
"Cie... Cie..., Pagi-pagi tuan muda sudah dapat pelukan hangat! Katanya ga mau malah di embat juga!," guyon Agung ketika ketiga sobatnya sampai di kampus dan melihat adegan pelukan antara Alan dan Silvi.
Alan hanya melotot dan melebarkan pupil matanya ke arah Agung langsung tak berkutik lagi karena itu tandanya Alan marah.
"Banyak bacot sih lu!." Bento menimpali menegur Bli Agung karena melihat Alan langsung berubah warna mukanya. Sedangkan Silvi masih posisi yang sama memeluk Alan.
"Elu, sampai kapan Silvi kayak gini? Ga enak sama teman-teman kampus!"
"Bentar lagi, 1 menit aja!"
"Elu, kenapa Lan? Tumbenan nurutin kemauan Silvi!," sambung Rony melihat Alan yang tak biasa mau di sentuh oleh nenek lampir.
"Elu lepasin sekarang, atau gue benar-benar marah Silvi!." Suara Alan keras, membuat Silvi takut dan akhirnya melepaskan juga pelukannya.
"Elu, sebaiknya pergi sekarang!"
"Tapi Lan!"
"Tu kan, elu kalau sudah dikasih hati pasti mintanya jantung!,"
"Ingat, pelukan gue tadi sama harganya kalau elu mau selesaikan urusan mengenai Ririn!." lanjut Alan berbisik takut ketiga sahabatnya dengar percakapan itu.
"Ayo bro, kita cabut!." Alan mengajak pergi. Sedangkan Silvi di biarkan begitu saja, kali ini Silvi tidak begitu ngebet mengejar Alan, pikirnya Alan mulai mencair terhadapnya.
"Lan, kenapa elu singgung nama Ririn depan Silvi? Apakah karena kasus plagiat yang menimpa Arini itu?," tanya Bento.
"Yap...Gue mau Silvi yang membuat perhitungan sama tu cewe."
Bento berani bertanya hal itu karena Roni dan Bli Agung sudah jalan mendahului mereka. Bento tahu pasti Alan sedang merencanakan sesuatu untuk Ririn, agar mendapat balasan setimpal.
"Tu bocah dua, emang sudah kelar urusan akun akademik mereka?," tanya Alan berbasa-basi tak mau terlalu jauh membahas soal itu, pasti ujung-ujung Bento akan bertanya mengenai Arini.
"Akun mereka dblokir karena ada beberapa tugas di matakuliah belum selesai."
"Loh... Kok mereka nyantai-nyantai aja!"
"Ah.. Elu kayak engga tahu mereka, Lan! Katanya don't worry bro, beres!." Bento mencontoh gaya Rony dan Bli Agung .
"Ha.. Haha... Dasar tengil sih mereka!." Keduanya tertawa.
"Hei..., Kenapa kalian? Pasti ngomongin kita kan!." Bli Agung menoleh karena merasa asik banget kedua sobatnya itu ngobrol.
__ADS_1
"Kalian ga perlu tahu! Sono selesaikan problem kalian, mau gue dan Bento mendahului kalian menggunakan toga!." Alan menanggapi.
"Wah.. Ron! Kita di doain ga bisa lulus, kita masih dianggap teman ga sih?"
"Alan hanya becanda bro! Yuk, ga usah ladeni mereka! Benar katanya tinggal sehari pendaftaran magang!," ungkap Rony terdengar bijak.
"Gue akan buat perhitungan sama elu, Lan!" Bli Agung membuat kepelan tangan ancaman, hanya gara-gara aja depan Alan padahal mana berani Bli Agung berbuat demikian pada tuan muda.
"Sono, pergi gih!".
Persahabatan bagai kepompong, istilah inilah yang dapat disemati diantara mereka. Karena persahabatan ini terjalin bukan hanya karena mereka adalah anak-anak sultan saja tapi karena vibes mereka sama.
...****************...
"Hai sayang! Lagi apa?." Muncul Nagita Sang Kekasih hati.
"Nagita, kamu ga kuliah?"
"Hemm, baru aja selesai!" Nagita sudah duduk disamping Alan langsung digandeng tangan kekasihnya.
