento lihat ga sih?." Arini menjadi kuatir dan mulai merasa malu. Karena ada tanda di leher Arini akibat perbuatan Alan. Arini malam ini berniat mengurung diri di kamar, sambil membereskan beberapa barangnya di koper, dan barang belanjaan serta ole-ole yang ketinggalan di mobil Bento ternyata sudah berada di kamarnya.
Alan malah menjadi gelisah karena semalaman Arini tak pernah muncul lagi di acara jamuan penutup itu. Nagita berpikir malam ini bisa mesra-mesraan dengan Alan, Nagita coba merayu Alan tapi di tolaknya dengan halus.
...****************...
Mentari pagi, teriknya begitu alami menyentuh kulit. Suara deburan ombak membuat Arini akan merindukannya. Bau laut, angin pantai yang terkadang menyibakan rambutnya. Bali memang candu bagi para penikmatnya.
"Jika di ijinkan oleh waktu, pasti aku akan kembali ke sini, Bali!," batin Arini.
Setelah semuanya bersiap akan kembali ke Jakarta menekuni aktivitas mereka. Karena masih banyak tugas yang menunggu mereka di sana.
"Hai Fery, anak-anak sudah pada ngumpul kan?."
"Sudah kak!. Hanya menunggu bis jemputan aja!."
"Sudah di calling agensinya!."
"Sudah juga kak, katanya dalam perjalanan!."
"Yang ngurus tiket pesawat gimana?, bereskan?"
Semua kebutuhan kepulangan mereka sudah di handel oleh juniornya dan tiap-tiap seksi ternyata kerja penuh tanggung jawab. Keberangkatan mereka ke Airport Ngurah Rai berjalan lancar sampai semua mahasiswa-wi dengan lengkap sudah siap untuk kembali.
Alan dan teman-temannya masih di alam mimpi. Mereka tak perlu di repotkan untuk urusan pulang karena private jet milik Bli Agung akan setia menunggu mereka. Arini tak mau ikut dengan pesawat pribadi itu karena Bli Agung pasti akan mengintimidasinya lagi.
"Selamat pagi tuan muda!. Hari ini, tuan juga mau pulang ke Jakarta?."
"Ya mbok, tolong siapkan keperluan aku!."
"Baik tuan!. Di Villa 2 dan 3 sedang di bersihkan tuan, mahasiswa/wi sudah balik jam 9 tadi!."
"Nona Arini juga sudah balik sama mereka?."
"Iya tuan!. Saya permisi!." Alan hanya menganggukan kepala membalasnya. Sekarang kira-kira pukul 11 siang.
"Halo Gung!. Kamu nginap dimana?." Alan membuat panggilan telepon.
"Di hotel bro!."
"Kita jadi balik kan dengan private jet elu?."
__ADS_1
"Jadilah. Balik sekarang?."
"Anjir lu!. Tahun depan, sekaranglah!."
"Baik tuan muda!. Gue tunggu di Airport, nanti gue calling lagi. Soalnya gue harus telepon ke hanggar katanya kemarin ada pemeliharaan mesin!."
"Gue tunggu sampai jam 12 kalau ga ada kabar gue pakai pesawat komersil!."
"Baik tuan muda, beres!." Alan mematikan panggilannya.
"Kenapa sayang?. Kamu ngegas sama siapa?."
Nagita berada di belakangnya dan merangkul Alan.
"Kita balik sekarang juga sayang?. Besok kan masih bisa!."
"Iya, aku harus membuat laporan kegiatan dan evaluasi bersama tim!."
"Kita belum banyak menikmati waktu berdua Lan!."
"Di Jakarta masih bisa Nagita!." Alan berusaha melepas pelukan Nagita dengan lembut.
"Aku mau bersiap!. Kamu masih mau di sini atau balik bareng aku?."
"Sama kamu sayang!."
Kedua sejoli ini pun mempersiapkan semua kebutuhannya untuk meninggalkan Bali. Bento, Rony dan Bli Agung kelihatan masih mau berlama-lama di sini, karena semalam mereka menghilang dan masing-masing nginap di hotel.
Alan dan Nagita sudah berada di Airport setengah jam kemudian, kabar dari Bli Agung pun belum ada mengenai pesawat pribadinya. Alan membuat panggilan lagi.
"Anjir lu!. Gue udah nungguin di Airport!."
"Sorry bro!. Pesawat belum bisa jalan hari ini, seperti yang gue bilang masih pemeliharaan mesin!."
"Breng*** lu Gung!. Tahu gitu gue beli memang tiket pesawat, gue harus nunggu 2 jam di sini!"
"Sorry, sorry Lan!. Gue tiba-tiba ada urusan mendadak juga!."
"Aaahhh sudahlah!. Gue ga mau tahu!." Alan menjadi dongkol akan kelakuan Bli Agung. Akhirnya tiket pesawat dapat juga setelah 1 jam kemudian, mereka sudah berada dicabin kelas bisnis.
Alan dan Nagita sudah duduk berdampingan Alan sudah menyenderkan kepalanya dan menutup matanya karena lelah menunggu.
"Aduh gawat!. Daniel di sebelah gue!." Nagita bicara lirih perlahan takut Alan mendengar keluhnya. Daniel Pearl sedari awal sudah mengetahui kalau mereka naik pesawat yang sama. Namun Daniel berpura-pura tak melihat Nagita.
__ADS_1
Nagita menjadi gelisah, mau menengok ke sebelah pun seakan tak sanggup. Selama perjalanan Nagita tak bisa berbuat banyak, hanya diam takut Daniel akan berbuat nekat terhadap dirinya. Alan malah semakin senang karena Nagita tahu memposisikan dirinya dengan tidak menganggu kenyamanannya selama tidur di pesawat.