
Rendra pagi-pagi sekali sudah berada dirumah Arini, karena sudah tiba waktunya akan berangkat ke Italia. Rendra hanya membuat kenangan kecil nan indah antara mereka di pulau itu. Segala keperluan Arini tentunya sudah dipersiapkan seminggu sebelum keberangkatannya.
“Ka, Tara sama ibu aja di rumah!” Tara adiknya sudah nampak sedih akan ditinggalkan kakak tercintanya.
“Adikku Tara tersayang! Kamu harus jagain ibu ya, saat kakak ga ada. Kalau ada apa-apa sama ibu cepat hubungin kakak!” Arini berusaha tegar tak mau kepergiannya di tandai dengan air mata.
“Ya kak!” Tara langsung memeluk Arini dengan erat.
“Dan kamu harus nurut dan ga usah bandel-bandel lagi! Belajar yang rajin bentar lagi mau naik kelas 3 SMA kan! Kamu harus bisa urus diri kamu sendiri, jangan buat ibu pusing karena tugasnya di kantor juga pasti banyak. Ingat juga, jangan main motor melulu!!” panjang lebar nasihat Arini pada adiknya.
“Ren, Aku juga mohon jagain ibu sama adikku ya!”
“Kamu tak perlu kuatir Ar, aku akan sering kunjungi mereka kok!”
“Terima kasih, Rend!”
Arini pergi menghampiri ibu Yanti , yang sedang bersiap juga mau ke kantor.
“Bu, Arini pamit! Mohon doanya agar Arini bisa menyelesaikan magangnya dan meraih impian Arini menjadi seorang Fashion Designer!”
Ibu Yanti memeluk anak gadisnya, bola matanya sudah mulai berkaca-kaca, mulutnya terkatup karena bibirnya gemetar menahan tangisan.
“Kamu baik-baik disana ya Ar! Tuhan selalu memberkati mu nak!” hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut ibunya. Ibunya percaya anak gadisnya pasti akan baik-baik saja karena percaya pada Maha Pencipta, Sang Pemberi Kehidupan akan selalu melindungi anaknya.
“Ibu dan adikmu ga bisa mengantar ke airport!”
“Nak Rendra, ibu percayakan Arini ke tanganmu sampai dia take off !”
“Siap, Ibu calon mertua!” jawaban tegas Rendra.
Arini memandang ke arah Rendra, dan membalas dengan senyuman. Dan berakhir pada pandangan ibunya yang penuh tanda tanya akan kemajuan hubungan anaknya ini. Salam perpisahan pun telah usai, Rendra sudah bersiap mengantar Arini ke bendara, tak banyak perbincangan antara Rendra dan Arini selama perjalanan.
"Ar, aku akan menunggumu!" Rendra mencegat Arini ketika hendak masuk melakukan check in.
__ADS_1
"Terima kasih Ren! Kamu pria yang baik... " sejenak Arini termenung pikirannya ke arah Alan. Arini tak bisa jujur pada Rendra mengenai Alan karena Arini tahu Alan hanya menjadikannya sebagai salah satu wanita incarannya, predikat Alan sebagi playboy membuat Arini ragu dengan perasaannya, tapi entah kenapa Arini tak bisa menerima Rendra sebagai kekasihnya.
"Aku bukan wanita yang baik buatmu Ren, aku takut suatu hari nanti aku akan menyakitimu!"
"Kenapa kamu berkata begitu Ar? atau kamu sudah menyukai pria lain" seketika Arini tertegun. Arini merasa bersalah bagaimana harus bersikap pada Rendra yang sudah lama menyimpan perasaannya.
"Maafkan aku Ren! jika aku tak bisa berjanji padamu tapi aku mohon beri aku waktu, agar aku bisa membuat ruang dihatiku untuk melihat dirimu sebagai pria bukan sebagai sahabat." Arini menjadi tak tega melihat wajah Rendra menjadi sedih.
"Sudahlah Ren! kita jalanin aja dulu, aku kan mau pergi masa mau sedih-sedih sih!" Arini berusaha mencairkan situasi dengan memasang wajah cerianya sehingga dibalas Rendra dengan senyuman.
