
Setelah perdebatan kecil antara Arini dan Alan masing - masing dari mereka kembali ke fakultasnya. Alan melanjutkan matkulnya sedangkan Arini free matkul menjelang siang itu. Untuk waktu itu Arini pergi keruangan design menyelesaikan projectnya. Diruangan design tentunya Arini tidak sendiri ada yang sedang menggambar pola, ada yang sedang menggunting dan menjahit dan banyak hal.
"Ar, gua dengar elu ada ajuin pendaftaran kompetisi fashion di Italia?" tanya Ririn yang merupakan salah satu teman kelasnya.
"eemmm" jawab Arini singkat malah sibuk dengan beberapa portofolio dihadapannya.
"elu kan tergolong mahasiswa yang dapat bantuan itu, masa sih boleh ikutan kompetisi?" tanya Ririn agak menyinggung dan meremehkannya. Sikap Arini hanya diam saja tak mau menanggapi.
"Ar... gua ajak ngobrol loh, kok dicuekin sih!"
"oh ya!!! gua kira ga ada orang, mau ngobrol aja pake ngehina" timpal Arini kesal.
"elu nyebelin Ar!"
"hei... elu yang nyebelin bisa ga omongan lu dikoreksi! emang kenapa kalau gua mahasiswa yang mendapat bantuan itu?"
"nyatanya memang benar, elu mahasiswa tak mampu! justru elu yang perlu koreksi diri!"
"cukup ya!! jangan mulut elu yang ngebacot aja, tunjukin prestasi elu!! otak elu aja simpannya di dengkul kok!!"
"Ar.. elu kok kasar banget sih!!!"
"bukannya elu yang kasarin gua duluan, gua ingatin ya! gua masuk kampus elit ini karena prestasi dan kerja keras gua bukan karena harta ataupun backingan jabatan orangtua kayak elu !!!" jelas Arini keras.
Ada beberapa teman yang berada disitu mulai merapat diantara mereka, dan mencoba memulihkan keadaan. Melihat semakin ramai orang berdatangan memperhatikan pertengkaran kecil itu, Arini mengambil keputusan untuk keluar dari ruangan desain karena suasana semakin tidak kondusif.
"wah... hari ini kok sial banget sih! kenapa orang-orang pada reseh? "
"pagi tadi dengan teman-temannya Alan, menjelang siang dengan si playboy gila itu dan sekarang dengan si Ririn usil" Arini menggrutu panjang lebar, sambil merunutkan setiap kejadiaan yang dilaluinya penuh emosional.
Arini kembali mengambil sepeda motor maticnya di garasi seperti biasa, pikirnya buat apa lama-lama di kampus lagi jika nanti membuatnya naik pitam lagi dengan kejadian tak menyenangkan. Sambil mengendarai kendaraannya terlintas dipikirannya untuk pergi jalan-jalan dipusat perbelanjaan barangkali muncul ide-ide kreatif dan sebentar lagi mau ke Bali, sehingga Arini juga berniat membeli beberapa kebutuhannya.
Ketika Arini melewati sebuah outlet brand terkenal terlihat oleh Arini sosok yang dikenal yaitu Nagita. Tapi wanita itu tidak sendirian melainkan bersama dengan seorang pria bule, tinggi dan tampan. Mereka berdua berjalan bergandengan setengah merangkul, disekitar mereka ada juga beberapa orang bertubuh tegap dan kekar sedang mengawasi mereka.
Awalnya Arini berusaha tak mau penasaran tapi tiba- tiba naluri detektif muncul seketika sehingga Arini berusaha mencari posisi yang pas untuk memperhatikan gerak-gerik mereka.
"nona... permisi!! apa yang anda cari? "
Arini membalikan badannya, seketika tubuh besar dan kekar itu sudah menghadangnya tepat didepannya, nyali Arini menciut juga.
"tidak ada tuan!! "
"sorry nona!!! " outlet ini belum bisa dikunjungi selama bos kami masih di dalam, silahkan nona boleh pergi sekarang!!"
