
Flash back on ( Alan bertemu Ibu Yanti)
"Sayang, kamu ga singgah dulu ke apartemen aku!" Nagita sekedar berbasa-basi harapannya Alan kali ini sebaiknya tidak singgah dulu ke apartemennya, mengingat Daniel tadi siang sudah mengancamnya untuk bertemu dihotel. Alan pun demikian karena ada hal penting yang harus dilakukan olehnya setelah melihat ibu Yanti tadi.
"Maaf Na, sore ini aku harus balik ke kantor dulu, ada file yang ketinggalan!" alasan Alan membuat Nagita agak legah.
"Baiklah sayang! kamu pentingin dulu urusan kantornya, aku lelah mau istirahat aja!" dengan lembut dan santainya Nagita menanggapi membuat Alan agak bingung akan sikap Nagita yang biasanya ngotot kalau Alan ga singgah sebentar kalau mengantarnya pulang.
"Tumben, kamu ga merengek pada ku untuk tetap tinggal!"
"Aku akan berusaha ngertiin kamu sayang!" sambil Nagita memegang pipi Alan dan mencium perlahan ujung bibirnya.
"Ingat! setelah itu kamu juga harus pulang ke rumah jangan kemana-mana ya!"
"Iya.. Selamat malam Na!"
"Selamat malam juga sayang! entar aku calling!"
Setelah salam perpisahan pasangan kekasih ini, Alan langsung melajukan mobilnya ke sebuah toko kue dan toko bunga, buah tangan yang harus dibawa ke rumah Arini.
"Syaloom, selamat malam!" Alan sudah berada didepan rumah Arini. Pastinya Tara ada disitu yang selalu sibuk dengan motornya. Kali ini, Tara sibuk mencuci dan membersihkan motornya.
"Syaloom Ka Alan, masuk aja!" Tara ramah terhadap Alan.
"Terima kasih ya dek. Kamu sendiri di rumah?"
"Ibu masih dikantor, tapi kalau jam segini biasanya dalam perjalanan!"
"Ibu Yanti ga bawa mobilnya?"
"Ga ka! sejak mogok waktu itu mobilnya sudah ga bisa jalan lagi, kalau diperbaiki biayanya mahal Kak, kata ibu nanti aja kalau ada rezekinya!"
"Oh.. lalu bagaimana kabar kakakmu Arini?"
Tara yang sangat serius mencuci motornya, seketika berhenti sejenak dan memandang Alan sekilas.
"Ka Arini baik-baik aja tuh! saya kira Ka Alan komunikasinya baik sama Ka Arini! Soalnya Ka Rendra juga sering kesini, Tara sih tahunya mereka sudah pacaran!" polosnya Tara mengatakan hal demikian membuat telinga Alan panas dan memerah. Alan tak bisa bereaksi berlebihan.
__ADS_1
"Iya begitulah, kakakmu itu agak keras kepala sih, sehingga saya pun tak bisa menghubunginya!"
"Kak Arini tu kayak gitu ka Alan, emang susah!"
"Syaloom.. selamat malam! ada tamu toh! Nak Alan sedari tadi ya?" Ibu Yanti tiba dirumah dan melihat Alan sedang ngobrol dengan anak lelakinya Tara.
"Syaloom bu, selamat malam juga! baru aja kok ga nyampe 5 menit lamanya!"
"Baiklah! Tara.. kamu kok gitu, kakaknya ga dikasih minum!" Ibu Yanti langsung mengarah pada anaknya.
"Iya.. maaf ya kak!" Tara langsung ke dalam rumah untuk membuat secangkir kopi sesuai request Alan sebelumnya.
"Wah.. nak Alan kok repot-repot pake bawa buah tangan segala, bunganya cantik! " reaksi ibu Yanti sambil mencium aroma bunga Lili yang indah.
"Ga merepotkan kok bu! soalnya udah lama juga Alan ga kesini sejak Arini pergi ke Italia"
"Oh.. iya.. ya! Arini ga kasih kabar ya ke Nak Alan?"
"Ga bu, Arini kok susah ya dihubungi!"