"Baiklah Ar! Kamu baik-baik disana ya, janganlah lupa untuk selalu saling menghubungi" akhirnya keduanya saling berpelukan. Mata Arini berusaha mencari-cari sosok Alan di keramaian airport, pikirnya " barangkali aja Alan dapat menyusul, ah goblok amat... Alan kan tak pernah tahu kalau aku akan pergi" Arini membuyarkan pikirannya. Rendra melepas kepergian Arini, semakin jauh pujaan hatinya membuatnya gelisah apakah mampu membuat Arini jatuh cinta padanya.
"Aku akan menjaga ibu dan Tara Ar, belajar yang giat ya! see you, darling!"
"Thank you, Ren!" Arini berlalu pergi dikeramaian bersama beberapa utusan dari pihak kampus termasuk ibu Dekan turut mengantarnya sampai ke Italia.
...****************...
“Hallo, Alan! Kamu dimana? Ada apa hubungi ayah semalaman?”
Alan masih meringkuk di ranjang, berusaha menyadarkan dirinya dan membalas panggilan telepon dengan normal.
“Huoooaa...(uapan rasa kantuk), Alan ada dihotel sama rekan bisnis”
“Katanya kamu di Bali!”
“Dini hari tadi kita langsung balik, soalnya investor dari Dubai katanya pagi ini juga mau ke Taiwan”
“Loh..kok kamu-nya masih tidur! Kamu harus segera mengantarnya ke airport dong! pelayanan pada rekan bisnis itu harus sampai tuntas jangan setengah-setengah”
“Ya..ya..Alan bangun sekarang! Oh ya....Mension kita di pulau, ayah pinjamkan ke siapa sih?” Alan berpura-pura bertanya. Padaha dia sudah tahu bahwa Rendra dan Arini di mension mereka waktu itu.
“Sama Tuan Rendra Wira, itu loh Perwira Polisi, Kasat Reskrim!”
__ADS_1
“Kok bisa?”
“Bisalah! Tuan Rendra itu anak dari rekan ayah. Anggap saja Hadiah kecil dari ayah untuk tunangannya!”
Mendengar kebenaran itu, membuat Alan pagi-pagi sudah menggertakan giginya. Dan tak berniat menanyakan alasannya karena Alan sendiri sudah tahu jawabannya dari foto dan informasi dari anak buahnya.
“Ok..ok..good morning yah!” panggilan berakhir.
Ayah Ferdian bingung akan sikap Alan, tak biasanya dia mencari tahu urusan ayahnya, apalagi orang lain.
Alan sudah tak bersemangat, terpaksa harus bergegas karena harus mengantar Tuan Raiyan Casildo ke airport. Kepulangannya rekannya ini memang tidak terlalu diburu oleh waktu karena memang mereka memiliki private jet juga.
Alan ternyata sudah tiba terlebih dahulu di airport bersama manajer, dan Ronny sahabatnya. Selama menunggu administrasi keberangkatan diselesaikan Alan mendapat sebuah panggilan seluler lagi.
“Selamat pagi tuan muda! Ada berita urgent tuan”
“Apaan sih? suaramu seperti sedang dicekik aja, perlahan ngomongnya!”
“Nona muda...nona Arini!”
“Elu mau saya gampar! Ngomong yang jelas!”
“Nona Arini berangkat ke Italia sekarang!”
“What? Jangan becanda, tengkorak kepalamu saya buat retak anjir!”
“Iya, nona muda ke Italia untuk magang selama 3 bulan dan sekarang berada di airport bersama perwira polisi itu!” langsung panggilan telepon itu dimatikan. Alan berusaha menghubungi no hp milik Arini tapi sayang tak tersambung karena hp milik Arini belum sempat dikembalikan oleh Alan kepada pemiliknya. Masih disitanya, sehingga Alan mulai kesal mendapat berita demikian.
“Ron,please elu temanin Tuan Raiyan! Gue harus pergi sekarang”
“Mau kemana Lan?” tanya Ronny bingung melihat tingkah Alan yang kalang kabut.
“You stay here, don’t go anywhere! Kamu selesaikan sisanya, I trust you!” Alan sudah berlari mencari pintu keberangkatan, setelah dilihat layar monitor jadwal penerbangan luar negeri, terlambat selama 10 menit. Penumpang dengan tujuan Italia sudah bersiap take off. Beberapa petugas menjadi amukan Alan karena tidak di ijinkan masuk. Alan tak bisa berbuat banyak lagi, tubuhnya lemah lunglai ketika menatap pesawat sudah mengangkasa meninggalkan bumi.
__ADS_1