" ok.. ok... saya pergi!" jawab Arini sedikit terbata-bata dan pergi dari situ dengan mengayunkan langkahnya yang panjang diikuti napas yang tersengal karena dihinggapi rasa ketakutan melihat sosok bodyguard itu ditambah suaranya juga sangar.
"bisa gila aku hari ini!!, belum sempat menikmati me time eh... muncul lagi kesialan! " mood Arini menjadi jelek, pulang ke rumah adalah salah satunya jalan untuk menghindar kesialannya hari ini.
Dalam perjalanan pulang kurang lebih 15 menit tiba-tiba saja motornya mati.
" aduh.. aduh... Tuhan tolonglah!! jangan biarkan kesialan menimpa aku lagi, please! " lirih Arini sambil turun dari motornya dan memperhatikan bahan bakar.
__ADS_1
"sial..!!! bensinya habis, gimana donk!! " Arini terlihat bingung, diambil handphone miliknya di searching SPBU terdekat dan ternyata masih 2 km dari tempat motornya mogok.
" masa sih aku harus dorong! " Arini tak bisa membayangkan mendorong motornya sepanjang 2 km. Arini mencoba menelpon adiknya Tara untuk membelinya sebotol bensin dijalanan komplek rumah mereka. Soalnya mana mungkin bensin eceran dijual di jalan negara. Ternyata panggilan telepon Arini tak pernah tersambung karena sedang tidak aktif. Arini semakin kacau dan bingung harus menghubungi siapa untuk menolong dirinya.
sebenarnya sudah sedari tadi terpikirkan untuk meminta bantuan Alan tapi karena masih merasa kesal dan juga gengsi niat itu diurungkan Arini. Sudah kurang dari 10 menit Arini terdiam dipinggiran jalan itu sambil berpikir dan berdoa dalam hati adiknya Tara akan mengaktifkan hp miliknya tapi harapan tinggal harapan kosong.
Dari 10 menit sampai ke menit 30 akhirnya Arini memutuskan untuk mengambil hpnya lagi untuk menghubungi orang pertama yang terpikirkan olehnya yaitu Alan.
Untunglah saat menerima panggilan masuk dari Arini, Alan sudah menyelesaikan matkulnya tepat pukul 16.15 wib
"halo... Lan! "
"halo gadisku yang lugu dan alim, sudah ga marahan? "
" Lan please!! jangan ajak becanda, bantuin aku dulu! "
"kenapa Ar? suaramu kok jadi memelas gitu! "
"motor aku mogok karena kehabisan bensin, boleh ga kamu beliin bensin eceran dipinggir jalan...... " belum selesai Arini melanjutkan kata-katanya Alan sudah menertawakannya.
"hahahahaha.... Arini, Arini!!! "
" kamu mengolok diriku ya! "
" ga, kamu tunggu disitu, share location! " langsung saja dimatikan panggilan itu. Dengan secepat kilat Alan menemui Arini berdasarkan alamat yang dikasih. Tak berapa lama tidak kurang dari 5 menit Alan sudah berada dilokasi dimana motor Arini mogok.
" Ar.. sudah dari tadi kamu disini? "
"kenapa baru sekarang kamu memberitahunya? "
Arini tak mau menjawabnya karena memanggil dirinya untuk membantu saja harus mengalami pergolakan batin.
" mana bensin ecerannya? "
" ga ada! masa kamu minta aku beli bensin eceran dijalanan sedangkan aku sendiri menyetir mobil mewah, malu-maluin Ar! "
" lah...gimana dong motor aku? SPBU masih jauh Lan, kamu mau dorong!! "
" itu mah kerjaan orang gila, siapa juga yang mau cape dorong motor kamu! "
" kamu niatnya bantu ga sih Lan!? "
" sssuuuuuuuttttt..... cerewet deh kamu! gini aja kok repot! " dicoel hidung milik Arini dengan gemas. Arini tak bisa mengelak karena tenaganya juga sudah habis untuk berdebat lagi.
Ternyata Alan sudah menelpon seseorang entah dari mana asalnya sambil membawa sebuah mobil pick up untuk mengangkut motor milik Arini ke SPBU terdekat. Arini hanya terdiam tak banyak tanya lagi dengan menumpangi mobil Alan mereka mengikuti dari belakang mobil itu.