"Oh.. iya, sebelum berangkat ke Italia, hp milik Arini hilang, jadi pantasan aja Nak Alan susah untuk menghubunginya."
"Halo Ar,... Syaloom nak! Lagi ngapain, ibu ga ganggu kan?"
"Syaloom bu, ga kok kebetulan Arini lagi nyantai aja! ada kabar apa bu?" tanya Arini
"Nak Alan ada dirumah Ar"
"Ngapain orang itu ke rumah? Arini malas ngomong sama dia bu"
"Ga boleh gitu sayang! kita harus bisa menghargaiin orang lain yang sudah baik sama kita!"
"Aaalah... ibu ga tahu aja, Alan orangnya kayak gimana?"
"Ar, ibu ga suka kamu jadi anak yang sombong ya! ibu over handphone ke Nak Alan sekarang!" Arini sudah tak bisa banyak membela diri lagi didepan ibunya.
"Nak Alan, bicara sebentar sama Arini ya, ibu mau siapkan makan malamnya!"
__ADS_1
"Baik bu!" Ibu Yanti menyerahkan hp miliknya ke tangan Alan dengan senyum sumringah. Tercapailah tujuannya untuk bicara sama Arini.
"Hai pacarku yang lugu dan alim! gimana kabarmu?"
"Apaan sih Lan! aku malas dengar kamu ngomong kayak gitu lagi!"
"Aku aja gak malas kok, malah suka lihat kamu marah-marah!"
"Kamu mulai lagi ya, jangan berani ngomong yang aneh-aneh ke ibu aku Lan!"
"Emangnya kamu pengen aku ngomong apa ke ibu kamu? bahwa kamu itu pacar aku!"
"Ga,... jangan Lan! kamu berani, aku ga akan kenal kamu lagi!"
"Aahh masa gadisku, jutek amat!"
Alan sengaja, berpindah ke ruang tamu agar obrolan mereka tidak dipantau oleh ibu Yanti.
Alan masih terus menggoda Arini diseberang sana dengan beberapa rayuan gombalnya, tapi sayang Arini masih kuat pendiriannya untuk menolak Alan, karena Alan juga masih tidak jelas dengan sikap dan perasaannya.
"Hai Kak Rendra, selamat malam!" suara Tara yang tiba-tiba terdengar keras menyapa Rendra yang sudah berada depan pintu rumah mereka. Rendra langsung melihat sosok Alan yang berada diruang tamu, pria yang pernah dikenalnya yaitu anak dari Pak Armando Ferdian. Mata kedua pria ini saling melihat, Alan agak risih akan kehadiran Rendra. Ibu Yanti yang sadar Rendra hadir dirumah mereka, langsung memyambutnya dengan ramah.
"Hai Nak Rendra! ayo masuk! kebetulan kita sekalian makan malam bareng aja! temannya Arini juga ada disini kok!"
"Nak Alan, nih Nak Rendra!" kedua pria tangguh ini pura-pura saling bersalaman dan saling tak kenal. Timbul suasana persaingan antara mereka.
Rendra juga ternyata datang tidak dengan tangan kosong, ada sekotak lauk-pauk yang dipesan disebuah restoran.
Ibu Yanti, langsung mengajak kedua pria itu ketengah ruang makan untuk makan bersama.
"Nak Alan, masih terhubung dengan Arini ya?"
"Masih bu!"
"Boleh, ibu bicara sebentar!"
Alan sebenarnya berat hati, masih ingin melanjutkan perbincangannya, Alan agak kesal dalam hatinya mengumpat Rendra yang tiba-tiba datang merusak situasinya.
__ADS_1
Ketika ibu Yanti mengatakan bahwa Rendra juga ada dirumah, Arini tanpa sungkan langsung mau bicara dengan Rendra, yang membuat Alan panas. Apalagi pembicaraan mereka terlihat sangat akrab, diselingi tawa diantara mereka. Alan berusaha mengontrol emosinya, karena Arini bersikap acuh tak acuh terhadap dirinya. Akhirnya mereka menikmati makan malamnya, walau terlihat jelas ada suasana yang canggung diantara mereka yang membuat ibu Yanti menjadi penuh tanya.
Dilanjutkan Flash back- nya