"Nagita, malam ini kita dinner yuk!"
"Hmmm"
Alan kembali serius, membaca sebuah buku referensi mengenai dunia bisnis, Nagita pun demikian ikut membaca buku mengenai teknologi. Sambil menikmati waktu berdua, sentuhan manja Nagita pada Alan membuat mereka saling bersitatap dan terkadang Nagita menyenderkan kepalannya pada bahu Alan.
"Hai Ar, mau kemana?" tanya Bento, suasana saat Bento melihat Arini hendak ke perpustakaan.
"Hai Ben, lama kita ga bertemu setelah balik dari Bali!"
"Kenapa? Kangen ya!"
"Ya..., bisa dibilang begitu! Soalnya kamu selalu baik padaku Ben!"
"Jangan gitu Ar! Nanti aku baper loh...! "
"Ah... Becandamu ga lucu deh! Aku mengatakan demikian karena kamu adalah teman yang baik!"
"Oh...ya! Thank you Ar! Eh, gimana kasus plagiatnya? Sudah ada keputusan Rektor?"
"Belum Ben, mungkin besok!"
__ADS_1
"Berarti rencana magang kamu belum final dong? Tapi aku doakan semoga kamu sukses kedepannya! "
"Ya, begitulah! Terima kasih Ben atas doanya." Bento membalasnya dengan senyuman.
"Ayo Ben! Kenapa juga elo akrab banget sama cewe kampung ini?," labrak Bli Agung ketika melihat Arini sudah bareng Bento.
"Maaf ya, Bli! Sampai kapan sih kamu berhenti memanggil aku cewe kampung? Disini kita semua sama!"
"Wah... Sama katanya! Ga tahu diri, elu bisa masuk ke kampus ini karena belas kasihan kita, tahu ga elu?"
"Suuuut! Please, jangan terlalu kasar kata-katamu, Bli!"
Tak lama muncul sosok tubuh yang gagah, yang membuat para mahasiswi kampus agak menjerit karena ketampanannya.
"Permisi! Ada apa ini?"
"Rendra..!!!" Arini kaget Rendra ternyata sosok itu.
Rendra tahu Arini sedang di intimidasi sehingga Rendra sengaja menatap Bli Agung dengan seksama, dengan merangkul Arini pada bahunya, secara tidak langsung Rendra sudah membuat benteng agar tak seorang pun boleh menyentuh wanita pujaan hatinya.
"Kamu kenal Ar?" sambung Bento,
"Elu kira gue takut, sama bodyguardmu! Menang tampang doang!" benak Bli Agung melihat kepercayaan diri Arini kembali, dan raut wajahnya berseri.
"Ya ben! Ini... " Arini belum sempat melanjutkan kata-katanya lansung Rendra menghadang perkataan Arini dan menyodorkan tangan untuk bersalaman.
"Saya Rendra Wira, pacarnya Arini!" Rendra spontanitas mengatakan demikian, soalnya kedua pria dihadapannya seperti saingan baginya untuk mendapatkan hati Arini. Bento dan Bli Agung, sempat kaget. Apalagi Arini, ditatap Rendra dengan mata yang dalam tanpa sepatah kata pun mampu di ungkapkan untuk membantah.
"Saya Bento" tangan mereka bersalaman dan dilanjutkan pada Agung.
"Anak Agung Saylendra." Bli turut menyalami agar terlihat gentel.
"Ren, kok bisa kesini? Aku masih belum selesai urusan kampus!," ungkap Arini.
"Ga apa-apa, aku tunggu, Ar!"
"Ehem.. Kita pamit ya Ar! Senang berkenalan denganmu, tuan Rendra!." Bento merasa ga enakan dan pamit pergi, ditarik juga Bli Agung.
Tinggalah mereka berdua di situ, tapi banyak pasang mata sedang memandang ke arah mereka, bukan karena Arini tapi Rendra.
"Kita sebaiknya pergi dari sini!." Arini sudah menarik tangan Rendra, di ikuti saja mau Arini tapi tatapannya tak pernah berpaling, ketidaknyamanan Arini akan situasi itu membuat Rendra jatuh hati.
__ADS_1