Selama perjalanan itu Arini tak banyak bersuara, ada satu hal yang mengganjal pikirannya untuk bertanya mengenai Nagita karena kejadian dipusat perbelanjaan tadi. Tapi diurungkan lagi karena tak mau turut campur urusan orang lain.
" Ar... aku antarin kamu pulang!! motornya mereka antar kerumah kamu ya? "
" baiklah, terima kasih! aku juga sepertinya tak ada tenaga untuk mengendarainya, aku takut kena sial lagi! "
__ADS_1
" are you Ok, Ar?"
" aku cape aja! kayaknya hari ini adalah hari yang sangat tidak beruntung buat aku! "
" kamu boleh beristirahat, aku nyetirnya santai aja dan kasih tahu alamat rumah kamu! "
Arini hanya mengangguk dan memberikan alamat rumahnya. Dalam perjalanan itu Arini menghabiskannya dengan berbaring. Alan menyimpulkan senyuman manis dibibirnya pikirnya Alan sudah menaklukan hati Arini yang keras dan jutek itu.
Deburan suara ombak, desiran angin malam ditepi pantai merasuk relung-relung pendengaran Arini seolah-seolah di alam mimpi. Ternyata Alan menghentikan mobilnya di tepi pantai karena melihat tidur Arini begitu terlelap. Sudah berulang kali Alan membangunkan Arini tapi tetap tak sadar, sambil menunggu Arini tertidur Alan malah sibuk memainkan game online di handphonenya.
Tak berapa lama suara deburan ombak semakin nyata membuat Arini akhirnya terbangun,
" aku dimana? kenapa kita kesini? "
suara Arini memecah keheningan.
" sudah bangun non! tidurmu pulas banget sih! pake ngeces lagi, mobil aku bisa kotor tuh! "
" apaan sih Lan, biarin aja!! antarin aku pulang sekarang!! "
" enak aja!! kita makan dulu, soalnya aku kelaparan nungguin kamu tertidur tadi! "
" siapa suruh juga kita kepantai, kenapa ga bangunin aku tadi? "
" hahahah Ar.. Ar, tidurmu itu kaya kebo! berulang kali aku bangunin, tapi emang kamunya aja keenakan dimobil mewah"
" udah.. udah kamu ngeledikin mulu! mau makan ga?"
" iya... gadisku yang lugu dan alim!"
" ngomong- ngomong selama aku tidur kamu tidak berbuat yang macam-macam kan?"
Alan sudah melajukan mobilnya menuju sebuah restoran.
" ya.. aku sudah mencium kamu! "
" kok gitu sih! mesum banget kamu Lan! "
" otakmu tu yang mesum Ar! kamu kira aku pria bejat ya? "
" ya... aku jaga-jaga aja kamu mengambil ciuman pertama ku!"
Alan seketika mengerem mendadak mobilnya sehingga membuat Arini agak tersentak untuk ada sitbelt membuatnya tidak sedikitpun cidera.
" what? first kiss? kamu belum pernah dicium ya? "
Arini seketika menjadi gagap, Arini keceplosan saking lugunya mengakui dihadapan sang playboy sama aja membuang umpan pada buaya.
" maksud aku, ciuman pertama menjadi pacar kamu!, kamu kira aku selugu itu! enak aja aku pernah pacaran kali!" ungkap Arini sedikit berbohong, Arini malu juga harus jujur kalau sampai seumur mahasiswa pun Arini sedikitpun belum pernah pacaran.
Alan kembali melajukan mobilnya, mendengar jawaban Arini itu membuat Alan menjadi curiga, masa buaya dikadalin.
__ADS_1
Keduanya akhirnya makan malam bersama, sambil membicarakan beberapa hal. Biasanya mereka selalu bertengkar dan berdebat malah malam ini menjadi moment terbaik mereka untuk sedikit berbagi.Sampai akhirnya Alan mengantar Arini sampai ke rumahnya hampir jam 10 malam.